
Melbourne, Australia.
"Banguuuuuun!" teriak Ginta ke Jayda yang masih tertidur telungkup.
Jayda sama sekali tidak bergerak, sejenak Ginta menarik nafasnya dengan kedua tangan yang berkacak pinggang berdiri di depan ranjang.
"Jayda... Lo kerja apa enggak sih? Lo gak tahu apa ini sudah jam berapa?" Ginta mengomel sendiri.
"Astaga ini anak ya... tidur kok kayak mayat begini?"
"Jay... bangun, ini sudah pagi, Lo kerja apa enggak?" Ginta menggoyang-goyangkan kaki Jayda.
Jayda bergerak kecil, merasa sangat berat untuk menyadarkan dirinya.
"Buruan bangun! Kalau Lo enggak mau telat untuk berangkat bekerja." celetuk Ginta.
Jayda pun tersadar, menatap Ginta dengan kedua mata yang sempurna.
"Astaga...! Sudah jam berpa ini?"tanya Jayda seraya melempar selimut yang menutupi tubuhnya.
"Waktu Lo cuma tersisa 30 menit dari sekarang Jay."Ginta berjalan ke arah ruangan pakaiannya.
Jayda buru-buru mengambil pakaian beserta handuknya dan berlari ke kamar mandi. Seusai Ginta mengenakan pakainnya, Ia pun berjalan turun ke dapur, untuk mempersiapkan beberapa lembar roti untuk di panggang dan dua gelas susu.
Jayda mengakhiri mandinya buru-buru ia mengeringkan tubuhnya dan mengenakan pakaian. Dengan cepat berjalan keluar, mengenakan makeup seadanya dan menguncir rambut panjangnya. Seuasai di rasa selesai, tak lupa Ia menyemprotkan parfume kesukaannya, lalu mengambil tasnya dan berlari menuruni anak tanggga.
"Woiii! pelan-pelan! Lo kek di kejar sama setan Jay." ujar Ginta.
"Astaga...Gua gak lagi becandaan Gin, gua hampir telat," Jayda hendak melangkah ke pintu keluar.
"Jayda... Sarapan lo, Uda gua siapin lo malahan mau main ninggalin Gua."
"Ginta ku sayang yang paling cantik dan di sayang seluruh masyrakat setempat, sahabat lo yang cantiknya melebihi Lo sudah mau telat. Ngerti enggak sih Lo?"
"Eh... Mulut Lo ngoceh aja! liat jam dinding." kata Ginta dengan menggigit rotinya.
__ADS_1
Jayda langsung saja menoleh pada jam dinding di sampingnya.
"Astaga... Masih jam tujuh lewat lima belas," ucapnya lalu menoleh ke Ginta, "Gintaaaaaaaaa! Lo ngerjain gua ya!" ketusnya seraya berjalan ke dapur tepatnya di bar kecil.
Ginta tertawa, "Karena Lo tidur bagaikan mayat Jay, mana kalau mandi seperti bertapa. Dari pada gua juga telat, jadinya Gua pilih dong menyelamatkan diri gua dan juga lo." masih santai dengan roti yang Ginta santap.
"Ginta....tapi enggak gini juga caranya. Lo gak asik agh..."
"Sudah di makan, Lo cerewet amat. Habiskan bagian Lo, sebelum Lo benaran telat untuk melakukan tugas Lo." ujar Ginta lalu meneguk susunya.
Jayda cemberut, lalu Ia mengambil roti bagian yang di siapkan oleh Ginta dan mengunyahnya. Ginta sesekali melirik dan tersenyum melihat raut wajah kekesalan Jayda.
"Buruannnn! Biar gua juga gerak." Ginta berjalan ke arah rak sepatunya.
"Iyaaaa... bentarrrr dong!" jerit Jayda kemudian meneguk habis susunya.
Jayda pun berjalan ke rak sepatu dan mengenakan sepatunya. Sedangkan Ginta sudah menunggunya di depan pintu.
"Buruaaaaan!" kata Ginta lagi.
"Agh... dasar Lo miss resek! gak sabaran banget sih lo!" ketus Jayda seraya keluar.
"Ayo... berangkat, Gua ada pasien pagi ini." katanya sambilan berjalan ke arah lift.
Jayda pun mengikutinya dengan kesal, "Dasarrr Dokter aneh lo."
Keduanya pun berada di satu lift, di mana membawa mereka turun ke loby. Pintu lift terbuka, Ginta dan Jayda bersama-sama membawa kakinya keluar dari lift, dengan bercerita sambilan tertawa, keduanya melangkah dan berjalan menuju area parkiran depan.
