
Jayda.
Kini Jayda berada di lantai dua. Ruangan atas yang luas dan sepi, membuat Jayda bingung. Kamar mana yang di maksudkan oleh Dika pada dirinya.
"Apakah Aku ke kiri?" Jayda mencoba berjalan menuju lorong pertama. Pikirannya kalut dan gugup dengan keheningan malam.
"Kamar ke berapa sih tadi dia bilang? Duh, gue bingung sendiri. Mana di sini sepi banget lagi. Takuttttt." rengek Jayda.
"Ini aja deh, yang pertama lebih baik dari pada yang kedua." Jayda menarik handle kamar pertama dari lorong sebelah kiri.
Kedua kakinya melangkah dengan pelan menuju ranjang. Sejenak ia menelusuri setiap sudut kamar yang ia pilih.
"Gilaaaa! gue salah masuk." ucap Jayda sambil berputar-putar badannya. Mengitari setiap dinding yang memiliki pajangan foto Felicia, Dika. Bahkan dirinya terhenti di depan meja TV. Terpampang foto Jayda semasa mereka berkuliah.
"Ini kamar Dika." gumam Jayda dengan merinding.
"Apa Kau perlu bantuan?"
Refleks Jayda berbalik dan menatap tegang pada suara Dika. Dika yang setenga telanjang, hanya dengan balutan handuk putih menutupi bagian bawah pinggangngnya, hingga bidang dadanya yang membuntal seperti roti sobek, sontak membuat kedua mata Jayda terbelalak dan seketika itu juga Jayda kepengen menjerit.
Sebelum Jayda menjerit, Dika berjalan cepat dan menutup mulut Jayda dengan membekap mulut Jayda dengan tangannya.
"Jangan berisik! Tenangkan dirimu, kamar Felicia ada di depan kamar ini." kata Dika dengan lembut.
Jantung Jayda berdekup sangat kencang, kedua manik mata Jayda dan Dika saling beradu pandang, sangat dalam. Sudah lama bagi Dika, merindukan momen di mana Ia bisa menatap Jayda dari dekat.
Nafas Jayda tersengal-sengal, menatap wajah Dika. Jayda tersadar dan menarik tangan Dika dengan kasar.
"Maaf! saya salah masuk kamar!" ketus Jayda dan berjalan memutar tubuhnya untuk keluar dari kamar Dika.
Sontak, Dika menarik tangan Jayda dan membuat Jayda berbalik ke dalam pelukannya. Dika memeluk tubuh Jayda dengan sangat erat. Wajah Jayda yang mendarat di bidang dada Dika yang bertelanjang itu, membuat jiwa jomlo nya meronta-ronta. Gila aja pikirnya. Di peluk sama suami orang seenaknya.
"Lepaskan Aku Dik!" tubuh Jayda meronta dengan sekuat tenaga. Tapi tak berhasil lolos dari pelukan Dika. Dika semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Jayda. Mengirimkan ruang rindu yang pernah menjalar dalam dirinya.
"Berikan Aku waktu sebentar saja Jayda, Aku sangat merindukan dirimu." balas Dika penuh harap. Kini tangannya berpinda menyentuh kepala Jayda.
"Dik, Jangan begini. Hargai Istri dan anak kamu. Tolong lepaskan Aku!" Jayda meronta-ronta dengan sekuat tenaganya. Dengan berat hati, Dika melepas karena kekuatan Jayda, benar-benar di rasakannya.
Jayda menatap dingin, dan dengan cepat Ia berjalan untuk keluar dari kamar Dika. Tapi bukan Dika namanya, menyia-nyiakan kesempatan emas. Dika berlari ke arah pintu mendahului Jayda dan mengunci pintu kamarnya. Kemudian mengambil kunci pintu dan berlalu dari amukan wajah marahnya Jayda.
"Dika! Tolong jangan begini. Kenapa sih kamu!" Jayda mengikuti Dika.
__ADS_1
"Berheni di situ!" perintah Dika, yang sudah di dekat lemari pakainnya.
