KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
KEDEKATAN DUA KELUARGA


__ADS_3

"Ma maaf Tuan, aku tidak sengaja." Zahra tertunduk dengan wajah yang memerah.


"Tidak apa-apa, apa perutmu sakit?." Rafael panik dan berusaha memastikan kondisi Zahra.


Zahra meyakinkan Rafael jika ia baik-baik saja, ia menghampiri Catlea dan menggendongnya. Bocah kecil itu nampak tenang di dekapan Zahra. Suara ketukan pintu mengagetkan Rafael, ia membuka pintu itu dan salah tingkah ketika tau Melati lah yang ada di luar sana.


"Maaf jika aku mengganggu, aku hanya ingin berpamitan pada kalian. Besok pagi aku harus kembali, jika kau mau ajaklah Alvino tidur bersama kalian. Aku ingin dia merasakan kasih sayang dari semua orang tuanya. Karena anak-anak ini sangat beruntung memiliki beberapa mama dan papa." Ucap Melati dengan menyunggingkan senyumnya.


Nampak raut wajah Rafael berubah sangat bahagia, entah apa yang ada didalam pikiran nya saat itu. Rafael mengecup kening Alvino, ia membawanya masuk ke dalam kamarnya.


"Zahra karena malam ini Alvino akan tidur di kamar ini, bisakah kita tidur bersama di satu ranjang? Aku tidak bermaksud mengambil kesempatan, tapi ini malam terakhirnya bersamaku."


"Tak apa-apa Tuan, aku mengerti. Kau bisa tidur bersama kedua anakmu, aku bisa tidur di sofa."


"Kau harus tidur di ranjang, tak perlu cemas karena aku tak akan melakukan apapun padamu."


Malam itu untuk pertama kalinya, dengan keadaan sadar Rafael terlelap di satu ranjang yang sama dengan wanita yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Rafael terpejam dengan mendekap Alvino, sementara Zahra masih terjaga dengan menimang Catlea. Bocah kecil itu sedang rewel, karena ia akan tumbuh gigi. Sehingga Catlea tak dapat tidur malam itu. Zahra dengan penuh kesabaran mengurusnya, Zahra terpejam dengan posisi duduk dan tangan yang mendekap Lea ke tubuhnya. Ketika Rafael terbangun karena rasa dahaga, ia melihat Zahra kelelahan hingga terpejam dengan posisi duduk. Rafael ingin mengacuhkan nya, tapi ia tak tega melihat wajah lesu Zahra. Rafael membenarkan posisi tidur perempuan itu, ia memeluk tubuhnya dan menyelimuti nya. Zahra terkejut dan membuka kedua matanya, tersadar jika Rafael baru saja memeluk nya.

__ADS_1


"Tuan apa yang kau lakukan?."


"Jika kau segan memanggil namaku, panggil aku mas Rafael. Tak perlu sungkan lagi, bahkan Mbak Saroh juga memanggilku begitu. Aku hanya ingin membenarkan posisi tidur mu." Jelas Rafael seraya melangkahkan kakinya ke dapur.


Pagi itu semua orang terbangun dengan wajah yang ceria, seakan beban hidup mereka tidak ada. Tuan Satria sedang duduk bersantai bersama istri dan kedua cucunya, pagi itu adalah waktu terakhir mereka bersama Alvino. Nyonya Silvia sudah menyiapkan banyak hadiah untuk cucu laki-laki nya, tak lupa ia memberikan beberapa mainan dan pakaian baru untuk Catlea. Sepertinya Nyonya besar itu benar-benar sudah berubah, ia terlihat begitu menyayangi kedua cucu nya.


"Selamat pagi pa, ma!." Sapa Aldino yang baru saja datang untuk menjemput Melati.


Tuan Satria dan Nyonya Silvia menyambut gembira kedatangan Aldino. Rafael menghela nafas panjang, melihat kebersamaan mantan istri dengan suami barunya. Meski Rafael berusaha menerima kenyataan, tak bisa dipungkiri jika didalam hatinya masih ada nama Melati. Rafael melangkahkan kakinya gontai menghampiri Aldino, ia menjabat tangan nya dan mengucapkan terima kasih.


"Kau tak perlu sungkan padaku, kedua orang tuamu sudah seperti orang tuaku sendiri. Itu artinya kita sudah seperti saudara, dan putramu juga putraku. Semoga kau bisa menjalani kehidupanmu dengan bahagia. Aku tau tak mudah melupakan masa lalu, tapi jika kau berusaha dengan sebaik mungkin, semua akan baik-baik saja. Aku tau jika kau masih memiliki perasaan untuk Melati, dan aku tak bisa melarang mu. Karena mencintai adalah hak setiap manusia, tapi jika kau bisa dan mau lupakan semua masa lalu itu. Terimalah apa yang sudah ada di depan matamu, perlahan kau pasti bisa menerimanya. Aku mengatakan semua ini bukan untuk mengolok-olok mu, karena aku juga pernah berada di posisimu sebelumnya. Dan aku berhasil melupakan semua masa lalu, dan membuka lembaran baru bersama Melati." Ucap Aldino dengan menepuk pundak Rafael, untuk memberinya semangat.


...Berikan Gift dan Vote nya yuk, supaya author semakin bersemangat. Terima kasih 😘💕...


...Bersambung....


Hai aku punya rekomendasi cerita yg bagus buat kalian, yuk baca ceritanya.

__ADS_1


JUDUL: MASA LALU SANG PRESDIR (21+)


NAPEN: Enis Sudrajat


"Aaaaaah ... kamu bikin aku cemas aja sayang!" Richard memeluk Annet dan menyelusupkan wajahnya ke dada Annet yang terbuka.


"Rich sakit! pelan dong bulu di muka kamu baru tumbuh itu." Annet membuka kancing kaos berkerah yang dikenakan Richard.


Richard malah terkekeh, menarik tali pita baju Annet yang tak bertangan lalu membuka melempar pakaiannya sendiri.


"Aku nggak tahan sayang, aku ingat kamu sejak di tempat gym tadi, entah kenapa jagoan ku ini nggak bisa kompromi sama sekali!" Richard menunjuk ke bawah perutnya.


"Memang kenapa?" Annet berlaga pilon.


"Coba lihat buka sendiri!"


Annet turun dari pangkuan Richard dan membuka celana panjang Rich, membuka pelindung terakhirnya yang sudah kelihatan mengembung karena terdorong sesuatu dari dalam.

__ADS_1


__ADS_2