Kekasihku Seorang CEO

Kekasihku Seorang CEO
PERANG DINGIN 01


__ADS_3

Kreak..


Suara pintu terbuka, April yang sudah siap mandi bergegas bersiap untuk kembali ke Kantor. Selesai memakai pakaian Kantornya, kemeja dan Rok Span yang memperlihatkan lekukan tubuhnya, April membangunkan Joseph yang masi tertidur dengan bertelanjang sehabis bercinta tadi malam.


" sayang... bangun. Apa kamu tidak ke kantor?"


" Hemmm." Jawab Joseph yang masi malas membuka matanya.


April menarik tangan Joseph. " Sayang ayolah, ini sudah jam 7, nanti kita terlambat." ucapnya


Mencium aroma parfume April yang sangat khas, wewangian yang selalu mengingatkannya pada perjumpaan pertama mereka.Joseph Membalikan badannya lalu menarik tangan April dan mendekapnya serta memeluknya. April meronta-ronta karena dia sudah mandi dan juga sudah memakai pakaian kerjanya. Bakalan kusut itu pikirnya.


" Lepaskan aku sayangggg... aku sudah bersiap loh, nanti aku jadi bauk lagi. Cepatttt lepaskan." ucapnya sambil menarik badannya. Tapi tidak mampu, pastinya dia kalah kuat dengan tubuh Atletis Joseph yang kekar itu mendekapnya kuat.


Joseph dengan senyuman mencium Pipi April. Dia memang sangat suka membuat April kesal. Sangattt senang rasanya punya Istri yang memiliki Mood seperti bunglon. Joseph semakin gairah mengacak rambut April lalu melepaskan pelukannya. April langsung berdiri dan berkacak pinggang.


" Kamuuuuuu... aisss aku sudah rapi-rapi tauh." ucapnya marah. Lalu Joseph duduk ditepi ranjang dengan berselimutkan kain biru menutupi tubuhnya yang masi bertelanjang dan menatap Istrinya yang marah dengan tangan dipinggang dan rambut yang sudah kayak wewe gombel. Dengan senyuman termanis Joseph berikan ke April.


" Kamu masi bisa tersenyum?"


Lalu Joseph menarik tangan April lagi. Dan memeluk pinggangnya, sedangkan kepalanya mendarat dibagian perut April.


" Anak papa... apa kamu sudah hadir dirahim mami kamu?" Tanyaknya sendiri.


April pun kaget melihat sikap Joseph yang sangat tiba-tiba. Biasanya juga dia tidak pernah seperti itu. Menikah sudah hampir dua minggu, dia tidak pernah seperti itu.


" Papa... yang sabar ya. Papa dan mami harus terus berusaha, nah bulan depan baru cek ya pa.. apakah aku sudah hadir apa belum dirahim mami." ucap April menyemangati suaminya, dan membelai lembut Kepalanya.


Joseph langsung menengadah keatas melihat wajah Istrinya yang jadi berubah.


" Maaf sayang.. aku bukan ingin membuatmu menjadi kepikiran. Santai saja jangan terlalu terburu-buru."


" Heeuum.. sudahla kamu mandi sana, air sudah aku siapkan untuk kamu, nanti keburu dingin."


Hendak melapaskan tubuhnya dari tangan Joseph, Malah Joseph menariknya dan membuat posisi duduk April di atas pahaknya.


" Sayang.. kamu membuatku bergairah lagi. Yuk kita buat dedek lagi. siapa tauhkan usaha kita selama ini membuahkan hasil."


" Sayanggggg... emangnya kamu hari ini gak ke Hotel ?" Tanyaknya dengan tangan yang merangkul dileher Joseph.


" Aku yang punya perusahaan, Apa ada yang melarangku datang terlambat?"


Tidak menunggu lama Joseph menarik tubuh April dan mendekapnya lalu mulai mencuimi leher April, kali ini dengan sangat bergairah, aroma tubuh April yang membuat Joseph terus ingin menyetubuhi Istrinya.


Tubuh April mulai memanas dan merasakan getaran. Jantung April mulai berdegup kencang tak beraturan, Joseph terlihat sangat berhasrat ingin bercinta. Bibirnya terus berkelana dileher April sambil sesekali mengecupnya dengan mesra.


" Sayang... hentikan nanti aku bisa-bisa telat" seru April yang memang mau ngantor untuk pertama kalinya setelah berlibur panjang. Joseph semakin erat memeluk April, seakan tidak memberikan ruang untuk mangsanya melarikan diri dari dekapannya.


