
Nyonya Silvia yang selama ini bungkam, tentang apapun yang mengenai Melati akhirnya angkat bicara. Ia membentak Mawar dan meminta nya untuk diam.
"Tutup mulutmu Mawar! Kau tak berhak memaki Melati seperti itu! Dulu aku sering merendahkan nya, hanya karena ia belum memberikan ku keturunan. Tapi nyatanya sekarang ia memberikan ku cucu yang tampan dan sempurna, tak seperti dirimu yang memberikan keturunan cacat pada putraku! Seharusnya kau malu berkata seperti itu padanya. Sadarkah kau jika kaulah yang menjadi penghancur rumah tangga nya? Tapi barusan kau mengatakan itu padanya? Dasar tak tau malu! Harusnya kau bersujud memohon maaf pada kakak kembarmu, tapi kau tak punya pikiran sama sekali, dan masih saja menuduhnya. Bahkan seorang musuh pun tak akan seperti mu, kau berhati batu tak pernah memikirkan perasaan orang lain. Mungkin sekarang adalah karma yang tepat untukmu, pembantu yang menjaga anakmu akan menjadi madu dalam hidupmu. Aku mendukung keputusan mereka untuk menikahkan Rafael dengan Zahra. Karena ia akan memberikan keturunan yang layak pada Putra ku." Pekik Nyonya Silvia dengan tersenyum angkuh.
Mawar melotot mendengar semua perkataan pedas mertuanya. Dia tak pernah menyangka jika perempuan yang selama ini membelanya, akan berbalik memusuhi nya. Mawar seorang diri tak ada siapapun yang berdiri disamping nya, ibu nya yang dulu selalu ada untuknya sudah menjauh semenjak mereka adu mulut beberapa waktu yang lalu.
"Kenapa mama membela wanita itu ma? Dulu mama selalu merendahkan nya, tapi sekarang dia bagaikan dewi di mata mama!." Seru Mawar dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu saja aku membelanya, karena ia tak bersalah. Dan nyatanya kini kau yang mandul, dan tak akan bisa memberikan keturunan. Bersyukurlah jika kau hanya akan di madu, karena Rafael terikat janji pada almarhum ayahmu. Kalau Putra ku memiliki sifat yang jahat seperti mu, mungkin ia akan melupakan janjinya dan menceraikan mu!." Sahut Nyonya Silvia lantang.
__ADS_1
Hati Mawar hancur berkeping-keping, gambaran hidup bahagia bersama lelaki yang dicintainya musnah begitu saja. Mawar tak pernah membayangkan jika hari ini akan terjadi, dulu ia pernah merasa menang dan berhasil menyingkirkan saudara kembarnya sendiri. Tapi kini ia tak mampu menerima kenyataan, jika suaminya akan menikahi perempuan lain. Mawar membulatkan kedua matanya memandang Zahra dengan penuh amarah, Zahra menundukan wajahnya dengan tubuh yang bergetar.
"Tak perlu kau menakutinya seperti itu, terimalah nasibmu. Mungkin ini adalah karma dari Tuhan untukmu. Dulu kau menjadi alasan semua penderitaan ku, kini kau akan merasakan hal yang sama denganku. Bagaimana rasanya ketika suamimu menikah dengan wanita lain. Sakitmu tak seberapa dengan sakitku dulu, karena dulu kaulah yang menjadi maduku. Kau adalah saudara kembarku, berbeda dengan Zahra yang bukan siapa-siapa mu. Meskipun kau jahat padaku, sesungguhnya aku tak pernah mengharapkan ini terjadi padamu, tapi Tuhan tak pernah tidur dan memiliki cara tersendiri untuk menyadarkan umatNya. Semoga kau bisa menerima Zahra sebagai madumu, bukalah pintu hatimu War." Ucap Melati dengan menghela nafas panjang.
"Simpan simpatimu untuk dirimu sendiri! Aku tak membutuhkan nya, mungkin pembantu rendahan itu akan menjadi istri kedua suamiku. Tapi ia tak akan pernah sejajar denganku, aku tak akan membiarkan hidupnya tenang begitu saja, camkan ucapan ku baik-baik!." Ancam Mawar dengan membulatkan kedua matanya, lalu ia pergi ke kamarnya.
Zahra berlinang air mata, Melati menenangkan nya. Karena ia akan selalu ada untuknya dan membantunya. Rafael hanya tertunduk lesu dengan keputusan kedua orang tuanya, untuk menikahkan nya dengan Zahra.
Tuan Satria duduk disamping putranya, Rafael sedang melamun tanpa memperhatikan orang disekitarnya.
__ADS_1
"Rafael kau adalah satu-satunya Putra ku. Apapun kesalahanmu percayalah, papa hanya ingin yang terbaik untuk mu. Memang benar yang kau lakukan pada Zahra tak pantas, tapi semua sudah terjadi. Papa tak pernah mengajarkan keburukan padamu, bertanggung jawablah dengan apa yang telah kau lakukan. Wanita malang itu tak punya siapapun, jika bukan Melati yang memberitahu segalanya, papa tak akan pernah mengetahui kebenaran ini. Bahkan Saroh juga melihat dengan mata kepalanya sendiri, ketika kau menodai Zahra, tapi ia tak berani mengatakan apapun. Karena setelah kejadian itu, Mawah yang mengetahui segalanya langsung mengancam dan mengusir Zahra. Beruntunglah ia bertemu dengan Melati dan juga Aldino, lalu mereka memperkerjakan nya untuk menjaga Alvino putramu." Penjelasan papa nya membuat Rafael mengerutkan keningnya, ia tengah membayangkan kehidupan Melati bersama suami barunya. Membayangkan semua itu membuat Rafael kesal, ia meremas tangannya dengan membulatkan kedua matanya.
...Bersambung. ...
...Hai aku punya referensi cerita yang bagus buat kalian semuanya. Dijamin ga akan menyesal 😉...
Napen: Khodijah rahman
Judul : Malena
__ADS_1