
Hotel Wijaya Park, Kawasan Jakarta Barat
Jam kerja pun kembali sibuk, tak terasa pagi tadi sudah berganti siang yang menuju sore. Joseph yang hanya duduk diruanganya pun hanya menatap ke layar komputernya, seakan sibuk mengerjain segala kepentingan Hotel. Hotel yang membesarkan nama sang Papa. Sekarang Hotel yang dipegangnya pun semakin Terkenal dimana mana. Hingga sampai diakui mancanegara, banyak Turis asing juga yang menginap di Hotelnya maupun Turis lokal. Karena itu keluarganya sangat bangga dengan usahanya.
Akhirnya pun tugasnya selesai. Dia ingin santai sejenak. Tak lama kemudian Telpon kantornya berdering diangkatnya dengan cepat.
"Halo pak.. ada tamu yang ingin berjumpa dengan bapak."
" Siapa Lin?" Tanyaknya.
" Atas nama Tuan Danish pak." ucapnya.
" Danish? Danish... Siapa dia ya? Dia mengenalku?" Tanyaknya bingung.
" Iya pak...katanya dia kakak kelas bapak waktu di Jerman."
" Owww.. iya.. iya saya ingat. Suru masuk."
Tok.. Tok.. Tok...
" Silahkan masuk" ucap Joseph yang langsung berdiri ingin menyambut teman lama itu.
" Hayyyyyy... Halo Jos" ucap Danish yang juga membawa seorang wanita masuk keruangan Joseph.
" Halooo bang Danish... How Are You?" ucapnya Menjabat tangannya dan Memeluk sang teman lama itu.
" Fine. And how about you? Sudah lama kita gak berjumpa Jos..." ucapnya dengan senyum dan Tawa.
" Aghh.. iya lama sekali. Mari silahkan duduk Bang."
Padahal Danish cuma bedah setahun lebi tua dari Joseph. karena Joseph yang sangat segan yang juga kakak kelasnya sewaktu Berkuliah dulu. Memanggil dia Abang karena Danish itu asalnya dari Medan setelah lulus sekolah sempat bekerja di Jakarta sebelum mengambil Beasiswanya di Jerman. Jadi dia lebih suka dipanggil dengan Abang.
" Sudah sangat sukses sekarang Jos." Kata Danish
" Hahahah bisa aja bang... biasa aja ni bang. Abang juga udah sukses tu gandeng si Kakak." ucapnya ngeledek.
" Hahaha Apanya yang biasa, ini luar biasa. Oh iya ini tunangan saya. Kenalkan Sayang Ini teman yang aku ceritakan kemarin."
" Halo Jos... saya Melani." sambil menjabat tangan Jos.
" Halo kakak Ipar." ucapnya tertawa.
" Kamu ini bisa aja Jos." ucap Danis yang disambut senyum oleh Melani.
" Oya... Jos.. maksud kami kesini ingin mengantarkan ini." Melani memberikan undangan ke Danis dan menyerahkannya ke Joseph.
Joseph pun menerimanya.
" Wahhh wahh wahh... Undangan ternyata. Selamat untuk kalian berdua ya." akhirnya kepelamanin juga ya Bang." ucapnya dengan tertawa
"Makanya nyusul dong Jos, jangan lama lama pacaran." Ucap Danish yang hanya tauh dia berpacaran dengan Selena.
Berita batalnya Pernikahan sang Direktur Hotel ternama itu tidak mencuat ke publik karena ada campur tangan Aldi, Ya Aldi yang bertugas menutup semua media yang ingin mengekspos. Jadi tak satupun berita yang muncul mengenai batalnya pernikahan Direktur pendiam itu, karena Joseph mempunyai Asisten yang bisa diandalkan dalam urusan seperti itu.
" Buka dulu... undangannya dibaca Jos."
Melihat dan membuka undangan itu pun dia kaget.
" Lah Resepsinya di Hotel ini Bang?" Tanyaknya kaget.
" Hahaha.. iya dong, percuma saja punya teman sebagai Direktur Hotel ternama gak bisa di manfaatin." ucapnya becanda dan memasang gaya dengan berbisik " Potongan Jos, setengah Harga ya." berbisik dan tertawa.
" Busetttt dah.. tanpa diminta saya Kasi Bang." ucapnya menggelitik.
" Kalian bisa aja ya." ucap Melani yang juga ikut tertawa.
