
...💔💔💔...
Amer menghembuskan nafasnya kasar, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mu, tapi dari sorot mata mu... ada kebencian yang terlukis di sana, entah apa yang membuat mu jadi seperti ini. Yang pasti itu mungkin membuat luka di hati mu. Apa kau akan melihat ku yang ada di depan mu? Aku yang akan melindungi mu jika suami brengsekk mu itu mau melepaskan mu.
"Apa kau di usir dari rumah?" Tanya Amer.
"Uhuk uhuk unuk." Aku tersendak makanan yang masuk ke dalam mulut ku mendengar perkataan Tuan yang sudah menolong ku.
Amer menyodorkan segelas air pada ku dan aku pun meminumnya.
"Terima kasih, Tuan!" Ku serahkan kembali gelasnya padanya.
Amer menyuapkan kembali makanan pada Layla hingga habis. Amer juga dengan telaten memberikan obat pada Layla.
Sepertinya aku terlalu terburu buru jika langsung menanyakan padanya, biar ku beri dia waktu untuk beristirahat, toh masih ada hari esok untuk menanyakan padanya.
"Istirahat lah, aku tidak akan mengganggu mu!" Seru Amer yang memindahkan kembali nampan itu ke atas meja tempat tadi ia mengambilnya.
Aku menyandarkan punggung ku pada kepala ranjang, pikiran ku jauh menerawang bagai mana dulu pertemuan pertama ku dengan bang Rudi.
Flashback on
Setelah mengikuti acara sekolah dan pulang larut, aku yang berjalan kaki melewati komplek perumahan yang tampak sepi, jalan ku di hadang oleh 2 preman yang tengah mabuk.
Jika ada jalan lain untuk menuju rumah, aku pasti akan memilih jalan lain yang lebih aman, jalan yang ramai tapi sayangnya ini adalah satu satunya jalan untuk ku menuju rumah.
"Mau kemana anak manis?" Preman dengan tubuh tegap dengan kepala plontos menghadang jalan ku.
"Mau pulang, bang!" Seru ku dengan mundur beberapa langkah.
"Jangan takut dong, kita seneng seneng dulu yuk, neng!" Seru preman yang berambut panjang.
"Ja- jangan bang, saya mau pulang!" Ucap ku dengan meremasss kumeja yang aku kenakan.
Rasa takut menyeruak dalam dada ku, melihat 2 orang pria yang berbadan tegap dan mabuk, berusaha menghalangi jalan ku, jika melawannya aku bukan lah apa apa di mata mereka, aku berteriak pun tidak ada yang lewat, jalan nampak sepi, berbeda dengan hari biasanya.
"Sikat aja langsung, bang!" Seru preman berkepala plontos pada rekannya yang berambut panjang.
Aku terus mundur di saat mereka semakin dekat melangkah ke arah ku.
"Jangan, bang! Kalo abang maju, sa- saya akan teriak!" Ancam ku.
"Ahahaha, mau teriak bagai mana neng? Ini sepi loh! Tidak akan ada yang bisa menolong mu!" Seru preman berambut panjang.
Hanya dengan sekali tarikan mereka memegangi tangan ku dan menyeret ku.
"Jangan, bang! Lepas!" Aku meronta ronta, menarik tangan ku untuk bisa lepas dari cengkraman tangan mereka.
"Ahahaha, kali ini kita akan bersenang senang manis!" Seru preman berkepala plontos.
__ADS_1
"Tolong! Toling! Tolong siapa pun! Tolong saya! Hiks hiks." Aku menangis dalam jeritan berharap Tuhan berbaik hati mengirimi ku malaikat penolong.
Dengan tangannya, preman yang berambut panjang membekap mulut ku, "Emmmm, emmmm!" Tolong aku, siapa pun, tolong aku! Ya Tuhan, tolong kirim lah seseorang untuk menyelamatkan nyawa ku dari preman preman ini.
Aku terus berdo'a berharap ada secercah harapan untuk ku bisa lolos dari preman ini.
Mereka membawa ku ke gardu listrik yang ada di perumahan, tempat yang sangat sepi dan jauh dari rumah.
Bugh.
Preman berambut panjang menghempaskan tubuh ku ke dinding.
"Aaaakh."
"To- tolong bang, ja- jangan sakiti saya!" Seru ku dengan terisak.
"Ahahha ini hanya akan sakit sebentar ko manis!" Seru pria berambut panjang.
Dengan pandangan penuh nafsuuu ke duanya berjalan mendekati ku meski jalan mereka sempoyongan.
A- aku tidak bisa hanya diam, setidaknya aku harus lari.
"Ahahah, malam ini kita bersenang senang, bang!" Oceh preman berkepala plontos menatap ku seolah mangsanya.
