
Perlahan Rafael menggerakan tangannya, ia menggenggam tangan mama nya. Rafael tersenyum kecil dan berusaha mengatakan sesuatu, tapi kondisinya masih lemah dan tak dapat mengatakan sesuatu dengan jelas. Perawat yang baru saja masuk untuk mengecek kondisi Rafael, mendapatkan berbagai pertanyaan dari Nyonya Silvia.
"Sus kenapa anak saya susah berbicara? Apakah kondisinya baik-baik saja? Tolong panggilkan Dokter sekarang juga, aku ingin mendengarkan penjelasan darinya." Ucap Nyonya Silvia dengan wajah cemas.
"Dokter sedang memeriksa pasien yang lainnya bu. Dan mengenai pasien yang kesulitan berbicara, itu karena dia baru saja sadar dari koma nya. Pasien membutuhkan waktu untuk kembali mengontrol kondisinya sendiri, beradaptasi dengan kondisi tubuhnya setelah beberapa saat tak di gerakan. Beri pasien sedikit waktu untuk kembali normal." Jelas sang perawat seraya berjalan keluar.
Untuk beberapa menit lamanya, Rafael hanya terdiam dengan memegangi tangan sang mama. Sampai akhirnya ia mengatakan sesuatu dengan suara parau.
"Ma... Dimana istriku?." Tanya Rafael dengan suara yang berat.
"Rafael sayang... Kau baru saja sadar dari koma, istirahat dulu ya."
"Cepat panggilkan dia ma... Rafa mohon...." Rafael tak berdaya memohon pada Nyonya Silvia.
__ADS_1
Karena tak tega melihat putra nya yang memohon dengan kondisi lemah, Nyonya Silvia akhirnya berjalan keluar memanggil Zahra untuk masuk ke dalam. Keduanya masuk ke dalam bersamaan, lalu Zahra mendekat ke arah Rafael. Namun ucapan Rafael menghentikan langkahnya.
"Kenapa mama memanggilnya, aku meminta mama memanggil istriku. Jika mama tak memanggilnya, aku yang akan mencarinya sendiri." Ucap Rafael yang berusaha bangkit dari tidurnya.
Untung saja Dokter datang dan menghentikan tindakan Rafael. Dokter memeriksa kondisi Rafael, dan setelah memastikan kondisinya normal. Dokter meminta perawat untuk memindahkan Rafael ke ruang inap biasa, karena kondisinya tak semenghawatirkan sebelumnya. Nyonya Silvia dan Zahra diminta menunggu di luar, karena pasien akan segera dipindahkan. Melati berdiri di depan kaca, ia sedang melakukan panggilan video bersama Aurelia dan juga Alvino. Lalu dibelakangnya ada Rafael yang sedang didorong di atas brangkar, ia dipindahkan ke ruangan vvip. Nampak Rafael menolehkan kepalanya, ia menatap Melati dengan mata berkaca-kaca. Terdengar panggilan sang suami, yang mengajak Melati untuk menjenguk Rafael di ruangan barunya. Semua orang sudah terlebih dulu masuk ke dalam ruang vvip itu. Lalu Melati dan Aldino masuk ke dalamnya, terlihat semua orang terdiam dengan menatap wajah Rafael. Tanpa curiga Melati bertanya pada mereka semua, kenapa wajah mereka seperti orang kebingungan.
Tuan Satria hanya menghembuskan nafas panjang, lelaki tua itu mengusap wajahnya dengan wajah sendu. Zahra pun terlihat meneteskan air mata, padahal kondisi Rafael terlihat sudah baik-baik saja.
Nyonya Silvia terdiam seribu bahasa, ia membalikan tubuhnya tak memandang wajah putra kesayangan nya.
"Mel... Mendekatlah... Aku ingin mengatakan sesuatu padamu...." Ucap Rafael dengan suara parau.
Melati menolehkan pandangan nya pada Aldino, sang suami menganggukan kepalanya memberi ijin supaya ia mengikuti perkataan Rafael. Ketika Melati sudah sampai di samping ranjangnya, Rafael langsung menggenggam tangan nya dan mengucapkan kata maaf berulang kali.
__ADS_1
"Maafkan sikap mama ya sayang... Kau tau kan dia akan selalu membela Mawar, tapi aku mohon kau jangan tersinggung ya. Aku ingin menjelaskan semua kejadian tempo hari, aku hanya tak tega melihat kondisi Mawar yang sedang hamil. Karena itulah aku terpaksa menemani nya, tapi setelah ia melahirkan, aku berjanji akan meninggalkan nya. Aku tak ingin kita berpisah, hanya karena ada Mawar di antara kita." Perkataan Rafael membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terperanjat. Mereka semua memandang wajah Rafael dengan penuh tanya.
Nyonya Silvia menggelengkan kepalanya tak percaya, kenapa putra nya bersikap aneh seperti itu. Sementara Melati yang tak kalah terkejutnya, menepis tangan Rafael dan berlari keluar ruangan. Melati berurai air mata kembali, karena mantan suaminya mengingatkan kejadian perih yang sudah susah payah ia lupakan. Aldino mengejar Melati dan memeluk nya, supaya istrinya sedikit tenang. Tapi Melati bereaksi diluar dugaan, ia mengajak Aldino untuk pergi dari Rumah Sakit. Tapi Tuan Satria menghentikan nya, lelaki itu memanggil Melati untuk ikut bersamanya menemui Dokter yang merawat Rafael. Meski sempat menolak ajakan Tuan Satria, akhirnya Melati luluh karena tak tega melihat laki-laki yang sudah seperti orang tua nya sendiri memohon di hadapan nya.
"Melati... Papa mohon, untuk kali ini saja kita sama-sama dengarkan penjelasan Dokter. Kenapa Rafael bisa bersikap aneh seperti tadi." Pinta Tuan Satria dengan menggenggam kedua tangan Melati.
Tak tega dengan permohonan Tuan Satria, Melati menganggukan kepalanya. Mereka semua berjalan ke ruangan Dokter, dan sama-sama mendengarkan penjelasan nya. Dokter itu mengatakan jika Rafael mengalami Amnesia Anterograde. Jenis amnesia ini merupakan gangguan daya ingat terkait peristiwa masa lalu yang masih melekat pada pengidap nya. Namun, pengidap amnesia ini hanya dapat mengingat peristiwa yang sudah berlalu saja.
"Kita sama-sama berdoa saja, supaya kondisi ini hanya untuk beberapa saat. Karena saya tak dapat memastikan sampai kapan pasien kehilangan daya ingat nya. Dan untuk waktu yang belum bisa ditentukan, biarlah pasien hidup bersama kenangan di masa lalu nya. Karena semua itu dapat membantu dalam proses penyembuhan nya. Perlahan pasien akan kembali mengingat peristiwa di masa sekarang. Karena dari kenangan lamanya, perlahan memori dari kisah hidupnya akan kembali diingat nya. Tapi memang semua butuh proses, tak dapat semudah membalikan telapak tangan." Penjelasan sang Dokter membuat semua orang kebingungan, mereka saling menatap satu sama lain.
...Apa yang akan terjadi setelahnya? Ikuti terus cerita ini ya, Love you all 🤗...
...Bersambung....
__ADS_1