Kekasihku Seorang CEO

Kekasihku Seorang CEO
Keluarga Wijaya


__ADS_3

Kediaman Wijaya.


Joseph yang setibanya di rumah langsung saja di sapa dengan April yang memang menunggunya pulang.


" Hallo sayang." kata April menyapa dari halaman rumah.


" Terima Kasih sayang." balas Joseph memeluk dan memberikan kecupan di kening April lalu merangkul bahunya mengajak untuk masuk.


" Kenapa kamu di luar?"


" Hanya merasa sepi." Jawab April sekenahnya sambil membawa Jas dan Tas Joseph.


" Kenapa sepi banyak pekerja di rumah kita. Apa anak - anak belum pulang?"


April pun mengangguk senyum " Si kembar mungkin lagi asik sama teman baru mereka. Ternyata rasanya begitu ya kalau anak - anak kembali melanjutkan study sedangkan suami bekerja. Hanya ada aku yang bersama dengan pekerja di rumah kita menunggu kalian pulang."


Joseph tersenyum dan menyentuh kepalanya.


" Jangan bersedih. . . aku akan menemani kamu di rumah tidak lama lagi perusahaan aku bakal berjalan sendiri . Seperti punya kamu , biar uang yang bekerja untuk kita. Sampai Jayden bisa mengisi posisiku." kata Joseph saat mereka berdua tiba di kamar.


" Apa yang barusan kamu katakan itu sungguh - sungguh?"


Joseph kembali tersenyum dan menarik tangan April lalu memangkunya duduk di atas pahaknya.


" Kapan aku tidak serius dengan janji aku ke kamu?" kata Joseph menatap penuh kasih ke April.


" Apa aku terlalu memaksa?" Tanya April masih meragukan diri sendiri.


Joseph semakin mengeratkan pelukannya.


" Kamu tahu? Mungkin ini namanya ikatan batin antara suami dan Istri. Sebelum kamu berkata seperti itu ke suami kamu ini , dalam diam di saat aku di ruangan ku aku juga memikirkan hal yang sama. Sudah waktunya aku untuk beristirahat. Menimati masa bersama kamu dan anak - anak yang juga bakalan sibuk dengan teman - temannya. Dan hanya tinggal aku dan kamu." Kata Joseph dengan seksama membuat pikiran April seketika itu mencair.


" Aku bersyukur kamu sepemikir denganku."


" Ada baiknya kita tetap menjaga hubungan kita yang sudah baik seperti ini . Terus kita bersama membayangkan menimang cucu dari kedua anak kita. Apa kita sudah semakin tua?" Tanya Joseph menatap April.


April tersenyum. " Benar juga , suatu hal yang indah untuk kita bayangkan. Walupun kamu dan aku sudah menua bagiku kamu tetap pria tertampan dalam hidupku. Biarkan aku merawat mu sampai akhir usiaku."


" Ssstt . . . aku masih ingin berumur panjang untuk bisa menikmati masa tua ku bersama kamu." Balas Joseph dengan mesra.


" Daddy . . . Mami. . . ayo ya ketahuan lagi mesra - mesraan." kata Jayda tiba - tiba nongol di depan pintu kamar mendekat ke ranjang.


Keduanya tidak canggung karena mereka terbiasa menampakkan keharmonisan mereka di depan si kembar.


" Kamu mengintip ya?" Kata Joseph meledek.


" Sini sama mami." kata April menarik Jayda.


" Selamat sore mom , Dad." kata Jayda dengan memberikan kecupan pada keduanya sebelum duduk.

__ADS_1


" Apa Daddy kuat memangku Jayda?" Tanya Jayda dengan senyum senang.


" Waktu kecil kamu masih sanggup Daddy pangku dan gendong kamu. Tapi kini kamu sudah dewasa bukankah itu sangat berat?"


" Iss Daddy. . . Jayda kan kurusnya kek Mami harusnya sih bisa."


" Sudah jangan memaksa. . . harusnya kamu mencari Pria yang akan memangku kamu kelak." kata April.


" Mami. . . malas agh masih ingin Kuliah baik - baik."


Joseph tersenyum. " Sini biar Daddy pangku." kata Joseph ke Jayda.


" Mami cemburu nanti pa."


" yee. . kamu itu ngomongnya kok seperti itu. apa ada seorang Ibu yang papanya sayang sama putrinya di cemburui?" balas April.


