
DUAAARRRRR. . .
Hujan membasahi bumi di malam yang sepi. Setiap mata yang terpejam harusnya masi terpejam. Karena suara gemuruh kilat , menerjang langit malam. Jayda dan Jayda maupun Jayden , sama - sama kontak batin , terbangun.
" Mami , Jayda takut." Kata Jayda sambil menangis.
Mana listrik padam juga. membuat ketakutan Jayda menjadi - jadi.
" Kak Jayda jangan menangis , Jayden kan di sini. Nih pegang tangan Jayden , sebentar lagi Daddy dan mami pasti ke sini."
DUARRRRR!!!!!
Semakin takutla si Jayda mendengar petir yang sangat mengusik kuping. Akhirnya April mendengar suara petir , dan merasa seluruh ruangan itu mati , karena listrik padam. Mana di lihatnya , jam sudah mengarah ke Pukul 11:45 Joseph belum juga pulang. Karena ada Perusahaan yang bermaslah , akhirnya dia bekerja sampai larut malam.
Eva yakin kedua anaknya pasti sangat ketakutan , mana sekeliling rumah gelap. Akhirnya April menggunakan ponselnya , menerangi langkahnya ke kamar kedua bocahnya.
" Jayda." ucap April saat anaknya sudah menangis.
" Mami." Seru Jayda sambil menangis.
" Sini peluk mami. Jayden juga sini sama mami."
Ketiganya saling berpelukan.
" Daddy mana Mi?" Tanya Jayden.
" Daddy masi bekerja sayang." Jawab April seadanya.
" Mami tidur di sini dong sama Jayden dan kakak."
" Iya. . . kita ke kamar mami aja yuk. Mau?" Tanya April untuk menenangkan kedua anaknya.
" Mau Mi." Jawab keduanya bersamaan.
" Ayok , Jayda dan Jayden pegang tangan mami ya?" ucap April.
Mungkin semua pekerja sudah terlelap , hingga listrik yang biasanya di gunakan untuk pengganti sementara , tidak hidup sama sekali.
" Nah sini naik sayang , Jayda dan Jayden sebelah mami."
Keduanya pun naik bersamaan.
" Bobok sayang , jangan takut di sini ada mami bersama kalian."
April mengusap lembut tubuh kedua anaknya. Bergantian walaupun matanya sudah mengantuk , dia lebih memilih untuk menunggu sang anak untuk benaran terlelap.
__ADS_1
Keduanya pun tertidur sangat lelap , Akhrinya April mencoba membaringkan tubuhnya di sebelah Jayda dan menyisahkan sedikit ruang untuk Joseph.
Beberapa jam kemudian , Joseph pulang. Barula Penjaga tersadar bahwasannya listrik padam. Segerah Joseph meminta agar menghidupkan mesin agar rumah mereka terang.
Tiba di kamar , dilihatnya ketiga orang yang sangat di cintainya itu tidur seranjang. Betapa sedih hati Joseph. Demi perusahaannya , waktu untuk keluarganya Berkurang. Apa lagi April yang sendirian bersama kedua buah hatinya , pasti sangatla lelah.
Joseph memilih untuk membersihkan tubuhnya dahulu. Kemudian mendekat pada April memberikan kecupan lembut di keningnya. April tersadar , merasakan sentuhan bibir Joseph. Dia terbangun.
" Maaf sayang membuat kamu terbangun." kata Joseph .
" Kamu sudah makan?" Tanya April.
" Belum sayang. Aku gak sempat , tadi sibuk banget."
" Ayo turun , biar aku masakkan." Ajak April.
" Tidak usah sayang , sudah larut malam."
" Jangan seperti itu , kasihan lambung kamu nanti. Mau kek aku punya sakit lambung?"
" Kamu sudah lelah sayang , aku tahu diri." katanya sambil memeluk erat tubuh April.
" Ayo aku masakin Mie Instan. " ajak April karena dia tahu Mie Instan selalu bisa membuat Joseph selera.
Mereka berdua turun dan berjalan ke arah dapur. Dengan wajah setengah mengantuk , Joseph menunggu masakan April .
" Ini , ayo di makan sayang." ucap April membuat mata Joseph kembali mekar.
" ini nasi , ini makan malam yang di masak tadi aku suru simpan buat kamu."
" Terimaksih sayang."
" Gak boleh begitu sayang , ini susunya di habiskan biar kamu enakan."
Joseph melahap pelan setiap makannanya , April menatap nya penuh Rindu sambilan senyum - senyum sendiri.
" Enak sayang." ucap Joseph.
" Syukurlah , aku rindu banget sama kamu." ucap April.
" Aku juga sayang , sangat merindukan kamu dan anak - anak. Satu harian ini aku selalu memikirkan kalian. Karena team audit butuh secepat mungkin menyelesaikannya , mau tidak mau aku bantu urus." ucap Josep dengan mengunyah makanannya.
" Tidak masalah sayang , aku sudah memberikan pengertian juga ke anak - anak."
" Tapi sayang , aku sudah membuat cuti untuk kita berempat berlibur. " kata Joseph serius.
__ADS_1
April mendelik. " Benarkah sayang?"
Sambil menyendokkan Mienya dia menganggukan kepalanya. " Benaran sayang."
April senang benar mendengarnya , akhirnya kemauannya dan keinginnanya yang gak mau dia ucapkan ke Joseph , takut menambah pikirannya. Di rasakan oleh Joseph juga. Joseph ingin memberikan waktu baiknya untuk ketiga orang yang disayangnya itu.
" Habis." ucap Joseph lagi. " Terimakasih sayangku." katanya menarik tubuh April , dan memberikan ciuman di bibirnya.
" Bauk Mie." ucap April.
" Mie nya enak , kek bibir kamu yang enak untuk di nikmati."
" Jangan gombal sayang."
Joseph menatap intens dan tersenyum ke wajah April.
" Kamu cantik sayang. "
" Mulai dech."
" Benaran , kamu cantik banget. Walaupun sudah jadi Ibu semakin cantik saja."
April tersenyum malu. " Aku kok sepertinya ingin terbang dan melayang."
" Kalau kamu terbang , akan kau tangkap. Biar gak jadi terbang."
April tertawa , Joseph yang merasa gemas menempelkan hidungnya ke Hidung April. " Kamu mau ke mana sayang Liburan kita tahun ini" Tanya Joseph.
" Hemmmm . . . aku sih tergantung sama kamu aja. Ke mana kamu bawak aku dan anak - anak pasti senang. Karena ada papanya." Jawab April.
" Hemmmmm. . . benar juga. Baiklah , akan kita pikirkan bersama. Okey sayang."
" Okey Daddy."
" Yuk kita kembali ke kamar , anak - anak pasti tadi ketakutan ya?" Tanya Joseph sambilan berjalan naik ke tangga.
" Iya. . . kan kamu tahu sendiri , Jayden paling takut dengar suara petir. Syukurnya aku tersadar lampu juga sudah padam semua. "
" Maafin aku sayang."
" Jangan seperti itu , selagi aku masi bisa. Kenapa tidak kan?"
" Istriku sangat pengertian." jawab Joseph senang.
Setibanya di kamar , Joseph dan April meringkuk masuk ke dalam selimut bersamaan dengan anak - anaknya. Dengan saling berdenpetan agar anak mereka tidak keganggu , Joseph dan April tidur dengan berpelukan. "Selamat malam." ucap Joseph mengecup kening April.
__ADS_1