
...πππ...
Nusi mengepalkan tangannya, "Dasarrr wanita menyusahkan! Belum apa apa kau sudah membuat ku bekerja keras. Belum lagi bos Alan, sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mu. Awas saja jika tidak berguna untuk bos! Bisa ku jual kau ke clab."
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya apa yang di tunggu Nusi kini membuahkan hasil.
Ting.
Lampu ruang gelap itu menyala. Pria muda dengan jubah putih ke luar dari ruang gelap. Dengan tangannya yang membetulkan letak kaca mata, yang menengger di hidungnya.
Nusi beranjak dari duduknya, "Gimana bro?" Tanya Nusi dengan wajah datarnya.
"Lo masuk aja, liet di layar monitor. Semua yang ada dalam pikiran lo, bakal terjawab di sana! Termasuk wajah asli itu cewek sebelum kecelakaan." Terangnya dengan menunjuk jari telunjuk kanannya, ke arah layar monitor laptop yang masih menyala di dalam ruang itu.
Nusi berdecih, "Cih... cuma tinggal jawab aja, ribet banget lo bro!" Nusi mengayunkan ke dua kakinya, melangkah masuk ke dalam ruangan.
Sementara pria itu hanya geleng geleng kepala melihat Nusi.
Nusi mendudukan dirinya di kursi, dengan ke dua matanya yang fokus pada layar monitor laptop. Tidak lupa menyimpan data data itu ke dalam sebuah flash disk.
Nusi beranjak dari duduknya, setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Kini kakinya melangkah menuju bosnya, Alan Ardiansyah.
"Pak Alan pasti bakal seneng banget, dengan informasi yang gw dapetin kali ini!" Nusi bermonolog sendiri di belakang kemudi.
...π Kediaman Amerπ...
Lelahnya tubuh membuat Layla dan Amer cukup nyaman dengan tidurnya. Hingga tidur mereka terbangun setelah azan magrib berkumandang.
Layla mengerjapkan ke dua matanya, mengucek ke dua matanya.
"Astaghfirullah, udah magrib ini." Layla mendongak, melihat wajah Amer yang masih terpejam di sampingnya.
Puk puk puk.
Layla menepuk dada Amer yang bidang dengan tangannya. Lalu berseru, "Ka, ka Amer! Bangun ka, udah magrib ka... kita berjama'ah ya ka?"
Amer melenguhhh, lalu menarik ke dua tangannya ke atas, mengendur kan syaraf syaraf yang ada di bahu, dan berakhir dengan menarik pinggang Layla dan memeluknya.
"Akkhhh, kaka ih! Mengagetkan ku aja!" Sungut Layla.
"Ada apa kau membangunkan tidur ku, Layla?" Tanya Amer dengan suaranya yang khas orang bangun tidur.
"Udah masuk waktu magrib ka, kita berjama'ah ya! Kaka mau kan?" Ucap Layla dengan lembut.
"Baik lah." Amer tersenyum pada Layla.
Amer pun beranjak dari tidurnya bersama dengan Layla, menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Mereka berdua menjalan kan ibadah sholat magrib, dengan bersama sama di dalam kamar. Amer yang berperan menjadi imam untuk Layla.
Setelah sholat, ke duanya tidak lupa memanjatkan do'a kepada sang pencipta, untuk di permudah dalam segala urusannya, belum lagi usaha Amer untuk membuat Layla hamil dan memberikan kabar baik untuk ke dua orang tua Amer.
__ADS_1
Layla mendudukan dirinya di atas kasur, dengan tangannya membuka layar hapenya. Jemarinya menari nari di atasnya. Menumpahkan apa yang ada di dalam imajinasinya ke dalam sentuhan layar hape, hingga terbentuk suatu gambar yang nantinya akan di serahkan pada atasannya. Hingga gambar yang Layla buat berakhir pada karpet.
Sedangkan Amer tengah mengecek laporan hasil penjualan karpet dari beberapa toko miliknya.
"Bagus sekali gambar mu, Layla?" Amer memberikan pujian untuk Layla.
"Kaka berkata seperti itu, bukan karena aku ini istri mu kan ka?" Layla menatap ke dua mata Amer dengan penuh selidik.
"Hei! Ini serius, aku tidak sedang memuji mu karena kau itu istri ku, sayang, ini benar benar bagus." Ucap Amer.
