
Jayden.
Jayden tiba di kediaman orang tuanya Joseph dan April. Jayden di sambut hangat, karena memang sudah lama Jayden tidak berkunjung ke rumah keluarganya. Betapa bahagianya April saat sang putra berkunjung ke rumah mereka.
"Selamat datang anakku." Joseph mrenyambut Jayden dan memeluk tubuh anaknya.
"Terima kasih Pa..."
"Ayo Nak... langsung ke meja makan, Mama kamu sudah menunggu."
Keduanya pun berjalan menuju rungan makan. Tampak April sudah selesai dengan tugasnya. Melihat kedatangan Jayden, seulas senyuman yang mereka dari bibirnya yang tipis tampak sangat manis.
"Selamat datang Sayang." April mendekati Jayden dan memeluk tubuh sang anak.
"Terima kasih Mamaku sayang." balasnya dengan memeluk erat tubuh April.
April melonggarkan pelukannya.
"Ayo duduk... kita makan sayang." ajak April.
Josep dan April sudah duduk berdampingan di hadapan Jayden yang baru saja mendaratkan tubuhnya di kursinya. Dengan cepat April memberikan piring dan menyendokkan nasi untuk keduanya. Jangan di tanya, Jayden sangatlah bahagia jika sudah makan bersama dengan kedua orang tuanya, Apa lagi Jayden sangat mengagumi masakan sang Mama.
"Selamat makan Ma,Pa." ucap Jayden dengan sangat lembut.
"Selamat makan anakku." balas April dan Joseph.
Ketiganya makan dalam keheningan, hanya saja April merasa ada yang kurang tidak adanya Jayda. Ingin sekali April meminta untuk Jayda bisa tinggal di Jakarta, agar dia bisa menikmati masa tuanya dengan anak-anaknya. Tapi itulah April dan Joseph, kedua orang tua tidak ingin memaksakan kehendak mereka pada kedua anaknya. Karena mereka sudah dewasa, memiliki keinginan yang bisa mereka pilih sendiri.
Seusai makan malam, Joseph mengajak anak dan istrinya di ruangan keluarga. Mereka mulai ngobrol panjang lebar hingga ke titik perjodohan.
"Bagaimana Nak? apa kau sudah bertemua dengan gadis yang Papa katakan tadi siang?" tanya Joseph membuka pembicaraan.
"Maaf Pa... Belum. Karena Jayden sangatlah sibuk, tapi pa.. Jika nanti Jayden tidak bisa menerimanya, apakaha Papa dan Mama akan kecewa?" tanya Jayden sangat hati-hati.
"Maaf Nak... membuatmu jadi terbeban. Karena ini janji, mungkin haruslah di tepati Nak. Karena janji ini di buat dengan orang yang sudah tidak ada di dunia. Kenapa Nak? Apa Kau sudah memiliki Kekasih?" tanya Joseph langsung ke sasaran.
"Sebenarnya Pa... Seseorang yang Jayden tunggu, sudah kembali. Jadi, Jayden tidak ingin kehilangan wanita yang sempat Jayden lepaskan begitu saja. Tapi ini kemauan Jayden, soal perjodohan, Jayden akan mencoba mengenal wanita yang Papa dan Mama maksud." Jayden merasa tidak enakan dengan orang tuanya.
__ADS_1
"Baiklah Nak....Setidaknya, Kau lihat dulu. Selebihnya keputusan ada di tanganmu. Papa tidak akan memaksa, Jika Kau nantinya memilih yang lain." balas Joseph.
"Baiklah Pa."
"Mama berharap, Jayden bahagia Nak. Siapapun nantinya yang Jayden pilih, Mama tetap dukung sayang. Utamakan kebahagiaan Jayden, karena menikah hanya sekali seumur hidup." April menatap kedua manik mata yang berwarna cokelat dari sang putra.
Jayden tersenyum, "Mama dan Papa memang yang terbaik." balas Jayden.
"Sesekali, hubungi kakakmu Jayda, Nak. Mama sangat merindukannya. Tapi, Jayda sangat sibuk. Karena kita tau, Jayda memilki jabatan dan pekerjaan yang tidak biasa." April menatap Jayden dan Joseph.
"Baiklah Ma... Besok Jayden menghubunginya, akan Jayden suruh Jayda menikah. Kenapa dia tidak pernah terlihat memiliki kekasih?" gumam Jayden.
"Kau itu sama dengan Jayda, kalian berdua tidak jauh berbeda. Siapa tau juga, Jayda sedang menunggu seseorang yang di cintainya." Joseph menimpali dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke atas.
"Karena kami kembar Pa." balas Jayden tertawa.
"Kembar tak mesti sama juga kan?" Joseph meledek.
"Baiklah Ma.... Jayden akan menanyakan kabar kakak besok. Mungkin saja dia sudah melupakan suaraku, karena dia sangat sibuk jika di hubungi Ma." balas Jayden.
"Benar yang Jayden katakan, Papa juga kadang begitu. Hanya saja, jika Jayda sibuk dia akan menghubungi ulang saat jam kerjanya usai. Hanya saja, perbedaan waktu yang membuatnya berpikir untuk mengubungi kita." Joseph mengingat putri kecil kesayangannya.
"Benar juga... Hemm... ya sudah, besok coba kamu yang hubungi Jayda ya Nak." balas April.
"Baiklah Ma." balas Jayden dengan tersenyum.
