
...💔💔💔...
"Maaf Tuan, saya baru saja dapat pesan dari pak Nusi. Jam 10 nanti meminta izin bapak untuk, menjemput Nona Layla." Ujar Gunawan.
Layla membola, "Ha? Menjemput saya? Untuk apa Gunawan?"
Hendra menatap heran pada Layla, Amer dan Gunawan secara bergantian, apa ada yang aku lewatkan? Tuan Amer dan Nona Layla tampak tegang?
"Maaf Nona, biar Tuan Amer yang jelaskan pada Nona, saya hanya menyampaikan apa yang harus saya sampaikan." Ucap Gunawan.
Amer memberikan perintah pada Gunawan, untuk ke luar dari ruang kerjanya, dengan kibasan tangan nya.
"Saya permisi, Tuan." Gunawan menunduk hormat, lalu ke luar meninggalkan ruang kerja Amer.
"Kenapa jadi mendadak gini, ka?" Tanya Layla dengan menatap heran pada Amer.
"Aku juga tidak tahu Layla, kau dengar sendiri kan! Aku juga baru mengetahuinya. Jadi apa kau ingin mundur, Layla?" Amer meminta pendapat dari wanita yang tidak lain adalah istrinya.
"Aku tidak akan mundur ka, inget profesional kerja. Aku kembali ke ruang kerja ku saja lah. Mempersiap kan apa saja yang harus aku bawa nanti." Gumam Layla, yang langsung meninggal kan ruang kerja suaminya.
Amer membuang nafasnya dengan kasar, "Kau tahu Hendra, pak Alan mengancam ku untuk melaporkan Amer corp ke polisi... jika aku menolak untuk bekerja sama dengan perusahaannya."
Hendra mengerutkan keningnya, "Melaporkan atas dasarrr apa, Tuan?"
"Perbuatan yang tidak menyenang kan serta penghinaan." Ujar Amer.
"Saya masih tidak mengerti, Tuan." Ucap Hendra.
"Jelas kau tidak mengerti, kejadian itu baru kemarin. Di saat pak Alan dan sekretarisnya itu datang ke kantor ini, untuk membicarakan kerja sama, niatnya aku ingin menolaknya." Amer menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi ke besarannya.
"Aulia menyajikan teh lautan pada pak Alan dan sekretarisnya itu... yang lebih parahnya lagi, Aulia menyemburkan minumannya ke wajah pak Alan, saat Aulia mencoba minumannya itu." Ujar Amer. Menjelaskan apa yang terjadi pada perusahaannya, hingga menyetujui untuk bekerja sama dengan Ardiansyah group.
"Lalu apa hubungannya dengan Nona Layla? Kenapa pak Nusi meminta izin pada Tuan, untuk menjemput Nona Layla?" Tanya Hendra.
"Pak Alan ingin setiap orderan yang datang dari Ardiansyah group, di tangani sendiri oleh Layla dengan kata lain, di disein sendiri oleh Layla, dan Layla harus mengerjakan nya di kantor mereka." Terang Amer.
Hendra mengangguk mengerti, namun sesaat kemudian Hendra bertanya, "Apa yang Tuan fikirkan, kenapa pak Alan menginginkan Nona Layla mengerjakan disein nya di kantor mereka?"
Amer membuang nafasnya dengan kasar, "Entah lah, saya tidak tahu."
__ADS_1
"Tapi sebaiknya, Tuan mengingat kan Nona untuk tetap waspada pada pak Alan." Usul Hendra.
"Aku ingin, selama Layla di sana... kau ikut dengannya." Ucap Amer.
"Saya rasa, pak Alan tidak akan membiarkan saya untuk mengawal Nona, Tuan." Ujar Hendra.
"Kau ke luar lah!" Amer menyuruh Hendra untuk meninggalkan ruang kerjanya.
Kini Amer seorang diri di ruang kerjanya, gurat kecemasan nampak nyata di wajah Amer.
Hingga tanpa terasa, kini sudah mendekati jam 10 pagi. Amer bersiap ke luar dengan bertepatan, Nusi yang baru saja ke luar dari lift.
Nusi menyeringai, saat ke dua matanya melihat Amer yang kini melangkah ke arahnya, aku berani bertaruh, kau pasti akan ke hilangan istri mu, jika membiarkan nya bekerja di kantor Ardiansyah group, tidak ada seorang wanita pun yang mampu menolak pesona Tuan Alan.