Jemari Joseph mulai merabah kearah tubuh April, sambil terus menciumi leher April. Tubuh April tidak ingin menolak, semakin bergairah dan bergetar seakan terangsang dengan permainan suaminya.


Gimana ini... aku tak mampu menolak hasrat suamiku yang semakin menjadi-jadi.


" Sayang... nanti malam saja kita melakukannya lagi " Tawar April untuk menghentikan permainan Joseph.


Tapi bagi Joseph apa pun yang diinginkan memang harus dituruti apalagi urusan seperti ini.


Joseph menarik tubuh April kembali bertatap pandang " Aku mohon sebentar saja sayang." ucapnya dengan mengedipkan matanya.


Lalu Jospeh membuka perlahan seluruh pakaian April, tidak menunggu jawaban dari April, akhirnya dia menuruti kemauan Suaminya. Tubuh April pun didorongnya lembut keatas ranjang.


Joseph pun sangat bergairah menikmati tubuh April yang mulus dan berkulit putih. Meraka pun tenggelam dalam gairah dan hasrat yang semakin membara. Nafsu mereka memuncak dan melayang tinggi, hingga mereka mencapai puncak kenikmatan Dunia.


Joseph melakukan sentuhan terakhirnya, mencium bibir April dengan lembut dan mesra " Terimakasih sayang sudah mau melayani hasratku pagi ini." ucap Joseph lembut dikuping April. April hanya tersenyum, lalu Joseph melepaskan tubuhnya dari April.


" Ayo mandi." Ajak April.


Joseph pun bangun dari tidurnya, langsung sigap menarik tubuh April dan menggendongnya berjalan masuk kekamar mandi.


Suara Air mulai mengalir dari shower dan membasahi tubuh Joseph dan April. saling bergantian mereka menggosokkan tubuh dimasing-masing bagian tubuh mereka.


Sesaat kemudian Joseph dan April pun berjalan keluar dari Kamar mandi. April menggunakan Handuk berjubah putih berjalan masuk keruangan Pakaiannya. Disusul Joseph sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, dan juga melangkah keruangan pakaian. Dilhatnya April yang sudah mengenakan Pakaian yang berbedah dari sebelumnya.


April pun menghampiri Joseph memilihkan pakaiannya dan mengambil Dasi memasangnya ke Joseph. " sungguh sangat Tampan suamiku ini. " ucapnya selesai mengenakan Dasinya.


Joseph tersenyum dan menicum kening April. Mereka pun keluar dan masuk keruang utama Kamar melihat kearah kaca.


DRTTT...DRTTT...DRTTT...


Suara getaran Ponsel April berbunyi. April yang sedang duduk dimeja rias berdiri dan berjalan melangkah mengambil ponselnya yang didekat meja ranjang. Joseph hanya menatapnya sekilas dan melanjutkan membentuk Rambutnya.


" Halo?" ucap April yang tidak tauh siapa yang menghubunginya.


" Hallo...selamat pagi? Dengan Ibu April? " Tanyak seorang Pria disebrang sana.


" Iya benar saya sendiri. Ada perlu apa ya?"

__ADS_1


" Maff buk. Apa benar kediaman ibu yang dimenteng. Personil kita sudah tiba didepan Pintu buk. pengiriman dari Tuan Andrew Angkasa. "


Diam sebentar... Gilak itu Pria apa sih maksudnya.


" Hallo buk."


" Egh iya... iya benar. " ucap April terbatah.


Joseph menangkap pandangan April yang gugup, bingung tapi dia masi diam.


" Baik buk... berarti sudah benar. Terimakasih buk April."


" Ada apa sayang?" Tanyak Joseph.


" Itu... Pria yang semalam menabrak mobilku. Dia mengirimku unit baru. Padahal aku sudah menolak tidak menuntut apapaun." ucapnya dengan pelan agar Joseph tidak berpikiran yang macam-macam.


Lalu Joseph mencoba melihat dari Balkon kamar mereka. Gilaaaa benaran Mobil yang sama.


April pun mengikuti Joseph. Wajah Joseph agak memerah menahan emosi.


" sayang... itu bagaimana?" Tanyak April ke Joseph.


" ayo kita turun sayang."


Memegang tangan April dan menununtunya berjalan turun dan keluar rumah mereka pun menyambut kedatangan Unit baru itu.


