
POV MELATI.
Setelah putusan perpisahan dibacakan, hatiku terasa pedih, dadaku sesak, tak mampu menahan duka yang teramat besar. Aku Melati Atmaja, kini telah menyandang status sebagai janda. Ku berlari keluar ruangan dengan membungkam mulutku sendiri, aku tidak ingin semua orang mendengar suara tangisku, tidak ada lagi yang ku punya di dunia ini, selain kedua orang tuaku, yang sebentar lagi harus ku tinggalkan, karena aku harus pergi meninggalkan kota ini, jujur aku tidak kuat melihat Mawar berdampingan dengan mas Rafael, di acara peresmian pernikahan mereka.
Tiba-tiba Ibu mendekapku, beliau sangat tau isi hatiku saat itu, baru saja aku ingin membagi luka dihatiku, Mawar datang dan meminta Ibu untuk pergi bersamanya, sekali lagi Mawar ingin merampas kasih sayang Ibu dariku, karena tidak ingin ada keributan disana, ku relakan Ibu pergi bersama Mawar.
Setelah keributan di Pengadilan, ku biarkan mereka semua pergi meninggalkan ku, ku putuskan kembali ke rumah lama kami, Ki bereskan semua barang-barang dan pakaian ku, ku lihat Mbak Saroh tidak ada di rumah, jadi ku lakukan semua pekerjaan seorang diri. Ku pandangi bingkai foto yang ada di ruang utama rumah, terlihat gambaran kebahagiaan ku bersama mas Rafael kala itu, sebelumnya kami sangat berbahagia, hampir tidak ada masalah di antara kami berdua, ku ambil bingkai foto itu dan meletakan nya di gudang.
Ku langkahkan kaki ke dalam kamar, banyak foto-foto kami yang tertata di meja kecil samping tempat tidur, ku rapikan semuanya dan memasukkan nya ke dalam kardus, sengaja ku bersihkan semua foto supaya mas Rafael tidak melihatnya lagi, ketika mengambil barang-barang nya ke rumah ini.
Aku meminta kurir ekspedisi untuk datang ke rumah, dan mengambil barang-barang ku yang akan di kirimkan ke Kota Semarang, aku akan memulai kehidupan baru disana, karena sahabat baikku tinggal disana, dia menawarkan ku sebuah pekerjaan di Play Group, tentu saja aku akan menerima pekerjaan itu, tekadku sudah bulat untuk meninggalkan kota ini.
"Pak tolong jika sudah sampai di tempat tujuan, biarkan barang-barang ini berada di counter ekspedisi, karena saya belum menemukan tempat tinggal disana, setelah saya mendapatkan tempat tinggal, saya akan menghubungi bapak kembali." Jelas Melati dengan wajah lesu.
Sebuah Taksi online datang menjemput Melati, mereka akan menuju ke Bandara, karena dua jam lagi flight nya, kebetulan sopir taksi online saat itu mengenali wajah Melati dan menyapanya.
"Nyonya ini istrinya pengusaha terkenal itu kan, pengusaha Hadinata yang memiliki tambang batu bara terbesar, saya ini sopir taksi online yang pernah mengantarkan Nyonya ke butik, waktu itu ada berita menghilang nya Nyonya di media sosial dan cetak." Jelasnya seraya menyunggingkan senyum.
"Bukan Pak, saya bukan istrinya pengusaha Hadinata." Sahut Melati dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aah tidak mungkin saya salah mengenali seseorang, waktu itu Nyonya memberikan saya uang untuk tutup mulut, bahkan saya sempat menolak uang itu, tapi Nyonya memaksa saya menerimanya."
"Ya, itu memang saya Pak, tapi saya bukanlah istri pengusaha Hadinata." Ucap Melati terisak.
"Loh Nyonya kenapa anda menangis, maaf jika ada perkataan saya yang menyinggung." Ucap sopir itu dengan wajah panik.
"Tidak apa-apa Pak, saya yang terlalu sedih saja, karena ini adalah hari terakhir saya di Kota ini, terimakasih ya Pak, sudah pernah mengantarkan saya beberapa kali, semoga lain waktu saya bisa menumpang di mobil Bapak lagi."
