
...πππ...
Layla bertanya pada Noer dengan ragu, "Bagai mana dengan, om? Apa om tidak akan ke beratan tan?"
"Kamu tenang saja Layla, bagi om dan tante saat ini adalah melihat Amer bahagia. Melihat dari sisi usia Amer yang sudah matang dia sudah pantas untuk membina rumah tangga. Kau tau kan tante dan om sudah tidak lagi muda, sudah wantunya kami menghabisi masa tua dengan berkumpul bersama dengan anak, menantu serta cucu." Ujar Noer.
Layla malah menangis di buatnya, "Hihs maaf tante, Layla belum bisa menjadi wanita yang baik dan pantas untuk Tuan Amer. Layla takut mengecewakan om dan tante." Terang Layla yang tidak berani mengadahkan wajahnya untuk menatap ke dua mata Noer, apa lah aku ini hanya wanita yang sulit untuk memberikan keturunan pada suami.
Noer menyapu air mata Layla, "Sudah lah, kau tidak perlu ambil pusing dengan perkataan tante. Intinya tante hanya ingin kamu dan Amer segera memulai hidup baru, bahagia kan Amer!"
Grap.
Layla melingkarkan ke dua tangannya pada pinggang Noer yang berdiri di samping ranjangnya, menumpahkan rasa yang ada di hatinya.
"Tapi sebelum itu, selesaikan dulu persoalan mu dengan mantan suami mu itu ya, Layla!" Seru Noer dengan suaranya yang lembut.
Layla mengurai pelukannya dari pinggang Noer, Layla membola, "Jadi tante sudah tahu status ku saat ini? Tante benar benar tidak mempermasalah kan nya?" Tanya Layla.
Noer menggeleng kan kepalanya dengan menarik sudut bibirnya ke atas, tangannya membelai lembut pipi Layla.
Dari pada putra ku satu satunya tidak menikah, lebih baik aku izinkan saja Amer menikah dengan Layla meski nanti statusnya adalah Amer menikahi seorang janda, toh asal Amer bisa hidup bahagia bersamanya, itu tidak akan menjadi masalah bagi ku dan Ali.
Noer mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat Layla, sepertinya ini waktu yang pas untuk menanyakan langsung pada Layla meski aku sudah tau dari detektif yang aku sewa.
"Boleh tante tahu alasan apa yang membuat mu berpisah dengan suami mu itu? Kalian menikah atas dasar cinta kan?" Tanya Noer dengan pandangan matanya yang menyelidik.
Layla membuang nafasnya dengan kasar.
Layla meremasss selimut yang menutupi tubuhnya, tidak ada yang boleh aku tutupi dari tante Noer, begitu pun dari Tuan Amer, Tuan Amer bahkan sudah tau segalanya tentang ku.
"Jadi begini, tan. Aku dan bang Rudi dulunya ......"
Layla menceritakan rumah tangganya pada Noer yang kini ia anggap orang tuanya sendiri, bagai mana ia bertemu dengan Rudi hingga ia di usir dari rumahnya oleh Rudi.
Noer mendengarkan dengan seksama tanpa berani memotong apa yang Layla sampaikan padanya.
"Bagai mana dengan orang tua mu, Layla? Apa yang membuat ayah mu begitu jahat pada mu? Sedangkan kau itu putri kandungnya." Ucap Noer.
"Entah lah, tan. Semuanya begitu sulit untuk aku pahami."
Tring tring tring tring.
Hape Noer berdering dari dalam tasnya yang ada di sofa dekat ranjang rawat Layla.
Noer beranjak dan meraih hape yang ada di dalam tasnya.
__ADS_1
Matanya membola mendapati siapa yang menelponnya, Noer menatap wajah Layla.
"Tante jawab panggilan ini dulu, ya!" Noer berjalan ke luar dari ruang rawat Layla.
Layla mengerdilkan bahunya dengan menatap punggung Noer yang berjalan ke arah pintu, "Mungkin telpon penting jadi tante harus ke luar dari ruang rawat ini!" Gumam Layla yang merebahkan kembali punggungnya pada ranjang rawatnya.
π Kediaman Amerπ
Amer tiba di kediamannya setelah di antar oleh pak Jojo.
"Tunggu sebentar ya, pak!" Seru Amer meminta sopir pribadinya itu untuk tetap menunggu di mobil.
"Apa Tuan akan kembali lagi ke rumah sakit?" Tanya pak Jojo.
"Iya, pak... aku di sini hanya sebentar."
Seorang pria berbadan tegak dengan pakaian seragam satpamnya datang menghampiri Amer.
"Selamat siang, Tuan." Ujarnya setelah berdiri di depan Amer.
"Siang, pak... mereka ada di dalam kan?" Tanya Amer dengan menatap ke arah pintu rumah.