" Ditaruh dimana ini Nak Joseph?" Tanyak pak Sony. yang memang sudah menetap di rumah mereka. Begitu juga pak Yanto.


" Pak.. taruh diluar situ aja. jangan digabungkan dengan koleksi Mobil saya, gak layak disitu." ucap Joseph.


April mulai panik, mendengar Joseph seperti itu.


" Sayang... kamu marah?" Tanyaknya.


" Tidak... aku tidak marah dengan kamu. Pria itu terlalu berani sampai dia mencari tauh keberadaan rumah kita. Siapa namanya?"


" Agh.. itu Andrew Angkasa. Direktur Angkasa Group." ucap April pelan.


" Hemmm.. mungkin saja dia penggemar rahasiamu." ucapnya acuh. " Sudahlah mau kita apakan ini?"


" Aku juga tidak tauh " Ucapnya lemas.


" Kita kembalinan saja ke orangnya. Apa kamu bersedia?"


April menatap wajah Joseph yang memerah, menahan emosinya. ya karena dia tauh Joseph itu pencemburu. Memang pantes dia tersinggung ada seorang Pria yang memberikannya satu unit Mobil baru dengan Type yang sama cuma kan April tidak meminta, kenapa harus acuh gitu ke April dan kembali dingin.


Dengan mata tajam April menatap ke Joseph, ucapannya menyinggung perasaannya. Matanya mulai memerah menahan rasa ingin menangis, walaupun April tauh suaminya cemburu, rasanya tidak adil bagi April seperti itu.


Joseph menatap kearah mata April yang menahan tangisnya, dia pun tersadar April tersinggung oleh ucapannya. Kemudian ingin berbicara lagi ke April dan ingin memegang tangnnya, keburu April berbalik dan masuk kedalam rumah dan berjalan kekamar.


" Say- " Terpotong dengan baliknya April masuk kedalam rumah.


Joseph ingin mengejar, tapi pak Yanto memanggil.


" Jadi nak Joseph, mobilnya mau diapakan?"


" Biarkan saja disitu pak..." ucapnya langsung masuk untuk mengejar April.


Joseph dengan cepat berlari menaiki anak Tangga, April yang sudah mengambil Sepatu dan tasnya pun keluar kamar saat Joseph membuka Pintu.


Dengan diam April keluar tanpa merespon panggilan Joseph.


" Sayang... jangan pergi dulu, aku akan mengantar kamu." ucapnya menarik tangan April. Tapi April menepis tangan Joseph, lalu berlari menuruni anak tangga.


Joseph masi terdiam tidak percaya, April yang berkaca-kaca membuatnya merasa terpojok oleh omongannya sendiri. Mencoba mengejarnya.


" Pak..berikan kunci, saya ingin nyetir sendiri." ucap April ke Sony.


" Gak sama dengan nak Joseph nak?" Tanyak pak Sony yang melihat April dengan wajahnya yang tidak biasanya.


" Tidak pak.... berikan saja kuncinya."


Pak Sony mau tidak mau pun memberikan kuncinya. Tidak mungkin dia berani melawan perintah atasannya.


Joseph yang baru keluar, menarik tangan April.


" Sayang... tolong jangan begini." ucap Joseph yang takut dengan diamnya April.


April tetap terdiam, dia menepis kembali tangan Joseph. Dan buru-buru masuk kedalam Mobil dan menguncinya. Menatap Joseph pun dia tidak mau. Joseph kehilangan akal sehatnya, dia menggedor kaca Mobil April. Tetap saja dia tidak merespon, dihidupkannya mesin Mobil nya dan tancap menginjak gas keluar dari rumah.


" Agh... sial... kali ini dia benaran marah padaku." ucapnya dengan penuh penyeselan.


" Apa saya tadi keterlaluan ya pak?" Tanyak ke pak Sony dan pak Yanto yang berdiri di sampingnya.


Pak Sony mencoba menjawab " Maaf Nak Joseph, biasanya nak April tidak pernah marah seperti itu selama saya bekerja dengannya. Karena memang tidak pernah marah."

__ADS_1


Mendengar ucapan Pak Sony, Joseph semakin kalut.


" Karena Pria Brengsek itu." Dia pun langsung masuk kembali bergegas untuk ke Hotel.


Pak Yanto dan Pak Sony hanya saling melirik.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


April yang sedang dalam perjalanan merasa kesal saja. Mengapa harus seperti itu, seakan April yang meminta. Padahal Pria asing itu yang juga mencari-cari tauh tentang April, sampai alamat rumah mereka pun tauh.


