Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Hasil mediasi


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Amer memukulll angin, ah sialll mama ku ini seperti kuyang saja!


Tok tok tok.


"Layla! Sudah belum?" Tanya Amer dengan mengetuk pintu kamar Layla.


"Iya ka. Ka Amer duluan aja ke bawahnya!" Ucap Layla dari dalam kamar.


"Jangan lama lama, Layla!" Seru Amer namun dirinya tetap menunggu Layla dengan berdiri di samping pintu kamar Layla.


Ceklek.


Layla ke luar dengan celana hitam dan blouse putih dengan rambut panjang hitam yang tergerai, di bahunya tersampir tas kecil.


Layla melangkah ke luar dari kamar dengan menghirup udara sebanyak banyaknya, bersiap diri jika calon ibu mertuanya itu akan meledeknya dengan ke jadian tadi.


"Mudah mudahan aja, tante Noer tidak membahas ciumannn yang ka Amer lakukan tadi pada ku, huuuuh aku sangat malu di buatnya!" Layla menghentakkan kakinya lalu menyeret kakinya yang jenjang dengan flatshoes yang berwarna hitam.


Kaki Layla baru melangkah 2 langkah dari kamar, tangan Amer lebih dulu menghentikan nya.


Grap.


"Eh!"


Layla menoleh ke belakang, "Ka Amer? Sedang apa? Ku pikir ka Amer sudah turun ke bawah?" Ujar Layla.


"Tidak, aku menunggu mu!" Amer melangkah dengan menggenggammm jemari Layla.


"Ka, aku jadi ---"


"Tidak usah malu, mama pasti akan mengerti dengan sikap ku ini!" Ujar Amer.


Di ruang makan.


Sudah terdapat Ali dan Noer yang tengah menunggu ke hadiran putranya serta calon menantunya di meja makan.


"Naaaah ini mereka, calon pengantin. Ayo sini sayang!" Noer melambaikan tangannya pada Layla.


Dengan malu Layla melangkah menuju kursi yang sudah di tarik oleh Rafa, Layla duduk di samping Noer yang berada di sini kanan Ali.


Ali duduk di kursi tengah, sedang kan Amer duduk di sisi kiri Ali.


Noer menggosokkk gosokkan ke dua telapak tangannya, "Astaga Amer, sarapan kali ini... pasti akan sangat berkesan untuk mama!" Oceh Noer.


Amer mengerutkan keningnya, "Memang kenapa, mah?"


Noer menatap ke arah Layla, "Amer tidak tahu, Layla?" Tanya Noer.


"Tahu apa sih, mah?" Amer yang bertanya pada Noer.

__ADS_1


"Calon istri mu ini loh, yang masak semua hidangan ini!" Seru Ali.


2 orang pelayan menghidangkan makanan ke atas piring masing masing Tuannya.


"Apa itu benar, Layla?" Tanya Amer dengan menoleh ke arah Layla dengan senyum yang mengembang.


Layla menganggukkan kepalanya, "Maaf ka, aku hanya ingin masak untuk ka Amer karena sudah merawat ku selama aku sakit!"


"Oooh jadi kamu itu masak hanya untuk Amer saja Layla? Bukan untuk tante dan papa juga?" Gerutu Noer dengan bibir yang mengerucut.


"Siapa bilang, aku kan masak banyak tan. ini cukup ko untuk kita semua!" Ucao Layla.


Ali menengahi ke duanya, "Sudah sudah. Kita datang ke sini kan untuk menemani Layla ke pengadilan, kenapa jadi mempermasalah kan sarapan? Ayo kita sarapan dulu! Setelah ini kita berangkat ke pengadilan!"


Layla mengerutkan keningnya dengan menoleh ke arah Amer, pasalnya hanya Amer dan dirinya yang tahu masalah mediasi.


"Hanya untuk menyemangati mu, Layla. Kau tidak lagi sendiri, ada keluarga, ada kami yang nerupakan keluarga mu kini!" Oceh Noer dengan mengelusss punggung Layla.


"Terima kasih, tante!" Ucap Layla dengan mata yang berbinar.


πŸ‚PengadilanπŸ‚


Kini Layla berada di ruang mediasi dengan ke hadiran Rudi lewat virtual, dengan seorang yang menengahi ke duanya.


