KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
ANCAMAN MAWAR


__ADS_3

Setelah lelah berjalan-jalan di taman, aku memutuskan untuk kembali ke rumah, meski aku muak berada di satu rumah yang sama dengan Mawar, aku juga sedang tidak fokus untuk bekerja, lalu aku meminta pegawai ku untuk menghandel semua pekerjaan ku, dan aku segera masuk ke dalam kamarku untuk membereskan semua barang-barangku.


"Kau mau kemana sayang, apa yang kau lakukan dengan mengemasi barang-barangku ini".


"Aku jijik mas tinggal di kamar tempatmu memadu kasih dengan Mawar, lebih baik aku pindah kamar saja".


"Tetaplah disini sayang, ini adalah kamar utama yang paling besar di rumah ini, biar saja aku ganti semua perabot di kamar ini, jika kau mau aku akan membersihkan tempat ini dan mengecet ulang, supaya kau tidak mengingat hal itu lagi".


Benar juga yang dikatakan mas Rafael, kamar ini adalah kamar utama di rumah ini, jika aku pergi dari sini, Mawar akan merasa menang dan menguasai semuanya, batinku dengan mendengus kesal.


"Baiklah kalau begitu, cepat mulai pekerjaan itu hari ini juga, untuk sementara aku akan pergi berlibur ke Bali, aku ingin menghibur diri untuk memenangkan pikiranku".


"Aku akan cuti untuk menemani mu sayang, aku tidak ingin kau pergi seorang diri tanpaku, apa yang bisa aku lakukan tanpamu disini", pinta mas Rafael memohon padaku.

__ADS_1


Ku lirik bayangan yang berdiri di depan pintu kamarku, ternyata Mawar sedang menguping pembicaraan ku dengan mas Rafael, aku pun terkekeh dengan tingkah laku Mawar yang sudah mirip seperti istri muda yang ingin mengetahui gerak-gerik pesaingnya, saat itu juga aku mengiyakan permintaan mas Rafael untuk berlibur bersamaku, aku sengaja melakukannya supaya Mawar kesal mendengar nya, setelah menguping bayangan Mawar pun berlalu pergi, ku lihat dia sudah memakai baju kerjanya, tapi dia seakan enggan untuk beranjak dari rumah, dia tengah mengadu pada ayah supaya ayah meminta ku membatalkan liburanku, atau tidak Mawar harus ikut bersama kami, ku dengar pembicaraan mereka dari balik pintu kamar ayahku, kesal sekali rasanya ketika Mawar selalu memanfaatkan kasih sayang kedua orang tua kami, untuk membuat nya mendapatkan segalanya.


"Maafkan ayah Mawar, mulai semalam ayah sudah tidak mau ikut campur dengan kehidupan kalian, ayah tidak ingin menyakiti salah satu dari kalian lagi, kau sudah dewasa nak, belajarlah lebih bijak, kau dan kakakmu sama-sama istri Rafael, jika mereka ingin pergi tanpamu, kau harus menerima nya, mungkin kakakmu perlu waktu untuk menerimamu biarkan saja mereka pergi makan", ucap ayahku menasehati nya.


Lega rasanya mendengar ayahku mengatakan itu, tapi tak ku sangka respon Mawar sungguh diluar dugaan, Mawar memamki ayahku dan mengatakan tidak akan lagi mengurusi nya, aku yang tidak terima jika ayahku dibentak olehnya, segera ku hampiri mereka, dan ku tampar Mawar didepan ayah, meski ayahku telah mendukung Mawar, tetap saja aku tidak tega jika ayah diperlakukan seperti itu.


"Kau bukan hanya saudara yang tidak tau diri tapi kau juga anak yang kurang ajar, berani sekali kau membentak ayah seperti itu", seruku dengan emosi yang memuncak.


