
"Jay... Kau gila? Kau di jodohkan , terus kenapa Kau membawaku?"
"Karena Aku mencintamu!"
Mikha teperangah, kedua mata bulatnya, membulat sangat sempurnah. Mikha tidak percaya dengan ucapan Jayden barusan. Karena, selama yang Mikha tau, Jayden tidak sedikit pun pernah mengucapkan perasaannya.
"Kenapa diam? makanlah." pintanya.
Mikha mengindahkan perintah Jayden, dia melahap makanannya, tanpa berani menatap Jayden. Bukannya senang, Mikha bingung mendengarkan yang di katakan Jayden.
Kedua sudut mulut Jayden teratarik, sambil sekilas melirik Mikha yang hanya berdiam dan tak berkutik.
"Aku sudah siap, terima kasih. Masakanmu sangat enak, sesuai dengan selerah. Kalau begini, Aku beruntung, punya Istri seperti dirimu." Jayden beranjak dan berjalan membawa piriring kotornya ke wastafel.
"Jayden..." Mikha mencoba berjalan mendekati Jayden.
"Kenapa?" saat Jayden menarik tisu di dekat meja bartender sambil menatap Mikha.
"Jangan suka becanda seperti itu Jay. Kalau akunya salah tanggap gimana?" tanya Mikha.
Jayden tersenyum, "Bagus dong, kalau begitu kan Aku gak repot-repot mendapatkan dirimu." balas Jayden lagi, "Sudah agh, Aku berangkat dulu."
Jayden meninggalkan Mikha dan berlalu keluar dari Apertemennya.
"Apa dia sudah gila?" tanya Mikha pada dirinya sendiri.
Setelah kepergian Jayden, Mikha membereskan seluruh ruangan makan. Setelah selesai, Mikha memilih untuk ke kamarnya. Seenggaknya, menghabiskan waktunya untuk, menikmati hari baru dari kehidupannya. Sesudah tiba di kamarnya, Mikha mengambil beberapa buku yang memang tersedia di kamarnya.
Mikha duduk berselonjor di atas tempat tidurnya, mulai membuka lembaran demi lembaran dari bukunya. Setelah beberapa halaman sudah selesai di bacanya, Mikha tiba-tiba, mengingat ucapan Jayden, bahwasannya dia akan di jodohkan. Raut wajahnya seperti kecewa, matanya sendu. Merasa tidak rela, bila kebahagiaannya yang baru di rengkuhnya, akan segera berakhir.
"Jika Jayden di jodohkan, otomatis, aku harus keluar dari sini. Aku mana mungkin, tinggal serumah dengan orang yang sudah memiliki kekasih. Sungguh malang nasibku dan sungguh beruntungnya wanita yang berjodoh dengan Jayden" pintanya bersedih.
Mikha mencoba membuang jauh-jauh, perasaan yang bisa di bilang cemburu. Dia mencoba fokus pada bacaanya. Tidak lama, suara nada dering ponselnya terdengar. Mikha mengambilnya, dan melihat layar ponselnya.
"Bibi Lili." ucap Mikha.
Dengan perasaan yang di beranikan, Mikha menerima panggilan dari sang Bibi.
"Apa kau sudah menjadi murahan di luaran sana!" teriak bibinya Anna.
"Bi, biarkan Mikha pergi. Mikha gak akan mengganggu ketenangan bibi maupun Micel. Tapi, apapun yang menjadi hak Mikha, akan Mikha rebut kembali bi." Mikha mengepalkan kedua tangannya.
Terdengar suara tawa meremehkan di ujung sana.
"Coba saja! Kau pergilah yang jauh, Micel akan menggantikan posisimu, seluruhnya!"
Tuttt....Tuttt... Tuttt...
Suara ponselnya yang sudah di putus oleh sang bibi terdengar. Mikha perlahan menurunkan ponselnya dan kemudian Ia berjongkok. Suara tangisannya pecah, di iringi dengan keluhnya.
"Kenapa kakek tega, membuat anak yang dia buang sendiri, datang kembali. Datang untuk menghancurkan hidupku."isaknya sedih dengan mengusap kasar buliran bening yang menggenangi kedua pipinya.
__ADS_1
***
Hampir sore, suara dering ponsel Mikha, membangunkannya dari tidur siangnya. Ia terperanjak dan dengan cepat meraba benda pipih yang berdering di atas nakas.
"Halo." Mikha langsung menyentuh tombol hijau menjawab panggilan masuk tanpa melihat, siapa yaf menghubunginya.
"Kau tidur?" suara Jayden terdengar kaget.
"Jayden?" pertanyaannya membuatnya beranjak duduk.
"Iya ini Aku... Buruan siap-siap. 15 menit lagi Aku sampai di depan pintu." ucap Jayden dengan tegas.
Mikha yang langsung sadar dengan ucapan Jayden, melempar ponselnya, dan segera beranjak turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.
"Astaga... Aku lupa." ucap Mikha sebelum masuk ke kamar mandi.
