KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
TIDAK BAIK-BAIK SAJA (TERLUKA)


__ADS_3

Terlihat Rafael memegangi dada nya yang terasa sesak, detak jantung nya mendadak berhenti untuk sesaat. Lelaki itu mengerang kesakitan, bukan karena rasa sakit didalam jantung nya. Melainkan kenyataan pahit yang baru saja Melati ucapkan, perkataan nya menusuk tepat di jantung dan hati nya. Rafael seperti tertampar mendengar perkataan Melati.


"Tidak! Jangan katakan itu Mel, aku tau kau perempuan baik-baik. Kau pasti sedang berbohong padaku kan, aku tau itu." Ucap Rafael tersengal merasakan sakit di dada nya.


"Kau benar mas, aku memang perempuan baik-baik. Tapi itu dulu, sebelum kau menghancurkan kepercayaan ku. Lalu aku jadi seperti ini karena mu, perempuan baik-baik bisa jadi busuk, karena luka yang ada didalam hatinya. Sudahlah kita akhiri saja omong kosong ini, aku rasa kau sudah cukup mendengar penjelasan ku." Melati melangkahkan kakinya pergi seraya menggenggam tangan Aldino dan juga Aurelia.


Rafael menghembuskan nafasnya panjang, dia terduduk lemas di tanah yang lembab. Lelaki itu berurai air mata, ucapan Melati benar-benar melukai jiwa dan raganya.


Di lain tempat, Melati menghentikan langkahnya karena perutnya kembali mengalami kontraksi. Sontak saja Aldino sangat panik dan memapah Melati ke sebuah tempat duduk.


"Kenapa kau melakukan semua ini Mel, dengan kau menyakiti nya, kau juga akan merasa sakit yang sama. Lihatlah perutmu sakit lagi, lebih baik kita ke Dokter saja." Cetus Aldino ingin membopong Melati.

__ADS_1


"Tidak Al, berikan saja obat ku yang ada di dalam tas itu. Setelah meminumnya aku akan baik-baik saja, dan maaf untuk semua yang ku ucapkan tadi. Karena nama baikmu pasti akan tercoreng dihadapan nya, aku tidak tau kenapa. Tiba-tiba aku ingin mengatakan semua itu padanya." Jelas Melati terisak.


Aurelia yang sedari tadi diam, hanya bisa memeluk Melati dengan wajah sendu. Seakan gadis kecil itu tau, jika kedua orang dewasa yang bersama nya sedang ada masalah.


"Aku tau Mel, kenapa kau melakukan nya. Sebagai seorang ibu, kau pasti ingin melindungi bayimu. Kau hawatir jika Rafael tau tentang kebenaran bayi itu, dia akan mengambil nya darimu. Benarkan apa yang ku katakan?."


Melati semakin terisak setelah mendengar pertanyaan Aldino, dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aurelia semakin erat memeluk ibu peri nya.


"Papa tolong jangan katakan apapun lagi, papa sudah mengatakan sesuatu yang membuat ibu peri menangis." Aurelia tertunduk dengan wajah sendu.


Kemudian Melati menyeka air mata nya, dia menaikan dagu Aurelia ke atas. Ditatap nya wajah murung gadis kecil itu, lalu Melati mengecup pipi nya seraya memeluk nya.

__ADS_1


"Ayolah Tuan putri kita pergi ke arena bermain dan membeli ice cream." Ucap Melati membujuk Aurelia.


"Tidak mau! Ibu peri masih sakit, lebih baik kita kembali je Hotel saja."


"Tidak bisa sayang, nanti malam kita harus pulang. Tapi sebelumnya kita akan berpamitan dulu sama opa baik, jadi sekarang kita bersenang-senang dulu."


"Apa ibu peri sudah tidak sakit lagi?." Aurelia tersenyum manis menatap Melati dengan penuh kasih sayang.


"Tentu saja tidak, kan ibu sudah minum obat. Yuk kita pergi sekarang."


"Tapi ibu peri jangan pergi kesini lagi ya, apalagi bertemu dengan om tadi. Aurel tidak suka sama om itu, dia terus berteriak marah pada kalian berdua. Om itu benar-benar nakal."

__ADS_1


Setelah membujuk Aurelia, mereka semua pergi meninggalkan Rumah Sakit. Sementara Rafael ditemukan tidak sadarkan diri di Taman, beberapa pengunjung menolong nya, dan Rafael segera diberikan pertolongan di IGD.


...Bersambung....


__ADS_2