Tok tok tok tok.
Pintu kamar Amer di ketuk dari luar dengan suara pria yang berseru.
"Maaf pak, ini saya Rafa. Apa bapak dan Nona akan turun untuk makan malam?" Tanya Rafa.
"Kami akan turun dalam beberapa menit lagi, Rafa." Ucap Amer dengan setengah berteriak.
Amer beranjak dari atas kasur, setelah menyimpan kembali laptopnya.
"Ayo ikut aku sebentar!" Amer mengulurkan tangannya pada Layla.
"Kemana ka?"
Grap.
Amer mengeluarkan satu dress berwarna hijau toska, dengan panjang sebatas lutut berlengan panjang.
"Ayo, ganti baju mu dengan ini, sayang!" Amer menyerahkan dress pilihannya pada Layla.
"Aku pakai ini sekarang, ka? Emang kita mau ke mana sih ka?" Layla mendesak Amer untuk menjawab pertanyaannya.
"Sudah jangan banyak bertanya, pokonya kau pakai itu saja!" Amer mendorong bahu Layla memasuki kamar mandi.
Brak.
Amer membalut kaos yang ia kenakan, dengan kemeja yang tidak ia kancing. Meski hanya mengenakannya seperti itu, tidak membuat wajahnya tampak tua, justru terlihat muda di umurnya yang tidak lagi muda.
Ceklek.
Amer terpana di buatnya, rambut Layla yang panjang di biarkan terurai, dress yang melekat pas di badannya membuatnya tampak cantik dan anggun di pandang mata.
Amer merangkul lengan Layla, "Malam ini kau sangat cantik, Layla." Ujar Amer.
"Emang ada acara apa, ka? Sampai aku harus mengenakan dress ini? Kaka juga tampil beda, makin ganteng hehehe." Layla terkekeh.
"Anggap saja kita ini sedang kencan Layla. Selama ini kita belum pernah kencan kan?"
Layla menggeleng gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Amer dan Layla akhirnya ke luar dari dalam kamar, menuruni anak tangga di saat Layla akan berbelok ke arah ruang makan, Amer menahannya dengan tetap melangkah lurus ke arah taman belakang rumah.
"Ka, kita melewati ruang makan!" Seru Layla.
"Biar saja, untuk malam ini... kita tidak akan makan di ruang makan, Layla." Ucap Amer.
Layla menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Lalu kita akan makan di mana, ka?
Kruk kruk kruk.
Perut Layla berbunyi, membuat dirinya malu di hadapan wajah Amer.
Aiiihhhs kenapa perut ku pake bunyi, jadi malu kan!
Amer menarik sudut bibirnya, menangkup wajah Layla, "Tidak usah malu." Ucapnya lembut.
"Cahaya apa itu ka?" Dari tempat nya berdiri, sudah nampak cahaya terang menghiasi area taman belakang.
Amer membuka pintu yang menghubungkan langsung ke taman belakang.
Kreeeeek.
Layla di buat takjub, dengan meja dan taman yang kini di hias. Di atas meja tampak dua buah lilin di atas tempatnya, terdapat dua gelas dengan satu botol minuman, dengan dua piring yang terdapat steak.
Jalan menuju meja makan di hiasi lilin yang menyala, terdapat balon berwarna merah dengan tulisan I love you di kolom renang.
Untuk menuju meja dengan dua kursi, ke duanya sudah di sambut, dengan gapura yang berhiaskan mawar, serta lampu yang berkedap kedip dengan warna warni.
Tidak jauh dari meja makan, terdapat ayunan rotan, yang sudah di hias dengan bunga mawar merah, dengan di sertai lilitannn kain berwarna merah dan putih yang menghiasai ayunan.
Ke dua mata Layla berbinar senang, senyum selalu terukir di wajah ayunya.
"Ka Amer, ini indah sekali." Layla di buat takjub dengan apa yang ia lihat.
"Apa kau suka, sayang?" Tanya Amer.
"Suka banget ka, apa ini aku sedang di dunia nyata? Atau aku lagi mimpi ka? Apa mungkin ini halusinasi ku aja ya ka?" Oceh Layla.
Tak
...ππππππ...
...Bersambung......
Salam manis author gabut π
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
Author gabut sebatas halu π
__ADS_1