Kekasihku Seorang CEO

Kekasihku Seorang CEO
J&J : BAB 14


__ADS_3

Jayden & Mikha.


"Apartemen mewah ini tidak pernah terdengar suara kegaduhan dari bawah. Aroma masakan yang hanya selalu meringkuk masuk ke dalam indera penciuman ku, ketika aku berada di rumah orang tuaku. Kenapa baunya terasa nikmat sekali? Apa aku sedang bermimpi? Mataku sangat terasa berat untuk terbuka, ingin sekali ku hampiri di mana kegaduhan hentakan alat dapur masih terdengar jelas dari indra pendengaranku."


Tringggggggggg....


Suara jam weker terdengar dari nakas di samping ranjang Jayden. Jayden dengan cepat mengerjapkan kedua matanya yang sempat susah untuk di bukakannya, jelas terbuka sempurna karena suara dering jam weker mengagetkannya.


"Tapi ini bukan mimpi, bau yang sangat wangi, hentakan suara di dapur masih terdengar. Tapi Aku tidak punya Asisten rumah tangga. Apakah ada orang lain di apartemenku?" tanya Jayden seraya melempar selimutnya ke sembarang arah.


Langsung saja Jayden menjejakkan kakinya di atas lantai dan berjalan keluar kamarnya dan menuruni anak tangga. Jayden melihat punggung Mikha dengan berkacak pinggang, sibuk dengan masakannya.


"Kenapa Kau memasak?" tanya Jayden dari posisinya.


Jayden lupa dia tinggal bersama Mikha. Mikha tersenyum dan hendak memutar tubuhnya ke arah Jayden. Seulas senyuman yang sempat Mikha berikan pudar sudah dan dengan histerisnya Mikha teriak, "Awwwwwww." teriakannya di sertai kegugupan yang sempat ingin menutup matanya mengenai wajan yang panas.


"Hah panas, panas, panas." Mikha mengadu sakit.


Jayden dengan cepat berlari ke arah Mikha.


"Apa Kau baik-baik saja?" Jayden menarik lengan Mikha dan mematikan knop kompornya.


"Agh...Aku baik-baik saja." wajah Mikha memerah dan dengan pelan Ia menepis tangan Jayden, kemudian berbalik ingin meninggalkan Jayden.


"Kemarikan lenganmu!" perintah Jayden dengan mencegah Mikha.


"Aku tidak apa-apa Jay." Mikha menahan tubuhnya agar tidak menatap wajah Jayden.


Jayden tidak mengindahkan permintaan Mikha, Ia menarik tubuh Mikha dan membuatnya berdiri sempurna di hadapan Jayden. Jayden menatap wajah Mikha dengan sangat dalam, kedua mata saling beradu pandang sebelum memudar, saat Mikha menunduk.


"Kemarikan lenganmu!" perintah Jayden lagi.


"Jay... Aku enggak apa-apa." balasnya tanpa melirik Jayden dan menahan tangannya.


"Jangan mebantah! Kemarikan, atau aku cium?" ancam Jayden.

__ADS_1


Mikha menengadahkan wajahnya menatap gugup ke Jayden. Kedua sudut bibir Jayden melingkar tipis membalas tatapan Jayden. Mau tidak mau, Mikha mengulurkan lengannya dan mengarahkannya ke Jayden.


Sebelum pandangan Jayden beralih ke lengan Mikha, Jayden sejenak menatapi wajah Mikha yang tertunduk.


"Ini sudah memerah, mari kita obati sebelum menjadi luka bakar yang meninggalkan jejak di kulitmu." Jayden menarik tangan Mikha dan membawanya ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Jayden memposisikan tubuh Mikha tepat di depan tepi ranjang yang sejajar dengan lemari tivi.


"Sebentar aku ambilkan cream." Jayden berjalan ke arah lemari di samping tivinya. Menarik satu persatu laci hingga menemukan kotak p3knya. Dia membawanya dan mendaratkan tubuhnya di depan Mikha.


"Apa sangat sakit?" Jayden mengoleskan cream untuk luka bakar yang berbuntuk tube dan meniup dengan hembusan lembut.


Wajah seriusnya Jayden sangat menenangkan jiwa dan perasaan Mikha. Bagaimana tidak, pria yang sangat di cintainya sejak mereka berkuliah, akhirnya berada di depannya. Meskipun dia tidak tau perasaan Jayden terhadap dirinya. Alngkah bahagianya buat Mikha, wanita malang yang tidak di cintai keluarganya, mendapatkan perlakuan baik dari pria yang sempat ia harapkan.