"Aku gak mau! berikan kunci pintu dan kunci mobil ku!"
"Kalau kamu berani melangkah satu langkah lagi! aku bakalan telanjang di depan kamu!" ancam Dika dengan memegang handuknya.
Refleks Jayda terhenti dan menatap dingin ke Dika.
"Kamu maunya apa sih!"
"Duduk di atas ranjang.. dan membelakangi Aku. Aku mau pakai baju. Jika kamu masih melawan perintahku! Aku akan bertelanjang."
Jayda menarik nafasnya kesal. Tapi, mau tidak mau, Ia berjalan ke arah ranjang dan mengikuti perintah Dika.
"Awas! jangan melihat kebelakang! jangan mengintip Aku!"
"Dih! buraaan! aku juga gak akan mengintip! Sudah gak pejaka juga, gayanya sok keren!" umpat Jayda kesal.
Di sana, Dika sudah tertawa mendengar perkataan Jayda. Gemesin gimana gitu, Jayda masih bisa becanda dengan Dika.
"Jangan mengintip!" kata Dika yang sudah selesai mengenakan pakaian.
"Gak akan! Aku yang rugi kalau mengintip suami orang!" kata Jayda dengan tegas.
"Kamu mau apa!" Jayda beranjak dari duduknya, melihat raut wajahnya Dika yang sendu.
"Jay.. kasi Aku waktu malam ini, untuk mejelaskan semuanya."
"Aku gak mau Dika. Cukup untuk semuanya, Aku sudah malas untuk menceritakan masa lalu! Hiduplah dengan pilihan kamu, Aku sudah mengikhlaskan kamu untuk orang lain." Jayda mencoba tenang.
"Tapi Aku tidak pernah ikhlas Jay."
"Sudalah Dik, buka pintunya. Aku sudah sangat lelah." balas Jayda dengan berjalan menuju pintu.
"Tapi Aku bukan suami orang Jay!" seru Dika dengan lantang, membuat langkah kaki Jayda terhenti.
Jayda tertawa tanpa berbalik.
"Jangan seperti itu Dik, kasihan istri kamu. Demi kembali lagi denganku, Kau sampai tidak mengakui istrimu." balas Jayda.
"Aku belum menikah dan belum beristri Jayda! jika kau tidak percaya, Kau bisa melihat surat yang di titipkan Lani untuk Kamu. Jika kamu masih tidak memaafkan Aku untuk semuanya, Aku akan terus menerus mendapatkan cinta kamu seperti dulu. Aku gak akan pernah mengikhlaskan kamu untuk siapapun. Aku selalu membawa surat Lani, dan terus berharap bisa bertemu dengan kamu."
__ADS_1
Dika berjalan ke arah lemari, dan mengamil surat dari salah satu laci mejanya. Jayda yang mendengar nama Lani, di buat penasaran. Karena memang ada keanehan, saat keduanya tiba-tiba menghilang.
"Duduklah." suara Dika membuyarkan lamunan Jayda. Kini kakinya menuruti perintah dari Dika.
"Ini, Kau boleh membacanya. Aku tunggu di luar!" tunjuknya ke arah balkon.
Jayda menerima surat yang di sodorkan Dika. Kemudian Dika meninggalkan Jayda, yang menerima dengan tatapan kebingungan.
Jayda memulai membuka perlahan surat dari Lani.
Goresan tinta hitam di atas kertas putih yang masih bersih dan terjaga. Kedua manik mata Jayda mulai membaca kata demi kata.
Untuk sahabatku, Jayda Widjaja.
Cieee.. pakai nama lengkap. Semoga di saat membaca suratku, sahabat yang paling aku cintai dan Aku rindukan dalam keadaan sehat. Bisa saja sudah menjadi Dokter, selamat deh. Jika menjadi Dokter, aku turut bahagia buat kamu Jay. Segala impian kamu akhirnya tercapai.
Baiklah, Inti dari surat ini, aku tujukan pada kamu, Jay. Segala kesalahanku, Aku mohon untuk memaafkan diriku. Merebut kebahagiaan yang harusnya menjadi milik kamu. Telalu fatal kesalahan yang telah aku lakukan untuk kamu dan Dika, Jay. Aku memisahkan kalian dengan cara yang kejam.
