
Rafael yang merasa perlu menjelaskan pada semua orang, akhirnya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Melati memijat pangkal hidungnya, ia heran kenapa Mawar tega melakukan semua itu pada darah dagingnya sendiri.
"Zahra kau tenang saja, tinggalah bersama mama dan papa. Aku yakin Mawar tak akan berani menyentuhmu, jika kau tinggal bersama mereka. Dan tentang adikmu pindahkan dia ke sekolah yang ada asramanya, lebih baik berjaga-jaga demi keamanan nya. Karena aku sangat tau Mawar bisa melakukan apa saja dalam kemarahan nya. Bahkan anaknya sendiri bisa dalam bahaya, apalagi orang lain yang membuat nya marah." Jelas Melati meyakinkan Zahra.
"Kau benar Mel, mama pikir keputusan mu sudah tepat. Mawar tak akan berani melakukan sesuatu jika kau bersama kami. Dan segera urus kepindahan adikmu ke sekolah baru." Nyonya Silvia meminta asisten pribadinya untuk mengurus semua yang dibutuhkan Zahra can juga adiknya.
Rafael menghela nafas panjang, ia sedikit lega dengan ide yang Melati berikan. Tuan Satria merangkul Rafael untuk memberikan nya kekuatan. Tiba-tiba Mawar datang dengan menggendong Catlea, ia tersenyum angkuh melihat ketidak berdayaan semua orang. Mawar meletakan Catlea di sofa begitu saja, tanpa di duga Nyonya Silvia mendekati Catlea dan mendekapnya. Wajahnya terlihat sendu melihat cucu yang selama ini dibenci nya.
__ADS_1
"Kau benar-benar wanita tak punya hati! Dia adalah anak kandung mu tapi kau ibginy mencelakai nya? Kau menggunakan nya untuk menekan Rafael, seandainya saja aku bisa menyingkirkan mu dari hidup putra ku!." Seru nya melotot di depan Mawar.
"Sudahlah ma... Tak perlu bersandiwara untuk mendapatkan simpati dari semua orang. Jujur saja mama juga tidak setuju dengan pernikahan mereka bukan? Mama terpaksa menerimanya hanya untuk mendapatkan cucu yang sempurna." Mawar tersenyum miring di hadapan ibu mertuanya.
"Lancang sekali kau berkata begitu pada mamaku! Jangan pernah samakan mama denganmu, meskipun dulu mama sempat melakukan kesalahan. Ia berusaha berubah dan memperbaiki sikapnya, jika sekali lagi kau merendahkan mama, aku benar-benar akan melupakan janjiku pada almarhum ayah. Aku akan menceraikanmu saat itu juga!." Rafael membulatkan kedua matanya dengan penuh amarah.
Mawar menggelengkan kepalanya dengan senyum mengejek, ia tak memperdulikan ancaman Rafael. Dia meminta Zahra untuk segera pergi dari rumahnya, Melati yang tak ingin melihat derita Zahra mengajaknya untuk mengemasi barang-barang. Rafael meminta Mbak Saroh untuk mengemasi barangnya dan juga semua yang dibutuhkan Catlea.
__ADS_1
Tuan Satria berjalan mendekati Mawar, ia memperingatkan Mawar untuk menjauhkan diri dari cucu-cucu nya.
"Kau bisa anggap ucapanku sebagai sebuah peringatan atau ancaman. Jangan pernah sekali lagi kau menyentuh cucuku dengan niat jahatmu. Kalau tidak aku akan melupakan semua perbuatan baik di dunia ini. Aku bisa melakukan apapun padamu. Kau sudah mengenalku, tapi kau belum pernah melihat perbuatan burukku. Jangan pernah lagi kau menyakiti siapapun yang ku kasihi, ingat ucapanku baik-baik Mawar!." Tuan Satria mengerutkan keningnya dengan sorot mata yang tajam.
"Apa maksud papa? Apa papa benar-benar berpikir aku akan menyakiti anakku sendiri? Aku melakukan itu hanya untuk menakuti mas Rafael saja. Kalau tidak begitu wanita jaalang itu akan tetap berada di dalam satu rumah yang sama denganku. Aku sudah menerima mas Rafael menikah lagi, tapi aku tak mau serumah dengan maduku pa!."
"Apapaun pembelaan dirimu, aku tak membenarkan perbuatan mu. Mulai hari ini Zahra dan Catlea akan tinggal di Rumah besar bersamaku. Kau tak akan ku ijinkan menginjakkan kaki disana, bukankah kau tidak menyayangi Catlea? Kau akan terbebas dari tanggung jawabmu untuk mengurusnya. Lagipula kau hanya bisa menyakiti anak malang itu. Kau bisa saja mengancam Rafael, tapi aku yang mempunyai wewenang menentukan hidup putraku." Tegas Tuan Satria seraya berjalan ke arah Rafael.
__ADS_1
Tuan Satria meminta Rafael untuk mengemasi barang-barang, dan ikut pindah ke rumahnya. Tuan Satria ingin menjauhkan bayangan Mawar dari orang-orang yang disayangi nya. Terlihat Mawar kebingungan untuk menghentikan keputusan mertuanya. Mawar tak berdaya di hadapan Tuan Satria, ia menggaruk kepala nya yang tidak gatal berusaha memikirkan sebuah rencana.
...Bersambung....