Kekasihku Seorang CEO

Kekasihku Seorang CEO
J&J : EPS 12


__ADS_3

Tidak punya pilihan lain, Jayda mau tidak mau harus mengikuti kemauan Dika. Bukan tanpa alasan, percuma saja dia menolak, karena kunci mobilnya masih dengan Dika, sedangkan mau lari dari lokasi rumah Dika, Jayda juga tidak tau jalan pulang jika dia nekad untuk pulang. Akhirnya, Jayda memilih untuk berjalan membawa kakinya masuk ke dalam rumah mewah tersebut.


 


 


Saat berada di dalam, pandangan mata Jayda mengedar ke arah seluruh sisi rumah. Jayda berpikir, kenapa juga rumah sebesar itu tidak memiliki keluarga yang lengkap? di mana mama nya Felicia? Jayda mencoba mencari di sudut dinding,di seluruh pajangan foto yang hanya menampilkan keluarga Dika dan juga Felicia. Tidak ada foto keluarga kecil Dika, membuat Jayda penasara.


 


 


“Sedang mencari apa?” Dika sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Jayda yang menatap ke foto di bagian dinding ruangan tengah. Dika yang turun terhenti sejenak, menatap dari kejauhan wanita yang sangat ia rindukan yang sempat mengisi hati dan dunianya.


 


 


Ingin sekali rasanya Dika memeluk tubuh yang sangat ia rindukan, karena perasaanya sangat berkecamuk, saat ia dengan berat hati melepas Jayda untuk selamanya, Karena dia juga Jayda melepas pendidikannya di Jakarta. Dika sempat mencari keberadaan Jayda, sebelum Ia memilih untuk meninggalkan Jakarta.


 


 


“Agh.. tidak apa-apa. Berikan saja kunci mobilku,” Jayda mengulurkan tangannya ke arah Dika, dengan tatapan tajamnya.


 


 


Dika tersenyum membalas tatapan dingin Jayda. Bukannya memberikan kunci mobil Jayda, Dika menarik tangan Jayda dan memeluknya. Jayda terkesiap, Ia pun sejenak terdiam dengan perlakuan Dika pada dirinya. Sedangkan Dika, Ia sejenak memejamkan matanya, menikmati tubuh wanita yang sangat Ia rindukan.


 


 


Jayda kemudian tersadar, dengan cepat Ia menolak tubuh Dika, membuat pria itu  melepaskan pelukannya.


 


 


“Jangan sembarangan!” Jayda berucap dengan tatapan mengancam.


 


 


“Apa kau tidak merindukan Aku?” tanya Dika dengan santainya/


 


 


Jayda menatap tidak suka, “Tidak! Tidak pernah sedikitpun!”  katanya dengan berjalan mundur.


 


 


Dika mengikuti Jayda hingga keduanya saling menatap dan berjalan hingga tubuh Jayda terkunci di balik pintu.


 


 


“Jangan macam-macam Dika! Jika kau berani macam-macam, Aku akan!”


“Akan apa? Kau akan berteriak? Berterika saja, karena di sini daerah kekuasaanku. Lagian di sini tidak seperti di apartemen hanya berlapiskan dinding, di sini jarak rumahnya sangat jauh” kata Dika dengan tatapan licik.


 


 


“Berikan saja kunciku!” ucap Jayda dengan penekanan.


 


 


“Enggak mau!”


 


 


“Dika!”


 


 


“Sudah… jangan marah-marah! kau itu masih sama seperti dulu. Kalau kau tidak merindukan Aku kenapa kau harus gugup dengan perlakuanku. Akui saja, kalau Kau masih mecintaiku.”


 


 


Jayda mencebikkan bibirnya, kembali lagi Jayda menolak tubuh Dika agar dia bisa leluasa.


 


 


“Jangan berbicara omong kosong, aku tidak akan pernah mencintai pria brings*k sepertimu!” umpat Jayda.

__ADS_1


 


 


Dika terdiam dan hanya memandangi raut wajah kebencian dari Jayda. Ia pun mencoba menarik nafasnya, menenangkan perasaannya sejenak. Rasa sakitnya mendengarkan ucapan Jayda merasuk hingga ke ubun-ubunnya. Jayda sendiri menatap dalam bingung, kenapa juga pikirnya raut wajah kesedihan yang di tampakkan oleh Dika.


 


 


Dika kembali mendekat, membuat Jayda menjadi takut. Ia pun menutup dadanya dengan kedua tangannya, Dika menatapnya dan menarik tangan Jayda.


 


 


“Lepasakan Aku, Dika.” katanya dengan mencoba menahan tangannya.


 


 


Dika semakin kuat menarik tangan Jayda hingga Ia tidak bisa menolak untuk mengikuti Dika.


