
...πππ...
"Di rumah lo ada bini lo, bang?" Tanya pria berambut gondrong.
Rudi mengerutkan keningnya, Layla gak ada di rumah, udah gw usir semalam, "Kenapa lo nanya bini gw? Demen lo sama bini gw?" Tanya Rudi geram.
Pria berambut gondrong mengedipkan matanya pada temannya si pria berkepala plontos.
"Bukan gitu, bang... kan bang Rudi sendiri yang bilang apa lagi yang mau di jadiin taruhan, sekedar kasih saran sih bang." Oceh pria berkepala plontos.
"Maksud lo, apa nih... gw gak paham... terus terang aja lah!" Seru Rudi dengan meneguk minuman yang memabukkan itu dari botolnya langsung.
"Maksud gw ya boleh lah di jadiian taruhan baranggg semalam aja bang, ya sekali pake lah kalo abang keberatan mah ya!" Oceh pria berambut gondrong.
"Kalo bang Rudi menang, uangnya bisa bang Rudi dapetin, jangankan uang, motor bang Rudi aja bisa itu balik lagi ke tangan bang Rudi!" pria berkepala plontos semakin mengkompori Rudi untuk tetap bermain dengan taruhan istrinya.
Rudi tampak berfikir, masa iya gw jadiin Layla taruhan, gw kan gak tau sekarang ini Layla di mana. Yang ada di rumah cuma Melisa... ah dari pada itu bocah manja gak ada gunanya, bisa lah ya gw jadiin tuh bocah baranggg taruhan, secara kalo gw menang, dia juga bisa nikmatinnn hasilnya kan.
Pria berambut gondrong menyenggol lengan pria berkepala plontos.
"Ayo lah bang, lanjut aja lah... masa nyali bang Rudi kecil, ciut cuma gara gara bini!" Seru pria berkepala plontos.
"Iya nih bang, ayo bang lanjut main! Atau abang mau uji coba lebih dulu. Kira kira itu bini abang bawa hoki atau kaga!" Pria berambut gondrong tidak habis akal untuk membuat Rudi menjadi kan wanitanya sebagai bahan taruhan.
"Tapi kalian perlu tahu nih." Ucap Rudi pada ke dua teman mabok dan teman judinya.
Pria berambut gondrong dan pria berkepala plontos saling bertatapan menyerukan batin mereka yang sudah bertanya tanya apa yang akan di ucapkan Rudi.
"Langsung aja bang ke intinya!" Terang pria berkepala plontos.
Pria berambut gondrong membatin, sebenarnya apa yang perlu gw tau dari bang Rudi?
Pria berkepala plontos membatin, kira kira kalo itu Layla yang ada di atas meja ini, siapa yang bakal keluar sebagai pemenangnya? Bisa bermesraan dengan Layla, yah meski cuma bekas Rudi, tapi setidaknya boleh juga lah.
"Bukan Layla yang ingin gw jadiin barang taruhan." Rudi menatap bergantian pria berambut gondrong dan pria berkepala plontos.
"Yang mau gw jadiin barang taruhan itu... Melisa." Oceh Rudi dengan yakin.
"Yakin, lo bang? Melisa adik ipar lo?" Tanya Pria berambut gondrong.
__ADS_1
"Yang aduhai itu bang?" Tanya pria berkepala plontos.
"Lo pikir adik ipar gw ada berapa orang? Melisa yang kaya gitar Spanyol tuh baru bener!" Oceh Rudi meralat perkataan temannya.
"Gak masalah lah bang, intinya ada goa yang bisa di bobolll hahaha!" Pria berambut gondrong tertawa lepas saat mendengar perkataan Rudi.
Pria berkepala plontos geleng geleng kepala melihat tingkah Rudi, kena lo, Rudi! Bodohh banget lo kalo sampe tega jadiin bini lo taruhan, udah numpang hidup sama bini, gak punya malu mau jadiin bini lo taruhan.
"Ya udah ayo kita lanjut main, gw yang kocok ya!" Pria berambut gondrong dengan semangat mengocokkk kartu remiiii yang ada di tangannya dan mereka melanjutkan permainan kartunya lagi.
