
JAYDA & DIKA
Tiba di mana jadwal Jayda selesai, Ia pamit pada asistennya untuk segerah pulang. Tiba-tiba, suster Beatrix menghentikan langkah kaki Jayda.
"Dokter Jayda," panggilnya dengan lembut.
Jayda yang hampir selesai merapikan barangnya terhenti menoleh ke arah pintu ruangannya yang terbuka.
"Masuklah Sus." balas Jayda.
Suster Beatrix berjalan masuk.
"Maaf Dok... Pasien bernama Felicia akan pulang hari ini. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, Felicia meminta anda untuk menjenguknya terlebih dahulu." kata Suster Beatrix.
"Ouuuu... Baiklah Sus... saya akan mampir. Dan saya sekalian pulang lebih awal ya Sus. Tidak ada lagi kan pasien saya?" tanya Jayda memastikan dengan mengambil tasnya dan mengalungkannya di pundaknya.
"Tidak ada Dok," balas Suster Beatrix tersenyum.
"Baiklah... saya duluan Sus... Terima kasih." bisik Jayda ke Suster Beatrix yang juga mendapatkan jawaban seraya berjalan keluar.
Jayda berjalan dengan perasaan deg-degan karena akan bertemu lagi dengan Dika. Cinta pertamanya, membuat dia akan mengulang mengingat pahitnya rasa di tinggal pergi lagi sayang-sayangnya.
Berjalan di koridor kamar Felicia berada hingga Jayda berdiri tepat di depan pintu kamar Felicia. Sejenak Jayda menarik nafasnya, lalu Ia menarik handle pintu kamar VIP itu. Tampak, kemesraan anak dan papa itu. Pandangan mereka berdua teralihkan ke arah Jayda yang sedang berjalan masuk dengan memasang senyuman di bibirnya.u
"Halo tante Dokter yang cantik." Felicia yang sebelumnya duduk langsung berlari ke arah Jayda.
"Halo sayang." balas Jayda dengan memeluk erat tubuh Felicia dengan setengah duduk.
"Tante Dokter... Terima kasih sudah mau datang. Felicia hari ini akan pulang Tante... Jadi, Felicia sedih, kalau enggak bisa melihat Tante Dokter lagi." suaranya berubah sedang dengan menatap ke Jayda.
"Sayang.... Jangan bersedih dong. Kan Felicia sudah sembuh. Jadi enggak boleh sedih, kalau Felicia mau ketemu sama tante Dokter, boleh dong telepon Tante." balas Jayda dengan mengusap lembut kepala Felicia.
"Tapi tadi kata Daddy enggak punya nomor Tante." ucap Felicia.
Dika yang berada sudah berada di antara Jayda dan Felicia membuat Jayda menatap ke Dika. Rasanya berat untuk bertukar kontak dengan Dika. Tapi demi Felicia, Jayda beranikan mengambil ponselnya dan memberikannya ke Dika.
"Tolong ketikan nomor Kamu." Jayda memberikan ponselnya dengan sekilas menatap dingin ke Dika lalu membuang pandangannya dan kembali tersenyum ke Felicia.
Dika yang sedang menggenggam ponsel Jayda, di satu sisi dia sangatlah senang, karna dia akan bertukar kontak dengan Jayda meskipun Jayda merespon dingin terhadap dirinya.
Dika mengetikkan nomornya pada ponsel Jayda dan langsung memanggil panggilan dari ponsel Jayda ke nomornya. Setelah Dika menyimpan nomornya di ponsel Jayda, Dika mengembalikan ponsel itu ke arah Jayda yang masih setengah duduk di hadapan Felicia. Saat Jayda mengambilnya, Dika menahan ponselnya dan sejenak mereka beradu pandang. Dengan tatapan mata dingin Jayda yang kembali di tujukan ke Dika.
"Maaf... Terima kasih atas kebaikan Kamu." kata Dika kemudian Ia melepas Ponsel Jayda.
Jayda tidak menjawab apapapun, Ia langsung menarik ponselnya dan langsung kembali memasukkannya ke dalam tasnya.
"Ayo Felicia...Kita pulang Nak." Dika sengaja membuat posisinya setengah duduk tepat di hadapan Felicia.
__ADS_1
"Baik Daddy...." balas Felicia.
"Tante Dokter... Sampai ketemu di lain hari. Felic sayanggg banget sama Tante Dokter yang cantik. Jangan lama-lama marahnya sama Daddy ya Tante." ucap Jayda lalu memeluk tubuh Jayda dengan sangat erat. Kedua mata mereka kembali beradu pandang saat Felicia memeluk Jayda.
