
Mata Jayda di banjiri air mata, Ia benar-benar terpukul dengan surat dari Lani. Seseorang yang pernah di anggapnya sahabat dan penghkhianat. Dua kata itu tertanam di benak Jayda, semenjak kerpergiannya tanpa pamit dengan Jayda.
Rasa kebenciannya, amarahnya, kini terjawab sudah. Dika tidak bersalah atas apapun yang ia lakukan. Jayda bersyukur, karena Dika mau membantu Lani di masa sukar dan sulitnya. Bukankah itu arti sahabat?
Sahabat adalah dia yang mau berbagi kesedihan denganmu, kebahagiaan dan bersama-sama tertawa. Lani sangat beruntung di temani oleh Dika. Tapi tidak untuk Jayda, di masa terkahirnya Lani, pun tidak bisa dia lihat.
“Aku sangat bersalah untuk kalian berdua,” kini Jayda terisak sedih di dalam pelukan Dika.
“Sssst… Kau itu tidak salah. Aku dan Lani yang banyak salah padamu, sampai-sampai Kau mengasingkan diri ke sini. Maafkan Aku Jayda, Aku mewakili permintaan maaf Lani. Jadi tolong, jangan pernah membenciku dan Lani lagi.” Dika mengelus lembut puncak kepalanya, bahkan tanpa sadar dia mengecup kening Jayda yang sedang larut di dalam kesedihannya.
Dika terbawa suasana. Karena memang, Dika sangat merindukan Jayda . Jayda yang dulu suka tersenyum pada dirinya, suka berbagi keluh kesahnya, berbagi kebahagiaan dan bersama-sama menatap hari-hari yang bisa mereka lewati di suasana kampus saat itu.
Jayda menangis terus, Dika memberikannya ketenangan. Mengelus pundaknya dengan sangat lembut. Bagi Dika, untuk pertama kalinya dia mendekap Jayda dengan di banjiri air mata. Bahkan, Jayda itu tidak sekalipun pernah terlihat menangis selama dia bersama Jayda. Ini kali pertamanya, setelah bertahun-tahun, kedua mata itu di genangi cairan bening. Sangat tidak enak rasanya hati Dika. Tapi inilah Dika, dia membiarkan Jayda menangis di atas dadanya.
Lima belas menit kemudian, Jayda sudah mulai tenang. Ia mengangkat wajahnya dengan berani, mata sambab itu membalas tatapan Dika yang di hiasi seulas senyuman dari bibir tipis Dika.
“Maafkan Aku.” katanya dengan mengusap sisa cairan bening di kedua sudut matanya.
Dika tersenyum.
“Sudah gak sedih lagi kan?” tanya Dika dengan menatap Jayda.
“Masih, tapi terima kasih untuk ini.” tunjuk Jayda ke arah kaus Dika yang polos sudah tembus pandang karena air mata Jayda yang membasahinya, “Maaf, jadi basah.” kata Jayda malu-malu.
Dika menarik kausnya, “Agh gak apa-apa. Hitung-hitung, rinduku terbalaskan juga dengan air mata dan ingus yang menempel jadi satu,” ledek Dika dengan menatap ke Jayda lalu ia tersenyum.
“Dik!”
“Sorry, cuma bercanda. Jangan galak-galak dong. Dari dulu gak pernah berubah.” Dika tertawa dengan khasnya.
“Kamu juga sama, gak pernah berubah dari dulu.” balas Jayda.
__ADS_1
“Sama halnya dengan cintaku, Jay.” tatapan Dika serius.
Jayda terkesiap. Dia mematung mendengar ucapan Dika barusan.
“Dik.” panggil Jayda kaget.
Dika menarik lembut punggung tangan Jayda, dan menautkan jari-jarinya di sela-sela jemari Jayda, sangat erat. Mengalirkan rindu yang bergejolak di tempat paling terdalam Dika.
“Aku serius Jay. Ini momen yang sangat aku tunggu-tunggu di dalam hidupku. Aku selalu memikirkan kamu, terus, terus dan terus sampai suatu hari aku berharap ke pada sang pemilik kehidupan, bisa bertemu dengan kamu, dan menyerukan rasa rindu yang bergumul di dalam hatiku, Jay. Itu berat untukku, meskipun aku tau itu sangat lebih berat untukmu. Jadi, seperti yang aku katakan sebelum surat tadi aku berikan. Kau boleh memutuskan apa aja tentang diriku. Tapi tidak denganku,perasaan aku masih sama seperti dulu Jayda. Aku masih ingin merebut kembali cintaku yang sempat aku sia-siakan saat dulu. Kali ini aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Aku akan terus berjuang, hingga kau mencintaiku kembali, secara utuh seperti dahulu, tidak berkurang dari hatimu.”
Jayda menghirup udara dalam-dalam lalu berkata.
“Meskipun aku sudah memiliki seorang kekasih?” tanya Jayda dengan tatapan menyelidiki kedua manik mata Dika.
Mata Dika sama sekali tidak berubah, masih terlihat kedua mata yang tidak pasrah atau pun mengalah, matanya berhasrat penuh. Dika benar-benar sangat yakin dengan kata-kata yang barusan di ucapkannya ke Jayda.
“Sudah Aku katakan, Aku tidak perduli Kau sudah memiliki kekasih atau tidak. Aku rela di katakan pria perebut cewek orang. Aku gak ikhlas jika kau di miliki pria lain. Tapi, Kalau kau sudah menikah itu bedah. Aku tidak akan menghancurkan hubungan rumah tangga dari orang yang sangat Aku cintai. Melihat dirimu bahagia saja sudah cukup untukku Jay. Tapi tidak dengan sekarang bukan? Apa kau benar-benar sudah punya kekasih?” Dika menatap raut wajah Jayda. Walaupun di dalam hatinya, dia sangat takut kalau-kalau dia harus berjuang merebut Jayda dari pria yang sudah menggantikan posisinya di hati Jayda. Itu kan salahnya Dika, bukan pria itu.
