Kekasihku Seorang CEO

Kekasihku Seorang CEO
" Tanggung Jawab " EPS 15


__ADS_3

Rumah Sakit Joseph Wijaya, Jakarta Barat


Tok.. tokk... tok...


Terdengar suara pintu dari dalam ruangan VIP April. Joseph yang hanya sekedar membaringkan tubuhnya pun beranjak untuk membuka pintu. Dibukanya pintu.


" Hah silahkan masuk Lin..." ucapnya pada serketarisnya dan berjalan masuk.


" Letak di meja itu aja ya Lin... "


" Baik pak..." Meletakkan makan dan Laptop Joseph di Meja yang tak jauh dari ranjang. Dilirik Linda kearah tempat tidur yang diatasnya terbaring seorang wanita.


" Pak.. maaf siapa yang sakit? Kakaknya pak Joseph ya?"


" Bukan Lin... teman saya." ucapnya


" Ha... iya. Cantik loh pak temannya." Dengan senyum kearah Joseph yang sedang menikmati makan siangnya.


" Hah kamu bisa aja. Duduk dulu Lin.. " Cuma sama si Linda ini si Joseph terbuka. karena memang Linda serketaris terbaik yang pernah dia miliki. Tak pernah mencampuri urusan Pribadi atasannya, Tauh apa yang disuka atau tidak oleh Atasannya. Itu yang membuat Joseph selalu bergantung padanya saat bekerja selalu bisa dia andalkan.


Linda yang melihat Joseph menjaga seorang wanita pun penasaran.


pasti wanita ini spesial buat pak Joseph. Gak pernah-pernahnya dia seperti itu. Jangankan menjaga, ngomong sama wanita diluar bisnisnya aja dia tak mau. Wah.. akhirnya dia membuka hatinya.


Linda yang membatin pun sangat senang sang Atasannya mulai membuka hati. Karena sangkin ingin melupakan masalalunya dia menghabiskan waktunya untuk bekerja.


" Apa yang kau pikirkan Lin?" ucap Joseph membuyarkan lamunan Linda.


Dengan senyum senyum Linda menjawab. " Pak.. lagi jatuh cinta ya?" Biasanya dia tidak berani bertanya. karena memang melihat mood sang Atasannya baik dan bukan di ruang kerja dia berani menanyakannya walupun sekedar basa basi.


" Hahaha... kamu ini aneh aneh aja Lin..Dia tuh teman saya. Teman tapi gak dekat." Sambil menyunggingkan tawa.


" Kan dari teman jadi deman pak?" ucapnya dengan tawa.


Sontak Joseph kaget dengan jawaban Linda Buat salah tingkah dan matanya pun melotot ke arah Linda.


" Mau saya potong Gaji kamu?" Tanyanya dengan nada Tegas.


" Heh bapak... jangan dong pak. Hehehehe... kalau gitu saya pamit aja ya pak?" Berdiri dan hendak berjalan keluar.


" Okey.. Terimakasih Lin udah membantu. Hati - Hati dijalan."


" Iya pak sama - sama" Dengan senyuman Linda berjalan keluar dari ruangan VIP super mewah itu.


Joseph yang baru selesai dengan makannya duduk disamping tempat tidur April. Dipandanginya wajah itu.


Kau sangat lelap ya cepat sembuh, aku rindu ocehanmu. Dipegangnya kening April dibelainya rambutnya dengan lembut. Tak lama pun April yang sudah tertidur berjam jam membukakan matanya.


Digerkannya lehernya ke kiri lalu ke kanan.


Aku dimana ini? apa aku sudah mati? kenapa gelap sekali. Melihat ke arah Joseph yang sedari tadi mematung melihat gerak gerik April.


" Kau... kenapa disini?" Tanyanya lembut.


" Emangnya aku harus dimana?" Nanyak balik.


" Aku masi hidup ya? Kenapa ruangan ini gelap sekali?"


" Iya kau masi hidup.. kalau kau sudah mati gak mungkin aku ada disini. Ada saja pertanyaanmu"


" Ah.. aku haus" Ucap April yang langsung refleks Joseph berikan minum dan membantu April untuk duduk.


" Gimana? Sudah enakan belum?" Tanyanya khawatir.


" Sudah... sudah sangat baikan." Jawabnya lembut.


" kenapa kamu masi disini?" Tanyanya penasaran


" Aku menunggumu bangun." ucapnya singkat.


Ternyata ada sisi baiknya juga si angkuh ini.


Joseph sengaja mematikan lampu ruanganya agar dia tertidur dalam keadaan tenang.


" Bisa tolong nyalakan Lampunya?"


