KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
KELEMBUTAN HATI MELATI


__ADS_3

Aldino mengajak Melati bergegas pergi, nampak Nyonya Silvia dan Tuan Satria baru saja keluar dari pintu lift itu. Aurelia berlari menghampiri Tuan Satria, dengan berteriak memanggilnya.


"Opa baik... Aurel kangen." Ucap nya menghambur ke pelukan Tuan Satria.


"Loh Aurel sayang, dimana papa mu, kenapa kau sendirian disini?."


"Aurel sama papa dan ibu peri, itu disana." Jelas Aurelia dengan menunjukan jari telunjuknya.


Terlihat Mbak Saroh menelan saliva nya, dia cemas jika keberadaan Melati diketahui Nyonya Silvia. Karena tidak ingin ketahuan, Aldino berjalan menemui mereka, nampak Nyonya Silvia kembali melangkahkan kakinya bersama Mbak Saroh.


"Kalian mau kemana sepagi ini, lain kali kita bicara lagi ya, aku sangat lelah semalaman di Rumah Sakit."


"Kami ingin pindah Hotel Tuan, Aurel mudah bosan di tempat ini. Baiklah Tuan silahkan beristirahat. Ayo Aurel ucapkan salam perpisahan pada opa."

__ADS_1


Kemudian Aurel mengecup pipi Tuan Satria, dibalas kecupan di kening gadis kecil itu. Lalu mereka meninggalkan tempat itu, nampak Melati berurai air mata, dia menangis terisak melihat wajah Tuan Satria.


"Kau pasti sengaja mengajakku pindah kan, pasti kau sudah tau jika aku adalah bagian dari masa lalu mereka." Melati terisak, dan Aurel dengan penuh kasih sayang mengusap air mata nya.


"Ibu peri kenapa menangis, apa Aurel menyusahkan ibu peri." Ucapan lugu gadis kecil itu membuat Melati memeluknya dengan erat.


"Tidak sayang, Aurel tidak pernah menyusahkan siapapun. Aurel bermain dulu ya, ada yang ingin ibu bicarakan dengan papa."


Kemudian Aurel bermain di dekat taman, Melati memandang Aldino dengan penuh tanya.


"Kau tidak perlu meminta maaf Al, aku tau kau bermaksud baik. Papa Satria memang lebih menyayangi ku daripada Putra nya sendiri, tapi aku tidak bisa terus berada di sekitar mereka. Karena aku hanya akan menjadi diri dalam daging saja, mari kita pergi dari tempat ini." Melati menyunggingkan senyumnya seraya bangkit dari duduknya.


Disepanjang perjalanan, Melati hanya diam dengan memainkan ponselnya. Ada pesan masuk dari Mbak Saroh, yang mengatakan jika kesehatan Mawar sedang menurun. Setelah mengetahui dimana Mawar dirawat, Melati meminta Aldino untuk membawanya melihat kondisi Mawar.

__ADS_1


"Tapi Mel apa kau yakin akan menemui nya?."


"Aku hanya ingin melihat kondisi nya saja, itupun kalau kau bersedia mengantar ku."


Setelah itu Aldino terpaksa menuruti permintaan Melati, sesampainya di Rumah Sakit itu. Melati mengenakan masker penutup wajah, dia melihat dari kejauhan, Rafael sedang duduk di bangku koridor Rumah Sakit. Melati berpura-pura salah kamar dan memasuki kamar Mawar, nampak adik kembarnya sedang terbaring di atas ranjang. Selang infus menepel pada tubuhnya, Melati berlinang air mata menatap sendu wajah Mawar. Tiba-tiba Rafael masuk ke dalamnya, sontak saja Melati salah tingkah, lalu berjalan pergi dari sana.


"Tunggu, kau ini siapa!." Seru Rafael menarik tangan Melati.


"Maaf, aku salah kamar, permisi." Sahutnya bergegas meninggalkan ruangan itu.


Untuk sesaat Rafael terdiam, dan mengingat kembali aroma tubuh perempuan yang baru saja bicara dengannya.


Aroma tubuh ini, aku sangat mengenalnya, dan tangan itu, tangan itu adalah tangan Melati. Iya dia adalah Melati, batin Rafael tersadar dan berusaha mengejarnya.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2