" Heheheh engga sih mi."


" ya sudah mami siapkan makan malam dulu bareng Bi Siti. Oya mana adik kamu?"


" Engga Tahu mi." Jawab Jayda.


" Terkadang mami suka aneh ya sama kalian dua. Kakak beradik tapi kek Tikus sama kucing." kata April sambil berlalu ke arah lemari pakaian Joseph. Mengambil pakaian gantinya.


" Sini Daddy pangku." kata Joseph lagi menarik tangan putri tercintanya.


" Gimana Dad? apa Jayda terasa berat?"


" hemmmm tidak juga , Daddy kamu ini amat kuat hanya memangku gadis seperti kamu."


" Daddy sok oke. . . ya kan mi?"


Joseph menatap lirih ke putri semata wayangnya.


" Anak Daddy cantik banget. Mirip sama mami kamu yang juga cantik. Gimana kalau Jayda sudah punya pacar ya mi? pasti Daddy di lupakan." ucap Joseph dengan lembut.


"Daddy jangan ngomong gitu agh . . . Jayda kan sedih. Sampai kapan pun Daddy yang pria yang palingggg Jayda cintai." katanya sudah duduk di samping Joseph dan merangkul pinggang Joseph.


" Benarkah? Wah Daddy jadi merasa sedikit tenang." Jawab Joseph membalas pelukan sang Putri.


April di sana tersenyum kemudian berlalu menyiapkan air hangat untuk Joseph mandi.


" Karena Daddy cinta pertama untuk Jayda. Jadi Daddy harus tetap sehat dan kuat sampai melihat Jayda berumah tangga dan tentunya bisa sukses."


" Pasti. . . doa papa sama mami juga ingin melihat kamu dan adik kamu memiliki rumah tangga yang seperti mami dan daddy."


" Doakan Jayda ya Dad?"


" Iya Sayang. Ya sudah kembali ke kamar kamu nanti kita cerita bagaimana hari pertama kamu ngampus."

__ADS_1


" Sidap Daddy." kata Jayda beranjak keluar menuju kamarnya.


" Sayang. . . Jayden kok belum kembali ya?"


" Jangan khawatir dia anak cowok sayang. Sudah seharusnya dia berteman dengan teman - temannya. Aku mandi dulu Terima Kasih sudah melayaniku sayang." kata Joseph kemudian mengecup bibir April.


" Sudah tugasku melayani kamu sebagai suamiku. Sana buruan mandi sebelum airnya dingin."


Joseph membelai rambut April yang masih terlihat cantik.


***


Makan malam hampir tiba Jaydan tiba - tiba datang.


" Selamat malam Dad , Mom." Sapa Jayden saat ketiganya sudah di ruang tamu dan memberikan salim pada Daddy dan maminya.


" Lo kuliah apa nguli sih? jam segini baru balik?"


" Kuliah dong lo sewot amat sih Kak."


" Jangan bertengkar ayo buruan kamu bersih - bersih. Kita makan malam." kata April sedangkan Joseph dia hanya biasa saja.


" Mandi yang bersih Lo jangan mandi bebek."


" Berisik Lo." kata Jayda berlalu ke atas.


" Jayda kok suka usil sih sama adik kamu?"


" hehheh. . . Habisnya gemesin mam."


" Mereka berdua saat jauh mungkin sayang baru bisa rindu." balas Joseph tiba - tiba.


" jangan Dad kalau kami berpisah yang ada merasa sepi Dad gak ada yang bisa Jayda usilin. Habisnya sih Jayden kalau di usili langsung marah - marah kan gemasin banget.


" Maam . . . Dad ayo makan." Ajak Jayden tiba - tiba berdiri di ruang tamu.


Ketiganya saling melempar pandangan.


" Kamu gak mandi Jay?" tanya maminya.


" Hehehe... Belom mi. Jayden gak mau kalian semua kelaparan karena menunggu Jayden. "


" Tidak masalah lain kali jangan seperti itu. Kalau kamu pulang lama kabari mama kamu juga karena mami kahwatir sam kamu." Joseph yang ngomong dengan wajah santainya.


" Iya Dad."


" Ayo kalau begitu kita ke meja makan."


Keempatnya duduk di masing - masing kursi mereka. Doa bersama lalu menikmati makan malam mereka dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


__ADS_2