
Bidan Marni memeriksa kandungan Zahra, tapi sudah tak ada detak jantung dari dalam rahimnya. Apalagi kondisi Zahra sangat menghawatirkan, tekanan darahnya begitu lambat. Dan sudah dapat dipastikan jika janin yang ada di dalam perut Zahra sudah tiada. Karena keterbatasan alat kesehatan, bidan Marni tak dapat membantu Zahra mengeluarkan bayi yang meninggal di dalam perutnya. Kemudian bidan Marni menghubungi kerabatnya yang ada di kota. Bidan Marni meminta rekomendasi khusus dari kerabatnya itu, mengingat kondisi Zahra yang membutuhkan pertolongan segera.
Malam menjelang pagi, bidan Marni bersama beberapa warga desa membawa Zahra menggunakan mobil pribadi bidan desa itu. Perjalanan dari desa ke kota membutuhkan waktu hampir tiga jam lamanya. Zahra dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan infus yang menempel di tangannya. Begitu mereka sampai di Rumah Sakit, Dokter Debora sudah menanti di instalasi gawat darurat. Tanpa mengetahui nama pasien, bidan Marni diminta mengisi biodata pasien yang dibawanya. Nampak bidan Marni kebingungan, ia lupa menceritakan asal usul pasien yang dirujuknya ke Rumah Sakit itu.
"Untung saja kau memberikan nya pertolongan selama diperjalanan tadi. Kondisinya benar-benar lemah, ia kehilangan banyak darah. Dan bayi yang ada di rahimnya sudah membiru. Kasihan wanita itu pasti akan sangat terguncang. Tapi bagaimana kau bisa menemukan pasien itu Mar?." Tanya Dokter Debora dengan mengerutkan keningnya, ia merasa tak asing dengan wajah pasien yang baru saja ditolong nya.
"Malam tadi ada seseorang yang membawanya ke rumahku. Wanita itu digeletakan begitu saja, dan orang yang membawanya ke rumahku langsung pergi begitu saja. Ketika aku memeriksa nya, kondisinya sudah tak sadarkan diri. Aku mengecek denyut di rahimnya sudah tak ada, dan bercak darah mengering di sela-sela kaki nya. Wanita itu tak mempunyai identitas apapun, tapi aku harus tetap menolongnya. Karena di desa tak ada alat pendukung untuk menolong nya, aku terpaksa meminta rekomendasi darimu." Jelas bidan Marni dengan menghela nafas panjang.
Dokter Debora mengerutkan keningnya, terlintas di dalam pikiran nya, jika pasien wanita itu adalah korban kejahatan.
__ADS_1
"Astaga Marni... Jangan-jangan wanita itu adalah korban kejahatan! Lebih baik aku menghubungi pihak yang berwajib, berjaga-jaga saja siapa tau terjadi sesuatu setelah ini. Apalagi kondisinya benar-benar buruk, ia keguguran dan dalam keadaan tak sadarkan diri." Ucap Dokter Debora seraya menghubungi pihak kepolisian.
Beberapa saat kemudian beberapa polisi datang. Polisi memintai keterangan dari bidan Marni dan juga warga desa yang bersamanya. Dan berdasarkan keterangan dari mereka, polisi menuliskan laporan tersebut. Dokter Debora menjelaskan pada polisi jika pasien itu masih belum bangun. Terlihat seorang perawat berlari tergesa-gesa menghampiri Dokter Debora, ia memberitahu jika pasien yang baru saja ditangani nya sudah sadar dan berteriak histeris. Sontak saja semua orang semakin panik, mereka berkumpul di depan Ruang IGD untuk mengetahui kondisi pasien yang ada di dalam.
"Dimana bayiku huhuhu... Berikan dia padaku! Cepat kembalikan bayiku!" Pekik Zahra dengan berderai air mata.
Dokter Debora meminta perawat untuk memberikan suntikan penenang, karena Zahra terus berontak dan membuat infus yang ada ditangan nya bercampur darah. Karena Zahra terus berontak dan berusaha melarikan diri, tangan nya terluka dan cairan infus bercampur dengan darah. Segera Zahra mulai melemah, kesadaran nya kembali hilang. Perlahan kedua mata Zahra terpejam, dan perawat segera mengganti infus.
Salah satu petugas kepolisian masuk ke dalam untuk mengidentifikasi korban. Ternyata Zahra sudah mendapatkan kesadaran nya, tapi kondisinya benar-benar lemah, karena efek obat penenang yang diberikan membuat Zahra sedikit tenang dan tidak berontak lagi. Polisi itu menanyai identitas Zahra, dan Zahra hanya menjawab seadanya dengan terbata-bata. Tanpa menyebutkan embel-embel nama keluarga Hadinata, Zahra mengatakan jika dia berasal dari kampung dan merantau di kota besar.
__ADS_1
"Tolong saya pak, ada orang-orang jahat yang menyekap saya di gudang tua. Mereka menculik saya ketika saya sedang memeriksakan anak bos saya. Selamatkan juga anak malang itu pak, kasihan dia pasti ketakutan." Ucap Zahra dengan suara parau.
Ketika polisi menanyakan dimana ia bekerja, barulah Zahra menyebutkan nama Rafael Kusuma Hadinata. Polisi itu mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban Zahra. Karena menurut laporan yang masuk ke kantor kepolisian, Rafael Kusuma Hadinata telah membuat laporan atas penculikan yang di alami istri keduanya.
"Apakah anda yakin bekerja di keluarga Hadinata? Karena kami juga mendapatkan laporan atas hilangnya istri dari saudara Rafael. Jika anda mengetahui sesuatu tentang istri yang bersangkutan, tolong berikan informasi pada kami."
Tiba-tiba Zahra kehilangan kesadaran nya lagi, ia memejamkan matanya ketika polisi itu memberikan pertanyaan terakhir padanya. Lalu polisi itu keluar dari ruangan, dan meminta Dokter Debora untuk memindahkan Zahra ke ruangan khusus, karena bisa jadi ia masih menjadi incaran para penjahat yang telah menculiknya. Nampak bidan Marni terkejut dengan membulatkan kedua matanya ia tak menyangka jika wanita yang ditolong nya adalah korban penculikan.
...Bersambung. ...
__ADS_1
Hai aku punya referensi cerita yang bagus buat kalian, yuk dibaca karya dari salah satu temanku.