Kekasihku Seorang CEO

Kekasihku Seorang CEO
J&J : BAB19


__ADS_3

JANGAN LUPA VOTENYA KE MY CHOSEN WIFE YA. 🤗. Terima kasih.


Jayda berjalan sangat pelan, dia seakan berjinjit agar tidak menimbulkan  suara yang bisa membuat Felicia terbangun. Dengan langkahan pasti, dia tiba di pinggiran ranjang Felicia. Berjongkok dan menatap wajah Felicia yang sedang terlelap di dalam tidurnya.


"Pantesan saja, saat pertama kali gue lihat ini anak, sangat memiliki daya tarik tersendiri untuk diri gue. Ternyata, dia anak dari Lani. Sungguh tidak bisa dapat gue percaya."


Tangan Jayda mulai membelai lembut kepala Felicia, dia menatapi dalam-dalam. Betapa beruntungnya Jayda bisa di pertemukan dengan Felicia yang membawanya kembali bertemu dengan cinta pertama yang sempat mengisi jiwanya.


"Selamat malam Sayang." Jayda mengecup kening Felicia.


Jayda merapikan selimut yang setengah menutup tubuh Felicia dengan benar. Lalu ia memilih untuk tidur di samping Felicia.


***


Pagi menyapa, tetapi pagi ini berbeda. Berbeda untuk Dika. Karena ada Jayda dan Felicia yang keluar dari rumah sakit. Dika yang bersemangat, pagi-pagi sekali membawa tubunya untuk berlari pagi. Sedangkan Jayda yang baru mengerjap, menjejakkan kakinya di atas lantai dan berjalan menuju balkon kamar Felicia.


Jayda menarik handle pintu dengan sangat pelan, berjalan menuju pinggiran pembatas balkon dan menikmati udara yang sangattt sejuk.


Jayda menatapi keindahan sekitaran rumah Dika. Benar-benar sangat asri. Rumah itu di kelilingi dengan pepohonan hijau yang menambah kesegaran pemandangan mata untuk menyapa pagi.


"Gilaaaaa... benar-benar berkuasa juga ini orang!" ujar Jayda sambil memejamkan kedua matanya sambil mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan otot-otot dan sendinya. Dia menarik dalam-dalam udara pagi yang segar. Menikmati bau pagi yang bersatu dengan udara.


Cicitan burung-burung, menambah indahnya pemandangan pagi itu. Suaranya yang merdu, serta hembusan angin menyapu kulit.


"Sangat segerrrrrr." Jayda berucap dan membuka kedua matanya.


Kini pandangannya berbeda, dia terkaget melihat Dika yang habis pulang dari berlari pagi, dengan handuk kecil di selipkan di bagian lehernya, sambil menatap Jayda dan tersenyum gak jelas. Lantas, Jayda malu dong. Lagi enak-enaknya bereksperimen di dalam halusinasinya, saat sadar pakai di tatap segala sama abang tampan.


Melihat senyuman manja dari Dika, Jayda refleks berbalik badan. Kemudian dengan cepat melangkahkan kakinya, menuju pintu kamar.


"Giila ini namanya gila!!!! bisa-bisa gue kedapatan menikmati pagi gue di rumahnya. Harusnya gue tuh ya, cepat-cepat cari Dika dan meminta balik kunci mobil gue. Bukan enak-enakan begini, gimana sih lo Jayda."


Jayda memukul kepalanya, dia bingung sendiri apa yang hendak dia lakukan. Mana dia grogi gitu, jumpa sama Dika. Kan sudah tau jalan ceritanya, harusnya masih bisa memberikan kesempatan lagi untuk Dika.


Tapi pun, Jayda masih bingung, bingung sebingung-bingungnya.


"Tante Dokter." panggil Felicia menghentikan Jayda yang sedari tadi maju mundur.


"Sayang... sudah bangun?" Jayda mendekati Felicia.


"Iya Tante Dokter. Tante Dokter bobok di sini ya?"


"Iya sama kamu Sayang. Seperti kita masih di rumah sakit." balas Jayda dengan senyumnya.


Felicia refleks memeluk tubuh Jayda. Dia sangatlah senang, ada Jayda di sisinya.


"Andaikan Felicia memiliki Mama seperti Tante Dokter." gumam Felicia dengan penuh harap.


"Sayang... kok gitu ngomongnya?"


"Hanya harapan saja Tante Dokter." balas Felicia dan melepas pelukannya.


"Feliciia sangat kepengen punya Mama, Tante." balas Felicia.


Jayda menyentuh puncak kepalanya.


"Suatu saat nanti, Jayda pasti di berikan seorang Mama yang sangattt baik. Yang bisa Sayang Felicia dengan sepenuh hati. Kamu harus sabar menunggu sayang."

__ADS_1


Ceklekkkk...


Terdengar suara pintu terbuka. Dika yang sudah rapi dan tampan melangkah masuk. Jayda dan Felicia menoleh ke arahnya.


"Selamat pagi Felic dan Jayda." sapa Dika.


"Selamat pagi Daddy." balas Felicia dengan senyuman.


"Pagi Dik, berikan kunci mobil gue. Soalnya gue hari ini ada pertemuan." ucap Jayda ke intinya.


"Kenapa gak sarapan dulu. Sarapan dulu baru balik. Ayo Felicia mandi dulu Nak. Nanti Daddy tunggu di sini."