Di saat mereka semakin dekat dengan ku, aku berlari menerobos celah di antara ke duanya, tapi sayangnya gerakan ku terbaca oleh mereka, ke duanya mencengkram lengan ku dan menyeret ku ke sudut ruang.
Mereka mendorong tubuh ku hingga membentuk dinding dan punggung ku terasa sakit menghantam dinding.
Satu di antara mereka melepas kait dan melepaskan celananya, sedang yang satunya menyingkap rok sekolah yang sedang aku kenakan hingga terangkat menampilkan paha ku yang mulus.
"Aaakh, jangan!"
"Tidak akan sakit, sayang! pasti kau akan ketagihannn!" Preman itu merabaaa paha ku dengan sekuat tenaga aku mendorong preman botak itu hingga tersungkur.
Srek.
"Mau coba lari kau ya!" Preman dengan rambut panjang menarik tangan ku menyudutkan ku ke dinding, ke dua pergelangan tangan ku di tahan di atas kepala ku dengan satu tangannya yang besar.
"Tolong, bang jangan apa apa saya! Hiks hiks hiks." Mata ku tak sanggup melihat akan nasib apa yang akan menimpa ku, aku memejamkan mata berharap Tuhan mengambil nyawa ku bila harus menerima kenyataan pahit yang seperti ini, di nodaiii preman bejattt.
Di saat preman dengan rambut panjang menarik paksaaa rok ku, preman berkepala botak meremasss ke dua gundukan kembar ku yang membusung.
"Aaaakh, kalian jahat, kalian bejattt... lepas kan akuuuu!"
Bugh bugh bugh.
"Aaakh." Suara rintihan preman.
Ku beranikan diri membuka mata di saat ke dua tangan ku tidak lagi di tahan oleh preman itu.
__ADS_1
Ku lihat ke dua preman itu jatuh tersungkur di lantai.
Aku memeluk tubuh ku sendiri, aku menangis tanpa suara.
Di bawah terang bulan seorang pria berbadan tegak melepaskan jaketnya untuk di kunakan pada tubuh ku, ai juga menghapus air mata yang membasahi pipi ku.
"Kau sudah aman sekarang!" Ucapnya lembut.
"Huaaaaaa, aku kotorrrr." Aku menangis menjerit dengan kaki yang lemas tidak mampu berdiri tubuh ku menyusut ke lantai hingga ku terduduk di sana.
Pria yang tadi menolong ku kini berjongkok dan mencengkram bahu ku, "Kata siapa kau kotorrr? Kau masih suciiii, itu artinya kau tidak kotorrrr! Sudah jangan menangis lagi, kita harus pergi dari sini, apa kau mau menunggu 2 cecungukkkk itu sadar dan menggerayangiii mu lagi? Menggauliii mu?"
Aku menggeleng.
Pria yang menjadi malaikat penolong ku menggendong ku dengan ke dua tangan kekarnya, mendudukkan ku di atas motor bebeknya.
"Biar ku antar diri mu!" Serunya lagi.
Aku pun pulang dengan di antar olehnya, saat di jalan dia menyebutkan namanya.
"Aku Rudi, kau siapa? Kenapa kau bisa pulang malam hari seperti ini? Apa kau habis kencan dengan pacar mu?" Cecar Rudi yang befikir jelek pada ku.
"Aku Layla, bang... aku tadi habis mengikuti kegiatan sekolah dan kebetulan ada pihak perusahaan yang akan memperkerjakan ku dan beberapa teman ku yang lain di saat kami lulus nanti, tadi CEO perusahaan itu datang terlambat hingga mau tidak mau acaranya maret dan aku pulang terlambat.
"Apa orang tua mu tidak menjemput mu?" Tanya Rudi.
Orang tua? Mana perduli mereka pada ku, mereka hanya sibuk mengurusi Melisa, adik tiri ku. "Orang tua ku tidak punya kendaraan untuk menjemput ku, bang."
"Memang menjemput harus pakai kendaraan? Jalan kaki juga bisa kan?"
"Ayah ku si- sibuk bang, i- iya ayah ku, si- sibuk." Rasanya kelu sekali untuk mengatakan pada bang Rudi, lagi pula aku masih asing dengannya, aku tidak boleh terlalu dekat dengannya.
"Ku pikir kau itu habis kencan dengan pacar mu hingga lupa waktu untuk pulang!"
"Aku tidak punya pacar, bang... mana ada laki laki yang mau dengan ku." Oceh ku.
"Owh begitu ya!" Rudi melirik dari kaca spion sepedah motornya.
"Oh iya bang, boleh aku minta pada mu!" Alangkah baiknya ayah dan ibu tiri ku tidak perlu tahu hal buruk yang baru saja menimpa ku, bila mereka tahu bukannya mereka bersimpati pada ku, yang ada mereka akan semakin gila menyiksa ku.
"Apa?"
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol ðŸ¤
Author gabut sebatas halu.
__ADS_1