" Sayang.. Jos ini kocak orangnya. Kalau pertama kali jumpa saat belum kenal dengannya orangnya tuh dingin... sedingin Es, Kesan pertama dengannya saja buruk, trus itu matanya saja kalau lagi liat orang iiihh.. ngeri.. kayak mau makan orang." ucap Danish dramastis.
__ADS_1
" Aghh.. kamu bisa aja. buktinya tuh enggak, biasa aja dianya." jawab Melani.
" Karena ini kan udah jinak dianya" Ketawak lagi.
" Dasar... emangnya saya apaan dikata Jinak Bang." Protes dia.
" Hahaha.. ya sudahla jangan sampai gak datang diacara bahagia kami ya, jangan lupa bawak Selena, saya sudah mengundangnya kemarin waktu kita ketemu di GI, kan dia juga di Jakarta." ucap Danish yang tidak tauh kisah Joseph.
Apa yang dibilang Selena tentang kami?
Berdiam sejenak tidak ingin menjawab, Joseph baru teringat belum menawarkan Mereka minum.
" Agh.. orang kakak dan Abang mau minum apa? Saya sampai lupa menawarkan." ucap Jos mengalihkan pembicaraan.
" Tidak perlu repot-repot Jos.. Kami sudah mau ijin gerak karena mau ngantar undangan juga ke tempat teman Melani. Kantornya gak jauh juga dari Hotelmu."
" Oh.. Baiklah Bang Danish.. Sekali lagi saya ucapkan selamat ya." sambil berdiri dan kembali menjabat tangan kedua pasangan itu dan mengantar mereka keluar ruangan. Dan Linda yang mereka lewatin pun memberikan salamnya.
***
Perusahaan Anugrah Corp, Jakarta Barat
April yang baru saja tiba di Gedung kantornya pun langsung disapa dengan ramah oleh satpam yang bertugas. Dengan rambut yang tergurai lembut melangkah masuk ke gedung yang sudah mulai sepi tidak seperti jam makan siang. Inila jam sibuk para pegawainya.
Dia pun langsung menuju lift, tiba di lantai ruangannya, Astrid pun menyapa sang atasan itu dari Meja Kerjanya yang tak jauh dari April. April pun mengampirinya.
" Wah.. buk Bos... cantiknya Mantul." ucap Astrid mengacungkan kedua jempolnya.
" Ah.. kamu ini Kak. Lagi kasmaran, bawaanya semangat trus kamu ini." Jawab April.
" Kamu bisa aja Pril." ucap Astrid. " Oya Pril.. ini kerja sama dengan perusahaan yang diwakili David, sudah mau selesai. Kemungkinan kamunya gak disini."
" Ow.. soal itu.. kakak aja yang Handle ya kak.. untuk peresmiannya. Saya percayakan sama kakak. Ya minta bantuan sama Manager atau karyawan lain juga bisa kan. untuk turut andil." April menjelaskan.
" Iya Pril.. bisa kok. Okey kalau gitu.. Nanti saya yang urus semua. saya akan laporan ke kamu." Jawabnya serius.
" Iya buk bos."
April pun melangkah masuk keruangannya. Kemudian direbahkannya tubuhnya dikursi kerjanya. Dipegangnya keningnya seakan terasa pusing. Masi mikirin yang baru dia hadapi tadi.
" Kenapa sekarang aku berasa di hadapi dengan semua masalah Pria angkuh itu." Tanyaknya sendiri.
Tak lama berselang terdengar ketukan Pintu
Tok.. Tok..Tok..
" ya silahkan masuk" Astrid pun masuk keruangan itu.
" Pril ada tamu yang menunggu kamu."
" Siapa kak?" Duduk di kursi kerjanya.
" Namanya Melani.. Pril."
" Melani? hemmm... rambutnya panjang ya ka? putih dan agak tinggi ya?" mengucap ciri cirinya.
" iya Pril.. kamu kenalkan? Dia datang dengan seorang cowok." ucapnya.
" Iya kak saya kenal.. Suru aja masuk ya kak."
" Baik Pril " ucap Astrid dan berjalan keruang tamu kantor. Selang beberapa menit tamu itu pun masuk keruangan April yang diantar oleh Astrid.
" April.." Langsung disambut April dengan lembut dan memeluk Melani.
" Halo Kak Melani. Wah makin cantik aja kamu ya."