Di sana, Jayden yang mendengar ucapan Mikha tertawa kecil. Jayden sangat yakin, menebak Mikha kelabakan mendapatkan panggilan dari Jayden. 15 menit kemudian, Jayden bukan tiba di depan pintu apartemennya lagi, dia sudah berada di dalam dan hendak melangkah menaiki anak tangga pertama. Belum juga melangkah, kaki Jayden terhenti bersamaan dengan Mikha yang hendak turun dengan kedua tangan memegang kedua sepatunya.
"Jangan melihatku!" ucap Mikha berbalik.
Jayden yang sempat kaget melihat penampilan Mikha, yang mengenakan Dress bunga, dengan rambut panjang yang di gerai, serta polesan natural dari wajahnya, hanya lipstik peach yang membalut bibir tipisnya.
"Kenapa? Kau malu? Kau sangat cantik" kata Jayden tanpa malu dan mulai berjalan mendekati Mikha.
"Jangannnn! datang ke sini! aku tidak seperti yang Kau katakan." Mikha hendak berlari masuk ke kamarnya, dengan cepat Jayden berlari dan menarik tangan Mikha, membuat tubuh Mikha terkunci di depan tubuh Jayden.
"Jayden! Lepaskan Aku."
"Kenapa? Kau malu?" Jaden menatap dalam kedua manik mata Mikha yang menatapnya.
"Kemarikan." Jayden menarik kedua sepatu Mikha dan membawanya turun ke bawah, mendudukan tubuh mikha di atas sofa.
"Aku bisa memakainya sendiri." ucap Mikha.
"Jangan membantah! Biar Aku yang pakaikan."
Jayden dengan sangat lembut memasang sepatu Mikha, tanganya yang hangat, menyentuh kulit kaki Mikha. Perasaan Mikha jangan di tanya, dia sangat senang, meskipun hanya sementara.
"Okey... sudah siap. Ayo kita berangkat." ajak Jayden dengan menarik lembut tangan Mikha, tak lupa seulas senyuman manis dari bibir Jayden.
***
Garden Resto.
Tiba di mana, tempat yang di janjikan Jayden ke wanita yang di jodohkan dengannya. Mikha berjalan dari arah belakang, mengikuti Jayden, saat keduanya berjalan menuju ruangan resto.
"Jayden." panggil Mikha.
Jayden terhenti dan menoleh ke belakang.
"Ada apa?" tanya Jayden.
__ADS_1
"Aku ke toilet dulu, kamu duluanlah. Nanti Aku menyusul." jawab Mikha.
"Baiklah, hati-hati. Kau bisa sendirikan?"
"Bisa, aku kan bukan anak kecil" jawab Mikha kemudian berjalan meninggalkan Jayden.
Jayden berjalan menuju meja yang sudah di sediakannya. Dari kejauhan, tampak dua orang wanita, yang satu paruh baya dan yang satunya lagi gadis.
"Saya Jayden." sapa Jayden dari belakang, hingga dia berdiri tepat di depan keduanya, bersamaan itu keduanya juga ikut berdiri.
"Nak Jayden... Duh.. ternyata sangat tampan." balas wanita paru bayah itu.
Jayden hanya tersenyum.
"Ini Nak... Ayo kenalkan nama kamu sama Jayden." wanita paru bayah itu meminta sang anak untuk berkenalan.
Anak gadisnya mengulurkan tangannya ke arah Jayden.
"Saya Kiki, saya cucu dari Kakek Saman, yang di jodohkan dengan anda."
"Baiklah, silahkan duduk." balas Jayden dan melepas tangan wanita di depannya.
"Nak Jayden, ini anak pertama dari Joseph Wijaya ya?" wanita paru bayah itu membuka obrolan.
"Tidak, saya anak kedua." balas Jayden singkat.
"Kalian sudah memesan sesuatu?" tanya Jayden lagi.
"Belum Nak, kami menunggumu." balas mamanya gadis yang sedari tadi menatap wajah Jayden tanpa berkedip.
"Ou maafkan saya membuat kalian menunggu."
"Tidak masalah Nak Jayden."
"Silahkan di pesan, saya sedang menunggu seseorang"
"Seseorang?" gumam wanita paru bayah itu.
Tak lama Mikha berjalan ke arah meja Jayden, Jayden yang sadar, kedatangan Mikha yang berjalan ke arahnya, membuatnya terpesona. Sungguh anggun pikirnya si Mikha.
"Jayden." panggil Mikha dari arah belakang kedua wanita di depan Jayden.
Keduanya, sama-sama menoleh dengan cepat ke arah Mikha. Mikha yang menatap kedua wajah, wanita yang terkesiap menatapnya, membuatnya terhenti.
"Bibi Lily, Michel"
.
.
Bersambung.
__ADS_1
****
Jangan lupa tekan tombol Like dan VOTE nya ke My Chosen Wife ya. Terima kasih...🤗