 


 


“Jangan berpikir macam-macam, Aku bukanlah Pria brengsek seperti yang Kau katakan barusan. Duduklah,” Dika membawa Jayda ke ruangan makan, Ia menarik salah satu bangku dan membuat tubuh Jayda untuk duduk.


 


 


“Semuanya sudah selesai, Tuan. Selamat menikmati,” ucap asisten rumah tangga Dika lalu berjalan meninggalkan keduanya.


 


 


“Makanlah, Aku yakin Kau belum makan,” perintah Dika seraya mendaratkan tubuhnya tepat di depan posisi Jayda.


 


 


“Dika, Aku mohon. berikan saja kunci mobilku. Aku mau pulang.” kata Jayda dengan lirih.


 


 


“Apa kau tidak bisa memberikan sedikit saja kepercayaanmu kepadaku Jay?”


 


 


 


 


“Itu karena sanga pencipta memberikan Aku waktu untuk menjelaskannya kepadamu Jay,”


 


 


“Menjelaskan apa? menjelasakan kalau Kau meninggalkan aku kalau kau sudah punya anak? Aku tidak butuh itu Dika.”


 


 


“Jika suatu saat nanti Kau tau ceritaku sesungguhnya, apa Kau mau memberikan ku satu  kesempatan lagi? Setidaknya berikan aku kembali cintamu dan kepercayaanmu untukku?” tanya Dika dengan menatap dalam kedua manik mata Jayda.


 


 


Jayda berdiam, Ia membalas dingin tatapan Dika yang sepertinya memiliki arti dari perkataanya. Tersirat dari raut wajah Dika, ia memendam sejuta alasan dalam hidupnya. Dika yang hanya mendapatkan tatapan dingin Jayda, memilih untuk mengambil sendok dan garpunya. Ia menyendokkan nasi ke dalam mulutnya. Saat jayda tersadar, ada yang kurang dari pernikahan Dika. Seorang Istri, seorang mama, foto keluarga kecil Dika, bahkan cincin pernikahan pun tidak Jayda dapatkan dari kediaman Dika.


 


 


Menjadi tanda tanya besar untuk Jayda, tapi tidak mungkin ia duluan bertanya ke Dika. Gengsinya sangatlah tinggi, bisa-bisa Dika memiliki pemikiran lain terhadap Jayda. Dika sadar, saat kedua mata Jayda mendapati cincin pernikahan yang tidak melingkar di jari manisnya.


 


 


“Jika kau siap untuk bertanya, Aku akan menjelaskannya semua untukmu Jayda. Aku tidak akan memaksa, jikalau suatu saat nanti kau tau cerita yang sebenarnya dan kau  masih tidak ingin bersamaku, aku akan melepasmu,” ucap Dika di dalam hatinya.


 


 


Saling memandang, Jayda langsung mengubah pandangannya ke arah lain dan dengan cepat ia mengambil sendok dan garpunya dan menikmati makan malamnya.


 


 


“Aku tidak tau, apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu di  masa lalu. Apa aku menyesali setiap perkataanku tadi tentang dirimu? Agh… rasanya aku sungguh tidak ingin menyakiti perasaannya.” gumam Jayda di dalam hatinya.

__ADS_1


 


 


 


 


Keduanya memilih makan dengan keheningan, dentingan garpu dan sendok sajalah yang terdengar di ruangan makan itu. Perasaan keduanya sama-sama berkecamuk, tapi satu hal yang Dika syukuri, jikalah Tuhan mengizinkan, dia akan memenangkan lagi hati Jayda hanya untuknya seorang. Seberapa besar nantinya rintangan Dika untuk mendapatkan hati Jayda, Ia akan tetap maju sampai titik darah penghabisan.


 


 


“Tidurlah di sini,” kata Dika tiba-tiba.


 


 


“Dika!”


 


 


“Jay.. Aku mohon ke kamu, aku tidak akan membiarkan kamu di jam segini menyetir sendiri.” balas Dika dengan lembut.


 


 


“Jangan menghiaraukan Aku , Dika. Aku bisa mengurus diriku sendiri,” kata Jayda.


 


 


“Aku tetap akan memikirkan kamu, jika kamu sudah selesai makan, naiklah ke atas, lorong sebelah kiri kamar nomor dua,” balas Dika dengan beranjak berdiri menuju ke atas.


 


 


“Dik.. Dika” pamggil Jayda ke arah Dika.


 


 


Dika tidak bergeming, Ia tetap berjalan menuju ke atas.


 


 


“Duh.. apaan sih Dika, suka-sukanya aja dech.” Jayda merasa kesal.


.


.


Sebelum Jayda benaran sangat kesal, berikan dong VOTE kalian ke My chosen Wife ^^


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2