
JAYDEN.
Mikha terkesiap menoleh ke arahku dengan melonggarkan pelukannya dari ku, kedua mata itu sembab karena air mata dan kenangan masa lalunya dia ungkapkan denganku.
“Apa maksudmu Jay? “tanya Mikha ke Aku.
“Maksudku, Kau akan menjadi tanggung jawabku mulai hari ini, Aku akan membayar segala kesalahanku di masa lalu denganmu,” kataku tanpa bertele-tele.
Mikha terdiam sejenak, kedua matanya membulat sempurna, mencoba memahami lagi maksud perkataanku barusan.
“Apa yang harus kau bayar denganku Jay? Kau sama sekali tidak berhutang apapun denganku. Jadi jangan membuat dirimu terbeban olehku.” Mikha mencoba berdiri, menghindari tatapanku.
Aku mengikutinya berdiri, “Mikha… Kau akan tau nanti, ketika waktunya tiba, arti dari perkataanku barusan. Jadilah percaya dan kuat, Aku mau kau tidak meragukan aku sedikitnya. Tetaplah di sini, Aku akan mengurus masalahmu semuanya sampai ke akarnya. Mulai malam ini, Kau akan tinggal bersamaku, jangan sungkan, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku akan memesankan makanan, pakaian dan kebutuhanmu yang akan di urus oleh asisten pribadiku. Aku akan pergi malam ini ke rumah orang tuaku, jika kau ingin tidur duluan, tidur saja jangan menungguku.” kataku dengan menatap wajahnya yang mulai merasa aman.
“Tapi Jay,” katanya terhenti.
“Kenapa? apa kau merasa tidak enakan? Tidak masalah, Aku sudah katakan aku bukan pria yang mengambil keuntungan, jadi kau tidak perlu khawatir. Berikan ponselmu,” tanganku terulur ke arahnya.
“Untuk?” tanyanya bingung.
“Aku akan menyimpan nomormu, emangnya apa yang kau pikirkan?”
“Egh… Tidak. Sebentar,” jawabnya dengan mengambil ponselnya dari tas yang ia silangkan di pundaknya.
“Nih,” Mikha memberikan ponsel yang ia gunakan sewaktu kami berkuliah.
Aku menatapnya dalam, sungguh tersiksanyakah dirimu selama kita berpisah? pertanyaan itu terus bermunculan di pikiranku. Selalu saja membuatku merasa bersalah, mencoba memikirkan dirinya yang dulu, bagaimana dia makan, bagaimana di tidur bahkan bagaimana dia tidur dalam kesesakannya menghadapi orang-orang yang jahat terhadapnya.
“Kenapa diam? apa ponselku sangat buruk?” pertanyaannya membuyarkan lamunanku.
Aku mengambil ponsel dari tangannyam sekilas aku melihat wajahnya yang cantik tanpa polesan makeup. Gaya Mikha tidak pernah berubah dari dulu, Ia memang wanita yang sederhana. Sesederhana aku mencintainya.
“Nih.. Jika kau membutuhkan Aku di saat Aku keluar nanti, Kau bisa menghubungi Aku.” Aku mengembalikan ponselnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Mikha menatap ponselnya dan mencoba melihat nomorku.
__ADS_1
“HONEY” ucapnya dengan membulatkan mulutnya.
Mikha berlari turun menuju dapur, di mana Aku menyiapkan makanan dan minuman untuk pengganjal laparnya.
“Jay” panggilnya ke Aku yang sedang menuangkan susu ke dalam gelas kaca bening.
Aku menoleh padanya, “Ya.” jawabku.
“Kenapa kamu membuat kontak namamu Honey Jay?” tanyanya dengan polose.
Duh wanita pujaan hatiku, kenapa kau lelet sekali. Apa kau tidak pernah di rayu atau di gombali pria selama ini? Aku membuat itu agar kau paham maksud dari semua yang ku lakukan untukmu. Seprtinya Aku harus memulainya dengan pelan-pelan.
“Tidak… Anggap saja Aku itu Honeymu,” jawabku dengan meletakkan segelas susu di depannya.
Alisku bergoyang dengan menunjuk gelas susu yang bahkan dia tidak menatapnya, dia menatapku dengan bingung.
“Minum dulu, dari tadi belum ada minum, ngomong mulu,” kataku langsung berbalik mengambil roti yang aku panggang.
“Nih.. Makan, jangan di liatin mulu, Aku mau mandi, dan bersiap berangkat ke rumah orangtuaku.” Aku berjalan meninggalkannya yang mulai mengambil segelas susu yang aku sediakan. Ada kebingungan dari raut wajahnya.
“Tidak perlu sungkan, ini rumahmu sekarang. Aku berangkat dulu, pin pintu ini 556677” kataku sembari pergi meninggalkannya.