Sesekali mereka menengguk minuman memabukkan langsung dari botolnya, waktu bergulir dan akhirnya Rudi kalah dari pria berambut gondrong.
"Ahahaha, gw menang bang... lo harus tepatin janji lo bang." Oceh pria berambut gondrong yang sudah dalam pengaruh minuman.
"Iya, iya, gw pasti tepatin perkataan gw... kaya gak tau siapa gw aja lo!" Seru Rudi.
Prak.
Pria berkepala plontos menepak lengan temannya yang berambut gondrong.
Drngan bangga pria berkepala plontos berkata, "Hebat lo bro bisa seneng seneng nih sama gitar Spanyol, hahaha!"
"Bisa aja lo, bro!" Pria berambut gondrong mengerlingkan matanya pada pria berkepala plontos.
"Sekali lagi deh, penasaran gw... masa iya gw bisa kalah dari lo!" Rudi meneguk habis minumannya.
"Hayo lah kalo kaya gitu, gw jabanin bang." Oceh pria berambut gondrong.
"Gw buang air kecil dulu deh, kebelet nih!" Rudi beranjak dari duduknya dan meninggalkan ke duanya.
Pria berkepala plontos melirik ke arah Rudi yang berdiri di balik dinding dengan memunggungi ke dua temannya.
"Sekarang giliran lo yang bantuin gw, gw juga kan mau icippp icippp Melisa!" Seru pria berkepala plontos dengan suara pelan.
"Beres bang, tenang aja!" Pria berambut gondrong bertos ria dengan pria berkepala plontos.
Pria berambut gondrong mengarahkan 5 kartu pada temannya itu lalu menaruhnya pada tumpukan paling atas.
Ke duanya bersekongkol untuk membuat Rudi kalah, dengan begitu mereka bisa memiliki apa saja yang Rudi miliki tanpa harus mencuri atau merampasnya.
__ADS_1
Rudi kembali ke tempat duduknya.
"Ini bang, biar lo yang gantian yang bagiin, tadi udah gw kocokkk." Pria berambut gondrong menyerahkan kartu remiii pada Rudi.
"Biar lo aja yang duluan, bang!" Seru pria berkepala plontos.
Tanpa banyak bertanya Rudi pun membagikan kartunya mulai permainan.
πDi tempat lainπ
Selepas kepergian Rudi, Melisa yang sudah mandi kini hanya bermalas malasan dengan duduk di atas sofa menonton tivi di ruang depan, lantai berantakan dengan kulit kacang yang berserakan.
Hape Layla yang ada di atas meja berdering pun tidak ia hiraukan.
πΆ πΆ πΆ
"Berisik sekali!" Gerutu Melisa tanpa melihat siapa si penelepon terlebih dahulu Melisa langsung menonaktifkan hapenya dan menaruh kembali di atas meja.
Melisa yang mulai merasa lapar dan bosan pun berteriak menyerukan nama kaka tirinya.
"Laaaa, Layla! Iih ke mana sih itu orang!" Melisa lupa jika ia sendiri yang sudah menyuruh Rudi untuk mengusir Layla dari rumah.
Kaki Melisa beranjak dari atas sofa dan menginjak kulit kacang yang berserakan di atas lantai.
"Ihs, jorok banget sih! Biasanya juga bersih dan rapih ini rumah... kenapa sekarang jadi berantakan gini sih!" Melisa menggerutu dengan hati hati melangkah menuju meja makan.
Tangannya terulur mengangkat tudung saji yang ada di atas meja, berharap ada masakan yang bisa di makan.
"Sialannn, kalo kaya gini.. gw mau makan apa?" Sungut Melisa yang tidak mendapati apa apa di balik tudung saji.
"Mending gw beli nasi uduk aja lah!" Gumam Melisa dengan berbekal uang lima puluh ribu di tangannya, ia ke luar menuju warung penjual nasi uduk.
"Ibu, mau nasi uduknya dong satu bungkus, pake semur ya!" Seru Melisa yang kini berdiri di samping si ibu penjual nasi uduk.
"Tumben nyarap nasi uduk neng, emang Layla lagi gak masak?" Tanga si ibu penjual nasi uduk.
...Bersambung......
...πππππ...
__ADS_1
Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol π€
Author gabut sebatas halu.