
...💔💔💔...
"Benarkah? Wah saya sangat tersanjung lo. Di siapkan ruang khusus, seolah saya ini istimewa untuk perusahaan ini." Layla menarik sudut bibirnya, dengan matanya yang indah.
Nusi menyeringai, kita lihat nanti Nona, apa kau masih beranggapan, jika kau ini istimewa setelah tahu ruang kerja mu.
Nusi menghentikan langkah kakinya, saat berdiri di salah satu pintu depan papan nama, ruang direktur utama.
Ceklek.
"Silahkan masuk, Nona!" Seru Nusi dengan tangan yang masih berada di hendle pintu.
Layla mengerutkan keningnya, "Apa bapak tidak salah mengantar saya? Pak Nusi pasti keliru, ini kan ruang direktur utama." Layla diam mematung, di tempatnya berpijak.
"Maaf Nona, saya tidak mungkin keliru... saya sendiri yang sudah menyiapkan meja kerja anda di dalam sana!" Nusi mengutas senyumnya pada Layla.
"Apa? Di dalam?" Layla bergumam pelan.
"Halo Nona! Selamat datang di Ardiansyah group! Semoga kau senang bisa mengerjakan tugas mu di ruangan ini!" Suara bariton Alan, terdengar beriringan dengan suara sepatunya yang melangkah menapaki lantai.
Alan menyambut ke datangan Layla, dengan tatapan matanya yang tajam, senyumnya yang menyeringai. Berdiri tegak, tidak jauh dari pintu ruang kerjanya yang masih terbuka.
Layla memperhatikan wajah Alan, pria ini kenapa terlihat tidak tulus ya? Senyumnya sama seperti bang Rudi dulu, kenapa aku jadi menyamakan pak Nusi dengan bang Rudi? Apa ini hanya perasaan ku saja?
Alan membatin, tidak ada istimewanya! Pantas saja jika adik tirinya, sampai merebut mantan suaminya dari tangannya. Di lihat dari segi mana pun, wanita ini tidak pantas untuk di pertahankan! Pantas saja jika suaminya lebih memilih berselingkuh dengan adik iparnya sendiri.
Nusi memperhatikan ke duanya secara bergantian, apa yang Nona Layla dan pak Alan fikirkan?
"Apa kau ingin aku menggendong mu, untuk duduk di kursi kerja mu, Nona Layla!" Tanya Alan dengan sinis
"Tidak perlu, saya bisa sendiri! Tapi apa saya bisa memilih untuk mengerjakan nya di tempat lain? Emm masud saya, tidak satu ruang dengan, Tuan Alan." Ujar Layla yang tampak ragu, untuk melangkah kan kakinya ke dalam ruang direktur utama.
Dengan wajah datarnya, Alan melangkah maju, berdiri lebih dekat dari Layla, "Apa kau tahu Nona, di sini bukan perusahaan suami mu! Jadi patuhi setiap apa yang aku katakan!" Ucap Alan dengan berbisik di telinga Layla.
Layla melangkah mundur satu langkah dari Alan, sabar Layla, ini ujian untuk mu.
__ADS_1
"Apa kau pikir, aku ingin berada di dekat mu? Jangan ge'er!" Alan membalikkan tubuhnya, berjalan ke arah kursi ke besarannya.
Layla melangkah, ke arah yang di sinyalir adalah meja kerjanya, berujar dengan sopan, "Maaf Tuan Alan yang terhormat, jika Tuan berfikir seperti itu. Saya hanya takut, Tuan terganggu dengan ke hadiran saya di sini."
Layla mendudukan dirinya di kursi kerjanya yang baru. Mengeluarkan laptopnya dari dalam tasnya.
"Owh bukannya Nona yang takut jatuh cinta dengan saya? Selama satu tahun ke depan, Nona Layla akan sering bertemu dengan saya, satu ruang kerja yang sama, bahkan akan lebih sering bersama." Ujar Alan dengan menyeringai.
Layla hanya tersenyum kecut, tanpa berniat untuk menjawab apa yang di katakan Alan padanya.
Layla menatap laptopnya dengan pandangan yang fokus, jemarinya mulai menarik nari pada papan keyboard, dia pikir aku ini apa? Wanita yang mudah tergoda dengan pria lain? Astaga... sempit sekali pemikirannya.
