Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Pengalihan perhatian


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Amer mengaduh ke sakitan, "Awwwhh, sakit mah!"


"Biar tahu rasa kamu tuh! Baru cubitan mama yang mendarat di lengan kamu! Bagai mana kalo saat kamu kembali, kamu tidak mendapati Layla di ruang rawat? Kamu mau cari Layla ke mana?" Omel Noer dengan tangannya yang terus mencubiti lengan kekar Amer yang ada di balik kemeja dan jasnya.


"Ihs udah mah, aku tidak meninggal kan Layla sendiri. Ada Hendra dan Jono yang sudah aku perintahkan untuk berjaga di luar, mah!" Kilah Amer.


Layla yang melihat tingkah ke dua orang dewasa, beda usia itu pun akhirnya berseru. Mereka begitu menghawatirkan ke adaan dan ke amanan untuk Layla.


"Tante, udah kasian Tuan Amer jangan di cubitin terus!" Seru Layla dengan tangannya yang melambai ke arah ke duanya.


Noer di buat terperengah, saat indra pendengaran nya mendengar Layla memanggil Amer dengan sebutan Tuan.


Noer menggeprak lengan Amer dengan tangannya, di tambah wajah gemasnya.


Prak.


"Kamu ini, apa apaan sih Amer? Kenapa Layla memanggil mu dengan sebutan Tuan? Kamu sebenarnya menyukai Layla atau tidak sih?" Cecar Noer dengan bertulak pinggang.


Amer langsung berlari ke arah ranjang rawat Layla, mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat Layla, dengan tangannya yang menggenggammm jemari Layla.


"Kau lihat itu Layla, apa yang sudah mama ku lakukan pada ku? Apa kau senang melihat nya? Hem?" Tanya Amer dengan pandangan nya yang teduh.


"Maaf Tuan, aku belum terbiasa untuk memanggil nama mu saja." Ujar Layla.


Noer membelai kepala Layla, berkata dengan lembut dengan sesekali matanya melirik kesal dengan Amer.


"Kamu tahu sayang, mulai sekarang kau harus membiasakan diri mu memanggil Amer bukan dengan kata Tuan. Bisa bisa wanita di luaran sana akan semakin berani untuk mendekati Amer!" Oceh Noer.


"Mama, kenapa bisa ada di sini? Bukannya mama sangat sibuk?" Tanya Amer.


Noer mendudukan dirinya di kursi yang ada di samping ranjang rawat Layla.


"Ihs kau ini, yang pasti mama tidak akan sibuk untuk menemani calon mantu mama yang satu ini." Jawab Noer dengan ketus.


"Tidak lama Tuan pergi, tante tiba di sini." Jelas Layla yang membuat Amer ber oh ria.


"Oooohhhhh." Oceh Amer.


"Amer... mama dengar dari Layla, kamu habis menghadiri meeting. Bagai mana dengan hasil meeting nya? Apa berjalan dengan lancar?" Tanya Noer.


Amer menoleh ke arah Noer dengan membuang nafasnya dengan kasar.


"Apa terjadi masalah, Tuan?" Tanya Layla.


Noer melirik ke arah Layla dengan bibirnya yang mengerucut dan kepalanya yang menggeleng.


"Layla, bukan Tuan... tapi Amer, hanya Amer saja, no itu Tuan!" Oceh Noer yang komplen dengan cara Layla yang memanggil Amer masih dengan kata Tuan.


Amer berseru, "Mah, jangan paksa Layla. Bila saatnya, pasti Layla akan memanggil nama ku saja."


"Jika Amer saja membuat lidah mu itu berat untuk memanggilnya, kamu bisa menambahkan kata kaka, mas, akang atau abang. Asal jangan kamu tahkan kata mbah atau eyang!" Oceh Noer yang memberikan Layla pilihan dengan terkekeh geli saat di akhir perkataan nya.

__ADS_1


"Mah, aku bukan mas koki, akang pecel bukan pula abang ojek." Ucap Amer.


Layla menarik sudut bibirnya ke atas, "Bagai mana kalo ka Amer aja? Aku dan ka Amer kan memang berbeda usia, ka Amer jauh lebih tua dari usia ku!" Oceh Layla.


"Mama setuju kalo Layla memanggil mu dengan kata kaka." Seru Noer.


Amer menjawil hidung Layla, "Ok, aku setuju."


"Jadi, bagai mana dengan hasil meeting yang baru saja kau hadiri tadi?" Tanya Noer.


"PT. Buana? Tidak ada kata kerja sama dengan PT. Buana, mah!" Oceh Amer.


Noer berkata dengan kening yang mengkerut, "Ko bisa? Bagai mana bisa? Kita ke hilangan investor dong Amer, kalo tidak ada kata kerja sama dengan PT. Buana?"


"Ya bisa dong, mah." Ucap Amer dengan santainya, aku rasa mama belum tahu... siapa perwakilan PT. Buana untuk meeting tadi.


Layla mendengarkan apa yang di bicarakan Amer dengan mamanya, karena Layla sendiri belum mengerti dan tidak tahu meeting apa yang di hadiri oleh Amer.


"Yang mama dengar dari papa mu, PT. Buana siap mengucurkan dana di atas 2M, kenapa kamu tolak Amer? Apa ada alasan kuat di balik ke putusan mu itu?" Tanya Noer dengan mood serius jika sudah membahas perusahaan.


