
April tersenyum, dia tauh memang suaminya itu bisa saja sebenarnya merubah hati dan moodnya dalam hitungan menit. Bisa bikin dia kesal tapi secepat itu juga dia mampu memudarkan suasana hatinya.
April yang memang belum sarapan menyantap makanan yang diberikan suaminya. Bukan mengucap terimakasih dulu, malah dengan lahapnya memakan pemberian suaminya. Huh dasar April dia sengaja mencoba terus berdiam diri.
Usai memakan sarapannya April kembali berpikir soal Mobil dari Andrew. Direktur Angkasa Group itu pagi-pagi sudah membuat Mood Joseph menjadi jadi. April pun berjalan keluar Ruangannya, menuju kemeja Astrid.
" Kak Astrid, tolong kamu cek cari tauh tentang Direktur Angkasa Group Andrew Angkasa. "
Sedikit mengangkat alisnya, Astrid heran kenapa Atasannya seperti terburu-buru.
" Baik akan saya laksanakan."
" Tolong kamu nanti kabarin saya ya. Saya mau kerumah mama saya." ucapnya Tersenyum.
Kembali masuk keruangannya, April pun bergegas mengambil segala keperluannya dan meninggalkan gedung Perusahaannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setibanya di Hotel, wajah Joseph terlihat murung tak bergairah seperti bercinta tadi pagi. Kepalanya menjadi pusing, menatap kosong berjalan kearah ruangannya. Tangannya disimpan kedalam saku celananya.
Linda dan Aldi melihat kearah Joseph yang berjalan masuk, tanpa mengeluarkan sepata kata pun.
" Kenapa si Bos?" Tanyak Aldi ke Linda.
" Gak tauh... gak dikasih Jatah mungkin." ucap Aldi Asal.
" Sstttttt.." ucap Linda lalu memukul bahu Aldi " Otak lo kalau didekat gua aja kayak otak Udang. Tiba diluaran sana lo... Dinginnya mengalahkan Badai Salju."
Aldi sedikit kekeh " Lo bisa aja nyamain Gua sama otak udang, emangnya gua Sebodoh itu."
" Sudahlah.. payah ngomong sama lo."
Dengar suara langkahan, Tap.. Tap.. Tap... Mendekat kearah meja Linda.
" Morning Dear." ucap Carlo yang tiba-tiba mendekat.
" Agh... Morning Dadar Guling." ucap Linda yang malu-malu karena Aldi disebelahnya.
" Selamat pagi Tuan Carlo." ucap Aldi yang kembali kedirinya saat bekerja. Dengan Santuynya dia berdiri pas disamping Linda. Mata Carlo berkelana, menatap ke Bola mata Aldi.
" Loooo.. memang duduk satu meja dengan Linda ya?" Tanyak carlo.
Jantung Linda langsung cenat cenut mendengar pertanyaan kekasihnya itu. Jangan bilang dicemburu.
" Iya Tuan sejak pertama saya menjabat diperusahaan ini sebagai Asisten Pribadi pak Joseph." Membawak nama Joseph, mungkin bisa keluar dari pertanyaan ini, sahut Batin Aldi.
" Kenapa tidak dibuat dua Meja atau dua ruangan gitu. Percuma saja Hotel ini besar tapi ruangan saja dia tidak mampu membuatnya " Asal ngomong kau bro.. didengan Joseph lo ditinju nyahok lo.
" Agh.. maaf Tuan soal itu boleh langsung ditanyakan langsung ke Direktur Hotel ini, saya permisi." Dengan gaya Cool Aldi meninggalkan mereka berdua.
" Direktur Hotel ini?" Carlo mencoba mencerna kata-kata Aldi. " Kan si Joseph." ucapnya lagi.
Dia langsung berteriak ke Aldi yang lagi berjalan keluar " Syetan.. kalau ngomong jangan muter-muter kayak Bajai kenak macet. Langsung bilang nama Joseph aja lo susah."
Aldi membalikan tubuhnya dan memberikan Hormat setengah membungkuk, lalu kabur. Payah ngurusuin emak-emak... Upssssss.
" Heyyy jangan jerit-jerit sayang, malu dong didengar pegawai lain."
" Aku gak suka aja dia dekat-dekat sama kamu." ucapnya datar.
" Bukan seperti itu, lagian ini kan sesuai dengan SOP pak Joseph. Dia yang membuat kami semeja, karena siapa tauh pak Joseph butuh Tameng, Aldi langsung sudah siap diposisinya. Dan Aldi juga terlalu sering bersamaku, dia kan punya tugas terselubung dari Pak Joseph. Tugasnya juga mengawasi perusahaan pak Joseph lainnya. Dan juga kamu harus ingat Dia kan sudah punya Tunangan Juga."