Tetap dalam diam April melajukan mobilnya, tidak ingin menambah beban pikirannya. Biarlah suaminya itu merenungkan kata-katanya. Menenangkan pikirannya yang membuatnya dingin Ke April.


April tetap pada tujuannya, dia berjalan menuju arah kantor walaupun sudah sangat telat. Tanpa pemberitahuan ke Astrid. Tiba digedung kantornya, Satpam yang bertugas pun menyapa " selamat pagi buk." ucapnya dengan senyum manis.


" Pagi pak." membalas dengan senyuman dan berjalan kearah Lift.


Keluar dari dalam lift menuju keruanganya. Astrid dengan kagetnya berdiri dan menyamperi April.


" selamat pagi buk... Kamu masuk kantor gak bilang-bilang Pril?"


" Gak apa Kak... surprise buat kakak." ucapnya dengan senyum kecil yang dipaksakan.


Astrid menangkap wajah April yang tidak bersemangat. April langsung berjalan masuk kedalam ruanganya disusul oleh Astrid.


Sesampainya didalam ruangan


" Gimana Pril bulan madunya?" Tanyak Astrid untuk membuat April bersemangat.


" Gimana apanya kak? " Tanyaknya purak-purak tidak tauh ke mana tujuan Astrid bercerita. Sambil membuka satu persatu dokumen diatas mejanya.


" Yaa April... masak gak tauh sih maksudku." ucapnya sedih.


" iyaa gak tauh, makanya buruan nikah deh biar kamu rasakan sendiri." Ledek April.


" Tenang saja Pril... bakalan ada undangan kok." ucapnya penuh senang.


" Woow.. kabar baik itu " ucapnya lagi.


" Huum... ngomong-ngomong semua berkas sudah ditangani oleh Pak Budi selama kamu tidak dikantor. Jadi pekerjaan kamu gak banyak Pril."


" Syukurlah kalau begitu, Terimakasih untuk kerja keras kalian." Ucap April.


" Baik kalau begitu, jika ada yang kamu perlukan panggil saya." ucap Astrid dengan riang, karena atasannya sudah masuk bekerja.


Astrid melangkah keluar ruangan atasannya. Baru saja keluar dari pintu, Dering telpon dimeja Astrid berbunyi. Buru-buru Astrid mengangkatnya.


" Selamat pagi, Dengan Anugrah Corp ada yang bisa dibantu?" ucap Astrid.


" Selamat pagi Astrid, ini saya Joseph."


Langsung kaget dia, tumben-tumbenan dia menelpon ke Line Astrid langsung.


" Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?"


" Astrid...istri saya sudah dikantor?"


Bingung sebentar dengan pertanyaan suami atasannya. Kenapa juga menghubungi ke kantor tidak ke April langsung.


" Ow... sudah Pak, baru saja tiba. Apa mau saya sambungkan pak?"


" Tidak usah, saya hanya ingin memastikan saja, karena Ponselnya ketinggalan dirumah. Baiklah kalau begitu, Terimakasih." ucapJoseph dan menutup telponnya.


" Ada apa dengan mereka?"


Tidak ingin ikut campur, Astrid pun melanjutkan pekerjaanya yang ada. Berselang beberap menit, Satpam datang dengan membawakan bungkusan.Diberikannya ke Astrid.


" Buk Astrid, ini titipan dari Pak Joseph untuk ibu April."


" Ow.. iya terimakasih pak, biar saya antarkan kedalam."


Berjalan membawak bungkusan yang tidak tauh apa isinya, mengetuk pintu ruangan April. Sesudah mendengar suara April, Astrid pun melangkah.


" Pril... titipan pak Joseph." ucap Astrid menghentikan April melihat Komputernya.


" Dia yang antar?" Tanyaknya bingung.


" Iya.. pak Satpam bilang pak Joseph yang memberikannya."


" Owww ya sudah Letakkan disitu aja kak." menunjuk ke meja yang didekat sofa.


Astrid melakukan apa yang diperintahkan April. Lalu kembali keluar meninggalkan ruangan. Setelah pintu ditutup, April membuka bungkusan yang berisi Ponselnya dan Sarapan pagi. karena kesal, dia sendiri saja lupa lambungnya belum diisi.


Sedikit tersenyum , ada secarik kertas April membukanya dan membacanya.


" Jangan melupakan Sarapan kamu, Kalau tidak dimakan kamu tidak akan bertenaga untuk tetap marah padaku."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2