
...💔💔💔...
"Ja- jadi benar kau Melisa!" seru Layla dengan tergagap, ke dua matanya langsung mengembun.
Grap.
Layla langsung memeluk tubuh Melisa, dengan menjatuhkan tongkat penyanggah yang sedang ia gunakan.
"Aku merindukan mu, adik ku! Kemana saja kau selama ini?" tanya Layla dengan tulus, tangis nya pecah dengan seketika, tidak bisa terbendung lagi.
Melisa mendorong tubuh Layla dari tubuhnya, dengan gerakan yang cepat, Amer menangkap tubuh Layla dengan ke dua tangan kekar Amer. Amer menahan lengan Layla.
"Kau tidak apa apa kan sayang?" tanya Amer dengan penuh rasa khawatir pada Layla.
"Aku tidak apa apa, ka!" Layla menggenggammm jemari Amer, dengan seutas senyum yang tersungging di bibirnya.
"Tolong... Nona jangan berbuat onar, jangan berbuat kasar di toko saya ini!" terang Amer, dengan menatap tajam pada wanita, yang belum mengakui jika dirinya adalah Melisa.
"Heh, siapa suruh wanita mu berbuat tidak sopan pada ku!" Melisa melipat ke dua tangannya di depan dada.
"Harusnya kau mengatakan yang sejujurnya, jika kau itu adalah Melisa, tidak perlu memungkirinya lagi!" ujar Amer.
"Kenapa kau seyakin itu, jika aku ini adalah Melisa!" terang Melisa dengan menatap tajam Layla.
"Aku tidak akan pernah bisa melupakan mu, Melisa... meski pun aku terpisah dari mu beberapa tahun lamanya, aku tetap akan mengenali mu!" terang Layla.
"Dasar aneh! Ngaur aja jadi orang." sungut Melisa.
Amer yang menyadari, jika perdebatan mereka menjadi pusat perhatian, mengajak Melisa dan istrinya ke ruang kerjanya yang ada di toko itu.
Sedangkan karpet yang menjadi biang permasalah, di bawa masuk ke ruang kerja Amer oleh Hendra.
Hendra berjaga di luar, sambil menunggu Tuan-nya menyelesai kan permasalahan, yang terjadi di toko dengan di tambahnya lagi permasalahan yang terjadi dengan Layla dan Melisa.
Amer mendudukan dirinya di kursi ke besarannya, sedangkan Melisa dan Layla duduk di kursi yang ada di hadapan Amer, mereka hanya di jarak dengan sebuah meja kerja yang membentang.
"Jadi, apa anda ingin mengakui jika kau adalah benar Melisa?" tanya Amer.
"Enak saja kalo bicara!" ucap Melisa dengan ketus.
"Ayo lah Melisa, akui jika diri mu adalah Melisa. Aku tidak akan marah, atas apa yang sudah kau lakukan pada ku di masa lalu." ujar Layla dengan menatap Melisa dengan penuh harap.
Melisa menajamkan tatapan, aku tidak akan semudah itu percaya dengan mu, Layla. Kau pikir aku tidak tahu dengan rencana mu, pasti kau akan membalas semua perbuatan buruk ku pada mu.
Layla meraih jemari Melisa, lalu menggenggammm nya, "Aku yakin ini adalah diri mu, Melisa. Kita tumbuh dan besar bersama, mustahil jika aku tidak mengenali mu?" gumam Layla dengan seutas senyum di bibirnya.
__ADS_1
Melisa menepis tangannya dari Layla, lalu ia beranjak dari duduknya, "Sudah cukup! Sekarang cepat selesaikan masalah karpet ku ini!" ketus Melisa.
"Dasar keras kepala!" Amer beranjak dari duduknya, mengecek kode pada karpet yang di bawa Melisa.
Setelah beberapa menit mengecek nya, dasar penipu, mau memeras ku ya rupanya! batin Amer.
Amer beranjak dari posisinya, setelah berhasil mengecek karpet yang di bawa oleh Melisa.
"Siapa yang berani menyuruh Anda untuk membuat ke ributan ini?" tanya Amer dingin.
Melisa mengerutkan keningnya, "Apa maksud anda? Saya tidak mengerti!" ujar Melisa, "Jadi anda ingin mengganti karpet ini atau tidak!" tanya Melisa dengan tegas, menatap tajam Amer.
"Untuk apa aku mengganti, jika itu memang bukan barang dari produksi toko kami ini!" terang Amer.
"Kurang ajarrr kau! Jelas jelas ini karpet buatan toko mu! Masih tidak mau mengakuinya!" Melisa melipat ke dua tangannya di depan dada.
