Kekasihku Seorang CEO

Kekasihku Seorang CEO
J&J : EPS 07


__ADS_3

Jayda.


****


Aku terkesiap mendengar ucapannya. Aku merasa ada maksud dan tujuan dari perkataannya barusan. Dari senyumannya, bahkan dari kehangatan dan kelembutan kedua matanya menatap padaku. Mungkin saja, Ia sedang membantuku untuk mengenang masa di mana kami berdua berkenalan di depan kelas dan di hadapan seluruh mahasiswa dan mahasiswi dari insiden mengejek sampai menjenggal kaki hingga sampai kami jatuh cinta.


 


Tapi Kau tahu? Aku menolak... Aku menolak untuk mengingat rasa sakit yang aku terima karena ulahnya.


 


"Agh... Maaf." kataku sambil melepaskan tangannya.


 


Ia melihatku dengan ragu, kedua sudut bibirnya yang sempat tersenyum memudar bahkan hilang berganti dengan tanda tanya.


 


Aku menundukkan sedikit kepalaku, "Maaf Tuan... Salam kenal, nama saya Dokter Jayda, Dokter yang mengawasi Felicia selama anda tidak bersamanya. Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, Kalau begitu saya permisi." kataku dengan tegas, Lalu Aku melihat pada Felicia, tersenyum ke arahnya dan melambaikan tangan ke arahnya.


 


Gadis kecil itu tersenyum kepadaku, sangat polos. Aku sangat menyukai anak dari cinta pertamaku, bahkan Aku sangat menyayanginya. Apakah itu sebua kesalahan? Entahlah Tuhan... Ampuni HambaMu yang menyukai anak yang tidak tahu Mamanya di mana. Aku hanya merasa sedih, jika melihat anak-anak yang sakit, tidak di dampingi Mamanya. Bukan tanpa sebab, Felicia sempat bercerita, dia sendiri saja tidak pernah melihat bahkan tidak pernah tahu yang mana Mamanya, di mana keberadaan Mamanya. Katanya... Pria yang Aku suka itu tidak pernah memberitahukannya ke Felicia.


 


Masih menatap ku dalam diam, pria yang menjadi masa laluku itu memandangiku yang berjalan meninggalkan ruangan putrinya bersama Suster Beatrix. Pikiranku sangat kacau, saat Aku sudah berada di lorong luar, Aku sempat terhenti dengan membuang nafas kasar yang sempat aku tahan di depan Dika. Suster Beatrix menyentuh pundakku, memastikanku sehat atau tidak.


 


Ya... mungkin saja Suster Beatrix bingung dengan perubahanku. Walaupun dia tidak mengerti dari apa yang Aku dan Dika bicarakan. Tetapi... siapapun tahu, jika kedua mataku atau mata Dika, kami itu saling mengenal. Termaksud saja Felicia, Ia sempat menatapku dan Dika secara bergantian.


 


 


"Ayo Sus." ajakku ke kamar pasien anak lainnya.


 


Dika.


****


Di rungan VIP di mana putriku berada, hatiku sangat tersulut karena wanita yang ku campakkan tanpa sebab, tidak merespon baik niatan dari pertama kami kembali di pertemukan dengan yang Maha Kuasa. Perpisahan kami selama 6 tahun lamanya, mungkin membuka kenangan buruk yang telah Aku ciptakan untuknya.


 


 


"Daddy" panggil Felicia padaku.


 


Aku menatap wajah gadis polos yang membuat hari-hariku bersemangat, "Iya sayang." jawabku mendekat ke arahnya dan menyentuh tangan mungilnya.


 


 


Felici memiringkan kepalanya, seakan menelusuri wajahku, meskipun aku sudah tersenyum ke arahnya, dunia kecilku ini tahu aku sedang memikirkan sesuatu atau apapun itu.


 


"Daddy... Apakah Daddy mengenal Tante Dokter?" tanyanya padaku.


 


 

__ADS_1


Aku tersenyum dan Aku tidak bisa berbohong soal ini ke Felicia, dan aku harus jujur ,karena Papa yang baik, tidak akan mengajarkan anak kecilnya untuk berbohong. Bukankah benar , Apa yang Kau tabur akan Kau tuai. Tidak... Aku tidak mau Felicia di waktu dewasanya suka berbohong kepadaku. Aku tidak mau menjadi Papa yang gagal dalam mendidik anak titipan.


 


 


"Sayang... Kamu tahu, Dokter cantik itu dulu sahabat Daddy di Kampus saat Daddy berkuliah di Jakarta." ujarku dengan suara terlembutku.


 


 


Felicia tersenyum, "Benarkah Pa?" tanyanya dengan kedua mata berbinar.


 


Aku semakin bersemangat menjawab pertanyaan anak kecilku ini, "Iya sayang.." balasku dengan membelai lembut rambutnya.


 


 


Raut wajah Felicia seketika itu juga berubah, membuatku merasa bingung dengan apa yang ada di dalam pikirannya.


 


"Tapi Dad... Kenapa Tante cantik seperti tidak menyukai Daddy?  Seperti tidak mengenali Daddy, Apakah kalian bermusuhan?" tanya Felicia padaku.


