Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Berantakan


__ADS_3

...💔💔💔...


Reina menyambar hape Mia dengan malas tanpa melihat nama siapa yang di hubungi oleh Mia di layar hapenya dan Reina mendekatkan benda pipih itu ke telinga kanannya.


"Halo!" Seru Reina dengan ketus.


[ "Kenapa kau menghalangi Mia untuk pulang lebih awal, Reina?" ] Suara Amer tampak tegas di telinga Reina.


Reina diam tidak bisa berkata, mampusss dah gw, apa yang di bilang Mia itu izin dari pak Amer? Kalo kaya gini caranya gw gali kuburan gw sendiri ini mah!


[ "Reina, kau mendengarkan saya!" ] Seru pak Amer lagi dengan nada suara yang lebih tinggi.


Mia yang melihatnya tersenyum licik, sukurin lo, makan tuh sifat songong lo! Baru jadi resepsionis aja udah belagu!


"I- iya pak, saya mendengar suara bapak." Reina tampak gelagepan untuk menjawab telpon.


[ "Berikan hape itu pada pemiliknya, awas kalo kau sampai berulah lagi!" ] Seru Amer yang tidak ingin di bantah.


Dengan wajah yang masam, Reina mengembalikan benda pipih itu pada Mia.


"Gimana mbak resepsionis, saya udah boleh pulang kan?" Tanya Mia dengan mengejek sambil memasukkan hapenya ke dalam blezer yang ia kenakan.


"Pulang tinggal pulang!" Seru Reina dengan sinis.


"Daaah!" Mia melambaikan tangan kanannya pada Reina yang tampak gusar.


"Mimpi apa gw semalam, gara gara itu bocah... gw jadi kena semprot pak Amer." Reina menggerutu.


Mia membunyikan klakson sepedah motornya saat melewati pos scurity, terdapat pak Mamad di sana yang tengah berjaga.


Pak Mamad menghampiri Mia yang menghentikan laju sepedah motornya tepat di depan pos.


"Aih si neng gelis, mau tugas dinas di luar, neng?" Tanya pak Mamad.


"Hahaha, si bapak tau aja." Ujar Mia yang mulai mengenakan helm di kepalanya.


"Oh iya neng, itu neng Layla apa hari ini gak masuk kerja ya? Saya tadi pagi gak lihat neng Layla datang masuk kantor." Ujar pak Mamad.


"Iya pak, jadi Layla itu hari ini emang lagi izin buat 3 hari gak masuk kantor." Terang Mia dengan ke dua tangan sudah berada di stang.


"Walah 3 hari, kenapa atuh neng itu sampe 3 hari izin gak masuk kerja pan ceritanya ya?" Tanya pak Mamad dengan penasaran.

__ADS_1


"Layla lagi di rawat, pak... ini saya mau jenguk sekalian ngerjain tugas di sana gitu pak." Celetuk Mia.


Dari arah pintu utama ke luar masuk gedung perkantoran, seorang pria paruh baya memanggil nama pak Mamad dengan melambaikan tangan kanannya.


"Pak Mamad!"


"Ooooh gitu ya neng, salam atuh ya neng kalo gitu mah ya!" Seru pak Mamad, "Atuh bapak ke sana dulu ya... ada yang manggil itu!"


"Saya juga udah mau jalan ko, pak!" Mia melajukan sepedah motornya meninggalkan gedung perkantoran yang sudah 5 tahun terakhir menjadi tempatnya mencari rezeki.


"Tar gw mampir dulu aja kali ya di mall depan sana, gw tanya deh tuh si Layla mau makan apa.. hahay deh, enak bener da'ah punya duit banyak... ora pake pusying mikirin akhir bulan." Dengan hati riang, Mia bersenandung selama di perjalanan menuju mall.


Sampai di parkiran mall, Mia mengeluarkan hape-nya dari dalam tasnya.


"Aduuuh kacau, gw baru inget tadi kan Layla hubungin gw pake hapenya pak Amer, sekarang gw harus hubungin Layla ke mana ini kalo kaya gini?" Gumam Mia dengan wajah kecewa.


