
Tiba di depan pintu kamar Felicia, Suster Beatrix membukakan pintu dan mempersilahkan Jayda untuk masuk kamar VIP tersebut.
"Selamat pagi Felicia." sapa Jayda dengan berjalan mengarah ranjang Felicia. Jayda terkesiap, Ia terhenti melihat pemandangan Papa dan anak yang berada di satu ranjang. Rasanya, tidak enakan bagi Jayda untuk membangunkannya. Menoleh ke Suster Beatrix, Ia pun tersenyum dan berkata, "Biarkan saja dulu, kita ke anak yang lainnya." ujar Jayda dan hendak berjalan ke arah pintu.
"Tunggu....." Papa Felicia yang terbangun mendengarkan suara Jayda langsung saja mengerjapkan matanya.
Jayda dan Suster Beatrix sama-sama terhenti dan menoleh ke arah suara. Saling memandang, Jayda pun terpaku dengan Pria yang sempat mengisi hari-harinya dulu.
"Tante Cantik" panggil Felicia menyadarkan Jayda dari kekagetannya.
Jayda pun berjalan menuju ranjang Felicia, tanpa menoleh ke papanya, "Selamat pagi Sayang.. Bagaimana kabar kamu Nak? Apa sudah enakan?" Jayda menyentuh kepala Felicia dengan lembut, kedua matanya berbinar menatap Felcia yang sangat polos.
"Tante Cantik... Felicia sudah enakan, tetapi kadang masih merasa pusing dan juga merasa sesak Tante. Apa Felicia sudah boleh pulang Tante?" Felicia bertanya dengan suara pelan.
Jayda tersenyum, "Kita akan melakukan pengecekan pagi terlebih dahulu Sayang." ujarnya lembut.
"Maaf Tuan... Saya akan melakukan pengecekan rutin di pagi hari untuk Putri Anda. Bisakah Anda pindah dari duduk anda?" Jayda berkata dengan datar.
"Agh...Baiklah Dok." ucap Dika, Pria pertama yang mampu mengisi hati Jayda.
Dika Ardianto, saat itu berkuliah di Fakultas yang sama dengan Jayda. Satu kelas, dari benci jadi cinta. Itu terjadi pada keduanya, saat keduanya bersama-sama di suru maju kedepan oleh Dosen, sebagai mahasiswa dan mahasiswi baru saat melakukan kesalahan.
Dika sendiri meledek teman sekelasnya yang memperkenalkan dirinya, bernama Merikaaa di ubahnya menjadi Merica. Karena adegan saling ejek itu, Dika di minta maju kedepan kelas, saat berjalan menuju kedepan kelas, Jayda yang merasa kesal dengan gaya Dika, menjegal kakinya hingga Ia terjatuh.
__ADS_1
Dosen yang bernama Harry, melihat perbuatan Jayda, memintanya juga untuk ikut kedepan. Mendapatkan hukuman dengan bernyanyi bersama, hingga saling memperkenalkan diri depan yang lainnya. Dari situlah, keduanya mulai mengenal. Saling ejek, menyindir, tidak akur sama sekali. Jayda sangat membencinya, tetapi... Dika sangat suka menjahili Jayda, hingga hatinya bertekad membuat Jayda jatuh cinta pada dirinya.
Dika mulai menaruh hati pada Jayda, saat Jayda membantunya membersihkan luka pada lengannya. Karena perkelahian Dika dengan Mahasiswa lain yang mengganggu teman mereka bernama Lani. Lani ini sempat menjadi sahabat bagi Jayda, tetapi renggang, karena Lani menyukai Dika. Karena Lani jugalah pemicu Jayda dan Dika putus.
“Kenapa dia galak banget?” gumam Dika dengan berjalan mengarah ke Balkon kamar Felicia. Dika memandangai wajah Jayda yang sibuk memeriksakan Felicia dengan Stetoskop yang di arahkan Jayda ke tubuh Felicia.
“Masih sama seperti dulu,” imbuh Dika dengan tersenyum kecil.
Tetapi Dika bangga dengan Jayda, Jayda mampu lulus dengan gelar Kedokteran, meskipun berbeda dengan jurusan yang mereka ambil sebelumnya saat di Jakarta. Berbeda dengan Dika, Dika memilih jurusan lain dan berpindah dari tempat mereka bertemu sebelumnya.
“Okey bagus, Felicia sudah berusaha dengan baik, dan hasil dari pemeriksaan ada kemajuan, sekarang Suster akan memberikan suntikan pada lengan Felicia, agar Felicia semakin baik lagi. boleh ya?” tanya Jayda dengan mata berbinar.
Felicia menganggukan kepalanya, “Baik Tante, Felicia sudah kepengen sembuh,” balas Felicia penuh harap.