Tanpa menjawab Joseph menekan saklar lampu. Wajah April yang tadinya memucat sudah kembali seperti sedia kala.


" kamu sudah makan?" Tanyanya sopan.


" Tumben sopan... biasanya juga kau.. kau." Jawabnya dengan tangan terlipat didada.


" a..ku.. aduh jangan memulai aku tak ingin berdebat denganmu sekarang. Merubah mood baik aja."


" Lagian situ sok sopan."


" Ya sudah.. baiklah. Kau sudah makan?" Tanyanya kembali.


" Nah gitu baru benar. Apa pedulimu aku sudah makan atau belum?"


" Kau ini sungguh keras kepala banget. Aku nanyak malah nanyak balik. aku tidak mau orang yang nolong aku juga sakit kayak aku. Walaupun dia juga yang membuat aku sakit." ucapnya dengan cepat.


" Wah wah wah.. lihat siapa yang sedang berbicara, Ternyata kekuatanmu sudah terisi penuh setelah tidur berjam jam." Apa dia perhatian denganku?


April pun terdiam tak ingin membalas. Dilihatnya bibir Joseph dan teringat akan kejadian tadi. Joseph yang menangkap pandangan April juga menjadi salah tingkah. Gagap dan dia pun berdiri.

__ADS_1


" Hey kau mau kemana?" Tanya April yang berpikir dia mau pulang.


" Aku mau ke toilet, kau mau ikut?" Sambil menunjuk ke arah Toilet yang tak jauh dari pintu.


" Dasar aneh" ucapnya pelan.


" Aku bisa mendengarmu." jawabnya sambil berjalan ke toilet.


April yang duduk pun merapikan Rambutnya yang ternyata berantakan. Diikatnya Rambutnya yang panjang digulungnya keatas. Joseph yang baru keluar dari Toilet melihat pemandangan itu pun tersenyum. manis sekali wanita ini , berjalan dan duduk kembali didekat April.


" Apa kau tidak pulang?" Tanyanya sopan


Berpikir sejenak lalu menjawab " Jika aku pulang, siapa yang akan menjagamu disini?"


" Ahhh.. aku sudah terbiasa sendiri." Tersenyum malu. "Pulangla.. pasti kau lelah. Lihat saja pakaianmu masi yang tadi."


Joseph melihat kepakaiannya. Dan terenyuh mendengar kata Dia sudah terbiasa sendiri.


" Emang kemana keluargamu?" Tanyanya sungkan.


" Apa aku punya hak untuk menjelaskannya padamu?" seperti pertanyaan Joseph tadi ke April saat dia bertanya tentang mantannya.


" Ya aku punyak hak." ucapnya tegas dan April pun memalingkan wajahnya ke Joseph.


Punya hak apa dia atas diriku?


April pun tersenyum melihat wajah Joseph yang penasaran. dasar ini anak keras kepala. apa yang dimaunya harus dituruti.


" Kenapa kau malah tersenyum seperti itu?"


" Ah.. kau sungguh lucu. kayak anak yang minta permen saja pada ibunya."


Joseph yang mendengar nya pun mengerucutkan bibirnya tak terima. sungguh senang bisa melihatmu kembali tersenyum


Tertawa lagi " ah wajahmu itu " Pinta April.


" Sudah jangan menertawaiku.. tidak ada yang lucu. cepat jelaskan kenapa kau terbiasa sendiri?"


April pun memataung mendengarnya. Lalu dia menarik nafas panjang dan membuka cerita.


" Kenapa aku terbiasa sendiri, kau benaran mau tau?" Tanyanya yang langsung dijawab anggukan oleh Joseph. Belum lagi mulai cerita suara ketukan Pintu pun terdengar.


Tok ... tok.. tok... Joseph dari yang serius menjadi kecewa, mengganggu saja berjalan membuka pintu.


" Maaf Tuan bisa kita memeriksakan keadaan Nona April?"


" Silahkan Dokter Iyan"


Dokter dan perawat pun masuk menghampiri April.


" Selamat malam Nona, Gimana keadaanmu? Sudah baikan?"


" Baikla kita periksa dulu ya. Berbaring dulu."


Joseph yang melihat kearah April yang hendak diperiksa dibagian dadanya pun langsung menghampiri Dokter itu.


" Apa harus dibagian situ Dok?" Tanyanya polos.


Semua mata diruangan itu pun menuju kearah Joseph. Dokter pun tersenyum sedangkan April melototkan matanya.


"Iya Tuan.. kan memang disini" sambil memeriksa ulang " Karena disini saya bisa memeriksa suara jantung dan pernapasan setiap pasien." menjelaskan dengan senyum.


" Ow iyakah... maaf tidak tauh." ucapnya acuh.