Hasilnya sudah dapat di pastikan jika Layla kejeh ingin berpisah dengan apa yang sudah Rudi lakukan padanya.


Sedangkan Rudi kekeh ingin mempertahankan rumah tangga nya dengan Layla.


"Lama sekali sih! Apa yang mereka bicarakan! Uuuhhhh, andai saja mama ini bisa masuk ke dalam!" Gerutu Noer.


Sedangkan Ali dan Amer duduk di kursi tunggu yang memang di sediakan di depan ruang mediasi, Ali dan Amer menunggu dengan sabar.


"Mang jika mama ada di dalam, apa yang akan mama lakukan?" Tanya ali pada istrinya.


"Yang pastinya mama pasti bisa dengar apa yang mereka bicarakan pah! Mama tidak perlu gelisah menunggu di sini, dengan kepala mama yang bercabang, memikir kan apa yang mereka bicarakan!" Gerutu Noer.


"Astaga, itu istri mu, pah!" Ucap Amer dengan geleng geleng kepala menoleh ke Ali, papanya yang duduk di sampingnya.


"Kau lupa Amer, wanita itu adalah ibu mu! Kau lahir dari rahim wanita itu!" Oceh Ali dengan menepuk jidatnya.


"Astaga pah! Aku tidak melupakan hal itu!" Oceh Amer dengan menyandarkan punggungnya di kursi.


Bugh.


Noer melemparrr kan tasnya ke arah Amer, "Anak tidak punya perasaan, kau ini mewarisi darah ku Amer!" Oceh Noer.


Ceklek.


Layla ke luar dari ruang mediasi dengan wajah yang di teguk, membuat ke tiganya yang menunggu di luar langsung berhambur menghampiri Layla.


"Bagai mana Layla, hasilnya apa memuaskan?" Tanya Noer dengan merangkul bahu wanita yang sudah di anggapnya calon menantunya.

__ADS_1


"Iya Layla, bagai mana hasil mediasi yang kau lakukan?" Tanya Ali yang tidak bisa menutupi rasa penasaran nya, akan hasil dari mediasi.


"Lebih baik kita bicarakan ini nanti saja, kita jalan dulu. Healing untuk ke tenangan hati Layla!" Ucap Amer dengan menggenggammm jemari Layla.


Tik.


Noer menjentikkan jemarinya, "Ide bagus tuh, sayang!" Ucap Noer dengan senyum merekah di bibirnya.


Layla hanya menganggukkan kepalanya, sebelum melangkahkan kakinya Layla berseru yang membuat Amer sudah melangkah langsung menghentikan langkah kakinya dan langsung memeluk tubuh Layla.


"Hasil mediasi gagal, pengadilan menyetujui gugatan cerai yang aku ajukan." Ucap Layla.


Grap.


"Terima kasih, Layla." Amer memeluk Layla erat.


Cup cup cup.


Memberikan hujan ciuman di kepala Layla.


"Ehem ehem. Mama dan papa ngontrak!" Seru Noer yang nembuat ke dua pipi Layla merona karena malu.


"Mama, jangan gitu! Papa kan jadi iri." Ucap Ali yang langsung menarik tangan Noer untuk meninggalkan ke dua insan manusia yang tengah di mabukkk asmaraaa.


Noer dan Ali berjalan duluan ke arah mobil.


"Papa kalo pengen, kan tinggal bilang. Kita bisa bikin adonannn pah!" Ledek Noer dengan tangan nya yang membelai dada bidang Ali.


"Ah mama, nanti malam ya mah!" Ucap Ali.


"Beres."


Amer melangkah di belakang nya bersama dengan Layla.


"Hampir saja, kau buat aku mati berdiri Layla." Ujar Amer.


"Ah ka Amer, kalo ka Amer mati. Aku jadi janda terus gitu? Apa ka Amer tidak ingin menepati janji ka Amer untuk menikahi ku?" Tanya Layla.


"Siapa bilang? Saat kau resmi berpisah dengan pria brengsekkk itu, aku pasti akan menikahi mu!" Ucap amer dengan pasti.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭


Author gabut sebatas halu 😊

__ADS_1


__ADS_2