"Baiklah Dad."


Felicia beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi.


"Dia bisa mandi sendiri?" tanya Jayda.


Dika tersenyum.


"Bisa. Felicia anak yang mandiri Jay."


"Ouuu... kalau begitu berikan kunci mobilku." tangan Jayda terulur ke Dika yang masih berdiri di depannya.


"Sarapan dulu. Aku tunggu kalian di bawah." Dika kembali tersenyum dan berjalan meninggalkan Jayda.


"Dika."


Hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh, dan segera meninggalkan Jayda.


***


"Aku akan mengantarkanmu." kata Dika sambil berjalan menuju anak tangga.


"Dik! biar aku sendiri. Bagaimana dengan Felic kalau kamu pergi?"


"Ada asisten rumah tangga yang menemani Felic, Jay. Jangan membantah! Biarkan Aku mengantarkanmu."


Jayda menghela nafasnya, rasanya tidak percaya dengan sfiat Dika yang seagresif sekarang.


"Aku rasa dia benar-benar serius sama omongannya." gumam Jayda.


Jayda kembali menemani Felicia di ruangan santai sambil menunggu Dika turun. Felicia yang di temani Mba Asri bermain membuat Jayda sedikit tenang.


"Mba, tidak usah khawatir. Felicia aman kok bersama saya." ucap Mba Asri menenangkan Jayda yang terdiam memperhatikan Felicia.


"Iya Tante Dokter, Felicia sering kok di bantu sama Bu Asri." Felicia berkata sambil senyum.


"Baiklah kalau begitu, Tante bisa tenang dong." Jayda mengelus rambut Felicia.


Felicia dan Mba Asri bersamaan tersenyum. Tak lama kemudian Dika datang dari arah belakang Jayda.


"Ayo kita berangkat." ajak Dika.


"Ehmm." balas Jayda sambil bangkit dari duduknya.


"Felicia, tunggui Daddy ya. Daddy antar Tante Dokter dulu. Main sama Bu Asri ya Nak." Dika tersenyum ke arah Felicia.

__ADS_1


"Baiklah Dad. Bye... Tante Dokter. Lain kali main ke sini lagi ya?" Felicia melambaikan tangannya ke Jayda.


Jayda kembali mendekati Felicia dan mengecup keningnya.


"Iya Sayang. Tante pulang ya." balas Jayda.


***


Dika mengendarai mobil Jayda dengan perasaan bahagia. Kini, Jayda duduk di sampingnya. Hanya berdiam menatapi jalanan di depannnya. Padahal, Jayda sangat grogi, bisa berduaan dengan Dika.


Dika sesekali memperhatikan wajah Jayda dari kaca di depan Jayda. Wajahnya sangat manis, meskipun tidak ada polesan make-up di wajah Jayda. Itu kesukaan Dika.


"Kenapa diam aja sih? Kamu masih marah ya sama Aku?"


Jayda kaget, Dika membuka suaranya. Refleks Jayda menoleh ke Dika.


"Enggak.. Aku hanya tidak tau apa yang harus kita bicarakan Dik."


"Ehmm... bicarakan tentang hubungan kita."


Jayda mengernyit.


"Kenapa dengan hubungan kita?"


"Ya memperbaiki hubungan kita yang pernah ada Jay." balas Dika sekilas melirik ke Jayda.


"Ya terus, kamu maunya apa?"


"Aku maunya, menikalah denganku." ucap Dika dengan penuh penekanan.


"Dik."


"Jay... Aku serius. Mari kita menikah, Aku tidak mau kehilangan dirimu lagi."


"Kamu yakin?"


"Kenapa tidak yakin? Yang Aku yakin sekarang, Kamu masih sama seperti dulu Jayda. Kamu masih memiliki cinta untuk diriku. Jadi, Aku mau kita sama-sama memperjuangkan cinta kita." balas Dika.


"Apa harus aku jawab sekarang?"


"Iyaaa... kapan-kapan boleh."


"Baiklah."


"Sekarang! Aku maunya sekarang Jay, agar Aku bisa melepas yang tidak seharusnya berada di sampingku selama ini."


"Maksud kamu?" tanya Jayda bingung.


"Maksud Aku, jika Kau memberikan jawaban ke Aku Aku bisa mengurungkan niatan Mamaku buat jodohin Aku. Karena Aku sudah tua, menanti cinta dari kamu. Jadinya, Mama memintaku untuk menikah dengan menjodohi Aku, Jay."


Jayda tersenyum.


"Trus, kamu mau gitu?"


"Ya gak mau dong! kan sudah Aku katakan, Aku tetap menunggu keajaiban dari sang semesta, untuk bisa bertemu dengan kamu. Dan ini adalah jawaban doa-doaku Jay. Jadi, Aku tidak akan bisa melewati masa-masa kebahagiaan dalam diri Aku. Aku mau menikah, hanya dengan kamu."


Jayda berdiam, dia hanya menatap Dika yang masih fokus menyetir dan menatap jalan.

__ADS_1


"Kenapa diam? Berikan aku kepastian Jay. Mari kita mulai hubungan kita dalam ikatan berumah tangga. Aku tidak mau membuang waktu untuk berpacaran. Aku mau kita menikah. Apakah Kau mau?" kini Ia membalas tatapan Jayda sekilas.


"Akuuu?"


__ADS_2