
Usai sudah bulan madu April dan Joseph. saatnya kembali ke rutinitas seperti biasa. Tiba di bandara Jakarta, Joseph langsung pamit ke April karena adanya Rapat dakdakan di Perusahaan Joseph yang di Kemang.
" Sayang... kalau udah sampek di rumah kabarin aku ya. Maaf aku tinggal." ucapnya dengan memeluk April dan mencium keningnya.
" Iya... kamu juga. Hati-Hati di jalan. Sampek Kantor juga kabarin aku ya." Jawab April dengan senyum manis.
" Baiklah... sabar menanti ya sayang. Aku tinggal, Byeeee..." ucap Joseph melambaikan tangannya dan terus menatap ke April yang tidak tega ditanggalkannya sendiri di Bandara
Yah karena adanya telpon dari Linda, untuk memenuhi Rapat yang tidak ada dijadwalnya, mereka pun mengalah untuk menyudahi Bulan madu mereka.
Tanpa ada rencana, pak Sony pun harus menjemput sang majikan yang juga tiba-tiba mendapatkan perintah.
DiBandara April duduk sendiri disalah satu bangku, memegang ponselnya. Melihat-lihat Albumnya. seakan membuang suntuk yang sedang mengikutinya. Tanpa Joseph rasanya sepi. wajar saja sendirian di antara kerumanan banyak orang mungkin rasanya seperti orang asing yang sedang tersesat.
Beberapa menit kemudian akhirnya pak Sony datang menjemputnya. Membawak semua koper yang berisi pakaian mereka ataupun Oleh-oleh seadanya untuk seluruh keluarga ataupun Para pekerjanya.
" Maaf buk lama... macetnya luar biasa buk." ucap pak Sony.
" Tidak apa-apa pak, saya juga mengerti." ucapnya tersenyum.
Pak Sony berjalan menyusuri jalanan menuju kediaman yang baru untuk Joseph dan April. Sama seperti yang dikakatan pak Sony, jalanan memang sedang ramai dan macet. Pak Sony sangat yakin, April yang sudah seminggu menetap di Bali pasti merasakan penat ataupun lelahnya.
Berinisiatif, Pak Sony meminta Ijin ke April.
" Maaf Buk"
" iya Pak?" sahut April " Ada apa pak?"
" Macet banget ini buk, bisa-bisa kita 2 jaman baru lolos dari sini. Ibu bersedia kalau kita lolos dari depan itu, langsung belok kiri. Kita lewat jalan Tikus saja buk, biar tidak lama sampek dirumah." ucap Pak Sony.
" Wah.. ada benarnya juga pak. Kepala saya agak pusing."
" Baik buk... "
Mereka pun melewati jalur yang masi macet. Sudah Satu jam an mereka menunggu antrian macet itu hingga bisa keluar dari keramaian padatnya Kota Jakarta. Menuju ke gang-gang yang dibilang pak Sony. Masuk kejalan yang pas-pas an untuk satu Mobil. April sebenarnya ngerih, takut ada Mobil lain dari depan menyelonong.
Ngeri rasanya memikirkannya, Takutnya bukan menghindari macet malah membuat kemacetan.
" Pak... benaran ini kita bisa lewat? soalnya ngepas banget jalanannya pak." ucap April yang takut.
" Kita pelan-pelan saja ya buk. "
__ADS_1
April pun menahan nafasnya sejenak, sebenarnya bukan merasa takut gimana, dia takut itu mobil nyangkut. Emangnya layangan ya. Ada aja pikiran April. selama dia membawa Mobil memang tidak perna melewati jalan yang hanya pas untuk satu Mobil.
Berjalan pelan "BRUKKKKKKKKKKKKKKK." Pak Sony kaget dan mendadak menginjak Rem. April terpental kedepan tepat dikursi depan. Kepalanya pun terasa sakit. Dipegangnya, Diusapinya serasa pusing.
" Buk.. maaf.. Sepertinya mobil kita ada yang tabrak dari Belakang. Saya coba lihat ya buk."
" Iya pak..." masi dengan memegang kepalanya.
Pak Sony pun membuka pintu, berjalan melihat Bagian belakang yang ditabrak. Dan juga menatap kearah Pengemudi yang belum Turun. April yang mengintip dari dalam juga turun karena tidak ada respon dari si pengemudi.
Pak Sony menatap April yang berjalan keluar.
" Tidak apa-apa sih buk, Tidak ada yang lecet."
" Tapi harusnya dia minta maaf dong pak. Ni lihat kening saya benjol." ucapnya menunjuk keningnya.
Sipengemudi akhirnya turun, karena melihat April turun dengan mata tajam, dan menatap kesal. Berjalan kearah April dan Pak Sony.
" Maaf... sudah mengganggu Perjalanan Bapak dan Nona. Saya tidak sengaja, karena saya pikirnya takutnya ada mobil dari arah masuk, akhirnya saya menempel Mobil bapak dan Ibu." ucapnya sopan.
