
Siang itu, Jayden bergerak untuk menemui klien yang sudah memiliki janji temu dengannya. Membawa Mobilnya meluncur ke tempat yang sudah di tentukan olehnya dan kliennya Sesampainya, Jayden dengan elegennya berjalan memasuki Hotel. Saat Ia berjalan masuk ke lobby Hotel,
Brugggggg...
Tubuh Jayden di tabrak oleh seseorang, bukannya terjatuh, tubuh yang menabrak Jayden terjatuh hingga terduduk di lantai.
"Awwww..." kata wanita itu meringis sakit.
Jayden melihat ke arah wanita itu yang menunduk dengan menepuk kedua kakinya, bukannya membantu, Ia hanya melihat dengan sorotan mata yang dingin.
"Maaf Tuan." ucap Wanita tersebut.
Jayden tertawa kecil, "Kalau semua masalah bisa di selesaikan dengan kata Maaf, mungkin hidup ini tidak penuh dengan kebencian!" katanya dengan dingin.
Wanita itu menengadah ke atas melihat wajah Jayden yang nemakai kacamata hitam menatap kedepannya, melihat segerombolan pria berbadan kekar.
"Itu dia!" seru suara pria-pria dari arah belakang.
Barusan Jayden menatap wajah wanita itu, matanya terkesiap, wanita itu dengan cepat berdiri dan berlari dengan cepat.
"Mikha." ucap Jayden saat melihat wanita itu dengan
cepat berlari menghindari laki-laki yang mengejarnya.
Jayden merasa aneh, Mikha yang Ia kenal dulu kenapa bisa di kejar-kejar oleh pria-pria yang barusan mendahului Jayden. Jayden tanpa berpikir panjang, Ia pun berlari dan mengejar wanita yang sempat Ia tabrak tadi yang Ia duga adalah Mikha. Jayden terus berlari ke arah Mikha yang sudah menuju parkiran, Pria-pria berbadan kekar tadi mengejarnya ke arah yang berlawanan.
Semakin mendekati Wanita tadi, Jayden menarik tangan wanita tersebut.
"Jangan tangkap Aku, lepaskan Aku." seru wanita tadi ketakutan.
Jayden membekap mulut wanita tersebut, lalu Ia langsung menoleh ke arah Pria-pria yang masih dia rasa jauh dari posisi mereka.
"Jika Kau mau aman ikuti saja Aku," ucapnya dari belakang tubuh wanita itu.
Jayden menyeretnya ke arah mobilnya, tiba di mobilnya Jayden dengan cepat membuka pintu mobil dan mendudukkan tubuh wanita tersebut.
"Jayden." ucap wanita itu dengan tatapan kaget.
"Duduklah." jawabnya dengan memasang seatbelt.
Lalu Ia menutup pintu mobilnya dan berlari kecil masuk ke dalam mobil tepatnya di kursi kemudi.
"Jayden." panggilnya lagi.
__ADS_1
"Ada apa antara Kau dan Pria-pria tadi?" tanya Jayden datar.
Wanita itu terdiam, mengatur nafasnya dengan sebaik mungkin, namun air matanya tak mampu Ia bendung, "Kenapa dengan cara seperti ini, Maaf Jayden, ini bukan urusan kamu." tukasnya seraya ingin membuka pintu mobil.
Jayden menarik tangannya dan mencengkramnya.
"Beginikah caramu Mikha menyapa sahabat lamamu?" ucap Jayden dengan dingin.
"Jayden.... tolong, lain kali saja. Aku tidak punya muka berhadapan dengan kamu saat keadaan seperti ini." ucap Mikha masih terisak.
"Aku tidak perduli!" ucap Jayden dengan menekan tombol kunci otomatis pintu mobilnya.
"Jayden!" bentak Mikha.
"Terserah! Ikut Aku." ucap Jayden melajukan mobilnya, lalu Ia mengambil ponselnya dan menghubungi asisten pribadinya.
Saat Ponsel sudah terhubung.
"Rei..Tolong bantu saya, menggantikan pertemuan dengan Tuan Jerry di Hotel Nine. Kau tahukan Jadwal saya hari ini? Saya ada urusan mendadak, jika Tuan Jerry kecewa, saya akan menjumpainya langsung ke hotelnya. Tolong berikan alasan yang logis." perintah Jayden dan langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban Rei.
"Jay." panggil Mikha lagi.
Jayden menoleh ke arah Mikha, "Ada apa?"