Sebenarnya Linda ini termasuk juga dengn kategori wanita yang cantik, sudah cantik sexy lagi. Tubuhnya yang langsing dengan lekukukan tubuhnya yang menyerupain Model itu sebenarnya banyak digandrungi para Pria. Tapi tidak dengan Linda, dia terlalu menutup rapat-rapat hatinya. Pernah juga tersirat melihat ketampanan sang Atasan yang dulu masi berhubungan dengan mantannya. Pikiran itu di buangnnya jauh-jauh, karena Joseph melirik nya sebagai wanita untuk pendamping pun tidak. Dia hanya menggangap Atasan dan Bawahan saja. Tidak lebih. Tidak pernah tertarik oleh kecantikan atau kesexsyan Linda. Baru Carlo yang mampu menyenggol hatinya. Mungkin ada daya tarik sendiri dari Carlo.
" Maaf... aku kadang suka lupa. Kalau sudah didekat kamu kekanak-kanakan semakin menjadi jadi."
Melihat sekilas ke Carlo " Gak apa-apa yang penting sudah bisa buat anak." Ledek Linda sambil berbisik.
sial... mesum juga wanitaku.
" Kamu ini... belum Halal tauk."
" Heheh.. Becanda jangan kamu masukan kehati." ucapnya.
" Okey sayang... aku kedalam dulu, menghibur sang Raja cinta."
" Buseeeet Dah, Raja cinta apaan, sama cewek cukup satu dari dulu."
" Hahaha.. ya da aku tinggal ya." mengelus kepala Linda.
Linda pun menjawab dengan anggukan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tanpa ketukan Carlo langsung masuk. Benar saja yang dikatakan Linda. Dia terbengong sendiri. Wajahnya kusut, tidak bergairah. Kedatangan Carlo saja dia tidak sadar.
__ADS_1
'" woi Bro... kenapa lo?" ucap Carlo.
" Pergi lo... buat semak aja." Sadar dan berbalik kearah komputernya.
" Gua kesini mau ngibur lo, malah lo usir. Kenapa sih tuh muka, kayak pakaian kusut belum digosok." cetus Carlo.
" Berisik amat Lo... sudah keluar sana, lo disini juga buat gua tambah streesss."
" kenapa lo... ayo dong cerita. Abang bakal dengerin tuh masalah." duduk diatas meja Joseph dan melipat tangannya kedada.
Joseph menarik nafas dalam-dalam, dan merubah posisi duduknya dengan kedua tangannya keatas.
Dia mulai bercerita ke sahabatnya.
" Aku melakukan kesalahan sehingga membuat April tersinggung. Baru kali ini aku melihatnya marah. lebih tepatnya marah dalam diam. Dia tidak mengerluarkan sepatah katapun. aku jadi serba salah." Ucapnya lalu melirik ke Carlo.
" Masalahnya memang apaan Bro?"
Menatap kosong sejenak, lalu melipat kedua tangannya menopang dagunya keatas meja.
" Kemarin itu April dari bandara mau pulang kerumah, mobilnya ditabrak dari belakang. Yang nabrak itu Direktur Angkasa Group, nah itu kejadian sudah beberapa hari yang lalu kan, sedangkan April tidak menuntut apapun dari dia ? nah tadi pagi itu dia ngirim unit baru seperi yang ditabraknya kemarin."
" Terussss lo cemburu? Salah lo juga lagian kan Istri Lo juga udah jelaskan, Pria itu aja yang mungkin menaruh hati pada April. Siapa yang gak melirik Istri cantikmu, kalau gua bukan sahabat lo mungkin dah gua embat juga Istri lo."
Medengar itu, Joseph langsung melepaskan sepatu kirinya dan melemparkan ke Carlo.
" Sialan Lo. Bukanya ngasi saran malah mau nikung Istri orang."
" Lah kan seandainya, perumpaan Direktur itu melihat Istri Lo itu ya seperti itu. Come on Bro... lo kan tertarik karena April juga cantik, sexy, bahenol."
" Ngomong lagi Lo gua Tabok muncung congor Lo " mulai ngamok Si Joseph.
" Bukan begituuu is lo sensi amat. Jadi begini supaya April tidak marah lagi berikan diruang sendiri. Jangan lo ganggu dulu." ucap Carlo.
" Benarrr memang sudah gua lakukan sedari tadi, tapi rasanya waktu kewaktu hatiku hampa."
" Lo gak usah Baperan, kan lo sendiri yang buat masalah. Nanti April pulang minta maaf kepadanya dengan Tulus."
