KEMBARANKU MADUKU

KEMBARANKU MADUKU
TITIK TERANG?


__ADS_3

Dengan seiring berjalannya waktu, Rafael mulai mendapatkan ingatan nya kembali. Kejadian itu bermula ketika Catlea sedang bermain di taman, dan gadis kecil itu hampir saja terperosok ke tanah yang terjal dipenuhi bebatuan. Rafael berlari untuk menyelamatkan Catlea, sehingga ia yang menjadi korban terperosok ke lubang yang cukup dalam. Kepalanya membentur batu-batu yang ada disana, dan kedua tangannya mendekap Catlea dalam pelukan nya. Tubuh Rafael kotor dan seluruh tubuhnya tergores ranting-ranting kering. Terlihat disamping kepalanya berdarah, sepertinya kepala Rafael membentur bebatuan. Darah segar mengalir dari pelipis nya, Catlea berusaha merangkak dari dalam lubang tanah itu, Zahra terbelalak melihat anak sambungnya merangkak dengan pakaian yang kotor.


"Tolooong...." Pekik Zahra setelah melihat Rafael bersimbah darah di bawah sana.


Zahra langsung menggendong Catlea dengan berurai air mata, para ajudan yang berjaga di rumah besar segera menghampiri Zahra. Mereka bergegas membawa Tuan nya ke Rumah Sakit, Zahra menemani Rafael dan juga Catlea. Rafael segera mendapat penanganan dari Dokter yang merawatnya, dan Catlea juga mendapatkan perawatan dari Dokter. Untung saja gadis kecil itu hanya terluka ringan dibagian tertentu, jika tidak pasti Zahra akan merasa sangat bersalah. Karena ia sudah berjanji akan menjaga Catlea, namun hari ini gadis kecil itu terluka ketika dalam pengawasan nya.


Tuan Satria dan juga Nyonya Silvia baru saja menjemput Melati dan Alvino dari Bandara. Aldino tak bisa pergi bersama Melati, karena mantan istrinya terus berulah dan melakukan sesuatu dibelakangnya.


"Astaga pa! Rafael pa... Dia saat ini ada di Rumah Sakit bersama Catlea, mereka berdua terluka pa!." Seru Nyonya Silvia dengan wajah cemas.

__ADS_1


Sesampainya di Rumah Sakit, mereka semua mendatangi Rafael di ruang inapnya. Nampaknya kondisinya tak terlalu menghawatirkan, Dokter memperbolehkan semua orang melihat keadaan Rafael. Nyonya Silvia berlinang air mata, mengusap wajah putra nya yang terlelap. Tak lama setelah itu Rafael membuka kedua matanya, ia melihat Alvino yang ada di gendongan sang papa.


"Putra ku...." Ucapnya lirih dengan setengah meringis.


Semua orang saling memandang, menyadari Rafael memanggil Alvino seakan mengenalnya.


Si kecil Alvino pun menyunggingkan senyumnya ke arah Rafael. Tuan Satria berjalan mendekati Rafael, dan keduanya saling berpegangan tangan.


Zahra menggandeng Catlea dan membawanya pada Rafael, Rafael bangkit dari tidurnya dan mengusap kepala Catlea. Rafael bersyukur bisa melindungi Catlea dan anak perempuan nya itu baik-baik saja.

__ADS_1


Rafael mengucapkan permintaan maafnya pada Melati dan juga Zahra. Karena mereka berdua lah yang paling susah ketika ia mengalami amnesia.


"Kau harus bersyukur memiliki istri seperti Zahra mas, dia adalah perempuan yang sangat baik dan sabar. Belajarlah untuk menerimanya dan memberikan cintamu padanya. Gugat cerai saja Mawar, tanpa persetujuan darinya kalian pasti bisa berpisah. Mawar tak layak mendapatkan kesempatan lagi. Perbuatan jahatnya sudah terlampau banyak, biarkan saja dia bungkam dengan rahasianya. Semoga saja dia sadar dan kembali ke jalan yang benar." Melati bergetar mengatakan semua itu, setengah hatinya tak tega membiarkan adik kembarnya mendekam di dalam penjara, tapi Melati tak punya pilihan lain selain memberikan pelajaran bagi Mawar.


Rafael menolehkan wajahnya menatap Zahra yang sedang menundukan kepala nya. Rafaela meraih tangan Zahra dan menggenggamnya, nampaknya Rafael mulai belajar membuka hatinya untuk wanita lain. Lagipula Zahra pantas mendapatkan perhatian yang lebih darinya. Zahra yang berusaha merawatnya dan juga Catlea, meski posisinya sudah sah menjadi istrinya. Zahra tak pernah mengambil kesempatan untuk mengambil keuntungan, seperti yang Mawar lakukan.


"Aku tak bisa berjanji apapun padamu, tapi aku akan berusaha menerima mu menjadi bagian dalam hidupku. Terima kasih sudah melakukan banyak hal untukku dan juga putriku." Rafael menatap sendu wajah Zahra, lalu Zahra menganggukan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku melakukan semuanya dengan ikhlas mas, bagaimanapun aku sudah lama menjaga Catlea. Dia sudah seperti anakku sendiri, aku ikhlas menjaganya. Aku juga sangat bahagia karena kau sudah pulih dan mengingat segalanya. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberikan keadilan bagi mendiang putra kita Aprilio." Tegas Zahra seraya mengusap air mata yang membasahi wajahnya.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2