KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
AKHIR SEGALANYA? (PERPISAHAN)


__ADS_3

Proses perceraian Melati dan Rafael sudah hampir selesai, putusan perceraian akan di umumkan pagi itu, setelah hakim menyatakan mereka resmi berpisah, keduanya hanya bisa tertunduk dengan mata berkaca-kaca, Melati bangkit dari duduknya dan berlari keluar ruangan, dia membungkam mulutnya supaya suara tangisnya tidak terdengar, sang Ibu yang menghawatirkan Melati bergegas menghampiri nya, dan mendekap nya.


"Menangislah Nak, keluarkan semua kesedihan mu, kau pantas untuk mengeluarkan air matamu, jangan kau tahan penderitaan mu."


Dibelakang mereka berdiri dua orang perempuan, yang menatap penuh kebencian pada Melati, Nyonya Silvia meminta Mawar untuk memanggil Ibunya, supaya tidak ada yang menghibur Melati lagi.


"Panggilah Ibumu, jangan biarkan mereka bersama lagi, Melati pantas terpuruk seorang diri, supaya dia lekas meninggalkan kota ini." Seru Nyonya Silvia dengan sinis nya.


Mawar menghampiri Ibunya, dan meminta sang Ibu untuk pulang bersamanya, dan menginap bersamanya. "Ibu tau kan jika aku harus pindah ke rumah lain, karena sekarang aku adalah satu-satunya istri mas Rafael, jadi aku akan memiliki rumah sendiri, dan yang pasti lebih bagus dari rumah mereka yang dulu, oh iya, kapan kak Melati akan pergi? jika tidak terburu-buru, kakak bisa kan menghadiri pernikahan ku secara resmi bersama mas Rafael, itupun jika kakak tidak keberatan." Ucap Mawar dengan senyum angkuhnya.


Rafael berjalan gontai dengan wajah sendu, Tuan Satria merangkul anaknya untuk memberikan dukungan pada Rafael, mereka terkejut mendengar perkataan Mawar dihadapan Melati. Dengan amarah yang menguasai dirinya Rafael mendatangi mereka, dia membentak Mawar dan memaki-maki nya dihadapan semua orang.


"Apa kau tidak punya hati sama sekali, kau baru saja merenggut kebahagiaan nya, dan kau ingin dia melihat kebahagiaan mu, itu sama saja kau ingin menyakiti nya lagi, dimana hati nurani mu, gunakanlah sedikit saja, untuk menghargai kakakmu sendiri, jangan kau pikir dengan berpisahnya kami, bisa membuatmu lebih bahagia, karena kau bisa sepenuhnya memilikiku, itu hanya akan terjadi didalam mimpimu." Bentak Rafael dengan membulatkan kedua matanya.

__ADS_1


Ibu mereka nampak bingung harus memilih salah satu dari anaknya, tapi dengan tersenyum Melati meminta Ibunya untuk pergi bersama Mawar, karena masih ada pekerjaan yang harus di urusnya, dengan tersenyum sinis Mawar menggandeng Ibunya perhi dari sana. Rafael menatap sendu wajah perempuan yang masih sangat dicintainya, Melati mengusap air mata yang tiba-tiba menetes, dia memalingkan wajahnya seraya berjalan melewati Rafael.


Dengan kesedihan yang menumpuk didalam hatinya, Rafael menarik tangan Melati dan mendekapnya dengan erat, lelaki itu berurai air mata kesedihan, Melati yang terkejut dengan tindakan Rafael berusaha memberontak dan melepaskan diri, tapi pelukan Rafael begitu kuat sehingga dia tidak bisa bergerak sama sekali. Tuan Satria menyadarkan Rafael, dan memintanya untuk melepaskan Melati, tapi Rafael tidak bergeming dengan air mata yang terus mengalir dari matanya.


Nyonya Silvia makin kesal melihat tingkah Rafael, dia menarik paksa putranya, dan sebuah tamparan melayang ke wajahnya. Plaakk... Rafael tercekat dan melepaskan pelukannya, Melati berjalan mundur setelah akhirnya dia berlari meninggalkan tempat itu, Tuan Satria berusaha mengejar Melati, tapi Nyonya Silvia melarangnya, dengan alasan nama baik keluarga besarnya.