Amer membatin dengan langkah kakinya yang ingin menuju ruang kerja Layla, namun sayangnya malah melihat Nusi.
Sebenarnya apa yang di inginkan pak Alan, sampai mengirim Nusi untuk menjemput Layla? Apa dia takut, aku tidak memenuhi ke inginannya?
Nusi dan Amer saling bersitatap dingin, saat mereka berdua sama sama berdiam diri di tempatnya, hanya berjarak 2 langkah.
Nusi menunduk hormat pada Amer, "Selamat pagi, pak!"
"Hem." Amer melirikkan pergelangan tangannya, "Kau datang lebih awal, rupanya pak Nusi!" Amer tersenyum kecut.
Amer membatin, sombong sekali orang ini, hanya seorang sekretaris tapi berlagak bos.
"Maaf pak Amer, saya harus bertemu dengan Nona Layla. Bisa kan saya membawa Nona Layla pergi dari sini?" Tanya Nusi.
"Biar aku panggilkan, kau tunggu lah di sini!" Amer melangkah masuk, ke ruang yang bertuliskan ruang disein di pintu.
"Baik lah, saya akan menunggu di sini." Ujar Nusi.
Di dalam ruang disein. Amer langsung melangkah kan kakinya ke arah meja Layla. Melewati meja Nami dan Mia.
"Selamat pagi, pak!" Sapa Nami, saat melihat bos besarnya melewati meja kerjanya.
"Pagi!" Jawab Amer singkat dengan datar.
"Wiih ada bos ganteng, selamat pagi pak." Sapa Mia dengan tersenyum ramah pada Amer.
__ADS_1
"Penjilat!" Sungut Amer dengan kaki melangkah begitu saja.
"Sayang! Apa kau sudah siap?" Tanya Amer dengan lembut, saat sudah berada di samping kursi Layla,
Nampak Layla tengah menari narikan jemarinya di keyboard, pandangannya pun fokus pada layar laptopnya.
"Ka Amer?" Layla mendongak kan kepalanya, menarik sudut bibirnya, memperlihatkan senyum manisnya pada suaminya.
"Ayo kemasi barang mu, ada pak Nusi yang menunggu mu di luar!" Seru Amer.
"Kaka serius? Tapi ini kan masih ada beberapa menit sebelum jam sepuluh." Terang Layla, setelah melihat jam di layar hape-nya yang ada di atas meja.
"Tidak apa sayang, lebih awal lebih baik kan!" Seru Amer.
Layla pun memasukkan laptopnya ke dalam tasnya, menyimpan hapenya di blezer yang melekat di tubuhnya.
Amer merekatkan tangannya di pinggang Layla, saat Layla beranjak dan melangkah ke luar.
"Apa kau sudah siap, Nona? Bisa kita jalan sekarang?" Tanya Nusi saat melihat Layla bersama Amer, sama sama ke luar dari ruang disein.
Tidak ada banyak drama, Layla pun langsung melangkah kan kakinya, dengan pasti tanpa ke raguan bersama dengan Nusi. Meninggalkan kantor Amer Crop, menaiki mobil menuju kantor Ardiansyah group.
Layla menatap takjub pada gedung tinggi pencakar langit, yang bernuansa artistik, terlihat mewah dan elegan. Terdapat beberapa lukisan di lobby.
"Silahkan lewat sini, Nona!" Seru Nusi yang mengarahkan Layla untuk menaiki lift khusus CEO.
Layla di buat takjub lagi, ke dua matanya di manjakan dengan disein interior yang mewah, saat kakinya melangkah di lantai 10.
"Kenapa sepi sekali, pak Nusi? Seperti tidak ada aktivitas kantor." Ucap Layla.
"Ini masih jam kerja Nona, jadi mereka sedang fokus menyelesai kan pekerjaan mereka, di setiap ruang kerja mereka tentunya." Terang Nusi.
"Lalu, di mana nanti aku akan bekerja... selama aku berada di sini pastinya!" Seru Layla.
"Nona tidak usah khawatir, saya sudah menyiapkan ruang khusus, untuk Nona selama berada di kantor Ardiansyah group." Nusi menyeringai.
"Benarkah? Wah saya sangat tersanjung lo. Di siapkan ruang khusus, seolah saya ini istimewa untuk perusahaan ini." Layla menarik sudut bibirnya, dengan matanya yang indah.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
__ADS_1
...Bersambung......
Salam manis author gabut 😊