
Karena takut dengan ancaman suaminya, Nyonya Silvia terpaksa diam. Dua hari berada di Semarang, Tuan Satria berpamitan pada Melati dan Aldino untuk kembali ke Jakarta.
"Beberapa bulan lagi aku akan datang untuk menghadiri pernikahan kalian, jagalah cucuku dengan sebaik mungkin. Karena papa pasti akan sangat merindukan nya." Tuan Satria merangkul Melati dan Aldino bersamaan.
Nyonya Silvia melangkahkan kakinya gontai, dia menatap sendu wajah cucunya. Matanya berkaca-kaca ingin memeluk bayi itu, tapi hatinya bergetar jika mengingat ucapannya tentang bayi itu sewaktu dalam kandungan Melati.
"Alvino... Namanya Alvino Putra Perkasa, kelak Melati ingin dia menjadi seorang yang kuat dalam menghadapi kehidupan. Peluklah ma jika mama ingin memeluknya, hanya sebatas itu saja yang bisa Melati ijinkan."
Seketika Nyonya Silvia menyunggingkan senyumnya, tangannya menggendong Alvino dan memeluknya dalam dekapannya.
"Cucuku... Alvino... Maafkan Oma ya sayang!." Seru Nyonya Silvia berlinang air mata.
__ADS_1
Tuan Satria terharu dengan sikap yang Melati tunjukan, lelaki itu menatap mantan menantunya dengan wajah sendu seraya mengucapkan Terima kasih. Melati hanya membalasnya dengan senyuman dan juga anggukan kepala.
"Aku tau Mel, kalau kau sudah sangat menderita karena ucapanku selama ini. Tapi kau masih memberiku kesempatan untuk menggendong cucuku." Nyonya Silvia menundukan wajahnya.
"Tapi tolong ma, jangan katakan apapun pada mas Rafael. Biar aku yang mengatakan segalanya padanya. Bagaimanapun dia berhak tau tentang Alvino. Tapi kalian tidak akan bisa mengambil nya dariku." Ucap Melati dengan tegas.
Sontak saja Nyonya Silvia mengerutkan keningnya, ada rasa kesal didalam hatinya. Sekali lagi Melati Melati mengatakan jika dia tidak akan bisa memiliki cucunya. Hati seorang Nyonya Silvia selalu dipenuhi dengan ambisi, dia merencanakan sesuatu untuk mengambil hak asuh atas cucunya.
Setelah itu Tuan Satria dan Nyonya Silvia kembali ke Jakarta, disepanjang perjalanan Tuan Satria terus mengingatkan istrinya untuk menjaga rahasia tentang cucu mereka. Karena dia sangat tau bagaimana watak istrinya, Nyonya Silvia meyakinkan suaminya jika dia tidak akan mengecewakan suaminya lagi.
Setelah melahirkan Melati tinggal di rumah Liliana sahabatnya. Karena dia belum bisa melakukan banyak hal seorang diri, meski Aldino meminta nya untuk tinggal bersama. Melati menolak demi menjaga nama baik mereka bersama, apalagi mantan istri nya selalu mencari kesalahan untuk merebut hak asuh Aurelia.
__ADS_1
"Al untuk sementara kita tidak perlu sering bertemu, selain aku akan sibuk mengurus Alvino. Aku juga akan disibukan dengan banyak urusan, karena pembangunan butik ku disini sudah hampir selesai. Akan ada banyak pekerjaan yang ku lakukan, kau jaga Aurelia baik-baik ya." Penjelasan Melati membuat Aldino murung, dia menundukan wajahnya terpaksa menuruti ucapan Melati.
Hari berlalu dengan cepat, minggu berganti dengan bulan. Sudah tiga bulan semenjak butiknya dibuka, pemesanan terus bertambah dan membuat nama butiknya semakin terkenal di kota itu. Setiap harinya Liliana membantu Melati untuk mengurus Alvino, karena Melati tidak ingin menggunakan jasa baby sitter. Aldino menelepon Melati, karena ada perusahaan asing yang ingin bekerja sama dengan butiknya. Perusahaan asing itu berkembang dalam bisnis fashion, dan setelah melihat desain gaun yang dibuat oleh Melati. Owner perusahaan itu sangat tertarik bekerja sama dengan butik nya. Kehidupan Melati berubah hanya dalam hitungan bulan saja, kekayaan nya terus bertambah karena bisnis butiknya semakin sukses. Semua itu berkat Aldino dan Liliana yang selalu mendukung Melati dari nol. Bahkan butik yang di Jakarta juga ikut meningkat omsetnya, sang ibu yang turut mengurus butik Melati ikut bahagia, dengan kesuksesan yang Melati raih saat ini. Karena saat ini nama Melati sudah terkenal dan sejajar dengan desainer-desainer ternama di Indonesia.
"Alvino sayang... Lihatlah mamamu terlalu sibuk dengan pekerjaan nya, dan dia bahkan melupakan gaun pengantin yang harus dipakainya sebentar lagi." Ucap Liliana dengan menggendong Alvino.
Melati tersenyum seraya mengecup pipi bayinya, dia mengatakan pada Liliana untuk tidak mencemaskan gaun yang akan dipakainya. Karena Melati sudah mendesain nya sendiri, bahkan gaun yang akan dikenakan Liliana juga Melati sendiri yang membuatnya.
"Bisnisku bisa berkembang secepat ini juga karena mu Li, terima kasih sudah menjaga Alvino disaat aku sibuk dengan pekerjaan ku di butik." Ucap Melati seraya merangkul sahabat terbaik nya, lalu keduanya saling merangkul dengan penuh kasih sayang.
...Bersambung....
__ADS_1