
...πππ...
Amer mengerutkan keningnya, segera menjawabnya setelah tahu siapa yang menghubunginya.
"Apa kau sudah berhasil menyelidikinya?" tanya Amer.
[ "Berdasarkan dari pengakuan, setelah mendapat tekanan. Akhirnya mereka mau mengakui nya, Tuan. Buket itu memang di tujukan untuk Nona." ] terang Hendra dari sambungan teleponnya.
"Siapa yang melakukan nya, Hendra?"
[ "Pak Alan Ardiansyah." ]
"Apa? Jadi benar dia orangnya?" Amer menatap Layla dengan penuh penyesalan, karena bagai mana pun, Amer sudah menuduh Layla berselingkuh darinya.
[ "Benar Tuan, tapi untuk tujuannya. Saya tidak tahu." ]
"Kalo begitu kau kembali lah, biar aku ikuti permainan yang di lakukan Alan." Amer menutup panggilan teleponnya, menyimpan hapenya kembali ke dalam saku celananya.
Amer melangkah mendekati Layla, membawa Layla dalam gendongan nya, "Maaf kan aku sayang, harus nya aku percaya pada mu, bukan meragukan cinta mu!" terang Amer yang membawa Layla, ke luar dari dalam kamarnya.
"Kenapa sekarang kaka percaya pada, ku? Tadi kau sendiri yang sudah mendesak ku, untuk mengakui hal yang sama sekali tidak aku lakukan!" Layla melingkarkan ke dua tangannya di leher Amer, dengan tatapan mata nya yang menyelidik.
"Iya, maaf kan aku ya! Mulai saat ini, aku bersumpah. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu percaya pada perkataan mu, sayang!" ujar Amer dengan keseriusan dan sungguh sungguh dengan perkataan nya.
"Hem, jangan pernah meragukan cinta ku, ke jujuran ku, ke setiaan ku. Karena sekali kaka ke hilangan itu semua, akan sulit untuk mengambalikan rasa yang pernah ada." terang Layla.
"Iya sayang. Ingatkan aku untuk selalu percaya pada mu! Jangan pernah lelah untuk mencintai ku, jangan pernah bosan untuk menghukum ku... jika aku berbuat salah." ujar Amer yang menuruni anak tangga.
Sedangkan dari lantai bawah Ali dan Noer menatap, Layla dan Amer dengan tatapan yang bahagia.
"Akhirnya anak dan menantu ku bisa akur lagi, adem banget di lietnya. Kalah ama ademnya kulkas, saat pintu di buka di saat matahari terik." cicit Noer, dengan ke dua matanya yang berbinar senang.
"Alah, mamih lebay! Biasa aja lah mi. Kan tadi papa udah bilang, Amer dan Layla bisa menghadapi masalah mereka berdua. Kita sebagai orang tua, hanya melihat dan menegur... serta mengingatkan jika mereka berdua ke cebur di lubang yang salah." cicit Ali.
Prak.
Noer menggeprak lengan suami nya.
"Papa omongannya rada rada bener emang, kalo lagi eling hehehe!" ledek Noer.
__ADS_1
"Mih! Yang selama ini eling dan rada rada itu kan mami. Papa tidak ikut terlibat dalam hal itu mi." Ali membela diri.
"Iya kan saja, mih!" ujar Amer, kini berdiri di depan orang tuanya.
"Kalian mau ke mana, sayang?" tanya Noer yang di landa ke ingin tahuannya.
"Tentu aja ingin makan siang, mih! Ayo mih, pah, kita makan dulu." Amer memimpin ke duanya menuju ruang makan.
Ali dan Noer beranjak dari duduk nya, mengikuti putra dan menantu nya kini, untuk makan siang bersama.
Rafa menggeser kursi yang akan di duduki Nona Muda-nya.
"Terima kasih!" ucap Layla saat ia sudah duduk di kursinya.
"Sama sama, sayang!" Amer menduduk kan dirinya di kursi yang ada di samping Layla.
Kini ke empatnya makan siang bersama, setelah melewati kesalah pahaman yang terjadi di antara Layla dan Amer.
