Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Do'a dan penantian


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Amer mengeluarkan hapenya dari saku celananya dan melihat siapa yang sedari tadi menelponnya.


Keningnya mengkerut saat melihat nama kontak yang menelponnya dan tidak lama orang itu menelpon lagi.


...Calling...


...Rara...


Amer menatap Layla dalam diam.


"Angkat saja, Tuan... pasti orang itu menelpon karena ada yang penting yang harus di bicarakan." Layla tersenyum pada Amer.


"Tunggu lah di sini!" Amer mengusap pucuk kepala Layla.


Layla menatap kepergian Amer yang menghilang di balik pintu ruang rawatnya, apa benar dia menunggu ku? Apa benar rasa yang pernah ada untuk ku masih ada di hatinya?


# Flashback on.


Jam di dinding menunjukkan angka 2 yang berarti baru pukul 2 dini hari, tapi telinga Layla menangkap suara gemericik air dari dalam kamar mandi ruang rawatnya.


Di saat Layla membuka ke dua matanya, Layla tidak mendapati Amer di sofa, matanya tertuju pada kamar mandi.


Ceklek.


Layla kembali memejamkan matanya, berharap Amer tidak tahu jika dirinya terbangun dari tidurnya.


Amer menggelar sajadahnya di lantai dengan menghadap kiblat, dengan khusyu Amer mengerjakan sholat tahajjudnya, berharap mendapatkan jawaban dari setiap doa dan penantian dirinya akan Layla.


Layla tersenyum melihat Amer yang tengah sholat, coba saja bang Rudi seperti mu Tuan Amer. Aku tidak akan merasakan sakitnya di khianati, terlalu sadis cara mu mempermainkan ku bang Rudi, setelah apa yang kau lakukan pada ku dan Melisa. Kalian tidak punya hati.


Amer mengadahkan ke dua tangannya, "Ya rob, tolong berikan jalan mu untuk ku terus berada dekat dengannya, dia cinta pertama ku yang tidak mungkin bisa ku lupakan, aku selalu menanti saat ini tiba... saat di mana dia melepaskan suami brengsekkknya dan memilih untuk bersama ku, beri lah aku kesabaran untuk menanti saat itu tiba. Akan ku terima dia apa pun kondisinya. Ku mohon buka lah mata hatinya akan adanya aku yang selalu menantinya. Beri lah jalan terang mu untuk membawa cinta ku pulang, amiiin."


# Flashback end.


"Begitu manis do'a mu Tuan Amer." Layla bergumam dengan mata yang menatap atap ruang rawatnya tanpa di sadarinya ternyata Amer sudah duduk di sofa dekat ranjang rawatnya.


Amer menajamkan mata dan telinganya saat melihat Layla yang seakan terbuai dalam lamunannya dan tersenyum dengan bibir yang bergumam pelan.


Apa Layla mendengar do'a ku? Apa saat itu aku membangunkannya?


"Layla! Apa kau baik baik saja?" Tanya Amer dengan suaranya yang tegas.


"Ah, a- apa Tuan? Sejak kapan Tuan kembali? Bukannya Tuan tadi di luar ya?" Layla gelagepan untuk menjawab pertanyaan Amer.

__ADS_1


Amer tersenyum dengan tangan yang terulur mengelusss pipi Layla, "Maaf aku mengagetkan mu!"


Layla membatin, ada apa dengan ku? Jantung ku berdetak dengan kencang, ada apa ini? A- apa ada yang salah dengan hati ku ya?


"A- apa Tuan sudah selesai dengan telponnya?" Tanya Layla memecah keheningan yang ada.


"Ya, itu hanya teman lama... biar nanti ku kenalkan pada mu." Amer meraih brownis lumer yang menjadi salah satu kesukaan Layla.


Layla mengerutkan keningnya, "Tidak perlu, Tuan... untuk apa Tuan memperkenalkannya pada ku?"


Dengan semangat dan mata yang berbinar Amer berkata, "Karena kau wanita ku." Ujar Amer.


Amer menyuap kan brownies lumer pada Layla.


"Hah?" Layla membola, apa aku tidak salah dengar?


πŸ‚Di tempat lainπŸ‚


Rudi membawa seorang bidan ke rumah untuk melihat kondisi Melisa.


"Aku harus mengambil tindakan operasi, pak... pasien mengalami pendarahan yang cukup hebat." Dengan mata yang menatap tajam dan curiga pada Rudi.


