KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
DERITA WANITA TAK BERDAYA


__ADS_3

Polisi menghubungi Rafael melalui panggilan telepon, saat itu ia sedang berada di Kantor. Rafael diberitahu jika seorang wanita bernama Zahra mengaku sebagai pekerja di keluarga nya. Dan Zahra sedang berada di Rumah Sakit dalam perawatan Dokter.


"Maaf sebelumnya pak, Zahra itu adalah istri saya. Dia yang saya laporkan menghilang karena diculik." Jelasnya dengan cemas.


Tanpa berlama-lama Rafael segera pergi ke Rumah Sakit, polisi berbicara dengannya dan menjelaskan bagaimana kondisi Zahra saat itu. Dokter Debora dan bidan Marni datang menghampiri Rafael. Rafael mengerutkan keningnya merasa kenal dengan Dokter Debora.


"Rafael... Kau datang kesini? Jadi benar pasien bernama Zahra itu adalah istrimu? Perkenalkan ini bidan Marni yang menolong Zahra pertama kali."

__ADS_1


Singkat cerita bidan Marni menceritakan segalanya, dan polisi pun memberikan laporan jika petugas kepolisian dari wilayah setempat sudah turun ke lapangan untuk mencari bukti dan para pelaku penculikan. Tapi ada satu hal yang belum Rafael tau tentang calon bayi nya.


"Rafael sebagai Dokter saya ingin menyampaikan kabar yang kurang berkenan. Ketika Zahra ditemukan oleh bidan Marni, kondisinya benar-benar buruk karena ia sudah keguguran. Calon bayimu sudah tiada di dalam kandungan ibunya." Jelas Dokter Debora dengan menghembuskan nafas panjang.


Rafael terkejut dengan membulatkan kedua matanya, kakinya mendadak lemas dan ia hampir saja terjatuh. Tangannya memegangi sebelah dadanya yang terasa sesak, matanya berkaca-kaca mendengar berita buruk itu. Tapi Rafael berusaha tegar dan ingin melihat kondisi Zahra. Ternyata Zahra sedang di interogasi oleh salah satu petugas kepolisian. Dia dimintai keterangan tentang apa saja yang di alaminya. Bahkan Zahra menyebutkan nama Mawar ketika ditanyai oleh polisi. Ya Zahra menjadi murka setelah mengetahui jika bayi nya meninggal didalam kandungan nya. Zahra tak perduli dengan ancaman Mawar yang akan menyakiti adik satu-satunya. Luka karena kehilangan calon buah hatinya membuat Zahra berani menghadapi Mawar.


"Saya di sekap di salah satu gudang besar, sepertinya gudang itu berada di dekat pelabuhan. Karena saya sempat mendengar suara mesin kapal yang berlabuh. Tapi setelah kedatangan Nyonya Mawar, dan ia berdebat dengan salah satu penculik itu. Mereka membawa saya pergi ke tempat yang lumayan jauh. Saya kira Nyonya Mawar akan menyelamatkan saya, bahkan saya memohon supaya ia melepaskan Catlea. Gadis kecil itu adalah anaknya, tapi ternyata saya salah Catlea tidak ada di tempat itu. Berhari-hari saya di kurung, dan ketika saya memiliki kesempatan untuk kabur. Saya berusaha pergi dari tempat itu, karena saya tak tau harus kemana, saya berinisiatif untuk bersembunyi sampai para penjahat itu pergi. Tapi saya ceroboh bersembunyi di dalam toren air yang terisi air, saya hampir tewas tenggelam di dalam sana. Para penculik itu mengetahui keberadaan saya, dan mengeluarkan saya dari dalam toren air. Mereka kembali menyekap saya dalam keadaan basah kuyup, hingga akhirnya saya merasakan sakit yang luar biasa. Perut saya sakit dan keluar darah yang sangat banyak, hingga akhirnya saya pingsan disana. Ketika saya sadar, saya sudah berada di Rumah Sakit ini dengan kondisi yang tak pernah saya bayangkan sebelumya." Zahra berderai air mata, ia tak kuasa menahan kesedihan nya.

__ADS_1


Seorang perawat datang menghampiri Rafael, dan mengatakan jika jenazah bayinya sudah siap untuk di bawa pulang dan dikuburkan secara layak. Sontak saja Zahra memalingkan wajahnya menatap Rafael dengan berurai air mata. Zahra menjerit histeris memohon pada Rafael, supaya ia di ijinkan untuk melihat jenazah bayinya.


"Tuan tolong Tuan... Ijinkan saya melihatnya untuk pertama dan terakhir kalinya huhuhu." Zahra berusaha bangkit dari ranjangnya, tapi tubuhnya terlalu lemah dan membuatnya hampir terjatuh.


Dengan sigap Rafael menangkap tubuhnya, Rafael memeluk Zahra dalam dekapan nya. Keduanya sedang sangat terluka karena kehilangan buah hati yang belum pernah mereka lihat wajahnya. Rafael mendekap Zahra dengan erat, ia mengusap air mata yang membasahi wajah cantiknya. Mereka sama-sama terluka karena kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Tapi takdir berkata lain, mereka harus sama-sama merelakan kepergian bayi laki-laki nya. Lalu Rafael meyakinkan Zahra, jika siapapun yang telah berbuat jahat padanya harus menerima konsekuensi nya.


"Jika Mawar terbukti bekerja sama dalam kejahatan ini, aku bersumpah akan melupakan sumpahku pada almarhum ayahnya. Aku tak bisa menerima perbuatan jahatnya, ini sudah benar-benar keterlaluan! Kau tenang saja aku akan mengurus semuanya, akan ku berikan keadilan untuk putra kita yang telah tiada!." Seru Rafael dengan membulatkan kedua matanya.

__ADS_1


...Terus dukung aku yuk, berikan Gift atau Vote nya. Terima kasih 🤗...


...Bersambung....


__ADS_2