"Terserah anda, jika anda terus kekeh dengan pendirian anda sendiri... mengatakan jika itu adalah karpet produksi toko ini. Saya tidak ke beratan untuk mengambil jalur hukum. Memenjarakan anda atas tuduhan barang palsu!" terang Amer dengan tangan yang mengangkat gagang telepon, yang ada di atas meja kerjanya.
Melisa menatapnya dengan tajam, sialannn, semudah itu mereka mengetahui ke bohongan karpet ini!
Tanpa banyak berkata, Melisa meninggalkan ruang kerja Amer, mengabaikan seruan Layla.
Layla beranjak dari duduknya, berusaha mengejar Melisa "Melisa!"
Bugh.
Amer langsung beranjak dari duduknya, menghampiri Layla, membantunya berdiri dengan memapahnya.
"Kau tidak apa apa kan, sayang?" tanya Amer dengan cemas.
"Tidak ka, tapi itu, Melisa... aku yakin itu adalah Melisa ka!" terang Layla.
"Nanti kita cari tahu ya, sekarang kau tunggu lah di sini!" Amer mendudukan Layla di sofa yang ada di ruang kerjanya.
Grap.
Layla menggenggammm pergelangan tangan Amer.
"Ka Amer mau ke mana?" tanya Layla dengan polosnya.
"Aku ke luar sebentar... aku tidak akan lama Layla, setelah ini kita kembali ke kantor." terang Amer, setelah mengecup kening Layla.
Amer ke luar, menghampiri karyawannya yang sedang bertugas pada saat itu.
"Apa sebelum ini, ada ke jadian yang seperti ini di toko ini?" tanya Amer setelah berada di meja kasir.
__ADS_1
"Tidak pernah, pak. Bahkan saya baru melihat wanita tadi. Wanita yang tadi membuat masalah, bukan salah satu pelanggan toko ini pak." terang wanita yang bertugas di kasir.
"Di mana kepala toko?" tanya Amer, "Dari tadi aku belum melihatnya." terangnya lagi.
"Mungkin masih di pusat pak, mengambil beberapa barang. Ke betulan banyak barang yang kurang, setelah beberapa hari belakangan ramai pengunjung." terang si kasir.
"Layani pelanggan dengan baik ya!" seru Amer, yang lantas masuk ke dalam ruang kerjanya.
Seperti apa kata Amer, kini Amer membawa Layla kembali ke dalam mobil. Menuju kantor pusat.
🍃🍃🍃
Prang prang.
Guci, vas bunga, serta barang barang pecah berserakan di lantai, di lempar oleh Alan.
Alan di buat geram, setelah mendapat telpon dari orang suruhannya, ternyata misi pertama yang di jalankan Melisa mengalami kegagalan.
"Dasar bodoh! Harusnya ia bisa bekerja dengan otak! Bukan hanya mengandal kan akal! Dasar bodoh!" ucap Alan dengan nada tinggi.
Nusi langsung masuk ke dalam ruang kerja bosnya.
"Ke betulan kau sudah ada di sini! Cepat kau siapkan hukuman untuk wanita bodoh itu! Biar lain kali, ia bisa bersikap lebih kejammm lagi!" ucap Alan, dengan tatapan mata nya yang tajam, siap menghabisiii siapa saja yang ada di hadapan nya.
"Baik bos." Nusi langsung ke luar lagi dari ruang kerja Alan.
Beberapa jam kemudian, Melisa sudah berada di kamar yang begitu gelap tanpa cahaya sedikit pun. Terkurang selama 2 jam, sudah membuatnya cukup sesak untuk tetap bertahan.
Bugh bugh bugh.
Melisa yang mulai lemas, duduk bersandar pada pintu, memukulll pintu dengan kepalannn tangannya, berharap ada yang mau membuka kan pintu untuk dirinya.
"Tolong Tuan, ke luarkan saya dari sini! Saya akan melakukan apa pun yang Tuan minta, tolong ke luarkan saya dari sini!" seru Melisa dengan terisak, keringat mulai membasahi tubuhnya.
Dalam ke putus asaan, Melisa di buat semakin membenci Layla.
Selama berbulan bulan, aku berusaha meloloskan diri dari para penjahat itu, setelah aku lolos... bukannya bahagia, tapi ke malangan lagi yang aku terima. Sedang kan kau, kau semakin hidup tenang dan nyaman bersama dengan pria yang menyayangi mu, Layla!
Awas kamu Layla, akan ku rebut mereka yang menyayangi mu, akan ku rebut pria yang kini menjadi suami mu! Harusnya aku yang bahagia Layla, bukan kamu!
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung......
Salam manis author gabut 😊
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komen dan jejak 😊😊