 


 


Wajah polos Anakku seketika itu juga membuat tawa kecilku terpampang, "Sayang.... Tante Dokter belum bisa mengenali Daddy. Mungkin... Karena sudah lama, atau jangan-jangan... Dokter cantik sedang marah sama Daddy." kataku lagi dengan imutnya Aku.


 


 


Agh... begini rasanya jadi seorang Papa... harus bisa menjadi sosok Papa yang berubah bentuk. Mungkin maksudku, aku harus bisa membuat diriku selevel dengan Felicia, agar Felicia paham dengan maksud dan tujuanku.


 


 


 


Deggggg....


 


Jantungku cenat-cenut, bagaimana Felicia tahu? aku masih menyimpan suka, bahkan lebih. Aku mengagumi Jayda, wanita spesial yang membuatku berubah dari opiniku tentang cinta. Mencintai tanpa memandang uang abang di dompet, itu adalah bohong dari segi opiniku. Kenapa Aku bisa berpendapat seperti itu.


 


 


Yah... dulu... sebelum Aku mengenal Jayda, Aku memiliki pacar yang aku kencani di masa kami duduk di bangku sekolah menengah atas. Kau tahu apa katanya ke Aku, saat Aku ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan? katanya kalau Aku enggak kuliah, hanya tetap mengandalkan harta dari papa mamaku, sudah cukup baginya dan Aku saat kami menikah nanti.


 


Sementara, selama kami berpacaran, seluruh kemaunnya aku turuti, mau tas, baju, sepatu yang berhubungan dengan shopping aku penuhi untuknya. Bukankah itu pengeluaran yang butuh Uang??? agh.. Aku berpikir keras tentang ucapannya. Sedangkan bagiku , tujuanku berkuliah karena Aku memang mau menjadi seperti Papaku, yang bekerja sebagai pengusaha retail terkenal.


 


 


Tetapi sangat di sayangkan, Aku malahan mengambil jurusan sebagai Dokter mengikuti jejak Mamaku, yang sempat di tentang oleh Papaku. Karena salah jurusan Aku di pertemukan oleh Jayda. Dan kalian tahu, Aku berhenti saat dua tahun Aku menjalani kuliahku, karena wanita yang menjadi sahabat wanitaku yang bernama Lani. Lani adalah sahabat dekatnya Jayda, yang selama ini merasa marah aku mendekati Jayda dan tahu Aku mencintai Jayda, sampai kami akhirnya memadu kasih, Lani mencintaiku dalam diam. Akan Aku ceritakan, saat Jayda meminta penjelasan kepadaku. Aku siap...Jika Jayda mau mendengarkannya.


 


 

__ADS_1


"Daddy... Kenapa malahan berdiam?" pertanyaan Felicia menyadarkanku.


 


"Agh... Yess Honey, Daddy sangat menyukainya." balasku tanpa ragu.


 


 


Raut wajah peri kecilku itu berubah senang. Ada bias kebahagiaan terpancar dari kedua matanya. Aku sendiri merasa geli dengan respon wajahnya yang seakan mengejekku.


 


"Kenapa Cia tersenyum sendiri?" tanyaku ke Felicia.


 


 


"Bagus dong... " balasnya singkat, masih tersenyum memandangku.


 


 


"Hey.... Maksudnya apaan Bagus?" tanyaku menggelitik tubuhnya.


 


 


"Daddy geli tahu." pintanya ke Aku.


 


 


"Kalau geli... Kasi tahu Maksud perkataan Cia pada Daddy." balasku masih menggelitik sisi tubuhnya.


 


 


"Ampun Daddy." balasnya dengan tertawa.


 


"Iya... Bakalan Daddy ampuni, tapi jelaskan dulu, Bagus apanya sayang. Daddy kan penasaran" decakku pada Felicia.


 


 


Seketika itu juga Felicia terdiam dan aku melepaskan seranganku dari Felicia. Tampak raut wajah Felicia kembali bahagia.


 


 


"Bagusss.. Karena kalau begitu kan Daddy bisa meminta tante cantik menjadi Mamanya Cia, Dad. Cia ingin punya Mama seperti Dokter cantik Dad. Karena hanya Dokter cantik yang mau menemani Cia di kala Daddy enggak ada. Dokter cantik mau menemani Cia sampai pagi di sini. Cia berharap, suatu saat Tuhan mengizinkan Dokter cantik bisa menjadi Mamanya Ci di suatu hari." Ucapan anakku membuat perasaanku sangat sakit. Aku tahu, dia kesepian.


 


 


 


BERSAMBUNG.


......

__ADS_1


INFO : TIDAK UPDATE TIAP HARI, JIKA KALIAN BERKENAN UNTUK MEMBERIKAN VOTE, TOLONG BANTU SAYA VOTE KE KARYA SAYA YANG BERJUDUL MY CHOSEN WIFE, LANJUTAN DARI NOVEL TERPAKSA MENIKAH, MOHON DUKUNGAN KALIAN BUAT AUTHOR. KARENA VOTE DARI KALIAN, MEMBANTU KARYA SAYA NAIK RANKING, TERIMA KASIH, DI BAWAH INI SAYA SELIPKAN CARA VOTE DAN JIKA KALIAN TANYA IG SAYA BISA FOLLOW DI @putritritrii_



__ADS_2