“Apa itu logika? Jika Aku tidak punya kekasih? Bukankah Aku masih sangat cantik? dan di sini banyaaak sekali pria bule yang lebih dari dirimu ketampanannya. Apa Kau yakin, luka yang kau berikan sebelumnya tidak bisa di obat oleh para pria bule di sini? terus Kau sendiri bagaimana? Felicia sudah beranjak masuk ke umur enam tahun. Selama itu, apa kau tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain? Yang benar saja? Apa lagi Kau tau di sini, gadis-gadis di sini juga sangat seksi.” Jayda berucap dengan kedua mata yang di tajamkan.
Dika refleks menarik kedua pipi Jayda, karena memang terlihat sangat menggemaskan baginya.
“Kau ini sangat menggemaskan. Aku bertanya duluan, bukan di jawab dulu. Malahan kembali memberikanku pertanyaan” Dika berucap dengan kedua tangan menarik pipi Jayda dan gigi yang di rapatkan serta membentuk senyuman.
Kedua mata Jayda melotot, saat Dika dengan berani menarik-narik pipinya. Sesuatu yang paling sangat dia benci. Dika tau itu, tapi sangat senang melakukannya karena seusai itu Jayda akan marah.
“Lepaskan Aku!”
“Gak mau!”
“Aku benaran marah nih!”
“Biarin! Jawab dulu pertanyanku tadi, baru aku lepaskan!” paksa Dika.
“Dikaaaa! Kau sendiri bagaimana?”
__ADS_1
“Aku katakan, aku masih sama seperti dulu, kenapa kau sudah jadi kepala, jadi bodoh begini! Aku bilang Aku masih sama seperti dulu, Aku sangat mecintaimu. Jadi artinya, Aku tidak memiliki siapapun selain berharap untuk menemukan dirimu. Apa kau terlalu bodoh Jayda?” Dika masih menarik kedua pipinya, tetapi tidak menyakitinya.
“Aku tidak percaya padamu!” kata Jayda dengan melototkan matanya, meronta dan menarik tangan Dika dari kedua pipinya agar bisa terlepas.
Bukannya terlepas, Dika menarik wajah Jayda hingga membenamkan bibirnya di permukaan bibir tipisnya Jayda. Refleks kedua mata Jayda tertutup rapat. Ia sangat gugup, tidak ada penolakan, bibir hangatnya Dika yang merupakan ciuman pertamanya. Ciuman yang merenggut keperawanan bibir Jayda selama ini. Jadilah, keduanya menikmati momen yang terbilang sebentar.
“Aku bilang, Aku akan mendapatkan cintamu.” kata Dika lagi dengan penuh penekanan.
Wajah Jayda merona, kulitnya berubah seperti api yang sedang menyala, menghangatkan permukaan kulitnya. Jayda sangat malu, pipinya menjadi merah muda. Gila aja pikirnya,sudah sangat lama dia mendambakan seorang kekasih seperti Dika, tidak pernah ia temukan sehingga ia memilih untuk sendiri selama waktu mengizinkan. Tapi sekarang, waktu berpihak pada dirinya. Dia kembali, kembali untuk merengkuh cinta yang di berikan oleh Dika. Tapi Jayda gengsi untuk mengakuinya. karena ini adalah awal. Awal yang baik, mari kita coba, siapa tau aja, kali ini semesta berpihak untuk mereka berdua.
“Di mana kamar Felicia?” pertanyaan itu yang bisa ia katakan, karena Jayda memerah. Ia sudah beranjak ke arah pintu kamar yang di kunci Dika.
Dengan cepat, Dika berjalan menuju pintu dan tidak menatap wajah Jayda. Dia tau, Jayda malu. Tapi Dika senang.
“Kamar Felicia ada di depan,” kata Dika tanpa menatap Jayda.
Jayda dengan lempangnya terus berjalan kedepan, hingga menarik handle pintu kamar Felicia. Daun pintu kamar Felicia yang menjadi pemutus kontak mata mereka untuk malam itu. Dika masuk dan menutup rapat-rapat pintu kamarnya.
Dia tersenyum, kebahagiaanya kembali. Selama tersiksa oleh rindu,akhirnya dia tau apa yang harus ia lakukan kedepannya.
“Aku tau Kau belum memiliki kekasih Jay. Aku tau, dari kecupan tadi, sudah bisa menjawab pertanyaaanku padamu,” katanya dengan berjalan menuju ranjangnya, kemudian merangkak ke atas ranjangnya, dan merebahkan tubuhnya.
Jayda di dalam kamar Felicia, masih bersandar di daun pintu. Ia menyentuh jantungnya, kemudian berpindah ke bibirnya, ia sentuh dengan lembut. Masih berasa kecupan bibir Dika ada di bibirnya, sangat lembut.
“Apakah Aku boleh menerima cinta yang sempat hilang?”
Bersambung.
…
Terima kasih kakak semua, jangan lupa untuk VOTEnya di My Chosen Wife ya ^^. Like dan komentar kalian di sini hehehe.. Ini saya teruskan demi kalian yang beberapa kali DM saya untuk meneruskannya, dan sebisa saya, saya penuhi janji saya, meskipun lama updatenya ya. Terima kasih semua pembaca mom… ^^
__ADS_1