"Kalau begitu, ini sudah mau jam sepuluh malam. Lebih baik Jayden pulang sekarang Nak. Tidak baik pulang malam, besok kamu akan bekerja. Ada baiknya cepat tidur." balas April.
"Iya Mamaku sayang..." balas Jayden dengan beranjak berdiri.
Joseph dan April sama-sama beranjak berdiri dan berjalan mengantarkan kepulangan Jayden yang memang tidak lagi serumah dengan mereka. Karena jarak kantornya dengan rumah tidaklah dekat, sehingga Jayden memilih untuk tinggal di Apartemen. Sampai di Carport, Jayden kembali izin pada April dan Joseph untuk pulang. Seusai mobil Jayden sudah melaju meninggalkan kediaman mereka, tampak seulas senyuman dari Joseph.
“Bukankah kita sudah hampir selesai Sayang?” tanya Joseph dengan menarik pinggang April berjalan bersama untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Hampir selesai maksudnya?” April bingung.
__ADS_1
“Tugas kita sebagai orang tua anak-anak, mereka sudah sangat dewasa, sebentar lagi mereka juga akan memiliki keluarga sendiri. Dan kita akan mejadi Oma dan Opa yang kuat untuk cucu kita kelak,” balas Joseph.
April tersenyum, “Benar juga, mereka tumbuh dengan sangat cepat. Aku masih mengingat bagaimana Aku dan dirimu kewalahan mengasuh keduanya secara bersamaan, dan sekarang anak-anak sudah bisa meninggalkan tempat di mana mereka tumbuh, dan memulai keinginan dan tujuan mereka masing-masing,” April masih merasa tidak percaya,waktu sudah membuat anak-anaknya beranjak dari kehidupan kedua orang tuanya.
“Sepertinya mereka memang sudah memiliki kekasih yang bahkan Aku tidak tau. Kalau saja Kau memberiku izin untuk memantau setiap yang di kerjakan anak-anak selama mereka tidak bersama kita, Aku pasti tau apa yang sedang mereka lakukan di masing-masing tempat mereka,” Joseph penasaran sendiri dengan yang di lakukan kedua anaknya, karena keingintauannya ia hampir mempekerjakan staff keamanan yang bisa dia perintahkan untuk memantu Jayda maupun Jayden.
“Kau ini, Papa yang egois seperti itu. Jangan membuat anak-anakmu tidak percaya dengan kedua orang tuanya. Yakinlah sayang, anak-anbak kita memiliki jalan hidup yang terarah,’ balas April.
“Baiklah, karena mereka memiliki Mama yang memang sangat mendidik anak-anaknya dengan baik, karena itu aku mengurungkan niatku,” Joseph ternsenyum dan menyentuh lembut puncak kepala April.
*
Jayden tiba di Apartemenya, dia memasukkan kode pintu otomatis dan menari handle pintu. Suasana di bawah sudah gelap, Jayden yakin Mikha pasti sudah tertidur. Dengan perlahan Jayden berjalan menyusuri ruangan hingga ia menemukan anak tangga dan berlalu naik ke atas.
“Kenapa dia mematikan seluruh lampu di bawah? Apa dia pikir Aku tidak akan pulang?” tanya Jayden sendiri.
Sesampainya di atas, Jayden memilih untuk melihat Mikha sejenak. Ia menarik handle pintu kamar Mikha dan berjalan perlahan masuk. Tampak wajah Mikha yang sudah tertidur sangat lelap. Kedua sudut bibir Jayden tertarik ke atas, merasakan betapa bersyukurnya dia bisa membawa Mikha untuk tinggal di Apartemennya. Karena itu,membuat Jayden tidak lagi khawatir dengan kehidupan Mikha.
Jayden akan merawat Mikha dan membuat Mikha hidup layaknya orang-orang pada umumnya. Jayden bertekad, kelak dia akan memiliki Mikha seutuhnya, Tidak akan pernah melepaskannya lagi. Jayden setengah duduk di depan pinggiran ranjang dan menatap dalam wajah yang sangat ia rindukan selama ini, hatinya terenyuh melihat sendu mata yang sudah tertutup.
“Betapa menyesalnya Aku,” gumamnya di dalam hati, “Jika selama ini Aku tau kau sangatlah tersiksa, aku tidak akan melepaskanmu saat itu. Maafkan Aku, yang tidak ada di sampingmu, ketika Kau bersedih,”
Tiba-tiba kedua mata itu mengerjap, terbuka menatapa Jayden yang sedang menikmati paras cantiknya Mikha.
“Kau sudah pulang?” tanya Mikha dengan mengucek kedua matanya.
“Sudah.. kan Aku berada di depanmu.” balas Jayden beranjak dan berpindah duduk di pinggiran ranjang Mikha, “Apa aku membangunkan kamu?”
Mikha tersenyum dan menggeleng, “Tidak, Aku memang menunggumu, hanya saja Aku ketiduran,”
“Kenapa Kau menungguku? Kan sudah aku ingatkan jangan menungguku,” balas Jayden.
“Karena Aku merindukanmu,” Mikha.
.
.
Tidak update setiap hari, karena itu saya enggak bisa janjikan, karena banyak yang harus saya kerjakan. Tolong dong, kalian yang suka dan yang menuntut up, lanjut bantu dukung karya saya dalam bentuk VOTE. Votenya ke My Chosen Wife ya, Terima kasih banyak ^^
__ADS_1