" Ini obatnya sebelum tidur diminum, Jika cairan infusnya sudah habis, kita sudah bisa melepasnya ya. Nona April istirahat saja yang cukup. Makanannya juga jangan lupa dihabiskan." Makanan yang baru tersaji karena April yang baru tersadar.


"Baik Dokter.. Thank you ya Dok." Tersenyum manis, karena memang Dokter itu sangat Tampan batinnya berkata. Joseph melirik ke April yang tersenyum manis itu.


" Sama- sama Nona April. Cepat sembuh" melayangkan senyuman.


" Saya permisi Tuan" berjalan meninggalkan ruangan April.


April yang melihat ke arah Dokter itu keluar masi juga tersenyum manis. Joseph yang melihat itu risih. Bisa bisanya dia tersenyum kesembarangan orang.


" Hey.. kenapa kau tersenyum?" Ucapnya dongkol


April yang kaget langsung merubah mimik wajahnya.


" Kenapa emangnya? Dokter tadi itu sangat tampan." ucapnya lembut dan Melayangkan senyuman.


" Tampan? kau naksir?"


" Tidak" menggelengkan kepalanya. " Aku hanya sedikit bahagia, setidaknya diruangan ini ada orang yang waras seperti dia. sudah Waras tampan lagi. Perfect" ucapnya dengan senyum.


" Kau menyindirku?"


" Ahhh tidak tidak." mengangkat kedua tangannya. " Tidak seperti itu." ucapnya gugup.


" Lanjutkan yang tadi." ucapnya ketus.


" Yang mana?"


" Kau amnesia? yang sakit itu kan perutmu. bukan kepalamu." mulai kesal dia Cemburu ni yeeee.


" Jangan galak galak sama orang sakit." Ucapnya membela diri dengan wajah memelas.

__ADS_1


Wajah Joseph menampakkan kekesalannya Mungkin dia cemburu ya.


" Siapa yang galak." jawabnya melembut. " sudah lanjutkan, dan sekalian kau makan." Menyodorkan makanan yang sudah diantar perawat tadi. Duduk di sisi tempat tidur, membuka makanan itu.


Diambilnya sendok lalu mengisinya dan menyuapinya ke mulut April. April yang awalnya ingin menolak tapi tidak bisa , tangan Joseph yang terus menyodorkannya ke mulutnya akhrinya diterimanya.


" Kenapa kau terbiasa sendiri?" ucapnya lembut yang jarak wajahnya dekat dengan April. Mendapatkan perhatian dari Joseph seperti itu pun membuat April merasa gugup. Wajah April tiba tiba panas dan memerah dengan sisi lembut Joseph. Joseph menatapnya serius. Tak berkedip sedikitpun menunggu jawaban April.


" A.. itu... sebenarnya kedua orang tuaku tinggal di Australia. Tugas disana lebih tepatnya. Di Jakarta cuma aku sendiri, karena aku anak tunggal."


kembali menyendokkan makanan ke Mulut April. April yang tak tahan situasi seperti itu pun protes ke Joseph.


" Sini biar aku makan sendiri aja" sambil menarik sendok ditangan Joseph.


" Kenapa wajahmu memerah lagi?" Tanyanya.


" Aa. Ti.. tidak. Wajahku tidak memerah." Ucapnya gagap dan menutup kedua pipinya.


Joseph tertawa terbahak bahak karena melihat tingkah April yang lucu dan imut baginya. Pipinya yang berubah merah dan Imut kayak Kelinci bikin gemes.


" Kau sangat puas ya menertawaiku?"


" Tidak... kau sangat menghiburku." ucapnya tertawa lagi.


Kapan terakhir aku bisa tertawa seperti ini? sudah lama tidak kurasakan. Wanita ini memiliki efek kuat untukku.


April pun menyunggingkan bibirnya. " Sudahla aku mau makan" ucapnya kesal.


" Bagus.. habiskan makanmu. Biar kau cepat sembuh." Dengan senyuman dibibir.


" Hemm" April pun segera mehabiskan makannya.


Joseph beranjak ke ruang tamu, duduk dan mengambil Laptopnya kemudian dinyalakannya. Dia hendak bekerja diruangan itu. Dengan tanggung jawab nya ke April dia berpikir untuk bermalam di Rumah Sakit. Lagian juga pikirnya April sendiri tidak tega untuk meninggalkan dia seorang diri.


Tak lama Stelah selesai dari acara makannya itu dia ingin sekali buang hajat. Tapi karena cuma ada Joseph di ruangan itu dia merasa canggung untuk meminta tolong.


Daripada pipis di celana baikla kau harus turun April.