"Sudah." Jayden menutup rapat tube cream dan mengembalikannya ke kotak p3k.


"Terima kasih." Mikha hendak beranjak berdiri.


Jayden mencegahnya dan kembali menarik tangannya untuk duduk di depan Jayden. Kedua mata Mikha berkedip cepat, saat kedua mata mereka kembali saling beradu pandang.


"Agh... aku hanya kaget saja." ucap Mikha menunduk.


"Kenapa menunduk? tatap Aku!" perintah Jayden.


Mikha kembali mengangkat wajahnya untuk menatap Jayden.


"Kenapa Kau menjerit?" Jayden kembali mengulang pertanyaannya.


"Aku kaget Jay, Kau datang dari belakang tanpa mengenakan pakaianmu." Mikha kembali menunduk.


Jayden menyentuh dagu Mikha dengan menariknya perlahan, keduanya beradu pandang dengan kedua pipi Mikha yang memerah.


"Tunggulah sebentar lagi, setelah semuanya usai. Aku akan memberitaukannya kepadamu." gumam Jayden dengan lembut.


Wajahnya memperlihatkan kebingungan atas ucapan Jayden barusan, membuat Jayden tertawa kecil dan menarik kedua pipi Mikha yang sedang bingung.

__ADS_1


"Kau sangat menggemaskan." kata Jayden.


"Lepaskan Aku!" ucap Mikha yang jantungnya seperti di penuhi genderang perang dan seakan ingin melompat keluar karena Jayden memperlakukannya dengan sangat tidak biasanya.


"Mandilah, Aku akan mempersiapkan sarapan kita." belum mendapatkan jawaban Jayden, Mikha bergegas berjalan meninggalkan kamar Jayden.


"Dia sunggung mempesona." masih terlihat garis sudut bibirnya yang melengkung dengan berlalu ke kamar mandi.


Seusai bersiap, Jayden menuruni anak tangga dan berjalan menuju meja makan, tampak Mikha sedang asik menata masakannya. Jayden menarik salah satu kursi meja makan dan meletakkan jas kerjanya, tangan kanannya menarik kursi sebelah dan mendaratkan tubuhnya sambil melirik ke Mikha.


"Lain kali jangan menyibukkan dirimu, Aku akan memanggil asisten rumah tangga ke sini." kata Jayden dengan mengambil roti yang sudah di panggang Mikha.


"Tidak usah, anggap saja Aku di gaji dengan tinggal di sini." ujar Mikha kemudian duduk di depan Jayden.


"Tidak! Aku tidak mau, kenapa kau yang memerintah Aku." balas Jayden dengan kedua manik mata menatap ke Mikha.


"Jayden." panggil Mikha menghentikan akivitasnya menyendokan nasi ke piring.


"Yah... ada apa?" tanya Jayden.


"Izinkan aku tetap melayanimu seperti ini. Aku tidak ingin di kasihani Jay." Mikha menatap manik hitam kedua mata Jayden.


Jayden tersenyum, "Aku tidak kasihan denganmu, Aku sangat menyayangimu." ujar Jayden lalu kembali mengunyah makanannya.


Mikha terkesiap, ungkapan Jayden itu membuatnya menjadi gugup. Bukan tanpa alasan, tapi pernyataan Jayden itu membuatnya sedikit tenang, walaupun Mikha tidak tau yang di katakan Jayden benar atau sekedar bergurau.


"Ini, makanlah. Jangan memanggil siapapun ke sini. Aku kan bukan Istri kamu, Jay. Nanti apa anggapan orang-orang terhadap diriku" balas Mikha meletakkan piring yang sudah terisi.


"Kita akan menikah, jika orang beranggapan kau bukan Istiriku, bereskan? Sudah, jangan memikirkan orang lain, apalagi perkataan buruk orang lain terhadap dirimu. Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita, tetapi setidaknya dirimu memiliki daya tarik tersendiri agar orang menyukaimu, seperti aku yang menyukai dirimu. Apapun masa lalumu, bagaimana kehidupanmu sebelumnya, Aku tidak akan peduli. Tunggu semuanya selesai," Jayden mengulang pernyataannya.


"Jay..." katanya gugup.


"Makanlah... Aku sebentar lagi akan berangkat bekerja dan setelahnya aku akan menjemputmu, bersiaplah saat aku nanti menghubungimu, karena aku akan bertemu dengan orang yang akan di jodohkan denganku. Aku mau, Kau temani aku."


"Jay... Kau gila? Kau di jodohkan , terus kenapa Kau membawaku?"

__ADS_1


"Karena Aku mencintamu!"


__ADS_2