April menatap Pria itu. Pria tinggi, gagah dan Memakai kaca mata mengenakan Jas biru. Seperti seorang bos. Menatap Lekat ke April dan tersenyum.
" Maaf.. jika memang ada yang terluka biar saya bawak kerumah sakit agar diobati." Melirik ke arah kening April yang memang merah karena terbentur. Kulitnya yang putih membuat Memar di keningnya keliatan.
April pun melirik lekat ke wajah Pria yang terbilang tampan itu . " Tidak perlu.. kata bapak Supir saya Mobil saya tidak lecet. Soal kening saya juga, tidak masalah. Saya tidak ingin memperpanjang masalah ini." Jawab April yang memang tidak mau berurusan lebih panjang soal begituan. Terigat saat kejadian April dengan Joseph kemarin.
" Maaf nona.. Saya gak enak seperti itu. Biarkan saya mengganti rugi segala kerusakan dan biaya Rumah Sakit untuk kening nona." ucapnya lagi dengan senyum ramah.
" agh.. tidak perlu. saya gak masalah dan saya juga tidak akan menuntut apapun dari Tuan. Maaf saya permisi." ucapnya .
" Yuk pak Sony."
" agh..tunggu sebentar. " mengambil kartu nama dan memberikannya ke April " ini kartu nama saya, jika nanti Nona berubah Pikiran, bisa menghubungi saya."
" Oiya... baiklah." ucap April mengambil kartu namanya.
" Maaf sekali lagi... semoga sampai dengan selamat." Seru pria berkacamata.
April pun tersenyum saja dan berjalan kembali masuk kedalam mobil. Melanjutkan perjalanan
" Maaf buk... saya tidak hati-hati. Jangan bilang sama bapak ya buk. Nanti bapak marah karena saya tidak menjaga ibu dengan baik." Ucap pak Sony.
__ADS_1
" Loh... kenapa pak? kan bukan juga salah bapaknya. Orang itu tadi yang menabrak kita." ucap April.
" Iya sih buk.. tapi kening ibu itu memar, saya kan jadi gak enak tanggung jawab saya ke Pak Joseph buk."
" Hahaha.. pak.. sejak kapan sih takut sama si Jos. Sudah 3 Tahun sama saya juga."
" Bukan gitu sih buk.. sekarang kan berbeda, ibu sudah ada yang menjaga. "
" Hah.. si bapak sih, gak apa-apa , lagian bapak sudah seperti bapak saya sendiri kok. Gak sah takut." ucap April menenangkan.
" Terimakasih ya buk." jawabnya.
Keluar dari gang mereka berbelok ke kanan, masuk kejalanan besar yang memang tidak seramai tadi. Saat melaju , Pria berkacamata tadi melewati mereka. Menatap kearah kursi penumpang, kaca jendela mobil April yang transparan terlihat jelas oleh April, dia tersenyum dengan manisnya kearah April.
kakuh pikiran April menjadi-jadi, Pria yang tidak dia kenal itu membuatnya berpikir. siapa dia? kenapa sedari tadi auranya membuat panas dingin.
Seakan-akan sudah kenal lama dengan April. Jangan coba-coba menggoda. April tidak akan Goyah. karena hatinya hanya untuk Oppa tercintanya seorang. Terus berpikir dan dilihat Kartu nama yang diberikan pria tadi " Andrew Angkasa Direktur Angkasa Group."
" Siapa dia?" batinya bertanyak.
DRTTTTTT..... Ponsel April bergetar.
" Istriku kamu sudah dimana?" Tanyak Joseph.
"Hah.. aku masi dijalan sayang."
" Wah.. sudah beberapa jam belum sampek rumah?"
" Iya... tadi macet. juga ada sedikit kendala. Oya kamu gimana?" Tanyak April.
" Aku sudah mau selesai disini. Sebentar lagi aku kembali. Tunggu aku dirumah ya sayang."
" Iya...baikla. Nanti kamu dijalan hati-hati ya sayang."
" Siap sayang, I love you." Kata Joseph dengan senyum disebarang ponsel.
" Love you to."
Menarik nafas sebentar menatap kearah depan jalanan yang dilalui seakan tiada henti dia bertnyak dibenaknya. siapa pria tadi yang menabrak mobilnya. Tatapan matanya ke April membuat risih pikirannya. Siapa sangka bertemu dengan Pria asing, mengingatkan kejadiannya dengan Joseph, pertemuan pertama yang membawaknya kepelaminan.
Bingung saat April memikirkannya, Apakah April harus menceritakan kejadian tadi ke suaminya apa hanya berdiam. Tapi juga tidak mungkin, karena kening April nampak jelas memar karena benturan tadi. Ah.. sudahlah. kepalanya juga masi terasa pusing, urusan nanti ketika suaminya kembali mungkin mendapatkan pencerahan.
__ADS_1
Bersambung...
Bisa mampir di Karya Terbaru saya berjudul " TERPAKSA MENIKAH" siapa tauh ada yang suka ya :)