"Papa tidak boleh mengejar perempuan itu, kita harus segera pergi dari pengadilan, sebelum wartawan datang dan meliput kejadian ini, karena jika berita perceraian Rafael terdengar oleh masyarakat luas, itu akan mencoreng nama baik keluarga kita, dan itu akan memberikan mempengaruhi saham di perusahaan." Perempuan itu selalu tau cara untuk mengancam suaminya. Karena Tuan Satria memiliki tanggung jawab yang besar pada semua karyawan yang bekerja untuknya, jika usahanya bermasalah itu akan membuat kerugian untuk semua pekerjanya, sehingga lelaki dermawan itu selalu melakukan segala cara, supaya usahanya tetap berjalan, dan tidak ada karyawannya yang akan menganggur.


Dengan terpaksa Rafael satu mobil bersama Mawar, dari sana mereka akan langsung menuju ke rumah barunya, karena setelah menjadi istri sahabat seorang pengusaha Hadinata, tentu kehidupan Mawar akan berkecukupan, dan mertuanya telah menyiapkan sebuah rumah mewah bergaya klasik di sebuah perumahan elite, Ayahnya sudah terlebih dulu berada disana dengan Perawatnya, nampak Mawar turun dari mobil dengan tersenyum puas, dilihatnya rumah mewah yang akan ditempatinya.


Tuan Satria berbicara dengan Rafael di taman depan rumah baru itu, dia memberikan kekuatan pada putranya, karena lelaki itu tau, jika kehidupan Rafael akan dipenuhi dengan penderitaan mulai hari itu.


"Semua sudah terjadi Rafa, kau tidak perlu berlarut dalam kesedihan, jangan jadikan perpisahan mu dengan Melati sebagai penderitaan, kau telah gagal menjadi seorang suami yang baik, dan sebentar lagi kau akan menjadi orang tua, kau tidak boleh gagal menjadi contoh Papa yang baik untuk anakmu, jadikan kesalahanmu sebagai pembelajaran, hanya itu yang bisa Papa katakan padamu."

__ADS_1


Rafael menundukkan wajahnya dengan berurai air mata, Tuan Satria merangkul nya seraya menepuk pundaknya, tiba-tiba Ayah mertuanya datang dan memohon maaf dihadapan keduanya.


"Maafkan saya Tuan, karena perbuatan Mawar yang licik, hidup putramu harus berantakan seperti ini, saya yang lumpuh ini tidak dapat berbuat apa-apa, dan Melati juga harus menanggung penderitaan karena adiknya sendiri."


Tuan Satria bangkit dari duduknya, dia tersenyum berjalan mendekati besannya. "Tidak perlu mengatakan hal seperti itu Pak, semua sudah terjadi, kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan anak-anak kita saja, semoga kedepannya mereka akan bahagia."


Rafael meyakinkan Ayah mertuanya, jika dia akan berusaha tegar menerima cobaan itu, dia meminta Ayah mertuanya untuk lekas sembuh, supaya memberikan semangat yang lebih untuk Melati, karena mendengar pembicaraan ketiga lelaki itu, Mawar berubah sangat kesal dan membentak Mbak Saroh yang membantu membersihkan rumah baru nya, Mawar melampiaskan amarahnya pada pembantu itu, karena dia tau jika Mbak Saroh adalah orang yang selalu mendukung Melati selama ini.


"Apa kau buta hah, kenapa kau tidak becus membersihkan rumah ini, aku sedang hamil dan tidak bisa berlama-lama di tempat yang banyak debu, kenapa kau belum selesai membersihkan rumah ini." Bentak Mawar dengan berkacak pinggang.


Mbak Saroh menundukan kepalanya dan meminta maaf, tapi Mawar tidak menghiraukan nya, dia tetap menggerutu dihadapan pembantu itu. "Jangan berlagak seperti keluarga, dengan cara bekerjamu yang tidak becus itu, aku akan memecatmu jika kau melakukan kesalahan lagi." Ancam Mawar dengan menunjuk-nunjuk wajah Mbak Saroh.


Rafael mengernyitkan keningnya melihat sikap buruk Mawar pada Mbak Saroh, meski Mbak Saroh hanya seorang pembantu Rafael sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri, karena kedua orang tua Mbak Saroh lah yang telah menjaga dan mengurusnya sejak kecil, karena kedua orang tuanya sibuk dengan urusannya masing-masing, sehingga Rafael tumbuh besar ditangan pembantu nya.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2