"Jadi, apa kau sudah mengetahui... siapa yang mengirimkan buket bunga itu ke rumah ini, Amer?" tanya Noer dengan menatap putranya dengan tatapan penuh selidik.
"Amer sudah mengetahuinya, mih!" jawab Amer dengan menyuapkan makanannya.
Layla menoleh pada Amer, "Siapa pelakunya, ka? Apa aku mengenal nya?"
"Apa? Kenapa harus janji dulu, baru aku aku di kasih tau?" tanya Layla.
"Aku takut, jika aku sudah mengatakan siapa orangnya, kau tidak bisa lagi menghadapi orang itu. Aku takut kau akan dendam pada orang itu, lalu akan sulit untuk kita menghadapinya." terang Amer, mengatakan apa yang ia fikirkan, akan ke mungkinan yang terjadi jika Layla sampai mengetahuinya.
"Percaya pada ku, aku bisa menghadapi orang itu. Aku bisa mengontrol emosi ku! Aku bisa berpura pura tidak terjadi apa apa."
Layla menunjukkan senyumnya pada Amer, meyakinkan Amer untuk mau mengatakan padanya, siapa yang sudah membuat ke kacauan hari ini.
"Orang itu adalah Alan Ardiansyah." ucap Amer.
Layla mengerutkan keningnya, menatap tidak percaya pada apa yang ia dengar.
"A- apa ka? Pak Alan? Jadi pak Alan yang mengirimkan buket bunga itu ke rumah ini, untuk ku? Untuk apa ka, dia melakukan itu?"
"Siapa itu Alan Ardiansyah, Amer?" tanya Ali.
__ADS_1
"Rekan bisnis Amer yang baru, pah." Amer meraih gelas yang ada di hadapannya, lalu menenggaknya dan menyimpan kembali gelas itu di atas meja.
"Apa pria itu menyukai Layla, nak?" tebak Noer.
"Justru ke balikannya, mih." terang Amer.
Noer menatap heran pada Amer dan Layla, "Bagai mana bisa, tidak suka pada Layla. Tapi pria itu mengirimkan Layla buket bunga mawar mewah."
"Bisa mih, buktinya ya pak Alan Ardiansyah itu. Dari awal pak Alan itu memang tidak menyukai Layla, justru kami sempat ribut di mall. Tapi kami di pertemukan kembali dengan pak Alan, saat dirinya datang ke kantor untuk mengaju kan kerja sama pada Amer corp." terang Amer panjang lebar.
"Sudah sudah, kita makan dulu. Nanti kita lanjutkan untuk membahas si Alan itu!" sanggah Ali.
Setelah makan siang, Amer pamit untuk kembali ke kantor.
...βοΈAlanβοΈ...
Alan yang berada di kursi ke besarannya, menatap tajam wajah Layla yang ada di hapenya, "Ini hanya langkah awal, Layla... tapi setelah ini, kau akan menghadapi kejutan lain dari ku!" gumam Alan yang lantas menyeringi.
Tok tok tok.
"Boleh saya masuk, Tuan?" tanya Nusi yang berada di luar pintu ruang kerja Alan.
"Masuk Nusi!" seru Alan dengan suaranya yang dingin.
Nusi melangkah masuk ke dalam ruang kerja Alan, ia membawa berkas di tangannya untuk di serahkan pas Alan.
"Ini saya bawakan beberapa berkas hasil sewa toko di beberapa wilayah, Tuan." oceh Nusi dengan menyodorkan berkas yang ada di tangannya pada Alan.
Alan memeriksa kan berkas itu dengan teliti, pandangannya membola saat melihat ada yang menarik perhatiannya.
"Apa aku tidak salah lihat ini?" Alan menatap Nusi dengan tanda tanya besar di hatinya.
"Tidak, Tuan... Tuan tidak salah lihat. Memang benar jika Tuan Amer menyewa beberapa toko, yang di peruntukan untuk toko karpetnya." terang Nusi, menjawab pertanyaan dari Alan.
"Sepertinya aku tahu, apa lagi yang harus aku lakukan untuk selanjut nya." Alan menyeringai.
...ππππππ...
...Bersambung......
__ADS_1
Salam manis author gabut π
Jangan lupa tinggalkan komen dan jejak ππ