Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Mendeteksi identitas


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Amer menghentikan langkah kakinya, memanggil Rafa untuk menghampiri nya.


"Rafa!"


Rafa menghampiri Tuannya yang kini berdiri di tengah anak tangga.


"Ada yang bisa saya lakukan, Tuan?" Tanya Rafa setelah ia sudah berdiri dua anak tangga di bawah Amer.


"Tolong siapa kan makan malam romantis, di taman belakang. Bisa kan!" Ujar Amer.


"Untuk malam ini, Tuan?"


"Iya lah untuk malam ini. Kau bisa tidak? Pokonya aku mau, ini menjadi dinner yang paling romantis untuk ku dan Layla. Aku ingin Layla tidak melupakan malam ini begitu saja." Terang Amer mengutarakan ke inginan nya pada Rafa, orang yang ia tugaskan untuk mengatur dinner bersama dengan Layla nanti malam.


"Siap Tuan, pasti akan saya kerjakan." Ujar Rafa, menyanggupi permintaan Tuannya ini.


"Bagus! Kerjakan sekarang juga!" Amer melanjutkan langkah kakinya menuju kamar.


Sambil menunggu malam tiba, aku tidak boleh membiarjan Layla berkeliaran di taman belakang, bisa gagal rencana yang sudah ku atur ini!


Ceklek.


"Layla, apa yang sedang kau lakukan?" Amer mendapati Layla yang sedang menengkurapkan tubuhnya, dengan wajah yang terbenam di bantal.


Layla mendudukan dirinya, "Tidak ada ka! A- aku hanya sedang menunggu kaka, iya menunggu kaka, hehehe." Layla menjawabnya dengan canggung, lalu menunjuk kan sederet gigi putihnya pada Amer.


Amer menatap nakal Layla, dengan mendudukan dirinya di samping Layla. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah Layla.


"Apa kau yakin sedang menunggu ku, sayang?" Tanya Amer.


Layla menggangguk, "Emmmm hem, a- aku mandi dulu ka!" Layla beranjak hendak melangkah.


Grap.


Langkah kaki Layla terhenti, saat Amer menggenggammm pergelangan tangannya, membuat Layla jatuh terperanjat di atas ke dua paha Amer.


Bugh.


"Akhhh." Pekik Layla.

__ADS_1


Amer melingkarkan tangannya di perut Layla.


"Ka! Apa yang kaka lakukan! Aku kan mau mandi!" Layla mencubit kecil punggung tangan Amer.


"Apa kau yakin ingin meninggalkan ku seorang diri di sini? Kau tidak berminat untuk mengajak serta diri ku, sayang?" Amer barujar dengan bibir yang menyusuri leher Layla. Membuat Layla bergidik, bulu bulu halusnya meremanggg, ada yang berdenyut, merindukan sentuhan pria yang kini menjadi suaminya.


"Ka, geli!" Layla mendesahhh.


"Aku merindukan mu, sayang. Selalu menginginkan mu!" Amer merasa kan miliknya yang kini meneganggg. Ke dua tangannya meremasss gunung kembar Layla yang padat dan cukup di tangannya.


"Kaaaa Amer, aaaa emmmhh." Layla melenguhhh, mendesahhh menyebut nama suaminya kini, "Aku tidak nyaman ka!" Ucap Layla saat merasakan ada yang mengganjalll, yang tengah ia duduki.


Amer menyeringai, membaringkan Layla di atas kasur, ia menanggal semua kain yang melekattt pada tubuhnya, Layla memalingkan wajahnya saat mendapati Amer yang kini polos.


"Jangan malu, sayang... kau akan terbiasa." Amer mulai menanggal kan satu persatu kain yang melekattt pada tubuh Layla.


"Tapi ini masih siang ka!" Ucap Layla, saat Amer menjarak ke dua paha Layla.


"Tidak masalah bagi ku!" Amer mencondongkan kepalanya, mendekat pada milik Layla yang sudah kembang kempisss, "Kau akan merasakan nikmatnya sentuhan ku, sayang!" Gumamnya yang lantas, menjulurkan lidahnya dan menyapu area bawah Layla.


Tubuh Layla menggelenjinggg hebat, saat benda hangat menyentuhhh dan menyapu, menari nari pada miliknya yang ada di bawah sana, ke dua tangan Layla mencengkrammm kain sprai, desahannn lolos begitu saja dari bibir Layla, membuat Amer semakin bersemangat untuk menari nari kan lidahnya.