Sekuat tenaga dia ingin turun, Joseph yang tadinya baru duduk diruang tamu ruangan itu Menoleh kearah April.


" Kau mau kemana?" ucapnya dari ruang tamu.


April yang kaget karena sudah perlahan turun agar Joseph tidak memalingkan wajahnya ke arah dia pun tetap aja ketahuan.


" Ah itu... aku mau ke toilet." ucapnya malu.


Berjalan menghampiri April dan membantunya turun dari ranjangnya.


" Kenapa kau tidak memanggilku? Apa sesulit itu untuk meminta pertolonganku?" Tanyanya lembut dan memegang lengan April.


" Hemm.. maaf tidak ingin merepotkanmu" dengan gugupnya.


" Aku tidak merasa direpotkan, kan aku yang membuatmu sakit." sambil memberikan sendal Rumah Sakit ke kaki April. Dan berjalan disamping April. Joseph pun mendorong tiang infus April menuju ke arah Toilet.


" Terimakasih, Sampai sini aja." ucapnya sambil menarik tiang infusnya.


" Tidak ingin kutemani?" Tanyanya dengan cool.


" Kau... Jangan macam-macam." Langsung berlalu masuk dan menutup pintu Toilet dan menguncinya. Joseph pun tertawa dan menggelengkan kepalanya. Berjalan ke sofa dan duduk menunggu April selesai dengan panggilan Alamnya.


Didalam Toilet April yang duduk dicloset untuk membuah hajat mengomel sendiri.


" Ada apa dengan dia. Kadang membuatku marah, kadang bisa membuatku malu.Terkadang Perhatiaannya padaku itu... ahh buat aku terkadang lupa itu orang siapa. Apa dia salah makan obat? Kan aku yang sakit. iii.. sadar April sadar... jangan mikirin yang aneh-aneh." Sambil memukul kepalanya. "Dia seperti itu mungkin karena dia tidak enak membuatku jatuh sakit."


Lima belas menit kemudian , Joseph yang menunggu diluar pun bingung April tak kunjung keluar. Apa terjadi sesuatu padanya? Berjalan ke arah pintu Toilet dan digedornya Pintu itu.


" Kau baik-baik saja didalam sana?" ucapnya penuh khawatir.


April yang mendengar langsung kaget. karena dia tak hanya membuang hajat tapi juga membersihkan dirinya. Menyuci wajahnya agar tidak tampak tak mandi.


" Ah... iya.. aku gakpapa. Sebentar lagi juga siap." ucapnya dari dalam Toilet.


Syukurlah... kau sangat membuatku kahwatir


Krekkkk... suara pintu Toilet terbuka. Joseph yang udah memasang gaya coolnya bersender didinding depan pun berdiri memandang April dan menghampirinya mengambil tiang infus. Berjalan berdampigan kearah ranjang dan Memegang lengannya membantu dia naik ke atas.


April yang masi bingung akan keberadaan Joseph yang hingga malam tak kunjung pulang pun bertanya kepadanya.


" Kau.. kenapa udah jam segini tidak pulang?"


" Hemmm... aku tetap disini menjagamu, sampai kau keluar dari rumah sakit ini."


" Ngah.. tidak usah, aku bisa memanggil Asistenku untuk menemaniku disini." ucapnya menolak.


" Tidak apa-apa. Aku akan tanggung jawab atas semua perbuatanku hari ini. Mulai dari pagi hingga siang tadi. semua yang aku lakukan, dari Membuatmu menangis sampai jatuh sakit. Aku akan tanggung jawab." akhirnya diapun mengucapkanya walau awalnya tak mau.


Hanya itu aja? ciuman yang kau layangkan dibibirku apa kau bisa tanggung jawab?


" Satu lagi" ucapnya berjedah dan tak lama kemudian dengan pelan "Untuk Ciumanku tak terkecuali. aku tak mau minta maaf atas itu. Tapi karena kau meminta jaminan padaku, ya aku.. aku cuma bisa menjaminkan itu bukan ada maksud yang lain." Katanya terbata bata menahan malu.


Aku tidak akan minta maaf untuk ciuman itu. Karena aku bersyukur untuk itu semua. Batin Joseph berucap.


Saling memandang, April yang dengan berani menatap Joseph pun melihat kesungguhan semua ucapannya. Dan sedikit tersentuh dengan dia bertanggung jawab sampai dia sembuh. Tapi tak bergeming mendengar soal ciuman itu.


Dia manusia atau sejenis makluk halus bisa membaca pikiranku saja.. Ikkkh.. merinding.

__ADS_1


" Kenapa kau diam? Masi tidak terima?"


Bersambung....


__ADS_2