Kekasihku Seorang CEO

Kekasihku Seorang CEO
" Wajahnya yang Pucat" EPS14


__ADS_3

Dengan tangan memegang lengan April dan sedikit membungkukan badannya. April yang menatapnya pun berucap " Kau lagi?" ucapnya lemas dan tertunduk. " Aku sedang tidak ingin beredebat denganmu. Pergilah.. " Menepis tangan Joseph.


Joseph pun semakin panik melihat April yang berkucuran keringat di keningnya. Wajah putihnya sakin memutih seperti kapas karena pucat. Meraih lengan April dengan lembut dan ikut jongkok disebelah April.


" Ada apa denganmu? Apa terasa sakit dibagian ini?" Tangan kirinya memegang ke arah perut bagian atas.


" Sudahla.. jangan hiraukan aku. Pergi saja dari sini." ucapnya lemah dan menepiskan tangan Joseph serta mencoba berdiri. Bukannya berdiri April malah lunglai hampir terjatuh, refleks Joseph yang disampingnya pun menangkap tubuhnya dan memeluknya.


" Kau sakit. Tubuhmu sangat dingin. Apa kau menahan sakit itu dari tadi?" Tak menunggu jawaban Joseph menggendong April masuk ke Mobil , dipasangnya safety belt nya lalu bergegas ke kursi kemudi.


Dilihatnya April yang meringis kesakitan menambah kepanikannya. Sampai dalam perjalanan pun dia menjadi kalut.


" Sabar Pril.. sebentar lagi sampek. Aku mohon tetap bertahan." Untuk pertama kali Joseph memanggil namanya. Digenggamnya tangan April yang dingin.


" Aduhh.. sakit banget" meringis dan diremasnya jari jemari Joseph untuk melampiaskan sakitnya.


Kemudian Joseph pun mengeluarkan HP nya dan menghubungi Rumah Sakit milik keluarganya untuk bersiap siap menangani April. Menysuri jalanan dengan kencang tapi rambu lalu lintas tak bisa dielakinnya. " sial" ucapnya sambil memukul stir.


Melihat kearah April kembali mengusap lembut keningnya yang basah karena keringat dingin menahan sakit. " Tunggu 10 menit lagi kita akan sampai diRumah Sakit." ucapnya khawatir.


Lampu hijau, Joseph menginjakkan pedal gas melaju kencang. Syukur jam itu tidak padat pikirnya. Tak lama pun mereka tiba di depan Rumah Sakit. petugas yang sudah tau kedatangan sang pemilik pun sudah berdiri. Brankar dorong, Dokter, perawat semua yang menangani di UGD keluar menunggu April dan Joseph.


Joseph dengan sigap turun menggendong April menaiki Brankar Dorong itu. Dan memasuki ruang UGD bersama. Dia tetap menemani April hingga masuk kedalam.


Dipandangnya wajah pucat itu menahan sakit. Dokter pun langsung memeriksa keadaan April yang masi mengerang kesakitan. Memasang jarum infus, memeriksa tensinya dan Detak jantungnya. Lalu Dokter Pria itu memerintahkan Suster untuk mengambil cairan suntikan.


Kemudian April disuntik untuk mengurangi rasa sakitnya. Berdiam beberapa menit April pun tetap meringis kesakitan mengarahkan tubuhnya kearah kanan dengan kaki dilipat menahan sakit . Joseph yang melihatnya sangat kalut dan panik. Seperti menunggu Istri melahirkan dia memegang kepalanya berjalan kekiri kekanan. Bingung dengan keadaan April.


" Gimana kalian ini!!! kenapa dia masi saja kesakitan seperti itu?"  tanyanya dengan marah.


Dokter yang menangani pun menjawabnya dengan sopan. karena dia juga tau siapa yang dihadapinya.


" Maaf Tuan... suntikan tadi belum bekerja sempurna. Jika sudah bekerja, efek suntikan tadi akan membuat nona ini tertidur dan rasa perihnya akan berkurang" ucapnya sopan.


" Namanya April, bukan ini?" Jawabnya ketus. " ah maaf Tuan saya tidak tauh, karena tadi kita tidak mendata Nona April." Jawabnya dengan senyum.


April yang mendengar bentakan Josephpun hanya bisa terdiam. Karena dia tidak bisa berpikir dengan baik.

__ADS_1


" Apa yang terjadi padanya?" tanya Joseph ke Dokter.


" Nona April sebelumnya memang mengidap sakit Maag Tuan. Apa Mungkin sedari tadi nona April tidak mengisi lambungnya?" Dokter kembali bertanya.


April pun yang mendengarnya menjawab dengan lemah.


" Iya Dokter.. saya memang tidak sarapan dari bangun tidur tadi pagi untuk menemui orang yang didepan Dokter." ucapnya dengan lemah.


Dokter Iyan yang menangani April pun melirik ke arah Joseph sedangkan Joseph melirik ke Arah April. " Masi bisa mengajakku berdebat?" tanyanya ke April.


Dalam keadaan sakit pun dia masi sempat kesal denganku. Wanita aiaib , yang seperti ini langkah dimuka bumi.