Dengan perlahan Amer menyesappp benda kecil yang menggodanya, membuat Layla melenguhhh dan tanda sadar, tangan Layla terulur menekan kepala Amer semakin dekat dengan miliknya.


Amer yang memang sudah semakin tersiksaaa pun, mengarah kan miliknya perlahan dengan mudah, mulai memaju mundurkan pinggulnya, dengan ritme pelan dan perlahan menjadi cepat.


"Emmmhhhh kaaa, aaahhhh uuughhhhh."


Amer mendaratkan bibirnya di beberapa tubuh Layla lalu menyesappp nya, memberikan tanda tanda kepemilikan yang meninggalkan warna keunguan.


Sesekali tangan Amer bergerak meremasss gunung kembar Layla. Layaknya seorang bayi, Amer juga menyesappp ke dua puncak gunung Layla secara bergantian.


"Apa kau lelah sayang?" Tanya Amer yang masih memacukan miliknya dengan ritme cepat. Seolah belum merasa puasss, menghunusss miliknya meski sudah berkali kali memuntahkan larva hangatnya.


Layla hanya mengangguk kecil, pasrah saja saat Amer menduduk kan dirinya di atas pangkuan Amer.


"Apa ka Amer tidak lelah?" Tanya Layla, dengan ke dua tangannya yang mengalung di leher Amer. Sedangkan ke dua tangan Amer, berada di pinggang Layla, menarikkk turunkan tubuh Layla, membuat si kemar berguncang.


"Engghhhhh." Amer melenguhhh saat dirinya mengeluarkan larva hangatnya di dalam sana, Amer menjatuhkan tubuhnya dan Layla di atas kasur.


"Aku menantikan diri mu, sayang!" Tangan Amer terulur, menyentuhhh dan merabaaa perut Layla yang masih rata.

__ADS_1


"Semoga ka, meski kemungkinan nya sangat kecil untuk aku dapat hamil." Ucap Layla dengan lirih.


"Kita harus tetap berusaha, sayang!" Amer beranjak dan menggendong tubuh Layla, membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa ada ritualll lain selain mandi.


Setelah selesai dengan ritual mandi, Amer dan Layla memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang kini sudah berganti sprei.


"Terima kasih, sayang!" Ujar Amer dengan tangannya yang melingkar di perut Layla.


"Untuk apa?" Layla mendongakkan wajahnya menatap Amer yang tengah ia peluk.


"Sudah menyerahkan diri mu, untuk ku." Terang Amer.


"Kau berhak atas diri ku, ka." Layla menyunggingkan senyum dan matanya mulai mengantuk.


Ke duanya tertidur dengan lelapnya, menantikan makan malam yang akan menjadi malam malam romantis dan tidak terlupakan.


...πŸ‚Rumah sakitπŸ‚...


Seorang wanita, tengah terbaring belum sadarkan diri, setelah mendapatkan tidakan operasi pengangkatan rahim dan beberapa bagian tubuh lainnya yang di jahit karena luka yang cukup parah.


Seorang pria berbadan tegap, dengan pakaian serba hitam, tengah mendudukan dirinya di kursi stainless, yang terdapat di depan ruang rawat ICU.


"Aku penasaran dengan wanita itu, kenapa wanita itu bisa mendapat kan luka sedemikian parah, malah terkesan di siksaaa. Jika itu bos Alan. Pasti sudah di habisiii, tanpa membiarkan buruannya tersiksaaa." Pikir pria yang di tugas kan, untuk menjaga wanita yang belum di ketahui namanya oleh Nusi dan juga Alan.


...πŸ‚Ruang gelapπŸ‚...


Bertemankan alat alat canggih, yang mampu mendeteksi identitas diri lewat sidik jari, dan setetes darahhh. Nusi masih harus membutuhkan waktu 3 jam untuk mencari tahu identitas wanita yang ia tabrak.


Nusi tidak bekerja sendiri, ia masih membutuhkan seseorang yang pandai dalam hal ini untuk melakukan nya.


Sesekali Nusi menatap ke dalam ruang gelap, berharap ruang itu akan menjadi terang. Tanda penelitian jati diri seseorang yang di inginkan sudah berhasil di lakukan.


Nusi mengepalkan tangannya, "Dasarrr wanita menyusahkan! Belum apa apa kau sudah membuat ku bekerja keras. Belum lagi bos Alan, sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mu. Awas saja jika tidak berguna untuk bos! Bisa ku jual kau ke clab."


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭


Author gabut sebatas halu 😊


__ADS_2