Tapi Aku tidak akan meminta pengampunan, jika kamu berat Jay. Aku ikhlas, tapi yang harus kamu ketahui, Dika sangat mencintai kamu. Bukan Aku, Aku menjebak Dika saat itu Jay. Karena Aku tau, cintaku tak berbalas. Diki memilih kamu, saat aku mengutarakan cintaku.
Di saat itulah tragedi yang ku perbuat, memakan diriku sendiri. Waktu itu, Aku meminta bantuan ke Dika, Aku bilang aku sedang di bar karena sangat mabuk. Dika yang menganggapku sahabat kamu, datang menolongku. Tapi, sebelum Dika datang. Aku menuangkan obat tidur ke dalam minuman yang akan aku berikan ke Dika.
Tapi kenyataannya terbalik, sebelum Dika datang, mantan kekasihku duluan datang menemui keberadaanku. Aku tidak sadar, saat aku memberikan minuman ke mantanku, malahan dia memintaku untuk meminum duluan minuman yang duluan aku siapkan untuk Dika. Alhasil, Aku tidak tau apa yang terjadi pada diriku saat itu. Yang aku lihat saat aku bangun, Dika sudah di kamar bersamaku.
Satu bulan kemudian, Aku hamil Jayda. Aku menjebak Dika, untuk bertanggung jawab. Karena Aku kalut, entah ke mana bisa kutemukan pria yang menudiriku saat itu. Hingga anakku terlahir, Dika bertanggung jawab. Karena itu, Aku dan Dika keluar dari kampus tanpa pamit dengan kamu.
Aku jahat Jay. Jangan pernah salahkan Dika. Dia tertekan bersamaku selama ini Jay. Dan selama itu juga, Dika sering bersedih saat tau, Kamu juga keluar dari kampus. Dia sering diam-diam ke kampus hanya untuk melihat kamu, hingga dia sadar, kamu juga sudah tidak pernah muncul.
Aku tidak pernah menikah dengan Dika, Jay. Hanya meminta tolong ke Dika, untuk mengakui Felicia sebagai anaknya pada keluargaku yang juga tau, Dika tidak bersalah atasku. Aku meminta Dika, untuk menjaga Felicia, hingga Dika di pertemukan dengan kamu, Jay. Aku mau, Felicia hanya di rawat oleh Kamu dan Dika.
Sampai di sini, aku mohon kamu terima maafku, dan kembalilah dengan Dika. Dia pria yang sangat baik Jay, dan sangat mencintai dirimu. Sebelum Aku mengakhiri surat ini, tolong jaga Felicia untukku, hanya bersama Dika. Jika di antara kalian tidak bisa memenuhi permintaan terkahirku, mungkin aku tidak akan tenang di sini Jay.
Aku termaafkan, bila kalian berdua bersatu bersama Felicia. Anakku, yang tidak mengenal diriku. Salahku sangat besar dengan Felicia. Jangan pernah katakan pada Felicia, kalau Mamanya, wanita paling jahat dan mengakhiri hidupnya karena kesalahannya.
Terima kasih Jay, Aku sangat menyayangi kamu dan Dika. Semoga kalian berdua berbahagia. Dan putri kecilku memliki kedua orang tua yang lengkap dari kalian berdua.
Tertanda, Lani.
Sontak kedua air mata Jayda berhamburan, mengalir dengang deras dari keudua pelupuk matanya. Dika yang menatap Jayda senggugukan dengan terisak snagat sedih, beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Jayda.
Dika duduk di samping Jayda yang memeluk surat Lani dengan terisak pedih. Dika menarik tubuh Jayda dan memeluknya sangat erat. Jayda menenggelamkan wajahnya kedalam dada Dika. Dan menangis meraung-raung.
__ADS_1
.
Jangan lupa memberikan dukungan VOTEnya ke My Chosen Wife ya.. Terima kasih kakakku semuanya...