Jayda mengusap lembut tubuh Felicia, "Tante Dokter juga sangat sama Kamu. Felicia tetap sehat-sehat ya, enggak boleh sakit lagi. Tante juga sayang banget sama kamu."
Felicia melonggarkan pelukannya, "Ayo Daddy kita pulang. Felicia, enggak mau menangis karena berpisah sama Tante Dokter." tangannya kini berpindah ke tangan Dika.
"Ayo sayang..." ajak Dika.
"Bye Tante Dokter." Felicia melambaikan tangannya.
Jayda pun berdiri membalas lambaian tangan Felicia, Ia menatap kepergian kedua orang yang sama-sama memiliki tempat di hatinya.
"Apakah Hamba salah mencintai keduanya wahai sang pencipta?" gumam Jayda dengan menyentuh kepalanya.
Jayda hendak berjalan keluar dari kamar Felicia, tampak barang yang tertinggal di atas nakas yang tidak jauh dari ranjang. Jayda mendekati nakas dan mendapati Jam tangan Dika. Betapa terkesiapnya Jayda, Jam tangan pemberian pertama dari Jayda untuk Dika.
Sesampainya Ia di area parkiran, melihat ke kiri dan ke kanan kerberadaan Dika dan Felicia. Tidak terlihat, membuat Jayda terus mencari hingga melihat Felicia yang berdiri sendiri di depan salah satu mobil.
"Tante Dokter." seru Felicia yang kini sudah berpelukan dengan boneka Elsa dari cartoon Frozen.
Dika yang mendengar suara Felicia memanggil nama Jayda, menghentikan aksinya dan melihat kedatangan Jayda ke arah mereka. Dengan nafas yang ngos-ngosan Jayda tiba di depan keduanya.
"Ada apa denganmu Jayda?" tanya Dika khawatir.
"Jangan sok akrab!" ucapnya mencoba mengatur napasnya Jayda berkata lagi, "Aku sebenarnya tidak ingin memberikannya kembali padamu! Ingin sekali Aku membungnya. Tapi karena ini bukan milikku lagi, Aku kembalikan." ucapnya lalu memberikan jam tangan tadi ke Dika.
Dika dengan cepat mengambil Jamnya sebelum Jayda membuangnya.
"Cuma ini yang tertinggal, jangan berani membuangnya." balas Dika merasa tidak terima.
__ADS_1
"Kenapa? Apa Kau tidak punya malu? Kau sudah punya anak, kenapa masih menyimpan pemberian dari mantanmu!"
"Bukan urusanmu! iTerserahku, ini hakku bukan?"
"Tante Dokter... Daddy... Kenapa kalian bertengkar? Felicia kan sedih." Felicia merengek. Membuat Jayda gelagapan. Jadilah Jayda setengah duduk di depan Felicia dengan mengusap cairan bening yang keluar dari kedua matanya.
"Jangan menangis sayang... Maafkan Tante Dokter, Tante enggak sengaja sayang." Jayda menarik tubuh Felicia dan memeluknya.
"Jangan marah lagi sama Daddy, Tante. Daddy baik kok, Daddy kesepian. Kasihan kalau Daddy di maraihin sama Tante. Karena kata Daddy, Daddy sayang banget sama Tante." ucapan Felicia membuat keduanya terkesiap.
"Felicia... Jangan aneh-aneh. Kapan Daddy bilang begitu? kamu enggak tau apa, Tante Dokter kamu ini sangat cerewet." ucap Dika menenangkan Felicia.
Kedua bola mata Jayda membulat sempurna, kembali memasang tatapan dingin tak bersahabat. Dika pun takut, Ia memilih memakai jam tangannya lalu mencoba kembali menghidupkan mesin mobilnya.
"Sudah jangan menangis lagi, Felicia kalau menangis jelek loh. Apa lagi Tante Dokter bisa ikut bersedih, kalau terus menangis." kata Jayda mengusap lembut sisa air mata Felicia.
"Iya Tante." balasnya.
"Anak baik." balas Jayda.
Kemudian perhatian Jayda beralih ke Dika, suara mesin mobilnya yang tidak mau hidup itu terus-terusan terdengar. Ia pun menghampiri Dika dengan berani.
"Kenapa?" tanyanya datar.
"Entahlah... Mungkin karena sudah dua hari tidak di panasi." balas Dika hanya melirik sekilas ke Jayda dan kembali melanjutkan pencobaannya.
"Kasihan Felicia, Aku antar kalian." tawarnya dengan berat hati.
Dika menoleh ke Jayda, "Kamu yakin???"
__ADS_1