Terlihat Mawar membulatkan matanya, menatapku dengan penuh kebencian, dia membentak ku dan menunjuk-nunjuk wajahku, dengan mengucapkan kata-kata kasarnya, dia mengancamku seakan aku ini benar-benar musuh terbesarnya.


Lalu mas Rafael datang dan membentak Mawar dihadapanku, mas Rafael meminta Mawar untuk meminta maaf padaku dan juga ayah, karena tingkah lakunya benar-benar sudah keterlaluan, tapi Mawar malah merajuk dan memintanya untuk tidak pergi bersamaku.


"Aku akan meminta maaf jika mas Rafael tidak pergi bersama kak Melati, jika ingin tetap pergi setidaknya kau harus mengajakku mas, kenapa hanya istri tua saja yang kau bahagiakan, istri mudamu ini juga ingin bahagia bersamamu mas".

__ADS_1


Akupun tersenyum kecut, entah sejak kapan watak Mawar selicik ini, meski aku saudara kembarnya, tak pernah terbayang olehku, jika dia akan mengancamku hari ini, ku palingkan wajahku seraya berkata jika aku tidak sudi berlibur dengannya.


"Aku tidak pernah mengajak mu mas, kau sendiri yang memaksa ikut bersamaku, jika akhirnya seperti ini, kau pilih saja mau pergi bersamaku atau tetap berada di rumah dengan pelakor itu", ucapku menatapnya dingin.


Puas rasanya hatiku menjahili Mawar dengan ancaman ku, dia sudah mengancamku dengan kata-kata kasarnya, dan aku langsung membalasnya didepan mas Rafael, nampak mas Rafael melangkahkan kakinya ke taman di ikuti oleh Mawar dibelakangnya, aku dengar Mawry terus merajuk dan tidak ingin berangkat kerja jika mas Rafael tetap ingin pergi bersamaku, Mawar mengatakan jika mereka adalah pengantin baru, sudah sepantasnya merekalah yang berlibur bersama, Mawar mendekatkan tubuhnya menempel pada dada bidang mas Rafael, dia sengaja menggoda mas Rafael begitu tau aku ada di dekat sana, segera ku palingkan wajah dan berjalan pergi dari sana, jijik sekali rasanya melihat tingkah kembaranku itu, dia terlihat agresif mirip seperti pelakor yang ada di sinetron TV.


Aku putuskan untuk ke dapur meminta mbak Saroh membuatkan ku susu hangat, dan mengantarkannya ke kamar tamu, karena aku sudah tidak ingin berada di kamarku kalau semua perabot itu belum di ganti.


Terdengar suara mas Rafael memanggilku dari luar kamar tamu, tapi tak ku jawab panggilannya itu, lalu dia meminta ijin untuk masuk kesana, entah darimana dia tau keberadaan ku, mungkin dia bertanya pada mbak Saroh, ku lihat mas Rafael membawa susu hangat dan juga nasi goreng dengan telur ceplok kesukaanku, dia terus memaksaku untuk sarapan, tapi aku tidak berselera apalagi setelah perdebatan dengan Mawar tadi, tapi mas Rafael terus membujuk ku, dan aku terpaksa memakannya sedikit.


"Maafkan aku ya sayang, jangan menyakiti dirimu sendiri dengan tidak makan seperti ini, dan jangan terlalu banyak pikiran, aku tidak mau kau jatuh sakit".


"Aku hanya memikirkan satu hal saja mas, kenapa kalian bisa setega ini padaku, tidak masuk akal untukku ketika kau melakukannya dengan Mawar, tadi saja kau tidak bergeming ketika dia mendekatkan tubuhnya padamu, oh iya tentu saja kau tetap diam, sekarang kan Mawar juga istrimu, tentu saja kau bisa berdekatan dengannya sesuka hatimu".

__ADS_1


"Tidak seperti itu sayang, aku hanya tidak tau harus berbuat apalagi padanya, katakanlah padaku apa yang kau mau, untuk bisa memaafkan ku?".


...Bersambung....


__ADS_2