"Mereka ada di dalam, Tuan. Mereka tidak melangkah ke luar sejak Tuan pergi tadi pagi." Ucapnya.
"Kau ikut aku!" Amer memberi perintah pada kepala keamanan untuk mengikuti langkah kakinya masuk ke dalam rumah.
Ceklek.
Kepala keamanan membukakan pintu untuk Amer.
Amer melangkah masuk ke dalam dengan langkah kaki yang lebar, hatinya sudah mantap untuk sikap yang akan ia ambil dalam menghadapi bi Asih.
Amer berdiri di ruang tengah, suaranya menggelegar dengan berseru nama kepala pelayan di kediamannya itu.
"Bi Asiiiih!"
Kepala keamanan membuang nafasnya dalam, ke putusan Tuan Amer akan memperlihatkan siapa pelayan dan siapa majikan di kediaman ini, bi Asih!
Puput yang mendengar suara Amer langsung ke luar dari kamarnya, ingin melihat apa yang membuat Amer begitu tidak sopan memanggil nama ibunya dengan teriakan.
"Ka Amer sudah pulang?" Tanya Puput yang kini berdiri tidak jauh dari Amer dengan mengenakan celana jins sebatas paha dan tengtop.
Amer menoleh ke arah Puput, keningnya mengkerut mendapati sosok Puput yang jauh dari ia kenal dulu sebelum ia sekolahkan di luar negeri.
"Kemasi pakaian, mu!" Seru Amer dengan suaranya yang dingin dan tatapan matanya yang tajam pada Puput.
__ADS_1
Puput membola namun seperkian detik kemudian ia menyeringai, ini waktunya gw godain ka Amer gw taklukin hatinya, gak mungkin ka Amer akan menolak tubuh gw yang seksiii ini kan!
Puput melangkah dengan anggunnya mendekati Amer, "Loh, kenapa ka? Aku kan baru saja sampai di sini. Biar kan aku tinggal di sini untuk beberapa hari saja ka!"
Dengan tidak tahu malunya Puput berdiri di belakang Amer dan menempelkan dadanya pada punggung Amer, tangannya merabaaa dada Amer yang bidang dan sispeck itu.
Puput bertanya pada Amer dengan suaranya yang mendayu dayu, "Apa ka Amer tidak merindukan aku?" Hembusan nafas Puput menyeruak menyentuh kulit pipi Amer.
Kepala keamanan memutar bola matanya dengan malas, dasarrr wanita ular, tidak tahu malu! Ibu dan anak sama saja!
Amer menarik tangan Puput dan menahannya di belakang punggung Puput.
Bugh.
"Awwwhh ka Amer, apa yang kau lakukan pada ku!" Teriak Puput dengan meringis sakit pada lengannya yang di tarik Amer ke belakang tubuhnya.
"Aku menyekolahkan mu ke luar negeri bukan untuk menjadi wanita penggoda, Puput!" Ujar Amer dengan marah.
"Tapi aku hanya menggoda mu, ka!" Kilah Puput, ka Amer mana mungkin tahu jika di luar negeri aku menjual diri pada om om berduit.
"Bi Asih!!!" Amer berseru kembali memanggil nama bi Asih, wanita yang sejak tadi di panggilnya dan di tunggunya, namun belum juga memperlihatkan batang hidungnya.
Kepala keamanan menunduk hormat sebelum berkata, "Biar saya cek di kamarnya Tuan, mungkin bi Asih sedang berada di sana!" Serunya dan melangkah pergi saat Amer mengganggukkan kepalanya.
"Apa yang akan ka Amer lakukan? Lepasss kan, ini sakit!" Puput meronta untuk Amer melepaskan tangannya dari tangan Puput.
Bugh.
Amer mendorong tubuh Puput hingga ia jatuh terjerembab di atas sofa.
Bi Asih melihatnya dengan wajahnya yang baru bangun tidur.
"Apa yang Tuan lakukan pada putri saya? Dia ini calon istri, Tuan!" Seru bi Asih yang langsung berlari ke arah Puput.
Amer mengerutkan keningnya, calon istri? Yang benar saja!
Kepala keamanan yang mendengarnya hanya menatap sinis bi Asih, kau hanya bermimpi bi Asih, pelayan tetap lah pelayan, kau lupa tugas mu di kediaman ini hingga semau mu saja berkata dan bertindak.
"Iya Tuan, Puput ini calon istri Tuan kan? Tuan lupa bagai mana Tuan menyayangi Puput lebih dari saya yang ibu kandungnya Puput?" Ujar bi Asih dengan menatap nanar mata Amer, ayo Amer, kau harus mendengarkan apa kata ku.
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis author gabut π
__ADS_1
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
Author gabut sebatas halu π