Mia tetap melangkah memasuki mall dengan menenteng tas kerjanya, di dalam mall Mia membeli kue dan beberapa makanan kesukaan Layla dan dirinya.


Setengah jam sudah Mia di sibukkan dengan membeli banyak makanan, kini waktunya menuju rumah sakit tempat di mana Layla di rawat.


Mia menyusuri lorong rumah sakit dengan beberapa tentengan di tangannya.


"Untung gw udah tanya si Layla, di mana ruang rawatnya... jadi kan gw langsung meluncur ke ruang rawatnya... hahay deh." Gumam Mia.


Siang itu setelah kalah dalam berjudi, akhirnya Rudi kembali ke rumah dengan wajah yang masam di tambah mabuk.


Rudi memarkir sepedah motornya dan nyelonong masuk ke dalam.


Matanya membola sempurna dengan ke dua tangan berada di pinggang kepalaanya geleng geleng, "Ini rumah apa sarang sampah!"


Rudi di buat syok mendapati kulit kacang, kemasan cemilan yang berserakan di lantai dan di atas meja tempat biasa Melisa menghabiskan waktunya di rumah.


"Melisa!" Rudi menyerukan nama Melisa saat ia sudah berada di ruang depan.


"Apa sih bang, berisik banget deh! Baru pulang juga!" Melisa mengerucutkan bibirnya ke luar dari kamarnya.


"Kenapa rumah jadi berantakan seperti ini?" Tanya Rudi.


"Mana ku tahu, bang!" Melisa mendudukan dirinya di sofa setelah menyingkirkan kulit kacang sisa ia makan tadi pagi dengan menggunakan majalah.


Rudi tampak jiji menginjakkan kakinya di lantai, hingga ia memilih ke luar dan memakai lagi alas kakinya lalu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Apa saja kerjaan mu dari tadi, hah!" Rudi meninggikan suaranya saat ia sudah berdiri di depan Melisa.


"Abang kenapa sih! Jadi seneng ngebentakk gitu!" Melisa tidak mau kalah tinggi.


Tangan Rudi menjambakkk rambut Melisa, "Bersihkan rumah ini sekarang juga!"


Srek.


"Aaah sakit, bang!" Rintih Melisa dengan tangannya mencoba meraih tangan Rudi untuk melepaskan rambut panjangnya yang di jambakkk oleh Rudi.


Rudi melepaskan tangannya dari rambut Melisa dengan mendorong tubuh wanita itu hingga membentur dinding.


Bugh.


"Akh." Melisa memegang keningnya yang membentur dinding.


"Cepat bersihkan rumah ini! Jika sampai aku kembali, rumah ini masih berantakan... ku beri kau pada lelaki hidung belanggg!" Seru Rudi dengan tatapan mata yang nyalang pada Melisa.


Bugh.


Rudi membanting pintu dengan kasar lalu pergi dari rumah dengan menggeber sepedah motornya dengan keras.


"Uuuuh sakit sekali, apa meninggalkan luka ya?" Melisa mengusappp usapp keningnya dan bagian kepalanya yang rambutnya tadi di jambakkk Rudi.


Melisa berjalan memasuki kamarnya, di depan cermin ia melihat keningnya yang membiru akibat benturannn pada dinding.


"Aiiih sampe segininya kening gw, hiks hiks hiks hiks, bang Rudi tega banget sih sama gw sekarang." Melisa menangisi sikap Rudi yang belakangan mulai main tangan padanya.


Melisa masih ingat dengan perkataan Rudi akan memberikan dirinya pada lelaki hidung belanggg jika saat Rudi kembali rumah masih dalam keadaan berantakan.


Dengan tangannya ia mulai menyapu ruang depan yang sudah ia buat berantakan dengan sisa sampah cemilan dan kulit kacang.


"Kenapa nasib gw jadi gini banget ya! Lo di mana sekarang Layla, apa lo mikirin gw saat ini?" Melisa bergumam di depan foto Layla yang terpasang di dinding tengah tersenyum seorang diri.


Suara pintu di ketuk dari luar.


Tok tok tok tok.


...Bersambung......


...💔💔💔💔💔...

__ADS_1


Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol 🤭


Author gabut sebatas halu.


__ADS_2