^
MIKHA.
“Dia sangat aneh,” kata Mikha dengan tersenyum.
“Agh… Baiklah, setidaknya aku memiliki satu orang yang mencintaiku sebagai sahabatnya atau temannya. Aku tidak berani untuk berharap lebih pada dia yang dulu aku cinta. Perasaanku masih sama seperti dulu Jay. Pria pertama yang mampu meluluhkan hati dan perasaanku.” ucap Mikha dengan berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya Mikha di kamar, Ia merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya., Sejenak menarik nafasnya dan menutup kedua matanya,
“Apakah tidak bermasalah jika aku di sini bersama Jayden?” tanyanya dengan berpikir.
Sangkin lelahnya Mikha tertidur, Ia merasa nyaman berada di Apartemennya Jayden. Setidaknya, dia terbebas dari perlakuan kotor Om dan Tantenya. Tidak ada rasa ketakutan untuk melewati setiap harinya. Suara bel dari pintu membuatnya mengerjapakan kedua matanya, Mikha beranjak dan berdiri langsung berjalan menuju lantai bawah. Sesampainya di lantai bawah, Ia mencoba menginti dari lobang pintu yang ada di tengah.
“Siapa Pria itu?” Mikha merasa takut.
__ADS_1
Suara bel kembali berbunyi, seakan merasa asing dengan orang tersebut, Mikha berinisiatif untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Jayden. Belum juga sampai di kamarnya, suara nada dering ponsel Mikha berdering, pertanda ada panggilan masuk. Segerah ia mengambilnya dan melirik nama yang keluar dari layar ponselnya dan mendapati nama Jayden.
“Sangat kebutlan,” katanya dengan cepat dan panik mengangkat teleponnya.
“Buka saja pintunya itu Asisten Pribadiku,” kata Jayden langsung ke Mikha.
“Ngah… Kok kamu tau ada orang? Belum juga aku kasi tau,” balas Mikha bingung.
“Nanti Aku jelaskan darling…Pergi sana di buka dulu pintunya, sebelum dia kabur. Tidak perlu takut, dia tidak menggigit. Aku tutup dulu, soalnya Aku sedang di jalan,” balas Jayden dan langsung memutuskan sambungan ponselnya.
Mikha buru-buru berlari menuruni anak tangga dan menarik handle pintu dan tampaklah wajah murung si Asisten pribadinya Jayden.
“Selam sore Nona Mikha. Saya Rei asisten pribadinya Tuan Jayden, saya ke sini atas perintah beliau untuk mengantar semua yang anda perlukan di semua belanjaan ini. Ada makanan, pakaian, peralatan mandi, perlatan kecantikan, pakaian dalam dan luar, sepatu, sandal, semuaaa yang di minta oleh Tuan Jayden sudah saya laksanakan. Apa mau saya bantu membawanya ke atas Nona?” tanya Rei pada Mikha.
“Apakah itu berat?” Mikha berkata dengan masih bingung menatap seluruh belanjaan yang di bawa oleh Rei.
“Berat Nona, Biar saya bantu saja. Beri tahu, di mana ruangan anda? yang kiri atau yang kanan? Atau satu kamar?” tanya Rei sambilan ingin tau.
“Boleh.. tolong di letak di bagian ujung sebelah kanan,” balas Mikha dengan sopan.
“Siap Nona, saya tinggal dulu.” ucap Rei.
Rei berjalan ke arah dapur duluan, meletakkan makanan yang ia beli untuk Mikha seperti yang di perintahkan oleh Jayden pada dirinya. Lalu ia keluar dari area dapur hendak munuju ke anak tangga, masih mendapati Mikha yang berdiri di depan pintu merasa janggal saja. Rei memberikan senyumannya ke Mikha dan berlalu menuju ke atas.
“Ternyata enggak sekaamar, dan ternyata si bos normal apa tidak siha? bingung saja, selama ini tidak pernah berpacaran bahkan tidak punya teman wanita selain Ibu April. Dan di sini tiba-tiba ada seorang wanita yang tidur satu atap tapi berbeda kamar, siapa dia?” Rei menebak-nebak sendiri hingga tiba di atas meletak seluruh belanjaannya.
Selesai tugasnya, Rei minta izin ke Mikha untuk berpamitan pulang karena memang tidak ada tugas khusus yang di berikan Jayden kepadanya. Mikha sendiri, meras semakin tidak enakan dengan perlakuan Jayden yang menurutnya berlebihan caranya memperlakukan Mikha.
“Dia seperti suami yang peduli dengan Istrinya. Apakah aku akan tinggal lama di sini?” gumam Mikha pada dirinya.
__ADS_1