"Hati-hati Jay... jangan ngebut." ucap Ginta tepat di depan mobilnya.
"Yeeees... Terima kasih sayang aku, untuk tadi malam, semoga Hari kita berkesan di hari ini. Dan semoga yang terbaik buat Gua juga ya Gin?"
"Jangan di pikirkan lagi, Lo kerjakan saja apa yang menjadi tugas Lo. Jangan campurkan masalah pribadi lo dengan kerjaan Lo. Ingat itu Jay, gua dukung lo, karena gua yakin Lo bisa memilah posisi positif dari masalah Lo." ucap Ginta dengan senyumannya.
"Iya... Gua tahu maksud Lo. Baiklah... Gua berangkat, Lo hati-hati ya, kita akan ketemu lagi, bareng si kutu buku." celetuk Ginta dengan bersemangat.
__ADS_1
"Okey... Bye." ucap Jayda dengan berjalan menuju mobilnya.
Ginta langsung saja masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya. Jayda sendiri tiba di mobilnya, masuk ke dalam mobil, memasang seatbelt dan menghidupkan mesin mobilnya.
Sejenak Ia menatap kedepan dan menghembuskan nafasnya, "Baiklah... Aku siap berhadapan dengan masa laluku." ucapnya lalu melajukan mobilnya, keluar dari area parkiran Aparteman.
***
Tepat pada waktunya, Jayda tiba di Rumah Sakit khusus anak. Sebagai Dokter spesialis anak sekaligus asisten atasan di Rumah sakit, Jayda melangkah dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya. Para staff Rumah sakit yang berlalu lalang memberikan penghormatan dan sapaan di saat Jayda berjalan memasuki area ruangan di mana Ia bekerja.
"Selamat pagi Dokter Jayda,"sapa rekan kerja Jayda sebelum masuk ke ruangannya.
"Hey... Selamat pagi Dokter Arthur." balasnya dengan senyuman merekah.
Dokter Athur mengangkat gelas ke arah Jayda, "Coffe?" tawarnya ke Jayda.
"Tidak... Terima kasih Dok. Saya masuk dulu ya Dok," ucap Jayda mendapatkan anggukan dari Dokter Arthur.
Masih dengan tersenyum, Jayda berjalan masuk ke ruangannya, lalu Ia mendudukkan dirinya di bangku kerjanya. Meletakkan tasnya, Jayda langsung saja menghidupkan layar komputernya dan mengecek jadwal kerjaannya.
"Astaga." gumam Jayda.
Tokkk... Tokkk... Tokkk...
"Silahkan masuk." jawab Jayda lalu mengambil jubah Dokternya.
"Dokter Jayda, apakah anda sudah bersiap untuk melakukan pengecekan pada pasien pertama bernama Felicia?"
"Agh.. Saya sudah siap, Ayo Suster Beatrix." Jayda berjalan menghampiri suster yang bertugas menemaninya untuk melakukan pengecekan pada anak-anak di Rumah sakit.
Jayda menarik nafasnya dengan sekuat perasannya. Pikirnya sudah melayang-layang, karena takut bertemua dengan Pria masa lalunya, yang merupakan orang tua dari pasien yang sering di temani oleh Jayada. Karena hanya Jayda yang menjadi tempat anak itu berbagi cerita. Ia tidak mau kesepian, karena kata anak itu, mamanya tidak pernah melihatnya, sedangkan Papanya sibuk bekerja, sehingga Ia sering di titipkan bersama para Suster di Rumah Sakit, membuatnya sering menangis.
Karena keadaannya sering naik turun, Jayda mengambil keputusan untuk menemani Felicia, anak dari masa lalunya, cinta pertamanya , yang membuatnya untuk keluar dari kampus dan jurusan pertama yang Jayda pilih untuk pertama kali.
Tiba di depan pintu kamar Felicia, Suster Beatrix membukakan pintu dan mempersilahkan Jayda untuk masuk kamar VIP tersebut.
__ADS_1
"Selamat pagi Felicia." sapa Jayda dengan berjalan mengarah ranjang Felicia. Jayda terkesiap, Ia terhenti melihat pemandangan Papa dan anak yang berada di satu ranjang. Rasanya, tidak enakan bagi Jayda untuk membangunkannya. Menoleh ke Suster Beatrix, Ia pun tersenyum dan berkata, "Biarkan saja dulu, kita ke anak yang lainnya." ujar Jayda dan hendak berjalan ke arah pintu.
"Tunggu....."