
Menyedihkan bagi April. Menyenangkan bagi Selena.
Berjalan menuju tangga darurat dengan memakai sepatu Heelsnya sungguh sangat repot. Tak kuasa menahan sakit, Tangisnya pun pecah. Duduk di anak tangga dengan kepala bersenderkan dinding April melampiaskan Tangisannya, kekesalannya pada Joseph.
Tidak disangka sangka Pria itu malah membelah mantannya.
Harusnya aku juga tahu diri.. aku ini siapa? aku bukan siapa siapa baginya. Dan wanita itu, pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Pasti dia lebih percaya padanya.
***
Rendy yang melihat pertengkaran itupun mengahampiri Joseph dan Selena yang masi mematung melihat bayangan April yang sudah lalu.
" Apa kau tidak keterlaluan padanya?" Bentak Rendy.
" Siapa kau ikut campur." ucap Selena ketus.
Joseph pun hanya terdiam teringat April yang pergi dengan sedih.
" Kau pria bodoh! tidak tau mana yang munafik dan mana yang jujur. April berhak menamparnya karena dia duluan yang mencari masalah dengan April." berupaya menjelaskan.
" Aku melihat dari kejauhan wanita ini duluan yang menampar dan mencacinya. Wajar April membela dirinya. Berketepatan April membalasnya dan kau pun datang."
" aku tidak ingin mendengarkanmu." ucap Joseph dan melangkah mundur menuju lift.
" Apa kau Tidak tau betapa menyakitkan bagi April? Dia tidak pernah ditampar siapapun. Baru wanita busuk ini yang berani menamparnya" Teriak Rendy dengan kesal, yang membuat langkah Joseph terhenti. Tapi tak menjawab dan kembali melangkah cepat berjalan menuju pintu Lifrt.
Dengan harap cemas dia keluar dari Lift berjalan menuju ruangan CCTV berada.
Pegawai yang bertugas pun semua berdiri kedatangan sang Direktur.
" Selamat malam Pak Direktur. ada yang bisa kami bantu?" ucap salah satu staffnya, mereka bingung tak pernah dia memijakkan kakinya keruangan itu
" Agh iya .. tolong saya, bukakan rekaman cctv barusan dilantai 9 kearah Toilet. Terus kearah tangga darurat." ucapnya buru buru.
" baik pak."
Terlihat jelas rekaman yang nampil sesuai ucapan Rendy. tidak kurang dan tidak lebih. Semuanya hanya bualan Selena semata.
Sialan... kenapa aku ini?
Memaki dirinya sendiri. Dan melirik ke layar menampilkan rekaman kearah tangga darurat, Dilihatnya April yang menangis dengan sangat sedih.
Kau bodoh Jos.. sangat Bodoh. kau membuatnya menangis. kenapa juga kau mempercayai Selena wanita rubah itu, sama saja kau dengan pria yang membuatnya menangis kemarin itu.
Dipegangnya kepalanya seakan tak mampu melihat kepedihan yang dirasakan April.
" Coba soroti wanita itu.. dimana dia sekarang." ucapnya hawatir.
__ADS_1
Layar itu menampilkan April yang sudah berjalan dengan lemas memegang kedua sepatunya dan juga tasnya berjalan perlahan menurunin anak tangga yang sudah berada dilantai 2 menuju Loby yang sudah ditunggu Pak Sony.
Joseph pun refleks berlari menuju lift dengan tergesa gesa ingin mengejar April.
April yang sudah tiba di Lantai Loby masi ditangga darurat dia memakai kembali sepatunya. Berjalan lemas karena lelah, bayangkan saja dari lantai 9 ke lantai 1. Perlahan dia keluar dari pintu yang tak jauh dari Lift Menuju Pintu keluar Hotel.
Joseph yang baru keluar dari lift melihatnya berjalan mengejarnya, menarik lengannya dan memeluknya.
" Maafkan aku." ucapnya tegas. " Maafkan aku Pril." ucapnya tulus. Belahan yang terbuka dari gaunnya tersentuh tangannya, terasa dingin dirasanya kulit April.
April yang menyadari siapa yang memeluknya, menolak Joseph agar melapaskan pelukannya.
" Lepaskan aku!" ucapnya dan berjalan tanpa memandang Joseph.
" April.. aku mohon, aku salah." mengejarnya menarik lengannya kembali memohon pengampunan.
April pun terhenti menatap kearahnya " Apa kau tidak puas menyakitiku?" Tanyanya dengan lembut.
" Maaf.. aku tidak bermaksud seperti itu." ucapnya memohon menatap mata April yang memerah.
" Cih.. aku bukan siapa siapamu.. Tentu kau lebih mempercayainya, orang yang pernah kau cintai. Jadi sudahlah... jangan mengganggu hidupku lagi. Aku tidak ingin berurusan denganmu. Aku sangat capek." ucapnya dan air matanya pun tak terasa menetes lagi.
Berbalik badan berjalan lagi, Joseph yang mendengarnya pun tak kuasa menahan rasa yang dari kemarin dipendamnya.
" Aku menyukaimu." ucap Joseph lantang dan mengehentikan langkahnya.
April sesaat menikmati ciuman itu dengan air mata yang masi mengalir.
Ditolaknya Joseph dan menamparnya Plakkkkkkkkkkkkk!!!
" Berani beraninya kau..." ucapnya meninggi. " Jaga sikapmu, Jangan sesuka hatimu kepadaku." ucapnya geram. April pun lari menuju Mobil yang sudah sedari tadi menunggunya diluar. Masuk ke Mobil dan meninggalkan area gedung Hotel.