" Kamu tuh yang makin cantik aja." ucapnya singkat.
__ADS_1
" Halo Abang super Gokil." ucapnya ke Danish.
" Gokil... ah kamu bisa aja, Hehehehe...." ucap Danish
" Hallo Pril... makin cantik ya sekarang, benar yang dibilang Melani."
" Aggggg kalian ini memuji saja. nanti kuping saya terbang loh.. yuk Mari kak duduk dulu disini."
" Terimakasih Pril." Dikuti Danish.
" Oya mau minum apa ni Kakak sekalian." ucap April dengan senyum.
" Agh.. tidak usah Pril" Jawab Danish yang memang sudah mengenal April sejak bersama Melani.
Melani dan April berkenalan karena Melani teman Kerja Rendy di perusahaan tempat bekerja Rendy. Mereka satu kantor tapi Rendy Maneger sedangkan Melani hanya seorang Pegawai biasa bagian Humas. Tetapi mereka sangat Akrab dalam pekerjaan dan diluar pekerjaan. Saat ingin jadian dengan April la , Melani ditugaskan Rendy untuk menjemput April, dari situlah mereka kenal.
" Kami tidak lama kok. kami kesini cuma mauuuuu... Tenteng... " ucap Melani dan mengeluarkan Undanganya memberikan ke April.
April pun histeris senang.
" Aghhh.. kalian... akhirnya jadian juga." Mendekati Melani dan memeluknya.
"Gak sangka ya.. pacaran cuma beberapa Tahun akhirnya Bang Danish melemar juga." ucapnya.
" Iya dong.. kalau udah cocok ngapain lama lama, keburu di ambil orang." ucap Danish berbisik.
April yang mendengarnya pun langsung berubah mimik wajahnya. Karena memang benar lama lama pacaran malahan pacarnya diambil dengan sahabatnya sendiri. Melani yang menangkap perubahan wajahnya pun menjadi gusar.
" Agh.. April.. bukan bermaksud menyinggung. Maaf kan Danish."
" Iya Pril maaf ya.. saya keceplosan." Jawab Danish.
" Ow.. gak apa apa kak, Bang. Memang udah Takdir saya. Sekarang Lina malahan udah Hamil juga. Mereka sudah nikah kan ya?" Tanyak April lembut.
" Iya Pril... kamu gak diundang kan."
April pun menggelengkan kepalanya pertanda tidak.
" Ya sudahla gak usah dibahas lagi. April kan cantik, baik hati, seorang yang berkelas, masi banyak laki laki yang lebih dari Rendy. Dari awal juga aku memang kurang sreg liat dia, Cuma karena menghargain kamu sayang... sebagai temanmu aku tak mau mengatakan itu." ucapnya memegang tangan Melani.
" Jangan karena ada Rendy dan Lina.. kamu gak datang ya Pril." Pinta Melani melanjutkan.
" Tidak.. pasti aku akan datang." katanya dengan senyum.
" Syukurla kalau gitu. kita permisi ya Pril. Sampai ketemu dihari bahagia kami nanti ucapnya dan sambil berjalan menuju pintu."
" Iya kakak kakaku... Terimkasih atas undanganya, saya berbahagia untk kalian" ucapnya sebelum mereka meninggalkan ruangan.
" Terimakasih juga ya Pril. " ucap Danish menjabat tangannya dan dilanjutkan dengan Melani.
" Kami permisi."
" Iya Hati hati dijalan ya calon manten. Bye..." Melambaikan Tangannya.
Menutup pintu dan kembali kemeja Kerjanya. Terdiam sesaat. Dan dadanya terasa sesak menahan sesuatu.
Sudahla pril lupakan mereka yang menghianatimu. carilah bahagiamu.
Dibukanya Undangan Dari Melani dan Danish, sekedar ingin tau kapan dan dimana resepsi pernikahan itu.
Dibacanya satu persatu dan...matanya pun melotot melihat tempat resepsi itu.
" Gilaaaaa.. ini di Hotel si angkuh itu. Kenapa bisa begini semua yang kulakukan akhir akhir ini selalu saja berhubungan sama dia." ucapnya kesal.
" Hemm tapi kan gak mungkin juga ada dia.. acaramya sampe malam juga. Aku baiknya datang pas jamuan makan malam saja." ucapnya dengan senyuman.
Bersambung....
__ADS_1