KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
MAWAR HILANG AKAL?


__ADS_3

Tuan Satria memperkenalkan Rafael pada Dary dan Steven. Mereka mengobrol santai tentang bisnis Real estate, yang sudah lama mereka jalani. Meski kehilangan beberapa ingatan nya, Rafael tak melupakan tentang bisnis yang selama ini digeluti nya. Steven mengerutkan keningnya, ia curiga jika Rafael hanya bersandiwara saja. Karena ucapan Rafael ketika membahas tentang bisnis mereka terlihat seperti orang yang normal.


"Jangan-jangan ini adalah rencananya untuk mencari penjahat yang bersekongkol dengan Mawar." Batin Steven didalam hatinya.


"Saya sangat salut dengan anda Tuan Rafael, ketika anda sedang dalam kondisi sakit. Anda tetap fokus membahas bisnis kita, tapi alangkah lebih baiknya kita tunda saja pembicaraan ini. Karena tujuan saya datang kesini hanya untuk mengunjungi anda, dan mengucapkan bela sungkawa secara langsung." Jelas Daryl pada Rafael yang mengerutkan keningnya.


"Jadi anda tau tentang bayi saya yang telah tiada?." Tanya Rafael penasaran.


"Of course! Berita besar dari keluarga yang ternama seperti anda, pasti akan dengan mudah tersebar. Semoga semua pelaku segera tertangkap."


"Ya saya harap juga seperti itu, karena yang saya dengar Mawar tak mau menyebutkan siapa pelaku yang bekerja sama dengannya. Sepertinya Mawar terpaksa bungkam." Sahut Tuan Satria.

__ADS_1


Rafael memegangi kepalanya karena berusaha mengingat ucapan papa nya. Lalu Tuan Satria memanggil Zahra dan meminta nya membawa Rafael kembali ke kamar. Setelah itu Daryl dan Steven berpamitan, mereka tak ingin mengganggu waktu istirahat Rafael. Ketika Steven mengucapkan salam perpisahan, Zahra merasa tak asing dengan suaranya. Wanita itu mengerutkan keningnya, berusaha mengingat kembali dimana ia pernah mendengar suara itu. Tapi tiba-tiba Rafael mendorong nya, ia berteriak memanggil Melati kembali. Lalu Nyonya Silvia bergegas menghampiri Rafael dan menenangkan nya.


"Rafa sayang... Sudah mama katakan kan, Melati bukan istrimu lagi Nak. Kau tak bisa selalu bergantung padanya, lagipula anakmu Alvino lebih membutuhkan Melati. Lihatlah wanita malang ini, dia adalah istrimu yang sesungguhnya. Jangan sakiti hatinya seperti kau menyakiti Melati dulu Nak, mama tak ingin kau mengulangi kesalahan yang sama!." Serunya dengan wajah sendu.


Beberapa hari kemudian, setelah kondisi Rafael sudah jauh lebih baik. Sang pengacara datang memberitahu Rafael, jika Mawar menolak menandatangani berkas perceraian. Dan Mawar meminta Rafael sendiri yang datang menemuinya. Nyonya Silvia sempat melarang Rafael pergi menemui Mawar, tapi rasa kesal yang ada didalam dirinya tak dapat ditahan lagi. Meski ia tak dapat mengingat semua kejahatan Mawar, Rafael bisa menilai jika apa yang dilakukan Mawar pada Zahra sangat keterlaluan. Apalagi sampai membuatnya kehilangan calon bayinya. Di dalam jeruji besi, dengan berseragam khas tahanan, Mawar berdiri dengan wajah sendu menatap kedatangan Rafael.


"Mas apakah kau baik-baik saja? Aku dengar kau amnesia kan? Tapi aku senang kau masih bisa mengingat ku." Ucap Mawar seraya menggapai tangan Rafael.


"Ampuni aku mas, jangan ceraikan aku, aku mohon mas demi putri kita Catlea. Apa kau tega membuatnya kehilangan perhatian kedua orang tuanya? Aku tak sengaja mencelakai bayi Zahra, aku cemburu melihat kedekatan kalian mas!." Seru Mawar berlinang air mata.


Rafael hanya terdiam tanpa kata, ia susah mencerna semua ucapan Mawar. Bagaimanapun ingatan nya belum kembali sepenuhnya, jadi ia tak bisa berpikir dengan jernih. Lalu seorang wanita datang dari balik punggung kekar Rafael, ia adalah Zahra yang tersenyum dengan mendongakan kepalanya ke atas. Menatap sinis pada wanita yang tengah berlutut di lantai penjarakan itu.

__ADS_1


"Kau tak perlu mencemaskan Catlea, karena semenjak dia lahir ke dunia ini kau tak pernah mengurusnya. Jangankan memberinya kasih sayang, kau pernah berniat membuangnya. Aku yang akan mengurus dan menjaganya serta memberikan kasih sayang padanya. Tuan Rafael tak perlu mempertahankan hubungan nya denganmu, kau tak pantas menjadi istri siapapun!." Pekik Zahra dengan membulatkan kedua matanya.


Mawar berdiri dengan tangan yang bergetar, ia bersiap untuk menampar mulut Zahra. Sebelah tangan Mawar keluar dari sela-sela jeruji besi dan menarik leher Zahra. Mawar mencekik Zahra dengan sorot mata membunuh, sontak saja Rafael berusaha melepaskan Zahra dari cengkeraman Mawar.


"Satu yang aku tau tentang mu War! Meski aku amnesia dan kehilangan beberapa ingatan ku. Aku tau benar jika kau bukanlah wanita yang baik. Kau tak akan pernah berubah, selalu menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang kau mau. Dulu kau menghancurkan kebahagiaan ku bersama Melati, dan sekarang kau melakukan hal yang sama pada wanita lain. Bukankah kau akan menandatangani berkas perceraian, jika aku sendiri yang datang menemuimu kan? Ini cepat tanda tangani, supaya aku tak berurusan lagi dengan wanita jahat sepertimu!." Seru Rafael seraya menyerahkan secarik kertas pada Mawar.


Mawar terkejut dengan mata berkaca-kaca, ia tak menyangka jika Rafael akan benar-benar menceraikan nya. Dengan tangan bergetar Mawar memerima berkas perceraian itu, tapi ia kembali mengingkari perkataan nya. Mawar merobek kertas itu dan menghamburkan nya ke udara.


"Aku tak akan pernah menandatangani surat cerai itu mas! Apa kau pikir aku sudah gila, sehingga akan melepaskan mu begitu saja? Aku tak akan rela berpisah denganmu mas, apalagi merelakan mu bersama wanita rendahan itu!." Pekik Mawar dengan lantang.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2