Alan menatap tajam Layla, pulpen yang ada di genggamannya terus iya mainkan dengan berputar putar, kurang ajarrr... wanita ini berani mengabaikan ku! Dia pikir, siapa dia itu!
Sementara Nusi sudah pergi meninggalkan ruang kerja bosnya, dengan pintu yang kini tertutup. Hanya ada Layla dan Alan, yang kini berada di dalam ruang kerja direktur utama.
"Apa kau sudah tau! Konsep apa yang aku inginkan, untuk disein pada karpet yang aku order dalam bulan ini?" Tanya Alan dengan angkuhnya.
"Tuan hanya perlu katakan, seperti apa konsep yang Tuan inginkan." Terang Layla dengan santainya.
"Aku ingin konsep yang menggambarkan ke mewahan, elegan, dengan warna yang kalem, serta misterius." Ujar Alan, dengan pandangan yang seolah, sedang menggambarkan seperti apa yang ia katakan.
Alan mengerutkan keningnya, "Apa maksud mu, wanita atau pria?"
"Yang Tuan gambarkan itu, di tujukan untuk wanita atau pria? Apa pertanyaan ku itu masih kurang jelas di telinga anda, Tuan?"
"Apa bedanya dengan wanita atau pria? Pada intinya, aku ingin karpet yang kau disein itu nantinya... akan saling melengkapi dengan hunian yang berkelas, bertaraf internasional." Terang Alan yang bergerak di bidang real estate, hunian mewah.
"Baik lah."
"Apa kau sudah menggambarkan nya! Seperti apa yang aku ingin kan?" Tanya Alan dengan penasaran.
"Sabar Tuan, Tuan Alan baru mengatakan nya kan! Aku butuh waktu untuk menggambarnya." Ejek Layla.
"Cepat lah selesai kan tugas mu!" Gerutu Alan dengan tegas.
__ADS_1
"Tanpa Tuan minta, aku juga akan mengerjakan tugas ku lalu menyelesaikan nya!" Gerutu Layla.
Hape Layla yang ada di saku blazer nya bergetar.
Dreeet dreeet dreeet dreeet.
Layla mengeluarkan hapenya, dari dalam saku blezernya.
Layla mengerutkan keningnya, mana kala melihat siapa, yang sedang menghubungi nomor teleponya.
Layla menjawab panggilan teleponnya, dengan tangan kanannya, ia menempelkan benda pipih itu pada daun telinganya.
Sedangkan mata dan tangan kirinya, tetap fokus pada disein yang sedang ia kerjakan.
[ "Hai Layla, kau ini beneran mengerjakan proyek disein di kantor itu? Kau tidak mengajak serta diri ku?" ] Tanya Mia, setelah panggilan teleponnya di jawab oleh Layla.
"Coba kau tanya kan saja sendiri, pada orang yang memberikan persyaratan itu!"
[ "Memang siapa yang memberikan persyaratan aneh seperti itu?" ] Tanya Mia.
"Emmm siapa ya, beritahu tidak ya!" Layla melirikkan ekor matanya pada Alan.
Alan yang mulai merasa terganggu dengan suara, ocehan Layla, terlihat jelas dengan tingkah Alan yang tidak bisa diam dalam duduknya.
Kini gantian suara Nami yang terdengar dari sebrang sana.
[ "Bagai mana Layla, apa mereka terlihat baik pada mu?" ]
"Menurut kalian, bagai mana? Apa kalian begitu banyak waktu senggang, sampai bisa menelpon ku, di jam kerja seperti ini hem?" Ucap Layla, sebagai pengalihan perhatian dari sahabatnya yang menghawatirkan dirinya di kantor orang.
"Bisa kau kecikan suara mu sedikit, Nona Layla! Suara mu itu sudah mengganggu telinga ku!" Gerutu Alan dengan suaranya yang dingin.
[ "Itu suara siapa Layla? Tidak mungkin itu suara pak Alan kan?" ] Tanya Mia yang mulai di liputi rasa khawatir.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
__ADS_1
...Bersambung......
Salam manis author gabut 😊