" Karena nona April tidak ada makan sama sekali itula pemicunya Tuan. Tapi sudah kita tanganin tunggu obatnya berkerja. Untuk saat ini biarkan Nona April beristirahat. Jika sudah ada reaksi kita bisa memindahkan Nona April ke ruang inap." Ucap si Dokter.


" Okeyla kalau begitu... Terimakasih." Ucapnya acuh.


Bebereapa saat kemudian April mulai merasa ngantuk dan sakitnya pun berkurang dilihatnya saat Joseph yang masi panik tetap duduk disebelahnya. Memandang ke Arahnya dengan diam.


" Jangan pandangin aku terus. Entar kecantikan luntur karena tatapanmu" ucapnya lembut dengan tubuh yang masi melemah. Joseph yang memandanginya mengangkat kedua alisnya dengan kedua tangan didada. "Isss.. isss.. ternyata kau kuat juga ya, masi bisa becanda. Lawakan mu tinggi juga." katanya dengan santai.


"Teseralah.. Tapi terimakasih banyak sudah membawaku tepat waktu. Sekarang kau bisa pergi aku sudah mendingan." ucapnya pada Joseph dengan pelan.


" Sudah berterimakasih setelah itu kau mengusirku? Kejam sekali." Jawabnya.


" Sudahla.. aku tetap disini sampai kau tertidur. Mana mungkin aku tega meninggalkan orang yang sakit karena tidak makan gara gara ulahku." Dia ingin sekaligus menyindir April.


" Gak perlu repot repot tidak apa... pergilah, Kau kan juga belum makan. Bisa bisa kau juga terbaring disini."


" Tak apa... aku sudah terbiasa tidak sarapan." Karena Joseph memang sering tidak sarapan, dia melewatkan jam sarapannya karena sibuk dengan pekerjaannya.


"Oww.. baikla kalau begitu maumu. Aku tidak ingin memaksa. Aku sudah mulai mengantuk" ucapnya dengan memejamkan matanya lalu kemudianun dia tertidur. Joseph yang memandang wajah pucat itupun menyunggingkan senyum kecil dibibirnya.


"Syukur hp mu terjatuh, kalau tidak entah apa yang terjadi denganmu tadi jika aku tidak mengikutimu."


Disaat tidur pun wajahnya sangat manis, tenang. maafkan aku yang membuat mu sakit.


Memandang tanpa berkedip Joseph mulai merasakan ada yang lain dihatinya, rasa sesak melihat orang yang didepannya itu terbaring lemah. Rasa ingin melindunginya pun muncul dengan alami.

__ADS_1


Jika berada didekatnya tanpa dia sadari seperti ada magnet yang menariknya untuk selalu ingin dekat dengannya.


Apakah Tuhan berada dipihakku kali ini? Untuk bisa memiliki Wanita yang bisa mencintaiku setulus hati, bersama merajut masa depan dalam suka dan duka. Ehhh.. tapiii Tunggu dulu... apa tadi itu Hatiku yang ngomong? Jangan-jangan ada setan yang merasukiku.


Digeleng gelengkan kepalanya, melihat keatas langit langit ruangan UGD itu. Dokter jaga dan perawat yang ingin menghampiri Joseph pun merasa bingung dengan yang dilakukan sang pemiliki Rumah Sakit itu.


Joseph yang sadar akan yang barusan dilakukanya merasa kikuk menangkap tatatapan Dokter dan perawat kearahnya. Refleks Memasang gaya coolnya kemudian Dokter dan perawat pun menghampirinya.


" Maaf Tuan, Nona April sudah bisa kita pindahkan keruang rawat inap."


" Baiklah.. pindahkan keruang VIP saja." Ucapnya acuh.


Dokter dan Perawatpun sigap mendorong Branka keluar dari UGD menuju lift, April yang masi tertidur memasuki Lift khusus pasien menuju Lantai 5 Ruangan VIP. Sesampainya diruangan itu Joseph pun duduk dan bersender disofa ruangan. Mulai terasa lapar dibukanya Hpnya dan menelpon serketarisnya.


" Halo Linda... apa kamu sibuk?" Tanyanya Sopan.


" Tidak pak...ada yang bisa saya bantu pak?"


" Tolongin saya pesankan makan untuk saya di RM Sedap, seperti biasa. Sekalian kamu antar ke sini dan bawakan Laptop saya di meja kerja saya. Kemarin ketinggalan."


" Baik pak... bapak emangnya dimana? bisa kasi alamatnya."


" Rumah Sakit Joseph Wijaya, Jakarta Barat. Kamu tauh kan?"


" Loh...bapak sakit?" Tanyanya kaget.


" Bukan-bukan saya. Nanti kamu minta jemput aja ya sama Pak Yanto. Biar pak Yanto yang mengantar kamu."


" Baik pak.. siap dilaksanakan."


" Terimakasih... maaf sudah mengganggu waktu libur kamu."


" Oww.. tidak apa-apa pak. Saya tutup ya pak."


Selesai menutup Telepon Joseph pun merebahkan tubuhnya diatas Sofa. Bawaannya mengantuk juga karena AC yang dingin memanggilnya untuk tidur. Tapi dia menolaknya karena takut April terbangun tanpa ada yang menemani.


1 Jam kemudian.

__ADS_1


Tok..Tok Tok Tok Tok....


Bersambung...


__ADS_2