“Sabar ya Sayang.. Pasti Felicia sembuh,” ujar Jayda memberikan semangatnya.
Jayda menoleh pada Suster Beatrix untuk memberikan suntikan Vitamin, karena Felicia anak yang menderita diare parah dan muntah di sertai panas tinggi, tidak mau makan, hingga hampir pingsan, saat seminggu lalu Ia di bawa Dika dan di titipkan ke Rumah Sakit. Dika merupakan perngusaha di Asutralia, berasal dari Jakarta dengan memboyong Felicia ikut untuk tinggal dengannya. Meskipun di larang oleh mamanya, Dika membawa Felicia untuk ketenangan dirinya.
Baru kali ini, Ia menitipkan Felicia ke pihak Rumah sakit, karena Dika belum memiliki kerabat dekat yang bisa di percayainya. Bukan melepas tanggung jawab, karena pekerjaanya yang tidak memungkinkan tinggal menemani Felica, jadilah Ia memilih menitipkan Felicia. Hari ke tiga di mana shift Jayda yang di minta untuk berjaga, melihat Felicia sendirian, menangis, mencari papanya yang dia panggil dengan sebutan Daddy, membuat hati Jayda ikut bersedih. Jayda memberikan semangat, hiburan layaknya anak-anak seusia Felicia.
Dari kedekatannya dan kenyamanan Felicia pada Jayda, team Rumah sakit mengabarkan pada Daddynya Felicia akan keinginan sang Putri yang selalu ingin di temani oleh Jayda, sehingga Dika membuat keputusan memilih Jayda yang dia tidak tahu, Jayda adalah Dokter yang merupakan wanita di masa lalunya yang sempat Ia sia-sia kan.
“Daddy,”seru Felicia.
__ADS_1
Dika tersadar dan menoleh ke arah Felicia, Ia tersenyum, “Iya sayang,” jawabnya dan mendekati Felicia.
Jayda membuat dirinya tidak terlihat memandang ke arah lain, agar tidak melihat Dika yang berada di depannya, tepatnya di pinggiran ranjang Felicia, karena Felicia menahannya agar tidak pergi dulu, Jayda pun menunggu, apa yang di inginkan oleh anak berumur 5 tahun tersebut.
“Daddy.. Kenalan dulu sama Tante Dokter yang cantik, selama Daddy enggak ada di sini, Tante Dokter yang cantik ini selalu memberikan waktunya ke Cia. Waktu itu Cia berjanji sama Tante Dokter untuk memperkenalkan Daddy dengan Tante Dokter. Mau kah Daddy menepati janjinya Cia ke Tante Dokter ini?” tanyanya dengan suara pelan.
Dika menoleh ke Jayda yang tidak ingin menatapnya, lalu Ia tersenyum ke arah Felicia, “Daddy mau.. hanya saja Dokter cantik, sepertinya tidak mau berkenalan dengan Daddy. Bagaimana Dong?” tanya Dika pada Felicia.
Jayda yang mendengar ucapan Dika menarik nafasnya, merasa kesal pada Dika yang bukan menghindarinya malahan meminta.
“Tante Dokter,” panggil Felicia.
Jayda mengubah posisinya dan menatap ke Felicia,” Iya sayang?”
“Benarkah Tante Dokter tidak ingin berkenalan dengan Daddy, Cia?” tanya nya dengan sendu.
Jayda menatap ke Dika yang sudah tersenyum ke arahnya, mau tidak mau Jayda menjawab dengan berat hati dan terpaksa, “Agh tidak begitu sayang, Tante mau kok,” balas Jayda dengan gugup.
“Dengarkan Daddy, Tante Dokter mau kok. Cia sudah katakan pada Daddy, Kalau Tante Dokter sangat baik. Ayo kenalan Daddy,” ujar Felicia dengan menarik tangan Dika mengarah ke Jayda.
Jayda memutar kedua bola matanya, karena tatapan mata Dika melirik tanpa berkedip menatap pada dirinya. Dika malahan tersenyum ke arahnya, raut wajah bahagia tergambar jelas dari wajah Dika.
Jayda menaikkan tangannya, saat tangan Dika sudah terulur ke arahnya. Dengan gugup, Jayda menautkan tangannya ke telapak tangan Dika.Saling memandang satu sama lain, “Apakah kali ini perkenalan kita tidak seperti dulu? Haruskah kita bernyanyi di depan ruangan ini?” ujaran Dika membuat Jayda terpaku.
__ADS_1
Bersambung
Maaf ya kalau lama, tolong jika kalian berkenan memberikan VOTE, tidak usah di sini, berikan VOTE kalian ke MY CHOSEN WIFE, karena Novel saya ini sebelumnya sudah Tamat, jadi bakalan susah untuk naik ranking. Terima kasih, Mohon bantuannya ya pembaca yang baik.