" Percuma memang gua ngomong sama Lo. Kalau itu gak sa lo kasi saran juga akan gua lakukan." Ketus dia.
" Iyanya... hahahaha ternyata otak lo jenuis juga."
" Mau apa lo kesini?"
" Gua.. mau lihat wanita gua dong." menunjuk kearah Pintu luar. " Jangan kasi tugas yang berat-berat kedia ya. Jangan kasar dan ketus ngomong sama wanitaku." Dengan suara penekanan menatap tajam ke Joseph.
kembali berkata " Langsung lo nikahkan, jangan mempermainkan hati serketaris gua, Linda itu wanita yang baik. Apa matanya sudah katarak ya? Lihat Pria sinting kayak lo."
" Wihhh.. kejam amat sih Lo bro. Gua Minggu depan udah balik Bro. Nitip Linda sebentar, Gua mau ajukan ke April untuk pindah ke Sini. Tapi kalau April gak ijinkan, mau gak mau Linda gua boyong kesana." ucapnya dengan senyum licik.
Joseph berdiri dan bertepuk tangan " Hebat memang sahabat gua ini, cepat-cepat ya. Jangan lama-lama."
Tok... Tok.. Tok...
" Ya silahkan masuk."
Linda lalu masuk dan meberikan senyum manisnya untuk sang kekasih. Tapi sedikit menahan kekawatiran diwajahnya.
" Ada apa Lin? mau lihat pacar sinting kamu ini?" Tanyak Joseph.
Linda dan Carlo menatap kemata Joseph dengan penuh Api.
" Mengapa? apa ada yang salah? kenapa mata kalian kayak mata Ikan?"
" Isss bapak.. bukan seperti itu, Pacar saya ini juga masi waras kok pak."
" Terus mau apa?"
" Ini pak.. diluar ada mbak Selena datang."
Joseph dan Carlo terperanjak...
" Suru aja diakeluar. Kenapa juga dia masi bisa masuk keHotel ini."
" Penyamaran Pak.. Mbak Selena pakai rambut palsu, memang tidak bisa dikenali."
" Ya sudah Jos....biarkan saja dia masuk, kan ada Gua. Gua juga sudah lama gak jumpa. dengan dia."
Mata Naga Linda menatap Ke Carlo " Jangan salah paham sayang, saya dan Selena juga satu kampus. saya yang mengenalkan Selena ke Joseph."
Linda menarik nafasnya... " Jadi bagaiman pak Joseph."
" Saya sedang malas berurusan dengannya. Biarkan dia masuk, berjumpa dengan pacarmu. Saya mau pulang. Teruss kamu tetap diruangan saya, memantau mereka Lin." ucap Joseph
" Kejam banget Lo bro.. gitu-gitu Selena pernah menjadi bagian dari hati Lo."
__ADS_1
" Sekarang sudah berbedah. Aku sudah punya Istri dia yang mengeluarkanku dari kesakitan karena ulah dia." Jawab Joseph.
" Saya setuju sama pak Joseph, jangan macam-macam mempertemukan Pak Joseph dengan Mbak Selena. Saya gak suka... saya juga yang jadi saksi untuk kedua wanita itu." dengan bibirnya dipanjangkan.
" Terimakasih Lin.. kamu memang yang terbaik." ucapnya dengan mengedipkan mata dan mengambil jasnya juga memakainya.
Carlo hanya terdiam, ya memang benar pasti Linda lebi tauh situasi Joseph selama ini.
" Aku diluan." ucap Joseph pamit dengan diringi Linda untuk keluar ruangan. Joseph berpapasan dengan Selena yang duduk disofa ruang tunggu. Tanpa melirik pun dia berjalan terus menatap kearah depan. Selena yang melihatnya keluar berdiri menyamperinya.
" Jos... bisakah kita bicara?"
Joseph terhenti. Tapi masi melihat kedepan. Linda yang mengerti situasi langsung mengambil alih.
" Mbak Selena... maaf pak Joseph masi ada keperluan, silahkan ikut saya, seseorang menunggu anda didalam."
Joseph langsung berjalan tanpa menoleh. Lalu meninggalkan Hotel.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Pulanglah nak.. sudah soreh, Jika kamu ada masalah dengan nak Joseph, diceritain bukan hanya diam. " ucap Mama April.
" Dia cemburu seperti itu tandanya dia cinta berat ke kamu. Takut kehilangan kamu." ucap papa lagi. " Jadi kamu jangan masukan ke Hati omongan suami kamu.
April sebenarnya bukan mengadu, karena papa yang sudah mengerti anaknya langsung bertanyak, April tidak bisa berbohong dari papanya. Akhirnya dia pun menceritakannya.