Sopir Taksi itu hanya tersenyum seraya menganggukan kepalanya, dia tidak berani bertanya lebih dalam lagi, dan membuat ku bersedih, sampai akhirnya mobil itu sampai di Bandara.
PINDAH KOTA.
Nampak Melati berjalan memasuki Bandara hanya membawa tas jinjing, dia tidak ingin repot membawa koper-koper, sehingga koper itu dikirimkan dengan jasa ekspedisi.
*****************
Sore itu di Kota Semarang, seorang lelaki tampan sedang terburu-buru berlarian di dalam sebuah Bandara, karena pesawat yang akan ditumpangi nua akan segera boarding beberapa menit lagi, tidak sengaja dia menabrak seorang perempuan yang sedang berjalan lesu dengan menundukan wajahnya.
Braakk...
__ADS_1
Melati tersungkur dan sedikit memekik karena siku tangannya terluka, Aldino Hartawan membalikkan tubuhnya menghampiri perempuan itu untuk membantunya berdiri. "Maaf saya terburu-buru mengejar pesawat yang akan boarding ini kartu nama saya, jika anda terluka atau ada barang yang rusak silahkan hubungi saya, saya akan bertanggung jawab dan mengganti kerugian anda." Jelas Aldino dengan wajah panik.
Belum sempat Melati mengatakan sesuatu, terdengar last call pesawat yang akan ditumpangi nya, Aldino berlari menerobos keramaian orang saat itu, nampak Melati mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh lelaki tadi, setelah menyadari siku nya terluka, Melati berjalan ke toilet untuk membersihkan lukanya, dilihatnya kartu nama lelaki tadi, dan Melati merasa tidak membutuhkan pertanggung jawaban darinya, hanya untuk luka kecil yang ada di siku tangannya.
Dret dret dret...
Ponsel yang baru saja dihidupkan nya bergetar, Melati meraih ponsel yang ada didalam tas jinjing nya, dan memasukan kartu nama yang dipegang nya.
"Hallo Yah, maaf jika tadi Melati tidak dapat dihubungi, ponselnya mati selama perjalanan udara Yah, Ayah apakabar disana, semoga Ayah betah tinggal di rumah baru mereka ya." Ucap Melati dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah baik-baik saja Mel, kenapa kau terburu-buru pergi dan tidak menemui Ayah dulu, kau langsung memutuskan pergi tanpa bertemu dengan Ayahmu yang tidak berguna ini." Ayahnya berurai air mata kesedihan.
"Kenapa Ayah berkata seperti itu, Ayah adalah hal yang paling ingin Melati bahagiakan, cepat sembuh ya Yah, nanti Ayah bisa mengunjungi Melati di tempat tinggal yang baru, Ayah tidak perlu cemas, disini ada sahabat Melati yang sangat baik, jadi Ayah tidak perlu cemas lagi, salam buat semuanya ya, Melati harus pergi dulu, Assalamualaikum." Melati mengakhiri telepon itu dengan meneteskan air mata.
Aku harus kuat, tidak boleh ada air mata lagi didalam hidupku, karena hidup harus terus berjalan apapun yang terjadi, batin Melati dengan menyeka air matanya.
Melati berjalan keluar dan menemui sahabatnya Liliana, dia sengaja menjemput Melati untuk mengajaknya menginap di rumahnya.
"Terima kasih ya Li, kau sudah banyak membantuku, kali ini aku masih harus merepotkan mu lagi, aku janji hanya untuk beberapa hati saja aku tinggal di rumahmu."
__ADS_1
"Apaan sih Mel, kau ini sudah ku anggap seperti keluarga sendiri, dulu waktu kita sama-sama kuliah, aku kan sering menumpang di rumah mu saat aku kehabisan uang bulanan, dan ibumu memberikan makanan yang lezat padaku setiap harinya, jadi sekarang biarkan aku membalas semuanya, lagipula suamiku masih tugas di luar pulau, jadi kai bisa tinggal bersamaku di rumah." Ucap Liliana dengan memandang haru wajah Melati.
...Bersambung. ...