"Kami tidak melakukan apa apa padanya, bu budan... justru mungkin wajar karena adik ipar saya itu baru saja menikah dengan dia, iya baru saja menikah dengan pria ini." Rudi menunjuk pada pria berkepala plontos yang tengah menatap nanar pada Melisa.


Sedangkan pria berambut gondrong hanya bisa membuang nafas lega, gak nyangka gw, otak bang Rudi encer juga.


"Lakukan apa yang terbaik untuk adik ipar saya dokter."


"Kalo begitu kita harus membawanya ke rumah sakit, karena pasien banyak mengeluarkan darahhh."


"Apa? Rumah sakit?" Rudi tercengang, percuma gw bawa lo ke sini kalo akhirnya Melisa harus di bawa ke rumah sakit!


"Bagai mana, pak? Pasien tidak bisa menunggu lagi, keadaannya sangat lemah." Ujar sang dokter lagi.


Pria berkepala plontos berdiri di depan pintu kamar Melisa, tidak boleh terjadi apa apa pada Melisa, "Laku kan saja dokter, bawa Melisa ke rumah sakit."


"Baik lah kalo begitu biar saya hubungi ambulans." Ibu bidan langsung menghubungi pihak rumah sakit untuk segera mengirim ambulans dan menyiapkan ruang operasi untuk tindakan yang akan di lakukan pada Melisa.


Beberapa menit kemudian, ambulans yang membawa Melisa tiba di rumah sakit. Tubuhnya semakin pucat karena banyaknya mengeluarkan darahhh.


Melisa langsung di tindak dengan operasi kecil dengan membutuhkan beberapa kantong darahhh.


Pria berambut gondrong tampak kesal dengan langkah yang di ambil temannya si kepala plontos, "Lo pikir gak gimana jadinya kalo sampe dokter curiga Melisa korban pemerkosaannn?" Gerutunya dengan suara yang penuh penekanan.


Rudi menatap tajam dengan jari telunjuk kanannya yang mengarah pada pria berkepala plontos, "Lo urus biaya rumah sakitnya, gw gak mau tau lo dapetin dari mana uangnya! Ngerti lo!" Rudi langsung berlenggang pergi meninggalkan ke duanya.

__ADS_1


Sementara di ruang rawat Layla, Amer melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Ada apa Tuan? Apa Tuan ada janji? Aku tidak apa sendiri di sini!" Seru Layla yang sedari tadi memperhatikan wajah Amer yang tampak gelisah.


Amer beranjak dari duduknya, "Aku akan segera kembali, kau jangan ke mana mana ya!" Amer meraih tangan Layla dan mengecupnya.


Layla terkesima dengan perlakuan Amer, apa begini rasanya di perlakukan manis oleh mu, Tuan Amer?


Amer melangkah pergi dari ruang rawat Layla, harusnya berkas yang aku minta akan sampai sebentar lagi kan! Matanya menatap layar hape yang ada dalam genggaman tangannya.


Amer menghubungi seseorang lewat hapenya, "Kenapa kau lama sekali?" Tanya Amer saat seseorang yang di hubunginya sudah menjawab telponnya.


[ "Saya ada di lobby rumah sakit, pak. Bapak ada di mana?" ] Suara seorang pria dari sebrang sana.


"Baik lah, tunggu aku... aku akan ke sana." Ujar Amer yang lantas mematikan sambungan teleponnya.


Pria dewasa dengan kemeja putih memegang amplop coklat duduk seorang diri di lobby rumah sakit.


"Apa kau pak Asep?" Tanya Amer saat berdiri di depan orang yang tadi ia hubungi.


Pria itu berdiri, "Iya saya, pak... ini berkas yang bapak inginkan." Asep menyerahkan amplop coklat itu pada Amer.


Amer meraih map coklat itu dan membukanya mengeluarkan sedikit kertas yang ada di dalamnya, ia tersenyum puas.


"Terima kasih, pak Asep... sudah mau membantu saya." Amer menjabat tangan pria yang ada di depannya.


"Itu sudah tugas saya, pak."


"Kalo begitu saya permisi pak, satu lagi pak... anda bisa cek saldo rekening anda." Amer tersenyum ramah dan meninggalkan Asep.


"Terima kasih pak atas bayarannya."


Amer melangkah dengan wajah senang, kau akan terbebas dari suami brengsekkk mu itu Layla.


Saat di pertigaan lorong rumah sakit.


Bugh.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭

__ADS_1


Author gabut sebatas halu.


__ADS_2