
Dokter memberikan ijin pada Rafael untuk rawat jalan selama masa penyembuhan. Dan Dokter juga menyarankan supaya Melati tetap membantu Rafael, supaya ia mendapatkan ingatan nya kembali. Tanpa sengaja Rafael mendengar ucapan Dokter, ia bertanya langsung pada sang Dokter tentang apa yang ia lupakan.
"Apa yang telah saya lupakan Dok? Kenapa Dokter mengatakan saya telah kehilangan ingatan? Meski saya tak tau pasti apa yang telah saya lupakan, terkadang saya memang merasa ada yang hilang dari diri saya." Ucap Rafael dengan wajah bingung.
Nyonya Silvia datang dan mengajak Rafael untuk keluar bersamanya. Tuan Satria bersama Zahra kembali mendengarkan penjelasan sang Dokter, Dan diluar ruangan itu Melati bersama Aldino baru saja tiba. Keduanya ingin berpamitan karena Alvino mendadak demam, dan Melati ingin merawat putra nya. Nyonya Silvia menghembuskan nafas panjang, ia tak tau harus berbuat apa. Dilain sisi Dokter meminta Rafael selalu di dekat Melati, karena hanya Melati lah yang mampu memotivasi Rafael kembali mengingat semuanya. Tapi dilain sisi ada cucu nya yang membutuhkan sang ibu.
"Mel... Mama tak tau harus berkata apa. Mama sama cemasnya denganmu, mama tak ingin Alvino semakin sakit karena ia jauh dari ibunya. Tapi Rafael juga membutuhkan mu Mel, apa yang harus kita lakukan?." Bisiknya dengan wajah sendu.
Aldino memijat pangkal hidungnya, ia sedang memikirkan sebuah rencana untuk mengatasi kekacauan saat itu. Ia menyarankan supaya Rafael dan Zahra ikut bersamanya ke Semarang, tapi Nyonya Silvia mengatakan jika itu tak akan membantu memulihkan ingatan Rafael. Karena semua yang Rafael ingat sekarang adalah masa dimana Melati menjadi istrinya. Dan itu hanya bisa terjadi jika Rafael tinggal di rumah lamanya.
"Kita bicarakan ini di rumah saja, lihatlah Rafael sudah curiga dengan apa yang sedang kita ributkan saat ini." Ucap Tuan Satria seraya berjalan dan berbisik pada istrinya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah besar, Rafael mengajak Melati ke dalam kamarnya. Tapi Melati memberikan alasan jika ada yang harus ia kerjakan terlebih dulu. Terpaksa Rafael kembali ke kamar seorang diri, karena kepalanya sangat pusing dan ia harus mengistirahatkan tubuhnya.
"Pa... Maa... Ini yang Melati takutkan, kami sudah bukan suami istri lagi. Dan mas Rafael menganggapku masih istrinya, ia akan bertanya-tanya kenapa Melati menolak ajakan nya berada di dalam kamarnya?."
Lalu Tuan Satria mengatakan jika kepulangan Melati ke Semarang bisa menjadi alasannya untuk menghindari Rafael.
"Bawalah Alvino kesini untuk menemui Rafael. Papa yakin hubungan darah tak bisa menghalangi ingatan yang hilang. Katakan saja pada Rafael jika ia memiliki seorang putra darimu, berikan pengertian padanya, mau tak mau Rafael akan membiasakan diri menerima kehadiran Alvino. Dan ia akan mengerti kenapa kau selalu menolak untuk bersamanya. Dan kau Zahra, papa harap kau tak salah paham dengan semuanya. Meski Rafael tak mengingat siapa dirimu, papa yakin setelah Rafael mengingat semuanya, ia akan membuka hatinya untukmu."
"Sayang... Kau dimana, kenapa lama sekali!." Seru Rafael memanggil Melati.
Tuan Satria berinisiatif memberitahu pada Rafael tentang putranya, tapi tiba-tiba Catlea berlari memeluk Rafael. Nampak Rafael terkejut dan memandang wajah Catlea penuh tanya. Saat itulah Melati memberitahu segalanya, tentang kedua anaknya Catlea dan Alvino.
__ADS_1
"Namanya Catlea, dia adalah putrimu dan Mawar. Karena kecelakaan beberapa hari yang lalu, kau melupakan nya. Dan ada satu putramu dariku, Alvino. Saat ini dia ada di Semarang bersama pengasuhnya, setelah ini aku akan menjemputnya. Inilah urusan yang ku katakan tadi. Bisakah kau menjaga diri dan meminum obatmu dengan teratur? Aku akan membawa Alvino kesini, supaya kau dapat mengingatnya." Ucap Melati dengan menghembuskan nafas panjang.
"Ja jadi benar aku melupakan sesuatu? Tapi apa saja yang telah ku lupakan? Mama mungkin aku tak mengingat darah daging ku sendiri." Rafael memeluk Catlea dan mengecup keningnya, laku ia menyadari jika anak perempuan nya tak mengatakan apapun.
Rafael mengerutkan keningnya, ia bertanya dalam hati kenapa Catlea hanya diam tak bersuara sama sekali. Nyonya Silvia mendekatinya dan memeluk Rafael, ia menganggukan kepalanya, memberi isyarat jika dugaan Rafael tentang Catlea memang benar.
"Bagaimana bisa ma putriku tak bisa berbicara? Apakah dia tuna wicara sejak bayi? Astaga... Apa yang sebenarnya terjadi padaku!." Seru Rafael dengan memegangi kepalanya.
Rafael memekik karena tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menjalar di kepalanya. Ada sekelebat bayangan, disaat Mawar hamil besar dan melakukan cuci darah di Rumah Sakit. Ya, Rafael belum tau siapa sebenarnya Catlea itu. Gadis kecil itu adalah anak dari lelaki lain yang ada dimasa lalu Mawar, seandainya kenyataan itu terkuak. Akankah Rafael menyayangi dan menerima Catlea dengan sepenuh hati?
...Bersambung....
__ADS_1