Joseph pun tertunduk menyesal. Semua mata Staff Hotel yang masi bekerja dimalam itu pun memandang kaget ke arah Direktur itu. Berbisik bisik dan bertanya-tanya.
" Kali ini aku keterlaluan. Tapi mulai sekarang aku tak ingin melepaskan dia begitu saja." ucap Joseph dan berjalan menuju keMobilnya.
April pun menutup wajahnya dan menangis. Pak Sony hanya bungkam melihat Atasannya, karena dari kejauhaan Pak Sony tahu apa yang terjadi dengan April, mau bertanya tapi ragu. Biarlah dia mempunyai ruang sebentar. Batin pak Sony.
Kenapa aku menamparnya? Tapi dia memang pantas mendapatkan itu. keterlaluan dia.
***
DiApartemen April yang sudah bersiap ingin istirahat menjadi terhalang. Besok pagi pagi dia harus sudah di Bandara untuk keberangkatannya ke Amerika.
" Sial benar sih.. mana besok harus terbang Mata udah bengkak begini karena ulah pria angkuh itu, sesukanya saja padaku, kemarin menciumku, sekrang menyakitiku, bilang suka padaku. Dasar Brengsek Pria brengsek aneh " ucapnya marah.
Bersiap untuk tidur... melupakan hari yang panjang itu.
__ADS_1
***
Sesampainya di Bandara Jakarta Pukul 05:00 Pagi, Joseph menunggu di salah satu cafe sementara waktu ,untuk menunggu panggilan penerbangannya. Tanpa ada yang menemani, sekertaris atau pun Asisten Pribadinya juga tak digandengnya untuk ikut serta. Mengunyah Roti dan menikmati Kopi Walaupun masi terkantuk kantuk karena tidak bisa tidur mengingat kejadian malam itu.
April yang juga berada diBandara hanya terduduk dengan mata terpejam, memakai kaca mata hitam, Dengan pakaian santainya dia terduduk dan tidak ingin beranjak kemanapun, seengaknya bisa tertidur sebentar menunggu keberangkatan 1 jam lagi. Kopernya yang menjadi tumpuhan kakikanya mengganjal lelahnya betis yang menuruni anak tangga semalam.
1 jam kemudian
Departure Announcemen
Perhatian, para penumpang pesawat XX Indonesia dengan nomor penerbangan GA00 tujuan dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12.
Bergegegas April tersadar dan langsung menuju pesawat. Joseph pun yang sudah duduk sedari tadi dibelakang April yang tidak menyadarinya juga ikut berdiri berjalan menuju kabin Pesawat. memasuki ruangan Kelas bisnis tempat duduk dua baris berdampingan, dengan fasilitas lengkap dan nyaman itu dilihatnya nomor kursinya.
April menemukan kursinya yang berdekatan dengan Jendela. Disimpannya Kopernya lalu segera untuk duduk. Dia pun tak tahu siapa yang menjadi teman duduknya itu, karena kelas bisnis itu biasanya sepi palingan cma beberapa orang.
Bersantai sejenak membaca majalah bisnis yang tersedia, tak lama seorang Pria yang menduduki kursi tepat disebelahnya pun datang. Tak menghiraukannya hanya menatap pada Majalah itu. Si Pria itu juga tak memandang kearahnya. Hanya mencoba merebahkan tubuhnya agar bisa tertidur.
Merekapun kemudian Terbang. Selama dalam penerbangan Joseph yang sedari awal tertidur pun mendengkur, tak tampak wajahnya dari kursi mewah kelas bisnis itu.
" Ribut sekali sih, gimana aku bisa tidur?" ucap April pelan.
Tetap diusahakannya matanya untuk terpejam karena kurang tidur dan efek menangis matanya sedikit sembab dan bengkak tetap tidak bisa.
" Aghh.. ribut banget sih." ucapnya sedih. " Aku kan juga ngantuk" dengan nada manja.
" Baikla Pakai headsetmu Pril." katanya sendiri.
Tiga puluh menit kemudian, April pun akhirnya tertidur. Tak lama Joseph yang terbangun.
Meregangkan jari jemarinya, mengangakat tangannya keatas. " Aghh.. sungguh lelah." Kemudian April yang tertidur dengan kepala tersender dinding tempat duduk Joseph pun membuat Joseph penasaran saat menoleh kearah kursinya.
" Kenapa wanita ini tidur seperti itu, pasti kalau terbangun Lehernya akan sakit."
Berniat membantu membenarkan gaya tidurny menjadi posisi normal orang tidur, tapi sangat ragu. wajah April tertutup karena posisinya keningnya menempel di dinding kursi Jospeph.
nt**ar dia kebangun gimana? Tapi kasihan. posisi seperti itu tidak baik. Kalau dia encesan kan juga berbeh ni . iiiiiihhh...
Saat pramugari melintasi Bagian mereka, Joseph memanggilnya untuk meminta bantuan.
" Mbak..." ucap joseph
" Ada yang bisa saya bantun tuan?."
" Penumpang yang disebelah saya, bisakah kamu membantunya membenarkan posisi tidurnya. Karena saya tidak mengenalnya saya sungkan untuk melakukannya. Nah kalau saja ni dia ngences, kan saya Jadi merasaaaaaa... Ya mbak tahula." ucapnya ramah.
" Baik Tuan akan saya bantu." ucap si pramugari..
__ADS_1
Bersambung...