"Tidak!!! Kali ini, Aku tidak akan melepaskanmu." ucap Jayden dengan penekanan.
Mikha tak mampu membalas ucapan Jayden. Dia pun hanya berdiam dengan pikiran yang sudah mengarah ke mana pun yang Ia mau. Rasa malunya di depan Jayden, apa lagi melihat Jayden dengan stelan Jas yang tampak sangat elegan.
Beberapa menit kemudian, Mobil Jayden terhenti di lapangan parkir Apartemen. Dengan cepat Ia melpaskan seatbeltnya.
"Turunlah!." katanya lalu membuka pintu mobilnya.
Mikha menatap Jayden yang sudah turun. Malahan membuatnya bingung sendiri menoleh ke area kawasan orang elit. Jayden yang tidak suka menunggu lama, Ia pun berjalan membukakan pintu mobil dan melepaskan seatbelt, dan menarik tangan Mikha untuk turun.
"Jayden....Tolong lepaskan Aku, Aku sudah aman Jay." katanya dengan menarik paksa tangan Jayden.
"Mikha!" bentak Jayden terhenti seraya menatap Mikha.
"Jay."
"Mikha.... Kenapa kamu jadi keras kepala? Tolong ikuti Aku, Aku tidak sama dengan cara berpikir kamu. Kalau kamu di kejar lagi sama pria tadi, di saat aku meninggalkan kamu bagaimana? Tolong ikuti saja, Kamu aman bersamaku." ucap Jayden dengan penekanan.
Kedua mata Mikha menatap dalam pada kedua mata Jayden. Kembali lagi, Jayden menarik tangannya dan berjalan masuk ke dalam Apartemennya langsung menuju pintu lift. Di dalam lift, Jayden menekan tombol angka 20.
__ADS_1
"Jayden... Kamu mau membawaku ke mana?" tanyanya lagi.
"Tempat yang aman." balas Jayden tanpa menoleh ke Mikha.
Mikha menunduk dan menarik nafasnya, Ia sangat tidak mampu menatap wajah Jayden. Wajah yang sangat Ia rindukan, tempat tumpuannya, meskipun cinta dalam diam yang Ia rasakan selama dekat dan bershabat dengan Jayden. Selama bersama Jayden, Jayden tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Mikha, karena Jayden tidak ingin merusak persahabatan mereka dan ingin Ia dan Mikha wisuda tepat pada waktunya.
Tingggg....
Pintu Lift terbuka, kembali lagi Ia menarik tangan Mikha dan membawanya keluar dari lift. Jayden dan Mikha menyusuri koridor Apartemen dan terhenti tepat di depan pintu Apartemen Jayden. Jayden menempelkan Cardnya dan seketika itu pintu terbuka.
"Ayo masuklah." kata Jayden.
Mikha menarik tangannya membuat Jayden terhenti dan menoleh ke arahnya.
"Ada apa? Ayo masuk." ajaknya lagi.
"Tapi Jayden... di sini bukan rumahku, bukan juga tempatku!" ucap Mikha dengan kesal.
"Memang bukan! Ini Apartemenku, masuklah dulu." katanya lagi dengan menarik tangan Mikha.
Mau tidak mau Mikha melangkahkan kakinya masuk, pintu otomatis terkunci saat Jayden menolaknya.
"Bukalah sepatumu, pakailah sandal rumah." ucap Jayden melepas sepatunya dan mengganti sandal rumahnya.
Jayden memilih berjalan duluan dan melepas jasnya, kemudian meletakkannya diatas sofa, berjalan ke arah dapur dan mengambil segelai air mineral, lalu Jayden membawanya menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruangan tamu, tampak wajah Mikha yang menggambarkan kesedihan, Jayden menatapnya tanpa berkedip, Mikha yang terus saja berdiri menoleh ke arah Jayden yang datang mendekatinya.
"Minumlah." kata Jayden dengan menyodorkan gelas yang Ia bawa.
Mikha menerimanya dengan saling pandang ke Jayden, Ia pun mengubah posisinya menghadap arah lain dan meneguk minumannya.
"Duduklah." ucap Jayden.
"Tapi Jayden." ucap Mikha dengan meletakkan gelas kaca di atas meja.
"Duduklah... Ayo kita berbicara." katanya dengan serius.
Bersambung.
....
Tekan Like dan Jangan lupa VOTE dan Baca juga My Chosen Wife ya 🥰😘
__ADS_1