Mereka bercerita sambil duduk disamping taman rumah, sekedar minum Teh bersama Putri tercinta. Melihat kearah Gerbng rumah, sore itu Mobil BMW hitam meluncur masuk ke rumah Orang Tua April, semua mata tertuju kearah Mobil yang terus terparkir disebelah Mobil April.
" Nah.. nak Joseph sudah datang, Papa yang menyuruhnya kemari. Gak baik nak... berdiam terus dengan suami kamu." ucap papa dengan senyum.
Wajah April berubah, dia ingin beranjak masuk kedalam sebelum melihat Joseph.
" Mau kemana nak?" Tanyak mamanya.
" Sebentar ma... mau kekamar April." ucapnya langsung berdiri.
Joseph yang hendak menghampiri mereka, melihat April yang berdiri ingin berjalan masuk, membuat hatinya serba salah. Masi keliatan jelas, April belum mau melihat Joseph.
" Kemari nak Joseph" ucap Papanya.
mati gua... hadeh... berurusan dengan papanya.
" Sore pa, ma." ucap Joseph merasa awkward.
Dia pun memberikan salam hortmat ke Mertuanya.
" April kalau dah ngambek begitu tuh. Tapi papa jarang melihatnya ngambek atau marah, dulu di umurnya yang masi kecil dia sudah bertingkah seperti orang dewasa. Jadi kamu harus maklum, kali aja dia sesekali tidak bisa menahan emosinya. Nah seperti itu tuh, kalau dia emosi dia diem aja. " cerita sipapa.
" Gak salah April kok pa, kesalahan Joseph sendiri." ucapnya sungkan.
" Sudah tidak apa, rahasia kecil kalau April sedang ngambek begitu mudah mengambil hatinya. Kamu peluk dan cium saja pipinya, hatinya akan memaafkan." saran si papa.
" Namanya berumah tangga tidak mungkin kan tidak ada problem." sambung simama.
" Hah iya ma..." Jawabnya " Terimakasih juga pa sarannya."
Papa dan mama tertawa bersamaan melihat Joseph yang memang lebih dewasa dari April, dibuat pusing bukan kepayang menghadapi April yang jika marah memang hanya berdiam, kecuali dia dirunding dengan masalah besar.
" Sudah sana kamu susul dia, dia dikamarnya." ucap papa.
" Siap pa." seru Joseph lalu berdiri meninggalkan mereka.
Berjalan masuk kedalam rumah, para pekerja menyambut baik kedatangan Joseph.
" Tuan Muda... non April dikamarnya." ucap bik Ija.
" Terimakasih bik." senyum ramah pun diberikannya.
Melangkah terus naik keatas dan menuju kamar April. setibanya Joseph dikamar April, dia membuka pintunya perlahan. masuk kedalam, melihat April yang terbaring diranjangnya menampakkan punggung belakangnya. April sengaja tidak mau melihatnya, dia tauh ada orang yang masuk dan dia yakin itu suaminya.
Joseph langsung ketepi ranjang, menghampiri wajah yang disembunyikan April. Berjongkok dan menatap wajah April sebentar yang matanya terpejam entah benaran tidur atau memang sengaja tidak ingin dibuka. Lalu Joseph mencium kening April. Guratan keningnya bergoyang.
" Apa kamu lelah?" Tanyak Joseph " Kamu merindukan kamar kamu?" Tanyaknya lagi dengan lembut. " Mau aku temani tidur disini?"
Akhirnya Joseph terduduk dilantai tepat didepan April. Dibelainya lembut rambutnya. Lalu mengecup pipi April.
" Atau kamu mau aku pergi? Jika kamu tidak mau melihatku, aku akan pergi sampai kamu mau melihatku " ucapnya dengan bergetar. " sebenarnya aku sangat merindukan kamu sayang." memegang lembut tangan April.
Tidak ada juga jawaban dari April. dia masi menutup matanya. Joseph tertunduk, bagaiamana caranya membujuk sang Istri. Akhirnya dia menyerah. Diletakkannya tangan April kembali, dan berdiri ingin keluar. Saat hendak berdiri April pun menarik lengannya, dan beranjak duduk ditepi ranjangnya. Mendengar suara Joseph yang bergetar dia yakin, terlalu menyiksa perasaannya.
" Kamu mau kemana?" Saat Joseph menoleh kearahnya.
Joseph langsung tersenyum dan berjongkok memegang tangannya kembali. " Kemana aja asal marah kamu denganku memudar." ucapnya.
" Kamu mau ninggalkan aku ya?" Tanyaknya sedih
__ADS_1
Bersambung...