Amer menatap serius ke dua mata mamanya, "Apa mama tahu, siapa perwakilan dari PT. Buana untuk membahas rapat dengan ku hari ini?" Tanya Amer dengan serius.


"Mana mama tahu, Amer! Yang mama tahu hanya jeng Nita yang meminta pekerjaan untuk putri nya Tasya!" Gerutu Noer dengan menatap sebal pada putranya.


Layla membatin, pantas saja Tuan Amer berat untuk mengambil ke putusan, secara Tasya meminta mamanya untuk bicara langsung pada tante.


Amer melirik ke arah Layla, tidak mungkin aku mengatakannya pada mama di depan Layla. Yang ada nanti Layla bisa salah mengartikan maksud ku untuk tidak melanjut kan kerja sama ini.


"Amer! Kenapa malah diam? Memang siapa perwakilan PT. Buana itu? Apa mama kenal dengan orangnya? Atau masih sahabat mama? Bisa lebih mudah dong Mer, jika kita kenal dengan calon relasi kerja nantinya!" Oceh Noer.


Amer tidak menggubris perkataan Noer, Amer justru memberikan pertanyaan pada Layla. Sebagai pengalihan perhatian dari ke duanya.


"Apa kau sudah makan, sayang?" Tanya Amer dengan mengelus pipi Layla.


"Ihs tadi kan sebelum Tu-- a- anu maksud ku, ka Amer hehehe." Layla tertawa kikuk saat lidahnya hampir saja mengatakan kata Tuan.


Noer bergumam dengan suara yang pelan, "Dasarrr anak nakal, pandai sekali kamu ya mengalih kan perhatian mama!"


Noer membatin, aku semakin penasaran, sebenarnya siapa yang menjadi perwakilan dari PT. Buana? Secara papa tidak mengatakan apa apa mengenai PT. Buana itu.


πŸ‚Rumah MelisaπŸ‚


Melisa langsung mendudukan dirinya di kursi, rumah yang begitu sepi dan sunyi setelah ia di perbolehkan untuk ke luar dari rumah sakit.


Tidak ada yang mengantarnya pulang, tidak ada seorang pula yang menjemput kepulangan nya. Saat di rumah pun tidak ada yang menyambut kepulangan nya.


Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang, mengingat setiap momen saat dirinya masih bersama dengan Rudi.


"Aku tidak menyangka kau setega itu pada ku, bang Rudi!" Gumam Melisa.


Seorang diri di rumah dengan ke adaan rumah yang masih berantakan, tidak ada yang berubah pada setiap ruang. Masih sama saat seperti Melisa meninggalkan rumah ini.


Tangannya terulur menyentuh perutnya yang rata, apa aku harus merasa senang saat perut ku kembali merata, tapi jika ia tetap hidup, siapa ayah dari bayi yang aku kandung?

__ADS_1


Tanpa terasa bulir bening ke luar menerobos kelopak mata Melisa.


Bodohnya aku, percaya begitu saja pada mu bang Rudi. Aku mengira selama aku di rumah sakit, kamu itu mencari uang untuk biaya pengobatan ku, namun kamu *malah masih bisa bersenang senang dengan wanita lain.


Kamu bercinta dengan wanita lain di atas ranjang yang dulu kamu tempati dengan Layla*.


Apa ini karma untuk ku... telah merebit mu dari tangan kaka tiri ku, bang?


Aku tidak pernah berbuat salah dengan Layla. Wanita itu yang sudah merebut ke bahagiaan ku, karena ayahnya pula. Perhatian ibu jadi terbagi untuk ku, siapa suruh Layla dan ayahnya Nata, merebut perhatian ibu dari ku.


Aku harus bisa mendapatkan apa yang Layla miliki, karena bagai mana pun aku harus lebih unggul dari Layla. Layla tidak boleh merasa bahagia jika aku tidak bahagia.


Melisa menyapu air matanya dengan kasar dengan tangannya yang membasahi pipinya. Ia menyeringai dengan pandangan yang sulit di artikan.


Tok tok tok tok.


Melisa menolah ke arah pintu yang di ketuk.


Tok tok tok tok tok.


"Siapa sih? Tunggu sebentar!" Seru Melisa dengan beranjak dan berjalan ke arah pintu.


Tok tok tok tok tok.


"Sabar dong jadi tamu tuh!" Gerutu Melisa dengan kesal di saat tamu nya yang berada di luar terus saja mengetok pintu dengan tidak sabaran.


Tok tok tok tok tok tok tok.


Ceklek.


Melisa bertanya dengan ketus pada seorang pria berbadan tinggi dan besar yang berdiri dengan memunggungi dirinya.


"Maaf, anda cari siapa?" Tanya Melisa dengan ke dua tangannya yang ia lipat di depan dadanya, matanya menatap sinis pada pria yang baru saja membuatnya kesal.


"Apa kamu masih tidak mengenali, ku?" Tanya pria itu saat membalik kan tubuhnya dan menghadap ke arah Melisa.


Kening Melisa mengkerut, "Ka- kamu? Ma- mau apa kamu ke sini?" Melisa melangkah mundur perlahan.


Pria itu menyeringai, bagus rupa nya kau masih mengingat ku!


Bugh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭


Author gabut sebatas halu

__ADS_1


__ADS_2